Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 4

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 4 Terbaru

Malam itu juga di kantor, aku mengirim email beserta video sore itu ke email Dokter Tan. Aku yakin dia akan sangat sangat sangat terkejut meilhat istrinya kami kerjai. Aku menang. Yah, aku menang. Dokter bajingan itu hanya mencolok kemaluan istriku, aku pun mencolok kemaluan istrinya, tapi lebih keren lagi teman-temanku menyetubuhinya, di kamar tidurnya, bahkan hingga istrinya orgasme.

Baru dua menit email itu terkirim, ternyata sudah ada balasan dari Dokter Tan. Aku menduga-duga pasti ia memakiku dalam email balasannya. Tapi tunggu, ada lampiran video juga di balasannya. Aku langsung mendownloadnya, sedikit lama karena filenya cukup besar juga.

Begitu download selesai, aku tak sabar langsung membuka file video itu. Seperti kuduga, file video dengan resolusi cukup besar. Gambarnya jernih. Tapi aku sangat shock melihat awal dari video itu, itu video di ruang tamu, ruang tamu rumahku. Ada Dokter Tan, beberapa mahasiswa magangnya, dan istriku.
Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 4
Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 4

“Gimana Rini cantik? apakah kamu bersedia menyerahkan tubuh kamu hanya kepada kami berlima, atau seluruh dunia bisa melihat memekmu di internet?” kata Dokter Tan.
“Ta…tapi… Dokter janji jangan sebarin video itu ya… Dokter janji kan?” ujar Rini
“Iya, you percaya lah sama gua. Abis hari ini, you ga akan pernah lihat kami lagi,” jawab Dokter Tan
“Te…terus… tolong Dok, jangan kasih tahu suami saya…” ujar Rini
“Hahaha… tenang Rin, you punya suami ga akan tahu kalo istrinya udah gue entotin di rumahnya sendiri cantik…” ujar Dokter Tan

Aku langsung berkeringat di ruangan kantor yang berAC ini. Semoga ini tidak benar-benar terjadi. Tanggal di video menunjukkan kejadiannya sore ini, pas ketika kami di rumah Dokter Tan.

“Ba…baik Dokter, saya akan nurut kata Dokter…” ujar Rini
“Bagus, kita pindah ke ruang tengah aja yah, kayanya di sana lebih lega. You keep shooting ya?” kata Dokter Tan ke salah satu mahasiswanya
“Ya Dokter ini masih recording,” kata mahasiswa yang sedang merekam mereka
Mereka semua masuk ke ruang tengahku. Ruangan itu tempat nonton tv, dengan sebuah sofa panjang dan karpet tebal di depannya.

Dokter Tan menyuruh keempat mahasiswanya duduk di sofa.
“Rini, kau buka celana mahasiswa gua semua, dan isep kontolnya satu per satu,” perintah Dokter Tan ke Rini.
Rini awalnya agak ragu, tapi dia mulai mendekati ke salah satu mahasiswa yang paling ujung. Rini membuka ikat pinggang mahasiswa itu, kemudian membuka celana panjangnya dan menurunkannya hingga mata kaki.
“Wah udah ahli urusan buka celana laki-laki. Itu mahasisiwa gua namanya Johan. Lu buka celana dalamnya, terus isep kontolnya,” perintah Dokter Tan lagi.

Rini agak malu ketika membuka celana dalam biru itu. Begitu dibuka, penis Johan masih setengah bangun, yah namanya Johan, seperti nama teman kantorku yang cina itu, bedanya Johan yang ini lebih ganteng, badannya lebih atletis. Istriku ketika itu memakai daster ungu, dan kerudung ungu juga. Ia ragu-ragu memegang dan menggenggam penis Johan, lalu kepalanya dimasukkan ke dalam mulutnya. Mulut mulai bergerak-gerak menghisap kepala penis Johan sementara tangan kanannya menggenggam batangnya.

“Jilat cantik, jilat…”suruh Johan kepada istriku. Rini mulai memainkan lidahnya. Ketiga mahasiswa yang lain spontan membuka celana mereka sendiri dan mulai mengocok penis mereka hingga bangun. Dokter Tan terus merekam semua adegan itu. Aku termasuk jarang dioral oleh Rini, kebalikannya, aku malah hampir tiap berhubungan dengannya selalu kuawali dengan menjilat kemaluannya. Tapi kini, istriku harus mengoral penis-penis bajingan itu semua.

Rini terus mengoral Johan hingga disuruh pindah ke sebelahnya. Ia bergeser pindah sambil tetap berlutut di hadapan mereka yang duduk di sofa.
“Itu namanya Rio, gimana Rini? gede mana penis Rio sama suamimu si Hasan hah?” ejek Dokter Tan. Kuakui di antara berempat itu, penis Rio yang paling besar, lebih besar daripada punyaku juga. Kulihat istriku kesulitan karena kepala penis Rio benar-benar memenuhi mulut istriku.

Sekitar satu menit, Rini disuruh pindah lagi ke sebelahnya. Namanya Erik. Rini melanjutkan mengoral penis Erik yang sudah tegang duluan. Tangan Erik membelai-belai kepala RIni yang masih tertutup kerudung, sementara tangan Rini mengocok batang penis Erik.

“Dok, saya buka ya belakangnya, udah ga tahan nih,” ujar mahasiswa yang belum dioral.
“Iya terserah lu aja Marcel,” jawab Dokter Tan.
Marcel langsung bangkit dan mendekati pantat Rini yang sedang menungging. Diangkatnya daster istriku perlahan seolah ia mendramatisir momen itu. Tersingkaplah pantat istriku yang masih tertutup celana dalam warna pink. Marcel meremas-remas pantat itu sebentar sebelum diturunkannya celana dalam istriku melewati kedua kakinya.

“Aih mulus juga pantatnya…” ujar Marcel
Marcel merenggangkan kedua kaki istriku sehingga ia bisa melihat lebih jelas belahan di tengah kedua pantat istriku itu. Muka Rini kulihat memerah tapi ia tidak bisa apa-apa karena kepalanya ditekan oleh Erik supaya mulut istriku tidak lepas dari penisnya.

Marcel mulai menjilat kemaluan istriku. Kepalanya didekatkan ke selangkangan RIni dan lidahnya dijulurkan menyapu organ-organ yang ada di situ. Setiap aku mengoral istriku, dia tidak akan bisa diam dan pinggulnya akan bergerak-gerak merespon jilatanku. Kali ini pun sama, mereka tampak menikmat goyangan pantat Rini akibat menerima jilatan di kemaluannya.

“Hahaha pake jilbab tapi goyangannya hot juga ya,” ujar Rio
“Justru ini nih yang sok tertutup padahal napsuan juga,” sahut Johan
Marcel menghentikan jilatannya, kemudian dia mengarahkan kepala penisnya ke lubang kemaluan istriku. Ditempelkannya dan dia mulai mendorong. Rini berusaha menahan tubuh Marcel dengan tangannya tapi tangannya langsung dipegang oleh Johan sementara Marcel terus berusaha mendorong sambil meremas pantat Rini.

“Aduh gila peret banget nih memek,” kata Marcel sambil terus memasukkan batangnya mili demi mili hingga akhirnya semuanya terbenam di dalam lubang istriku. Ia mulai bergerak maju mundur. Tiap bergerak maju, ia hentakkan tubuhnya menabrak tubuh istriku sehingga pantatnya bergoyang indah. Baru sekitar dua berjalan, Johan minta gantian. Marcel menyingkir sambil terus mengocok penisnya, sementara Johan mulai menyetubuhiku istriku dengan mudah karena kemaluannya tampaknya sudah licin, mungkin karena cairan pelumas di tubuhnya. Yah, istriku kelihatannya menikmati perlakuan mereka.

Tak lama setelah itu Johan melepaskan penisnya, istriku ditarik oleh Erik ke atas tubuhnya di sofa. Erik menyuruhnya mendudukinya sambil membelakanginya, tentu saja dengan penis yang menancap ke kemaluan istriku. Rini duduk perlahan setelah lubangnya pas dengan penis Erik yang ada dibawahnya. Setelah kemaluan istriku menelan penis Erik, ia disuruh bergerak naik turun, tapi dia diam saja.

“Ayo, manis, naik turun, peres tuh penisnya Erik,” ujar Dokter Tan yang berada di persis di depannya sambil tetap merekamnya.
“Aku ga… ga bisa Dok…” jawab Rini lirih sambil tetap duduk diam di pangkuan Erik
“Harus bisa…” kata Dokter Tan menyuruh lagi. Tapi istriku tetap diam.
“Johan, buka bajunya, tarik!” suruh Dokter Tan ke Johan. Johan langsung membuka daster istriku lewat kepalanya, sedangkan Rio membuka BHnya yang berwarna krem sehingga buah dadanya mencuat menantang mereka semua. Tinggal kerudung ungu itu yang tersisa di tubuh istriku.

Erik menarik ujung kerudung Rini kebelakang sehingga dada Rini terbuka lebar.
“Ayo kamu perek, naik turun!” perintah Johan sambil meremas kedua buah dada istriku dengan keras. Rini terkejut menerima perlakuan itu tapi ia tetap tidak mau. Johan terus menyuruhnya sambil mencubit kedua puting istriku, tapi ia tetap menolak.

Aku merasa kasihan sekali melihat kondisi istriku. Kedua payudaranya memerah akibat remasan Johan yang keras. Air matanya meleleh di kedua pipinya, tapi ia tetap menolak untuk bergerak. Erik yang kesal karena merasa tidak dilayani lalu membanting istriku ke sampingnya sehingga istriku menungging di atas sofa. Erik lalu dengan kasar menyodok-nyodok kemaluan istriku sambil menampar-nampar pantatnya. Karena sangat bernafsu, Erik tidak terlalu lama hingga akhirnya melepas penisnya lalu pindah ke depan istriku, menarik kerudungnya ke atas dan mengocok penisnya tepat di depan wajah istriku hingga akhirnya maninya muncrat berkali-kali membasahi wajah istriku.

Begitu Erik pindah, Johan langsung mengisi posisi yang ditinggal Erik. Johan langsung menyodok dengan cepat dan brutal sehingga tubuh istriku tersentak-sentak ke depan. Johan pun tidak lama lalu ia mengikuti apa yang dilakukan Erik, memuncratkan maninya di wajah istriku, sebagian membasahi kerudungnya.

Marcel membalikkan tubuh istriku hingga terlentang di atas sofa. Ia mengangkangkan kedua kakiku istriku lebar-lebar dengan kasar kemudian mengarahkan kepala penisnya ke lubang istriku. Bless, tanpa kesulitan penisnya langsung menyusup ke dalamnya. Ia menyodok-nyodok juga dengan kasar sambil mencubiti kedua buah dada istriku. Kadang ia menghisap puting-putingnya, dan meninggalkan cupangan di kedua buahnya. Marcel terus menyodok hingga akhirnya ia hampir keluar. Ia lepaskan penisnya kemudian locat mengangkangi wajah istriku dan menyiramkan maninya di wajah istriku.

Kini giliran Rio yang mendekati istriku. Ia menarik kerudungnya sehingga lepas dari kepalanya. Istriku kini benar-benar telanjang bulat. Ia mengelap wajah istriku dari sisa-sisa mani temannya menggunakan kerudung itu sampai bersih. Marcel lalu mengarahkan penisnya ke lubang kemaluan istriku dan mulai mendorong. Karena penis Rio sangat besar, ketika kepalannya saja yang baru masuk tubuh istriku langsung tersentak. Mungkin ini pertama kalinya kemaluannya dimasuki penis sebesar itu.

Didorongnya terus sampai seluruh batang penisnya masuk, tubuh istriku terangkat merespon panjangnya benda yang masuk ke dalam tubuhnya. Rio mulai bergerak maju mundur. Gerakannya lebih pelan, jauh dari kasar dan brutal seperti teman-teman sebelumnya. Justru gerakan pelan itu, ditambah karena batangnya yang besar sehingga memenuhi rongga kemaluan istriku, dinding-dinding vaginanya benar-benar tergesek oleh batang penis itu, klitorisnya tersundul-sundul, sehingga istriku menjadi tampak sangat terangsang dan menikmatinya. Ditambah mulut Rio yang menghisap-hisap puting istriku yang kanan membuat istriku makin kelojotan.

Puting istriku memang sangat sensitif. Sering kali ketika aku menyetubuhinya sambil menghisap putingnya, maka tak lama ia akan orgasme. Tampaknya sekarang pun hampir terjadi. Demi menerima sodokan yang sangat nikmat di kemaluannya ditambah hisapan di putingnya membuat badannya otomatis ikut bergoyang, pantatnya terangkat-angkat dan berputar-putar mencari posisi ternikmat yang bisa ia dapatkan. Tangannya refleks memeluk tubuh Rio dan mulutnya melenguh panjang dan keras, tanda ia mendapatkan puncak kenikmatan dari persetubuhan itu.

Pinggulnya terus berputar akibat dari puncak kenikmatan yang amat sangat, vaginanya berkedut seolah memerah batang penis Rio. Akibatnya Rio pun makin mempercepat gerakannya dan menyemprotkan maninya di dalam kemaluan istriku.

“Hahaha, bisa orgasme juga ternyata perek ini,” ejek Dokter Tan
“Keren juga lo Rio, batang lo super sih,” kata Marcel ke Rio
Rio hanya tersenyum saja sambil menghabiskan sisa-sisa maninya yang masih tertinggal di dalam penisnya. Kemudian ia bangun dan meninggalkan istriku yang terlentang kelelahan.

“Johan, gantian lo yang rekam nih,” kata Dokter Tan sambil menyerahkan handycam. Dokter Tan kemudian menghampiri Rini dan mengangkatnya hingga menungging kembali, kali ini Rini berlutut di lantai tetapi badannya di atas sofa. Dokter Tan mulai meludahi lubang anus Rini hingga sangat licin dan mulai mencoba memasukkan satu dua jarinya di lubang itu.

“Aduh Dok sakit, jangan di situ Dok,” rintih istriku.
“Hah diem lo perek, anus lu masih perawan kan, si Hasan ga pernah nusuk anus lu kan? nih gua ajarin,” jawab Dokter Tan.
Setelah dua jari bisa masuk, Dokter Tan mulai mencoba memasukkan penisnya ke dalam lubang pantat istriku. Kepala penisnya sangat besar, Johan mengclose up adegan itu di mana kepala penis Dokter Tan benar-benar meregangkan lubang pantat istriku yang mungil. Dokter Tan terus memaksa sambil meludahi lubang itu, membuat istriku merintih dan berteriak. Rio berinisiatif menutup mulut istriku dengan tangannya supaya teriakan istriku tidak terlalu kencang.

Dokter Tan masih terus mendorong hingga akhirnya kepalanya bisa masuk semua. DIa terus meludahi batang penisnya sendiri dan terus mendorong hingga setengah batangnya bisa masuk. Ia tarik keluar perlahan kemudian dimasukkan lagi. Rio memegangi mulut istriku sementara Marcel memegangi pundaknya supaya tidak banyak bergerak. Dokter Tan mulai bergerak maju mundur menikmati pijitan anus istriku pada penisnya. Jelas saja pijitannya sangat kuat sebab itu pertama kalinya lubang anus istriku dimasuki penis sebesar itu.

Makin lama gerakan Dokter Tan makin cepat, istriku sudah diam pasrah tidak bergerak sampai akhirnya Dokter Tan melenguh sambil meremas pantat istriku dengan kuat. Ia menyemprotkan maninya di dalam anus istriku.

“Ahh gila emang istri si Hasan ini, ga percuma, nikmat banget anusnya,” ujar Dokter Tan sedikit terengah-engah. Dokter Tan menikmati momen itu sambil menunggu orgasmenya reda. Setelah itu ia mencabut penisnya yang mulai mengecil dari lubang pantat istriku. Ternyata ada sedikit kotoran tertinggal di penisnya bercampur cairan kental putih. Tentu saya karena istriku memang tidak mempersiapkan diri untuk dianal.

“Sialan, ada tainya lagi,” ujar Dokter Tan. Dia lalu menuju kamar mandi dan terdengar suara gemericik air dari kamar mandi sementara Johan masih merekam tubuh istriku yang sudah lunglai berbaring menyamping di karpet.
“Hei, gotong perek itu kemari,” terdengar perintah Dokter Tan. Mereka lalu menggotong tubuh istriku seperti mengangkat karung tepung, dan meletakkannya di lantai kamar mandi. Dokter Tan mendudukkan istriku yang sudah tidak berdaya dengan posisi menyandar ke tembok kamar mandi. Kemudian ia berdiri, dan mengarahkan penisnya ke tubuh istriku di bawahnya. Lalu memancarlah cairan kuning dari penis itu. Ia mengencingi tubuh istriku. Diarahkannya air kencing itu ke muka, dada, rambut, perut dan selangkangan istriku.

“Hahaha, rasain lu Hasan, gua kencingin istri lu depan belakang,'” ujar Dokter Tan sambil tertawa. Mahasiswanya yang lain pun mengikuti apa yang ia lakukan, memancarlah air kencing itu dari keempat pria lainnya, sementara istriku hanya bisa berusaha supaya air kencing mereka tidak mengenai wajahnya.

Puas mengencingi istriku, mereka langsung keluar kamar mandi. Tak lama video itu berakhir. Aku hanya bisa terpaku menyaksikan itu semua, di kantorku. Aku tidak jadi pemenang. Aku bukan pemenang. Justru istriku lagi-lagi jadi korban, korban egoku.

Perasaan antara, terhina, sedih, marah, bercampur dalam hatiku. Kenapa istriku yang harus jadi korbannya. Padahal aku sudah menahan diri untuk tidak menyetubuhi Lily, tapi ternyata apa yang dialami istriku lebih menyakitkan.



Jam sebelas malam aku sampai rumah. Aku buka pintu rumah sendiri karena aku bawa kunci. Aku masuk ke ruang tengah, istriku sedang nonton tv di sofa, di tempat dia dipermalukan sejadi-jadinya tadi sore.

“Eh mas baru pulang jam segini,” ujar Rini
“Neng kok belum tidur?” tanyaku
“Belum ngantuk nih,” jawabnya
Aku duduk di meja makan sementara Rini menuju ke dapur membuatkanku teh manis panas. Ia berjalan tertatih-tatih.
“Kok jalannya pincang?” tanyaku
“Ehmmm, iya tadi aku jatoh tadi, tapi gapapa kok udah dikasih balsem,” jawabnya. Aku tahu bahwa sebenarnya ia pasti masih kesakitan karena tadi lubang anusnya diperawani oleh dokter bajingan itu.
“Neng ga sakit kan?” tanyaku lagi
“Engga kok Mas, aku cuma agak cape hari ini,” jawabnya berbohong

Aku membersihkan diri, kemudian berbaring di kamar tidur kami bersebelahan dengan istriku yang memakai daster putih. Aku teringat video tadi, bagaimana tubuh molek istriku dikerjai oleh pria-pria bangsat itu. Aku jadi penasaran seperti apa tubuhnya sekarang? seperti apa dadanya yang sudah dihisap oleh mereka? seperti apa kemaluannya? apakah jadi longgar? apakah lubang anusnya terluka?

Aku menjadi terangsang memikirkan hal itu. Aku mulai menciuminya, mulai dari pipinya, bibirnya, hingga lehernya. Aku tahu walau istriku baru saja diperkosa tadi sore, ia tidak akan menolakku. Ia tidak pernah menolakku. Kubuka dasternya lalu kucopot BHnya. Aku mendapati bekas cupangan di situ, dua di kanan dan satu di kiri.
“Loh kok ada cupangan?” tanyaku pura-pura heran
“Itu bukan cupangan. Tadi siang aku tidur ga pake baju karena gerah, eh banyak nyamuk. Aku garuk eh jadi begini,” jawabnya bohong.
“Nyamuknya pasti nyamuk jantan ya hahaha,” kataku mencairkan suasana
“Iya kali, tau tuh nyamuk nakal,” katanya tersenyum. Mungkin ia merasa lega karena suaminya tidak curiga.

Aku terus menciumi buah dadanya, perutnya, pinggulnya sambil melolosi celana dalamnya. Kubuka kakinya lebar-lebar, kuamati perhiasan istriku yang paling rahasia ini, yang tadi sore telah terenggut kesuciannya oleh mereka. Kuhirup aromanya, masih seperti aroma yang kukenal. Aku mulai menciumi dan menjilat bibir vaginanya, sambil membayangkan inilah yang tadi dihajar oleh pria-pria itu, yang dimasuki dan disodok berkali-kali. Aku makin terangsang.

Kujilati sampai basah hingga istriku pun terus menggelinjang menikmati perlakuanku. Aku segera membuka celanaku hingga penisku mengacung, kemudian mulai mengarahkan ke vaginanya. Yah, sekarang lebih gampang masuknya. Biasanya agak seret. Penisku masuk dengan mudahnya menggelosor di dalam lubang vagina istriku. Aku terus memaju-mundurkannya menikmati lubang ini.
“Aduh mas, terus mas… Mas, lubangku masih rapet ga mas?” tiba-tiba dia bertanya di tengah persetubuhan ini, pertanyaan yang belum pernah ia tanyakan selama ini.
“Masih neng, aduh enak banget ini,” jawabku berbohong

Istriku tersenyum mendengar jawabanku. Ia memelukku sambil kami berciumam bibir dengan bibir, sementara di bawah aku terus menyodokknya. Setelah sekitar lima menit, aku minta ia berbalik. Ia mengerti, lalu ia menungging. Aku mulai menyodoknya lagi dari belakang sambil aku mengusap-usap dan mencoba membuka lubang duburnya. Bisa kulihat, tampak lebih longgar.
“Aduh mas jangan di situ dong, ndak boleh,” ujarnya
“Engga kok neng, cuma pengen lihat aja hehe…” jawabku singkat
Aku terus menyodok menyetubuhinya, tak lama dalam posisi doggy ini hingga maniku tersembur di dalam kemaluannya. Aku sudah terlalu terangsang sehingga aku tidak bisa membuatnya orgasme terlebih dahulu.

Aku langsung berbaring di sampingnya. Dia pun berbaring di pelukanku.
“Mas, aku udah ga betah di sini. Kita cari rumah yang lebih deket sama kantormu saja, biar ga terlalu jauh,” ujarnya masih berada di pelukanku.
“Iya dek, nanti ya kita cari…” jawabku mantap

Sebuah sore yang cerah ketika aku mengunjungi sebuah kafe di sebuah pusat pertokoan di kota ini. Aku mencari seseorang yang aku sudah buat janji dengannya. Itu dia, sedang duduk seorang diri membaca tabletnya sampai ia akhirnya melihat kedatanganku. Ia berdiri dan menyambutkan dan kami bersalaman.

“Hasan apa kabar?” lama tidak ketemu
“Baik Dok, Dokter apa kabar?” jawabku
“Yah, beginilah kita…” katanya sambil kami duduk
“Pesan apa pak?” tanya seorang pelayan mendekati kami
“Aku jus buah naga ya,” jawab Dokter Tan
“Aku minta teh hijau lechi ya,” jawabku
“Baik pak ditunggu ya..” ujar pelayan itu.

“Dok, pertama aku mau minta maaf. Pertama untuk semua kesalahanku ketika di rumah sakit. Kedua untuk apa yang telah kulakukan di rumah Dokter,” kataku
“No no no, Hasan. Aku yang salah. Aku yang tidak bisa mengontrol diri ketika memeriksa istrimu di rumah sakit. Ini semua awalnya gara-gara kesalahanku,” ucapnya.

“Hasan, entah bagaimana aku harus minta maaf kepadamu, dan kepada istrimu. Apa yang kulakukan benar-benar keterlaluan, menjijikkan. Sementara kau, sama sekali tidak melakukan apa-apa ke istriku. Yah, apa yang kau lakukan, sesuai dengan apa yang pernah kulakukan kepada istrimu di rumah sakit. Tapi apa yang terakhir kulakukan, benar-benar…” ujar Dokter Tan.
“Dok, aku dan istriku ingin melupakan ini semua. Saya harap ini yang terakhir kalinya kita seperti ini,” jawabku
“Baiklah Hasan, aku juga sadar apa yang telah kita lakukan selama ini salah, akibatnya istri-istri kita yang menjadi korban. Sekali lagi, aku minta maaf..” kata Dokter Tan sambil menjulurkan tangan
“Iya Dok, sama-sama, sekali lagi aku juga minta maaf,” kataku
Kami berjabat tangan kembali. Pelayan datang mengantarkan pesanan kami.

“Hasan, aku ingat kau pernah lalai ketika bekerja di rumah sakit masalah komputer. Tapi itu sudah kau bereskan. Selain itu, tidak ada masalah lain. Sebenarnya pekerjaanmu cukup memuaskan. Kalau kau mau, kau bisa bekerja kembali di tempatku,” kata Dokter Tan
“Terima kasih Dok tawarannya, tapi akan kami pertimbangkan dulu,” jawabku diplomatis.
“Ya ya, dan jangan khawatir, kalau istrimu mau periksa, saya akan pastikan Dokter Vina yang memeriksa. Saya akan pergi jauh-jauh hahaha…” ujarnya berusaha meyakinkan

“Hasan, kenapa waktu di rumahku, kalian tidak semuanya menyetubuhi istriku? malah cuma berdua? apa istriku kurang seksi” tanya Dokter Tan penasaran
“Bukan begitu Dok, sebenarnya tujuan kami cuma pamer saja, bahwa kami bisa melakukan seperti itu. Untuk urusan kepuasan, kami lebih memilih dengan istri-istri kami yang sah. Kebetulan dua orang itu memang belum menikah jadi tidak punya pelampiasan,” terangku.
“Oh I see, Oke,” jawabnya
“Satu lagi Dok kalau aku boleh kasih saran, istri Dokter sebenarnya sangat tersiksa kalau disetubuhi lewat anusnya. Di video yang kami tonton, dia menangis kesakitan setelah dokter sodomi. Ini sih saran saya, sebaiknya dihentikan saja,” usulku.

Dokter Tan terdiam melihat ke langit sore yang cerah, menerawang sesuatu.
“Yeah bener juga. Secara ilmu, aku pun yakin kalau apa yang kulakukan salah. Aku dokter kandungan, jelas mengerti. Memang selama ini aku terlalu mengikuti nafsuku saja, mungkin karena bosan dan mencari variasi. Tapi ya tetap pada dasarnya, itu penyimpangan. By the way makasih sarannya. Saya akan berhenti,” jawabnya.
“Ok Dok, sudah sore, saya mau langsung pulang. Terima kasih atas waktunya,” ujarku
“Terima kasih juga Hasan, saya harap hubungan kita mulai sekarang jadi hubungan baru yang lebih baik,” ucapnya.
Kami berjabat tangan lagi, yang ketiga kali hari itu. Mungkin jabat tangan kami yang terakhir…

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 4 Terbaru

Agustus 02, 2018 Add Comment

Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 3

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 3 Terbaru

Sehari setelah kukirim email video pembalasanku ke Dokter Tan, kami tidak bisa lagi memonitor gerak-gerik Lily di rumahnya. Ternyata Dokter Tan sudah mencabut semua set kamera yang kupasang. Padahal satu unit kameranya lumayan mahal, tapi untungnya Ali tidak mempermasalahkannya. Tapi set kamera yang satu lagi yang mana Dokter Tan memiliki akses untuk memonitornya belum dicopot. Dengan sedikit trik, kami bisa masuk ke sistem kamera tersebut dan mengawasi rumah Dokter Tan walaupun bukan di spot-spot yang bisa menimbulkan pemandangan erotis.

Itulah hebatnya tim ini, dengan peralatannya bisa masuk ke sistem kamera keamanan siapa saja, tergantung tingkat enkripsi sistem itu. Persis kayak di pelem-pelem.

Hari ini adalah waktu yang telah direncanakan. Kami memeriksa kamera di rumah sakit, Dokter Tan keluar rumah sakit sekitar pukul satu siang bersama keempat mahasiswa magangnya. Mereka pergi menggunakan mobil Dokter Tan, artinya mereka tidak mungkin langsung pulang karena mobil mahasiswa yang lain masih ada di rumah sakit semua.
Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 3
Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 3

Agak deg-degan juga apakah hal ini akan berhasil atau tidak. Semua peralatan sudah disiapkan. Semua tim tampak antusias, terutama Johan yang tampaknya telah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Lily.

Kedatangan kami ke rumah Dokter Tan sore itu disambut pembantunya yang telah mengenali kami ketika memasang kamera beberapa hari minggu yang lalu. Karena sudah kenal kami dipersilakan masuk ke ruang tamu.
“Waduh mas-mas, bapaknya belum pulang, bagaimana ya?” tanya pembantu itu
“Kalo ibunya ada mbak?” tanya Ali
“Ada, bentar yah saya panggilkan, pada mau minum apa?” kata pembantu itu
“Aduh makasih Mbak jangan repot-repot, teh saja cukup,” jawab Ali lagi
“Baik ditunggu sebentar ya,” ujarnya sambil masuk ke rumah

Tak lama Lily datang ke ruang tamu, dia tampak baru bangun tidur terlihat dari bekas di wajahnya. Dia menggunakan kaos yang cukup panjang dan celana pendek selutut sehingga kami masih sedikit bisa menikmati betisnya yang bunting. Betisnya dulu, sebelum kami menikmati yang lainnya.

“Oh mas-mas ini dari security camera yah? iya kemaren suami saya kayanya nyopot beberapa kamera di sini terus saya ga tau disimpen di mana. Apa ada yang rusak atau ada gangguan?” tanya Lily. Tampaknya suaminya tidak memberi tahu Lily perihal kami yang mengintip dirinya. Pembantunya datang menyuguhkan teh manis untuk kami kemudian masuk lagi ke ruangan tengah.

“No, no. Semua baik-baik saja kok mbak, hmm, siapa namanya mbak?” tanya Ali pura-pura tidak tahu.
“Saya Lily,” jawab Lily pendek.
“Oh Mbak Lily. Iya semua baik-baik saja. Kami hanya ingin memperlihatkan hasil monitor kamera kami ke Mbak,” jawab Ali santai.
“Eh mas, sepertinya saya pernah lihat mas deh, tapi di mana ya?” tiba-tiba Lily memperhatikanku.
“A…anu mbak, ah mungkin perasaan mbak saja, saya juga belum pernah kemari,” elakku sekenanya
“Oh ya…ya, mungkin perasaan aja. Jadi apa yang mau diperlihatkan?” tanya Lily lagi
“Johan, kemarikan ipadnya,” kata Ali kepada Johan.

Johan mengeluarkan ipad dari tasnya, kemudian memberikannya ke Ali. Ali mulai mencari video yang dimaksud di folder dan mulai menyetelnya.
“Mbak, ini antara kita saja ya, tidak perlu diketahui orang lain. Suami Mbak juga tidak perlu tahu lah masalah ini,” ujar Ali sedikit berbisik kepada Lily.
“Loh memangnya kenapa sampai suami saya tidak boleh tahu?” tanya Lily penasaran.
“Coba saja dicek sendiri,” jawab Ali sambil menyerahkan ipad itu ke Lily.

Lily mulai menyaksikan video demi video, mulai dari ia berenang bugil, kegiatan dia di kamar mandi dan kamar tidur, sampai dengan hubungan intimnya dengan suaminya. Perlahan mukanya berubah menjadi memerah, nafasnya agak cepat dan bulir keringan menetes di pelipisnya. Dia menonton sampai semuanya tuntas. Kemudian dia memeluk ipad itu seolah tak ingin ipad itu jatuh ke tangan kami lagi.

“Oke, saya sadar sekarang, kalian penjahat kelamin bajingan, kalian mau apa? mau memeras saya?” tanya Lily dengan nada suara agak tertahan karena marah
“Mbak Lily, saya harap video ini tidak perlu jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Saat ini, sampai detik ini, kami masih bisa mengamankannya. Tapi besok? belum tahu. Saya harap kita bisa bekerja sama supaya video ini tetap aman dan sampai tidak tersebar,” jawab Ali sangat diplomatis
“Oke, kalian minta berapa?” tanya Lily singkat dan mulai tidak sabaran
“Kami tidak minta uangmu sayang, kamu bisa simpan uangmu dengan utuh. Kami hanya minta, tubuhmu saja…” jawab Ali.

Mendengar jawaban Ali, muka Lily makin merah. Ia benar-benar marah dengan kami namun ia masih berusaha menahan diri.
“Kalian benar-benar bajingan. Kalian pikir saya mau menyerahkan tubuh saya begitu saja?” ujar Lily
“Oke, kami tidak akan lama-lama kalau mbak tidak mau bekerja sama. Tapi, mbak siapkan kalo besok video itu sudah tersebar di internet?” jawab Ali lagi
Lily terdiam. Dia berusaha berpikir jernih. Dia tampak tidak ingin melayani kami, tapi dia juga tidak mau video itu tersebar.

“Apa tidak ada jalan lain? please, sebutkan saja berapa harganya, akan saya penuhi,” Lily mencoba menawar kepada Ali.
“Mbak, bayangkan saja besok semua staf di rumah sakit suami Mbak, semua tahu apa yang bos mereka lakukan terhadap Mbak, seorang dokter kandungan menyodomi istrinya sampai istrinya menangis kesakitan, mbak benar tidak apa-apa kalau itu sampai tersebar?” Ali masih terus berusaha membujuk.

Lily terdiam kembali, kemudian tubuhnya melunglai. Ia berikan ipad itu ke Ali dengan tangan kirinya, tanda ia sudah tidak respek dengan kami.
“So, kalian mau apa dengan tubuhku? kalian mau memperkosa aku?” tanya Lily pelan
“Oh tidak manis, kami tidak suka ada pemaksaan. Justru kau harus melayani kami dengan sepenuh hati. Jadilah istri kami untuk sebentaaaar saja, kami janji kami tidak akan berlaku kasar seperti suamimu manis,” jawab Ali meyakinkan. Aku bahkan tidak menduga Ali bisa berkata-kata seperti itu.
“Kapan? dimana?” tanya Lily lagi singkat
“Sekarang, di kamarmu,” jawab Ali tegas
“Sekarang? itu ada pembantuku bagaimana kalau dia tahu? bagaimana kalau anakku pulang?” tanyanya agak panik
“Let’s make it simple honye, kita masuk ke kamar, kunci pintunya, dan semua akan selesai dalam sekejap saja. Mudah bukan? Setelah itu kamu tidak perlu khawatir dengan video ini. Kami tidak akan mengingkari janji kami,” jawab Ali berusaha meyakinkan.

Lily terdiam lagi, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini adalah jalan terbaik.
“Baiklah, tunggu sebentar,” jawab Lily. Kemudian ia berdiri menuju kamarnya. Setelah memastikan pembantunya tidak ada, dia mempersilakan kami masuk ke kamarnya.
“Masuk saja,” katanya sambil memberi tanda. Kami berenam masuk dengan cepat ke kamar itu.

Lily menjadi orang terakhir yang masuk ke kamar. Ia menutup dan mengunci pintu itu. Entah bagaimana perasaan yang lain, tapi aku merasa canggung. Apakah harus sejauh ini untuk membalas apa yang suaminya telah lakukan kepada istriku. Tapi sudah terlanjur, aku meyakinkan diri bahwa ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Kamar itu sangat luas, ada meja tv, sofa, dan lantainya beralaskan karpet yang cukup tebal.
“Kalian tunggu dan lihat ya, aku duluan,” kata Ali pada kami.
“Siap bos,” Yono menjawab.
Kami duduk berlima di sofa yang cukup besar berbentuk huruf L. TInggal Ali yang duduk di tepi ranjang sedangkan Lily masih berdiri mematung di dekat pintu.
“Kemari manis, dekat dengan abang,” ujar Ali. Lily berjalan pelan mendekati Ali di tepi ranjang.
“Buka kaosnya sayang,” pinta Ali. Lily perlahan mulai mengangkat kaosnya melewati kepalanya hingga tinggal BH berwarna hitam yang menutupi dadanya yang lumayan besar, kontras dengan kulitnya yang putih.
“Celana juga sayang,” pinta Ali lagi. Lily menurut dan mulai menurunkan celananya hingga ia tinggal memakai celana dalam berwarna hitam juga.
“Berbaring di sini sayang, ayo,” Ali meminta Lily berbaring di ranjang. Lily masih dengan gerakan perlahan mulai naik ke ranjang dan kemudian berbaring terlentang.
“No no, tengkurep dulu aja sayang, supaya kamu tidak tegang dan merasa relax,” ujar Ali. Lily pun kemudian membalikkan badannya. Ali kemudian berjalan ke meja rias Lily dan melihat ada botol minyak zaitun. Ia mengambilnya dan kembali ke dekat Lily.

Ia membuka botol itu dan mulai mengucurkan isinya ke punggung dan tengkuk Lily. Kemudian dengan tangannya yang kekar ia mulai memijiti bagian belakang Lily. Kadang ke atas kadang ke samping kadang ke bawah. Lalu ia membuka kait BH di punggung Lily dan dilebarkannya ke samping sehingga kami bisa melihat gundukan buah dada Lily yang terhimpit di bawah tubuhnya.

Setelah puas bermain di punggung, tangan Ali mulai bergerak ke bawah meremasi bongkahan pantat Lily yang membulat. Ia menurunkan celana dalam Lily hingga kini ia telanjang sama sekali. Ali melumuri sekujur bagian belakang tubuh Lily dengan minyak dari tengkuk hingga betis dan telapak kakinya, memijati, kadang membelai, kadang meremas dan bahkan mencubit. Lily sama sekali tidak memberikan perlawanan, bahkan sepertinya menikmati perlakuan Ali. Ali memang mengetahui cara memijat, ini ia lakukan supaya Lily menikmati semua proses ini dan tidak memberikan perlawanan.

Ali kemudian menarik kedua kaki Lily saling menjauh sehingga ia mengangkang. Ali memberikan lebih banyak lagi minyak di belahan pantat Lily, kemudian jarinya dengan lembut mulai menyusuri belahan itu perlahan dari klitorisnya di bawah, naik lagi ke lubang pantatnya, turun lagi sampai klitorisnya hingga kami melihat pantat Lily bergerak-gerak menerima sentuhan erotis jari-jari Ali.

“Agus, shoot here now,” kata Ali pada Agus. Agus mulai menyalakan handycam dan mendekati ranjang dan mulai merekam kegiatan mereka, terutama fokus ke pantat dan selangkangan Lily yang sedang dikerjai oleh Ali.
“Oke manis, coba berbalik sekarang,” ujar Ali kepada Lily
Lily membalikkan tubuhnya, tapi ia terkejut ketika melihat Agus sedang merekamnya hingga ia refleks menutup kedua buah dada dan selangkangannya menggunakan kedua tangannya.
“No, jangan direkam lagi, kamu sudah janji bajingan,” ujar Lily marah kepada Ali
“Ssst tenang sayang, ini cuma buat koleksi kami saja. Aku janji manis, semua video tidak akan ada yang tersebar asal kamu mau nurut. Oke… Sini tangannya buka lagi, biar abang pijit lagi ya manis…” Ali berusaha membujuk Lily sambil menarik kedua tangannya sehingga kedua buah dada itu terbuka kembali.

Ali mulai memijit kedua pundak Lily sehingga Lily menjadi relaks kembali. Tetes demi tetes minyak zaitun mengucur di kedua buah dada Lily hingga ke perut dan pinggangnya diikuti belaian tangan Ali membalurnya. Ali meremas-remas kedua payudara itu sambil sesekali mengurut putingnya sehingga Lily merasa geli dan nikmat. Ia ingin melenguh tapi berusaha menahan supaya suaranya tidak keluar sehingga yang terdengan seperti ia menggumam. Ketika tangan Ali meremas, badan Lily ikut merespon sehingga punggungnya terangkat dari ranjang. Tangan Lily refleks mencengkram lengan Ali menikmati perlakuan tersebut.

Puas bermain di payudara, Ali melanjutkan ke perut dan pinggul Lily. Diremas-remasnya kedua pinggul Lily sehingga Lily meresponnya menggoyangkan pinggulnya. Lalu tangan Ali terus ke bawah membalur dan meremas paha hingga betis Lily. Kemudian Ali menyampingkan kedua kaki Lily hingga Lily mengangkang lagi. Kemudian kedua kaki Lily ditekuknya keduanya di bagian lutut sehingga vagina Lily terangkat dan makin jelas terlihat. Ali meneteskan sedikit minyak zaitun di belahan vagina Lily.

“Hasan, sepertinya ini bagianmu,” ujar Ali kepadaku. Ali mengerti bahwa ini saatnya aku membalas perlakuan suami Lily kepada istriku Rini, yaitu dengan menjamah selangkangannya. Aku berdiri dan mendekati selangkangan Lily. Lipatan bibirnya menebal dengan kulit disekelilinya yang putih mulus, di atasnya sejumput rambut kemaluan yang hitam tertata rapi. Benar-benar pemandangan yang luar biasa indahnya. Aku mengambil botol minyak zaitun dan melumuri tanganku hingga licin. Kemudian jempolku mulai mengelus lipatan bibir itu hingga perlahan kedua bibir itu memisah meninggalkan celah berlubang di antara keduanya. Jempolku terus masuk ke celah itu dan terus bergerak perlahan ke atas dan ke bawah hingga Lily meresponnya dengan menggerakkan pinggulnya ke atas dan ke bawah. Kemudian setelah kurasa ia cukup basah, kusodorkan jari telunjuk dan jari tengahku ke muka lubang vaginanya, kudorong perlahan sambil kuputar-putar seperti mengebor lubang itu supaya menganga lebih besar.

Terus kutekan perlahan hingga kedua jariku tenggelam di lubang itu. Kutarik keluar, kemudian kudorong lagi ke dalam berulang-ulang hingga pinggul Lily bergerak makin tidak karuan dan mulutnya mulai melenguh tanda ia menikmati perlakuanku. Aku merasa ia sudah hampir orgasme, lalu kuhentikan gerakan jariku agar ia merasa tanggung.

Aku turun dari ranjang dan berdiri di samping Agus yang masih terus merekam.
“Lanjut?” tanya Ali padaku.
“Engga, cukup. Suaminya cuma main tangan di memek istriku, jadi aku cuma segitu aja,” jawabku
“Oke, terus siapa lagi yang mau?” tanya Ali ke teman-teman yang lain
“Elo ga mau ngentot dia bos?” tanya Johan pada Ali
“Engga ah, gue cuma mau raba-raba aja. Gue mah setia ma bini gue,” jawab Ali ringan.
“Ya udah gua aja kalo gitu,” jawab Johan spontan

Johan langsung berdiri dan menanggalkan pakaiannya satu per satu hingga ia bugil. Aku sebenarnya sudah ngaceng juga, tapi melihat Johan bugil berhasil membuat tititku tidur kembali. Johan langsung naik ke ranjang dan hinggap di atas tubuh Lily. Tapi ternyata ia tidak langsung menyodokkan torpedonya yang sudah bangun walaupun lubang Lily sudah becek dan menganga. Ia memperhatikan wajah Lily, menikmati kecantikannya, sambil mengelus rambut dan pipi Lily yang mulus itu.
“Lily, oh I love you honey,” bisik Johan di telinga Lily.

Johan kemudian mencium bibir Lily dengan ciuman mesra. Lily yang memang sedang sangat terangsang membalas ciuman itu sehingga aku seperti melihat sepasang kekasih yang sedang berciuman, bukan seorang penjahat kelamin yang sedang memangsa korbannya.

“Oh Lily, kamu cantik sekali. Kalau kau mau jadi kekasihku, aku tidak akan menyiksamu seperti suamimu. Aku akan memberikan kepuasan kepadamu cantik,” ujar Johan. Lalu ia mencium Lily lagi dengan lahap.
“Gombal juga nih si Johan,” kata Ali sambil tersenyum

Sambil terus mencium Lily, Johan mulai mengarahkan torpedonya ke lubang yang basah itu. Tidak terlalu sulit baginya karena penisnya memang sudah tegang maksimal. Kepala penisnya berhasil menemukan celah yang diliputi selaput-selaput bibir yang halus. Ia gesekkan kepala penisnya sedikit untuk membuka jalan bagi batangnya sementara bibirnya tak lepas mencium mesra bibir Lily. Perlahan ia mulai mendorong, kepala penisnya mulai menyibak tirai vagina Lily yang sedikit berjengger. Terus ia dorong sampai kepalanya masuk semua, lalu ia dorong sekaligus sehingga tubuh Lily terhentak merasakan tusukan benda tumpul itu di tengah dirinya.

Johan terus menekan ke depan sehingga kangkangan Lily yang tadinya ke depan sedikit-sedikit berubah arah menjadi ke atas. Johan kadang menghujam dengan keras dan cepat kadang ia memperlambat seolah dengan penuh perasaan. Ia benar menikmati gesekan dinding vagina Lily pada sekeliling batang penisnya. Johan terus menghentak dari atas sambil kedua telapak tangannya mulai meremas kedua buah dada Lily, sementara bibirnya kadang bergerilya ke telinga hingga ke leher Lily.

Sekitar dua menit dalam posisi itu tampaknya membuat Johan semakin dekat. Ia memperlambat gerakannya seolah ia tidak ingin momen persetubuhan itu berhenti. Tapi justru Lily yang menjadi aktif dari bawah ia menggoyang pinggulnya ke atas dan memutarnya sehingga selangkangan keduanya menjadi sangat berdempetan. Menerima perlakuan seperti itu, Johan makin tidak kuat.

“Aduh sayang, aku mau keluar sayang, akkhh…” Johan berbisik di telinga Lily tapi cukup keras sehingga kami bisa mendengar
“Aku juga, terus yang keras…” jawab Lily

Akhirnya kulihat tubuh keduanya mengejang secara bersamaan, tangan-tangan mereka saling memeluk satu sama lain seolah tak ingin tubuh mereka seinchi pun berpisah. Mereka saling menikmati puncak persetubuhan ini sampai akhirnya pelukan mereka melonggar.
“Makasih sayang…” ujar Johan sambil mencium pipi Lily yang masih memerah, entar karena gerah atau karena malu merasakan nikmat.

Johan melepaskan pelukannya kemudian bangun dan memakai pakaiannya sementara Lily terlentang lemas dengan kedua telapak tangannya menutupi selangkangannya.
“Giliran siapa lagi?” tanya Ali
“Giliran gue sekarang,” jawab Yono sambil membuka celananya.
“Elo kaga bro?” tanya Johan ke Hadi sambil merapikan pakaiannya.
“Ogah ah bekas elu mah, ntar gue kena penyakit kelamin lagi,” jawab Hadi sekenanya
“Sialan lo, gua mah bersih tau, aman…” jawab Johan rada keras

“Neng cantik balik badan neng,” ujar Yono yang penisnya sudah mengacung lega karena terbebas dari himpitan celana dalamnya sambil membatu Lily membalikkan badannya.
Lily pun membalikkan badannya sambil menungging karena ia merasa Yono akan mendoggynya.
“Aduh mulus banget ini pantat, sekel lagi,” kata Yono sambil mengelus dan meremas pantat Lily. Yono kemudian merenggangkan kedua kaki Lily dan mencolok vagina Lily dari belakang.
“Sialan nih peju si Johan banyak banget,” katanya. Tapi dia tidak ambil pusing. Ia langsung mengarahkan penisnya ke lubang yang sudah sangat becek itu dan langsung mendorongnya masuk. Tubuh Lily terhentak kembali menerima sodokan itu. Ia mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk menerima kenikmatan yang datang lagi sebab orgasme sebelumnya benar-benar menguras staminanya. Mungkin sudah lama ia tidak merasakan orgasme sehebat itu karena selama ini ia hanya menjadi pelampiasan nafsu suaminya yang tidak memperhatikan kepuasan dirinya.

Yono mulai bergerak dengan ritme yang tetap dan perlahan sambil tangannya terus meremasi dan kadang-kadang menampar bongkahan pantat Lily. Lalu jarinya mulai usil mencolok lubang anus Lily yang sebenarnya sudah licin. Ia ludahi lubang itu supaya jempolnya bisa masuk.
“Aduh bang jangan di situ bang…” tiba-tiba Lily memohon kepada Yono.
“Eit Yon jangan disodomi Yon, kasian pacar gua,” Johan ikut menimpali dari sofa
“Kaga, pake jari doang,” jawab Yono sambil terus memompa Lily dan jempolnya mengurek-urek lubang anus itu. Memompa sambil disuguhi lubang anus Lily yang merah kontras dengan bongkahan pantatnya yang putih membuat nafsu Yono naik makin tinggi. Ia mempercepat goyangannya sambil kedua tangannya meremas erat pantat Lily dan..

“Aduuuuuuh, enak banget gila,” teriak Yono sambil memuncratkan maninya sedalam-dalamnya di vagina Lily. Tak lama ia melepaskan penisnya dan duduk lemas di belakang Lily yang masih menungging. Agus tak melewatkan momen itu, ia menzoom handycamnya ke arah vagina Lily yang meneteskan cairan-cairan putih kental dari lubangnya.
“Ga nyangka gue, pertama ngentot langsung dapet panlok, cantik, bahenol pula, rejeki anak soleh emang,” kata Yono sambil memakai celananya lagi.

“Siapa lagi yang mau?” tanya Ali kepada kami. Kami semua menggeleng tanda pertunjukan sudah usai. Lily menurunkan pantatnya sehingga ia berbaring tertelungkup di ranjangnya. Ia mengambil napas panjang tanda lega bahwa ia sudah tidak perlu lagi melayani kami.
“Oke, thanks ya Mbak Lily, kami pamit dulu. TIdak usah repot-repot mengantar kami keluar. Yang penting kami janji video Mbak Lily tidak akan kami sebar,” ujar Ali bermaksud pamit.

Lily tidak bisa merespon apa-apa. Ia hanya berbaring menatap kami yang keluar dari kamarnya satu per satu. Johan adalah yang terakhir keluar. Ia menutupi tubuh telanjang Lily dengan selimut yang ada di ranjang itu sambil mengecup pipi Lily.
“Makasih ya sayang. I will always love you. Mmuahh,” uajr Johan pada Lily sambil mencium pipinya. Lily tetap tak merespon.

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 3 Terbaru

Agustus 02, 2018 Add Comment

Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 2

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 2 Terbaru

Sudah sebulan setelah istriku dikuret. Atas saran tetanggaku yang bidan, istriku sebaiknya pasang IUD dulu sebelum nanti mencoba untuk hamil lagi. Setelah tanya-tanya ke bagian finance, ternyata kalau istriku pasang IUD di rumah sakit bisa gratis karena posisiku sebagai karyawan tetap. Akhirnya aku dan Rini sepakat untuk pasang di rumah sakit.

Tapi kami teringat pengalaman kemarin, ketika seharusnya Dokter Vina yang operasi tapi ternyata tiba-tiba diganti Dokter Tan. Aku sempat konfirmasi ke Dokter Vina beberapa hari setelahnya, ternyata memang benar bahwa jadwal praktek hari itu diganti mendadak oleh Dokter Tan. Aku semakin yakin kalau itu memang akal-akalan dokter bajingan itu. Tapi sudahlah, aku berusaha melupakan semua kejadian itu.
Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 2
Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 2
Sesuai jadwal praktek yang ada di databaseku, sore ini Dokter Vina praktek. Aku sengaja tidak membuat janji supaya Dokter Tan tidak tahu istriku akan pasang IUD di rumah sakit sore ini. Aku akan mendaftar seperti biasa saja, bedanya aku tidak perlu bayar. Istriku datang sekitar jam setengan enam sore, dan kami mendapat urutan ke-36. Beginilah risikonya kalau tidak buat janji di rumah sakit ini, selalu penuh.

Selepas maghrib kami menunggu di lobby sambil nonton tv yang ada di lobby tersebut. Satu per satu pasien keluar masuk ruang periksa. Aku sudah memastikan ke bagian pendaftaran bahwa hari ini Dokter Vina praktek. Berarti semua sesuai rencana. Tiba-tiba dari ruangan prakter keluar Dokter Tan dan keempat mahasiswa koasnya, tampaknya mereka sudah mau pulang, tapi sialnya Dokter Tan melihatku di lobby bersama istriku. Langkah Dokter Tan terhenti sebentar, menyuruh mahasiswanya jalan duluan, dia menghampiri bagian pendaftaran. Dia memeriksa daftar pasien, lalu masuk lagi ke ruang periksa.

Aku jadi punya firasat buruk. Tapi mengingat di dalam ada Dokter Vina, aku merasa sedikit lega. Yang penting di dalam ada Dokter Vina supaya Dokter Tan tidak perlu macam-macam.

“Nomor tiga enam, silakan masuk,” panggil bagian pendaftaran. Kami berdua pun melangkah masuk ke ruang periksa. Kami masuk dan duduk di kursi yang disediakan, sementara kursi dokter masih kosong.
“Ibu mau pasang IUD yan Bu?” tanya susternya
“Iya Mbak,” jawab istriku
“Baik tunggu bentar ya, dokternya masih di ruangan sebelah,” kata suste lagi.

Tak lama kudengan pintu dari ruangan sebelah dibuka, dan terdengar langkah kaki mendekati kami. Sosok berbaju putih itu kemudian duduk di depan kami dan menyapa kami dengan ramah,
“Pak Hasan, Bu Rini, apa kabar? gimana sudah sehat sekarang Bu?” tanya Dokter itu ramah, Dokter Tan.
Kami berdua terperanjat, kenapa yang datang dokter bajingan ini lagi.

“Ba…baik sudah lumayan sehat sekarang Dok. Tapi Dok, Dokter Vinanya mana?” tanya istriku heran
“Dokter Vina ada operasi mendadak di ruang sebelah, jadi saya yang menggantikannya di sini. Bu Rini mau pasang IUD kan ya? Oke sudah disiapkan, ayo Bu sekarang kita ke tempat tidur,” ujar Dokter Tan.
“Ta…tapi Dok, tadinya saya mau sama Dokter Vina…,” istriku sedikit menolak
“Oh betul Bu, tapi Dokter Vina ada operasi yang tidak bisa ditinggalkan, lagipula pasang IUD tidak lama kok, hanya sebentar. Mari Bu,” ajak Dokter Tan lagi.

Sebenarnya kami ingin sekali menolak. Tapi mendengar ajakan Dokter Tan yang sangat ramah dan simpatik, istriku luluh juga. Lagipula memang dia sudah harus pasang IUD karena ini akhir masa haidnya.
“Mari Bu silakan,” ajak suster kepada istriku.
“Ya sudah Mas, tanggung, tidak apa-apa,” kata istriku pelan kepadaku. AKu hanya mengangguk, walau dalam hati sebenarnya ingin langsung keluar dari ruangan itu.

Istriku sengaja memakai gamis supaya mudah disingkap. Dia menurunkan celana dalamnya dan mulai naik ke ranjang. Dia duduk sebentar, membetulkan posisi jilbabnya, kemudian berbaring. Suster kemudian membantu Dokter Tan menyiapkan peralatan untuk memasang IUD. Setelah peralatan siap, Dokter Tan menyuruh sesuatu kepada suster, aku tidak dengan ia menyuruh apa, lalu suster tersebut keluar ke ruangan sebelah. Dokter Tan duduk di dekat ranjang dan menyuruh istriku untuk agak maju ke ujung ranjang dekat Dokter Tan duduk.

Dokter Tan membantu mengangkat kedua kaki istriku ke sandaran kaki hingga istriku mengangkang. Kemudian dia mulai menyingkap gamis biru istriku hingga ke perut. Lagi-lagi tanpa kain penutup.

Tiba-tiba pintu ruangan sebelah dibuka, suster yang tadi masuk lagi. Tapi dia tidak sendiri, melainkan keempat mahasiswa koas yang kulihat tadi ikut masuk. Istriku kaget sekali. Tangannya refleks menutup mulutnya dan dia melirik ke arahku. Wajah cantiknya yang putih berubah jadi merah padam.
“Ibu Rini, tenang saja ya, ini mahasiswa koas memang sedang praktek di sini. Jadi mereka akan mempelajari cara pemasangan IUD. Oke Bu..” ujar Dokter Tan.

Aku hanya bisa terbengong-bengong melihat hal ini. Kedua kalinya dokter bajingan ini mengerjaiku dan istriku. Kali ini lebih parah, kalau sebulan yang lalu istriku dalam keadaan dibius total, sekarang istriku dalam keadaan sadar mendapati bagian paling rahasia dirinya ditelanjangi oleh lima pasang mata lelaki yang bukan muhrimnya.

Dokter Tan mulai bekerja. Dia mendekatkan lampu sorot ke selangkangan istriku, dan mulai bekerja dengan alat-alatnya entah apa namanya. Kadang-kadang kaki istriku bergerak-gerak refleks, entah menahan sakit atau geli.

“OK, now all of you touch this sweet pussy. Put your 2 fingers like this inside the hole then turn it like this (Ok, sekarang kalian semua sentuh memek yang manis ini. Masukkan dua jari kalian ke dalam lubang seperti ini, kemudian putar seperti ini),” perintah Dokter Tan kepada para mahasiswanya. Dokter Tan pasti sengaja menggunakan bahasa inggris supaya istriku tidak mengerti bahwa perhiasannya sedang dikerjai oleh bajingan itu.

Keempat mahasiswa itu mulai menjamah kemaluan istriku satu persatu. Istriku hanya memejamkan matanya menerima sodokan tangan-tangan asing di kemaluannya.
“How do you feel guys (apa yang kalian rasakan)?” tanya Dokter Tan
“This pussy is very soft, look at the lips, very exciting (memek ini sangat lembut, lihat bibir-bibirnya, sangat menggairahkan),” jawab salah satu mahasiswanya.
“Doc, I think I’m horney (Dok, saya pikir saya terangsang),” timpal mahasiswa yang lain. Mereka berlima lalu tertawa renyah. Menertawakan istriku yang sedang dipermainkan kemaluannya oleh kelima bajingan ini.
“Yeah me too. Look at this blossom pussy, perfect pussy, shaved pubic, with very smooth thigh, we can not see a pussy from a hair covered woman everyday right, this is our advantage to be a gynecologis (Yeah saya juga. Lihat ke memek yang mekar ini, memek yang sempurna, jembut yang dicukur, dengan paha yang sangat mulus, kita tidak bisa melihat memek wanita yang pakai tutup kepala (jilbab) tiap hari kan, ini keuntungan kita sebagai ahli kandungan),” jawab Dokter Tan sambil tersenyum. Keempat mahasiswa pun ikut tersenyum.

“Oke Bu, sudah selesai. Silakan duduk lagi,” ujar Dokter Tan setelah puas menelanjangi kemaluan istriku. Istriku turun dan memakai kembali celana dalamnya. Keempat mahasiswa itu keluar kembali ke ruangan sebelah. Kami berbincang-bincang sedikit sebelum akhirnya kami pamit.



Kami berdua dalam perjalanan pulang, di dalam mobil kami. Rini memulai pembicaraan.
“Mas, aku kapok ah ke rumah sakit ini. Sudah dua kali dokternya dokter Tan terus. Aku malu. Mana pake ngajak mahasiswa segala. Tau ga Mas, tadi tuh abis dipasang, aku juga dipegang-pegang. Jarinya pada masuk ke lubangku Mas. Sama itilku juga tadi disentuh-sentuh,” ucap istriku.
“Iya Dek, aku juga ga nyangka. Sudahlah nanti kita ke bidan aja. Gapapa lah bayar 500 ribu daripada itilmu diobok-obok orang lain,” jawabku.



Jam setengah dua belas malam, Rini sudah tertidur karena lelah sementara aku membuka laptopku ketika ada email baru masuk. Email dari Dokter Tan.

“Hasan, makasih atas kesempatannya sehingga gua bisa nyolok-nyolok memek istriku lagi. Yah walopun nyoloknya cuma pake jari doang, ga pake kontol hahaha…

BTW, buat oleh-oleh, nih ada video tadi sore. Enjoy yah…”

Ada sebuah attachment di email itu. Sebuah file video. Kudownload, cukup besar filenya, kemudian kubuka dengan GOMPlayer. Ternyata video ruangan periksa kandungan, tempat kami tadi dan masuk. Dan ternyata itu adalah rekaman tadi sore ketika istriku sedang pasang IUD. Ternyata di ruangan itu sudah dipasang kamera tersembunyi oleh dia. Gambarnya sangat jelas dan bening. Aku bisa melihat bagaimana proses ketika Dokter Tan memasang IUD, kemudian bagaimana dia menunjukkan cara memasukkan dua jari ke dalam lubang kemaluan istriku, diikuti oleh keempat mahasiswanya. Kemudian tangan Dokter Tan mengelus-elus bibir kemaluan istriku itu, termasuk itil dan lubang kencingnya. Makanya kaki istriku tadi sore bergerak-gerak karena pasti tangan dokter itu membuat dia kegelian. Kadang pantatnya terangkat-angkat ketika dokter keparat itu menyentuhkan tangannya ke kemaluan istriku.

Aku menutup video itu dan termenung. Perasaan campur aduk antara marah, malu, dan menyesal. Yah, menyesal. Kubuka sebuah folder rahasia di laptopku, berisi 46 file video. Bukan video sembarangan, ini semua video dari kamera tersembunyi juga, yang pernah kupasang di WC wanita di rumah sakit. Yah, hampir semua dokter dan suster yang pernah pipis di WC itu, pernah kulihat. Aku tahu warna celana dalam mereka, aku tahu bentuk jembut mereka, paha mereka, dan bagaimana air kencing keluar dari kemaluan mereka. Aku adalah sang pengintip juga, dua tahun yang lalu ketika aku belum menikah. Aku adalah ahli menggunakan kamera tersembunyi juga. Tapi ternyata sekarang berbalik, aku lah yang menjadi korban dari kamera tersebut.

Biasanya aku yang menelajangi wanita lain, kini istrikulah yang ditelanjangi. Apakah ini semacam ‘karma’? entahlah…



Tiga bulan setelah kejadian itu, aku mengundurkan diri dari rumah sakit tersebut. Aku diterima di sebuah perusahaan IT yang juga kontraktor untuk kamera security. Akhirnya aku terbebas dari bayang-bayang Dokter Tan. Justru di perusahaan baruku, aku punya segudang fasilitas untuk membalas keusilan Dokter Tan terhadap istriku. Haruskan kubalas???

Jadi, beginilah. Aku akhirnya pindah kerja ke sebuah perusahaan penyedia jasa kamera keamanan. Perusahaan ini jelas jauh lebih kecil daripada rumah sakit tempat aku bekerja sebelumnya. Gajiku pun sedikit turun, tapi itu terbayar dengan lepasnya bebanku menjadi kacung Dokter Tan, ditambah suasana kerja yang sangat akrab. Tim kami hanya berenam. Ali sang leader yang punya modal perusahaan ini, Johan bagian finance dan marketing, Agus dan Hadi bagian hardware, aku fokus di software dan Yono sebagai helper.

Uniknya lagi, Ali, Agus dan Hadi itu lulusan elektro, jadi kuat banget di bidang hardwarenya. Justru aku banyak belajar macem-macem spy cam dan alat-alat pendukung lainnya. Johan bekerja sangat keras hingga bulan ini kami berhasil dapat dua customer. Selesai instalasi, uji coba, customer puas, biasanya dilanjutkan dengan pembayaran. Setelah pembayaran itulah biasanya kami merayakan bareng-bareng, walau hanya minum-minum kopi atau nasi goreng di pinggir jalan.

Setelah tiga bulan aku gabung di situ, aku yang awalnya sungkan sekarang jadi makin akrab. Biasanya hari jumat sore kami minum-minum kopi di cafe sekitar seratus meteran dari kantor kami. Di situ kami sering ngobrol macem-macem, sampai ke masalah kehidupan pribadi, walaupun kami tetap memilah mana yang bisa diobrolin mana yang tidak perlu.

Di situ lah ketika giliran aku cerita kenapa aku meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan di rumah sakit, teman-temanku ini malah jadi bersimpati.
Johan : “Gila tuh dokter. Pervert banget. Trus lu diem aja istrilu digituin sama dia? Lu ga bales kek ato gimana. Gue sih walaopun sesama Cina, gue bakalan cari cara buat bales dia”
Aku : “Ya abis gimana. Gue ga ada daya. Di samping butuh gajian juga, dia juga bos gue. Mo gimana lagi…”
Johan :”Iya tapi itu kurang ajar banget bro…”
Hadi :”Iya bro, gue juga ga nyangka bos lu itu bajingan banget. Pas banget lagi dia dokter kandungan. Udah berapa memek yang dia kerjain coba…”
Agus :”Eh kira-kira lu ngomong, tempat umum nih…”
Hadi :”Oh sori-sori, terbawa perasaan nih gua hehe…”
Agus :”Iye bro. Tapi itu dokter punya istri ga? istrinya cantik ga?”
Aku :”Punya, cantik banget lah. Sekel gitu, mulus pula, sesuai lah chinese gitu. Kenapa emangnya Gus?”
Agus :”Lah dia emang ga pernah ke rumah sakit lakinya? kerjain gimana gitu kalo ke kloset wanita, pan lu pernah usil juga di kloset wanitanya kan, lu pernah cerita ke gue haha…”
Aku :”Haha… Tapi jarang banget Gus bininya dateng, kalopun dateng cuma bentar, trus keluar lagi”

Suasana sedikit hening, sayup-sayup terdengar alunan musik jazz yang diputar orang cafe. Entah bagaimana pikiran masing-masing temanku setelah mendengar curhatku ini. Kemudian Ali si big boss, yang emang orangnya kalem dan jarang ngomong ini buka suara.

Ali :”Johan, rumah sakit itu pernah kita prospek belum?”
Johan :”Belon bos, gua belon pernah ekspansi ke daerah sono”
Ali :”Nah target utama lo sekarang tuh rumah sakit mesti jadi customer kita, gimana pun caranya!”
Johan :”Siap bos, gue siapin proposal plus penawarannya minggu depan. Lagian kan ownernya sesama chinese, gua akalin dah. Tapi ini ada hubungannya sama cerita si Hasan ga bos?”
Ali :”Ada dong, ini kan bagian dari misi revengenya si Hasan”
Agus :”Tapi gimana caranya bos? siapa yang jadi target? si Dokter Tan itu? masa kita mo syuting bokongnya, kaga napsu ane bos”
Ali :”Yaelah sabar tong. Johan, target keduanya, lo mesti nawarin instalasi di rumah si dokter Tan itu sebagai bonus. Pokoknya lu usahain supaya dia mesti terima tawaran kita. Jadi dia bayar buat instalasi di rumah sakit, bonusnya instalasi di rumah dia”
Johan :”Oh gitu bos, aye ngerti. Terus kita mo sadap rumah dia Bos?”
Ali :”Cerdas loh”
Johan :”Tapi pan masa security camera seisi rumah? entar dia curiga dong kalo kita masang di kamar mandi?”
Ali :”Ah elo ga cerdas-cerdas amat ternyata. Kita pasang dua set. Yang satu yang buat dia lihat, cuma kamera depan rumah, garasi, samping rumah, sama belakang, atau ruang tamu. Set kudua di kamar dia sama kamar mandi, itu masuk ke monitor kita aja. Gimana Hasan? Setuju ga lu?”
Aku :”Aduh jadi ngerepotin begini…”
Ali :”Kaga, pan kita nyari customer juga. Sekalian dah kita kasih pelajaran buat tuh dokter bajingan”
Johan :”Cerdas juga lo bos, ga nyangka gua”
Ali :”Iya lah, kalo ga cerdas gue ga jadi bos, jadi kaya elo”
Johan :”Sialan lu bos hehehe…”

Proyek pun dimulai. Untuk urusan merayu customer memang Johan jagonya. Dalam dua minggu, Johan sudah dapet order dari rumah sakit. Khusus untuk instalasi di rumah sakit, aku tidak boleh ikut karena bisa mengundang kecurigaan dari pihak customer. Untuk pemasangan di rumah, kami cari waktu supaya ketika pemasangan si Dokter Tan tidak ada di rumah sehingga aku bisa ikut. Gila emang, rumahnya gede banget.

Kami bagi jadi dua tim, Agus dan Yono untuk set yang bisa dilihat Dokter Tan, sementara aku dan Hadi untuk set revenge. Aku pilih untuk pasang di kolam renang dengan view keseluruhan kolam renang, di kamar mandi dekat kamar utama yang kuduga akan dipakai Dokter Tan dan istrinya, serta di kamar tidur mereka. Untungnya cuma ada pembantu mereka seorang jadi pembantu itu bisa dialihkan perhatiannya oleh Yono ketika aku memasang set revenge.

Sekilas aku melihat foto keluarga mereka di ruang tamu. Istrinya memang cantik, tapi tidak tinggi, hanya setingga dada Dokter Tan. Mereka baru punya anak satu, laki-laki, seumuran SMP.

Jam dua sore kami tes kedua set dan sudah oke. Aku pergi duluan untuk menghindari ada orang rumah yang pulang dan mengenaliku, sementara tim yang lain menunggu kedatangan orang rumah untuk pengecekan.



Keesokan harinya kami berkumpul di kantor untuk melihat hasil kerja kami. Untuk set revenge, kamera yang digunakan pun adalah spy cam terbaik yang kami punya, bentuknya kecil tapi gambarnya jernih dan resolusinya besar. Untung rumah Dokter Tan pakai internet 20 mbps jadi gambar yang kami terima tidak buffering.

Karena hari itu memang lagi santai, kami berkumpul sekitar tengah hari. Tapi karena di rumah belum ada kegiatan yang menarik, kami tidak terlalu memperhatikan. Sekitar jam 4 sore baru nyonya rumah pulang, naik mobil dengan menyetir sendiri, mobilnya mini cooper.

Hadi :”Nah ini, bintang pelm kita udah dateng. Njirr semlohei banget istrinya”
Johan :”Buset cantik banget ni cici, kok mau ya ama engkoh Tan?”
Dokter Tan memang tidak ganteng, tapi badannya atletis.
Aku :”Mau lah, suaminya badannya terawat gitu. Emang elo Han, buntelan lemak dipiara”
Johan :”Eit, itu tandanya gua makmur bro”
Ali :”Udah ah pada berisik lo, ganggu aja gua lagi khusyu nih”
Johan :”Eh maap bos maap…”
Ali :”San, namanya siapa tu?”
Aku :”Lily bos, Lily Cheung”
Agus :”Lu kok tau sih?”
Aku :”Beuh, gua kan megang database warga serumah sakit. Nomor KTPnya aja gue bisa tau”
Johan :”Nomor KTP mah ga penting, yang penting nomor pin ATMnya”
Agus :”Dasar lo cina, yang dipikirin duitnya aja. Yang penting tuh nomor BHnya tau ukuran berapa…”
Johan :”Yee dasar lo pribumi, pikiran lo ngeres aja. Nomor BH tuh ga penting, yang penting yang di dalem BHnya tau”
Agus :”Yaa elu juga sama ngeresnya berarti…”
Ali :”Eh buset makin berisik aja nih cina ma pribumi sama aja. Udah sono pergi yang jauh ah kalo mo berantem”
Johan :”Eh maap lagi bos, ga sengaja, si Agus nih mancing-mancing…”

Supaya puas kami menggunakan tiga monitor ukuran 17 inch, masing-masing untuk satu kamera. Semua kamera dalam keadaan merekam. Begitu datang, Lily langsung masuk ke kamar dan meletakkan tasnya di meja rias. Kemudian dia ke kamar mandi, bercermin sebentar, kemudian cuci muka menggunakan sabun yang ad di wastafel.

Lalu dia membuka celana jeans dan celana dalamnya, lalu duduk di kloset, pipis. Posisi kamera dari samping sehingga kami tidak bisa melihat bentuk memeknya. Hanya saja kemulusan kakinya dan pahanya yang bulat membuat kami menelan ludah. Selesai pipis, dia menyeka dengan tisu dan menekan tombol flush di klosetnya. Dia berbalik menuju keluar kamar mandi. Kami bisa melihat jembutnya yang ternyata lumayan lebat tapi tertata rapi.

Dia masuk ke kamar tidur lagi dan membuka kaosnya, plus BHnya. Kami menarik napas hampir bersamaan menyaksikan Lily yang sudah telanjang bulat. Toketnya besar, sedikit lebih besar dari genggaman tangannya karena kulihat dia sempat memegang kedua toketnya, sedikit mengangkatnya di depan cermin, memeriksa apakah keduanya masih cukup mancung atau tidak.

Yono :”Ini cewek kayak siapa ya, kayak yang pembawa acara itu di tipi-tipi tapi dulu udah lama”
Hadi :”Siapa Yon namanya? lu inget kaga?”
Yono :”Siapa ya, cina juga, namanya tuh maradona apa ya, mirip-mirip gitu namanya”
Johan :”Magdalena kali, maradona emangnya pemaen bola, dasar pribumi bodoh”
Hadi :”Iya lu Yon, malu-maluin pribumi aja”
Yono :”Hehehe iya maap bos, lupa aku”

Lily mematut dirinya sebentar di depan cermin, kemudian mengambil kimono mandi berbahan handuk berwarna biru dan memakainya. Ia lalu keluar kamar lagi. Kukira ia akan ke kamar mandi, tapi tidak muncul juga. Ternyata ia menuju kolam renang di belakang rumah.

Dia membuka kimononya dan meletakkannya di sisi kolam yang berbentuk angka delapan itu. Kemudian dia langsung meloncat menceburkan dirinya ke kolam renang. Dia berenang menggunakan gaya punggung beberapa kali balikan. Yah, gaya punggung, sehingga sembulan kedua dadanya, putih ketiaknya, dan samar-samar jembut hitamnya bisa kami nikmati selagi ia berenang.

Lima atau enam balikan, ia merasa cukup. Kemudian keluar kolam lagi dan memakai kimononya. Ia melangkah masuk lagi ke dalam rumah, dan langsung ke kamar mandi. Di situ ia melepaskan kimononya, kemudian naik ke dalam bathtub dan mulai menyalakan shower. Ia berdiri sambil agak mendongan ke arah shower, menikmati kucuran air yang memberikan efek pijatan pada tubuhnya. Ia mengambil shampo dan mulai mengeramasi rambutnya. Kemudian mengambil beberapa tetes sabun cair dan mulai menyabuni tubuhnya. Ia mulai menggosok lehernya, tangannya, payudaranya, perutnya, pinggang, terus ke bawah ke bokong, selangkangan, paha, betis dan akhirnya telapak kakinya. Kami semua menonton dengan seksama menikmati pemandangan erotis itu tanpa ada satu pun yang berkata-kata.

Setelah busa sabun menyelubungi seluruh permukaan tubuhnya, ia kembali menyalakan shower. Bedanya kali ini ia hanya duduk di bathtub tepat di bawah guyuran shower. Ia duduk sambil membilas dan membersihkan sisa-sisa busa sabunnya di sekujur tubuhnya. Ketika membersihkan selangkangannya , ia mengangkang agak lebar membiarkan kucuran air menerpa daerah vaginanya.

Syukurnya arah dia mengangkang tepat ke arah kamera kami, sehingga kami bisa menyaksikan kontrasnya rambut yang hitam di tengah kedua pahanya yang putih. Dia sedikit menggosok-gosok selangkangannya sampai ia merasa cukup bersih. Kemudian dia berbalik dan dalam posisi membungkuk sehingga terpaan air shower mengarah ke belahan pantatnya. Dia menggosok belahan itu beberapa kali sampai ia merasa cukup bersih. Kami pun disuguhi pemandangan lubang pantatnya yang sedikit berkeriput di sekelilingnya.

Setelah merasa cukup, ia mematikan showernya, mengambil handuk untuk mengeringkan dirinya, dan memakai kimononya kembali. Ia keluar kamar mandi dan masuk ke kamar dengan handuk masih melilit di atas kepalanya. Ia membuka kimononya, kemudian membuka lemari baju, mengambil sebuah celana dalam berwarna krem dan memakainya. Lalu dia memilih sebuah daster pink dan langsung memakainya. Kemudian ia keluar kamar. Entah ke mana, mungkin ke ruang tengah karena di situ kami tidak menempatkan kamera khusus.

Begitu Lily hilang dari monitor, kami menghela napas panjang hampir bersamaan tanda pertunjukan sudah usai.

Hadi :”Sempurna coy. Ini bener-bener wanita sempurna. Bener-bener anugrah kita bisa lihat kaya beginian”
Johan :”Lebih anugrah lagi lakinya ga cuman ngeliatin doang, bisa ngentotin juga”
Agus :”Hahahaha lu kenapa Han? naksir? lu cemburu ma lakinya?”
Johan :”Bro, si dokter Tan itu ga ganteng bro, dia cuma menang di duit aja daripada gua”
Agus :”Iye, trus elu menang di perut, ngaca lo, masa bidadari kaya gitu mau ama cowo buncit kaya elo”
Johan :”Sialan lo maennya perut mulu…”



Hari ini kami lembur. Bukan karena kerjaan, tapi penasaran dengan apa yang akan terjadi antara Dokter Tan dan Lily. Sekitar jam sepuluh malam Dokter Tan datang. Ia masuk ke kamar tidur di mana Lily sedang nonton tv di kamar itu. Dokter Tan membuka kemeja dan celana panjangnya hingga ia tinggal pake singlet dan celana dalam. Kemudian ia ke kamar mandi untuk kencing, cuci muka dan sikat gigi.

Ia masuk lagi ke kamar tidur, berdiri di samping tempat tidur sambil mengatakan sesuatu kepada Lily. Kami tidak bisa mendengan pembicaraan mereka karena kami tidak memasang mikrofon di situ. Mereka berbincang sebentar sebelum akhirnya Lily bangkit dari tempat tidur dan mendekati Dokter Tan.

Lily bangun dan berdiri di depan Dokter Tan, kemudian keduanya berciuman mesra, sambil saling merangkul. Setelah itu, Lily berjongkok sambil memelorotkan celana dalam Dokter Tan. Ia meraih penisnya yang setengah tegang, menggenggamnya kemudian memasukkan ujungnya ke dalam mulutnya. Terkadang lidahnya menjilat menyapu kepala penis yang memerah itu. Dokter Tan tidak tinggal diam, dia meraih kepala Lily, menarik rambutnya dan memaju-mundurkan kepala Lily. Lily hanya pasrah kepalanya diperlakukan seperti itu.

Johan :”Buset itu kaga ada romantis-romantisnya, pala bininya dijambak gitu. Honey kenapa kamu mau sama bajingan itu…?”
Hadi :”Gayamu honey, dia itu istri solehah bro, nurut aja ama suami”
Johan :”Aduh kalo gua ga bakal ngejambak cewe secantik ini bro, bakal gua bela-belai rambutnya”
Hadi :” Iye rambut bawahnya elu mah pasti”
Johan :”Hehehe tau aja lu”

Prosesi blow job tidak lama. Dokter Tan kemudian membuka daster dan celana dalam Lily, lalu mendorong Lily hingga ia terhempas ke tempat tidur. Lalu ia menarik kedua kaki Lily mendekatinya dan membukanya lebar-lebar. Ia kemudian berjongkok dan mulai menenggelamkan kepalanya ke selangkangan Lily. Ia menjilati belahan vagina Lily, kadang ke atas memainkan ujung lidahnya di klitorisnya, kadang ke bawah menyusupkan lidahnya ke dalam lubang vaginanya. Lily hanya bisa pasrah dan badannya bergerak erotis mengikuti rangsangan yang ia terima dari selangkangannya. Kedua tangan Dokter Tan kadang meremasi kedua paha Lily yang putih bulat membuat kami yang melihatnya ikut keras di bawah sana.

Johan :”Waduh jadi ngaceng berat gua nih”
Hadi :”Ah jangan coli di sini lo, ntar napsu gua ngedrop”

Puas menjilat, Dokter Tan menarik Lily lebih ke tepi hingga selangkangannya tepat di pinggir tempat tidur. Ia kemudian mengarahkan penisnya ke lubang vagina Lily dan mendorongnya perlahan sampai masuk semuanya. Ia mulai maju mundur perlahan sampai dirasanya sudah licin dan lancar, ia mulai bergerak cepat. Kedua tangannya menahan kedua pergelangan kaki Lily supaya terbuka selebar-lebarnya. Kemudian kedua pergelangan kaki itu diangkat dan dipertemukan di atas sehingga Lily tidak lagi mengangkang melainkan kedua kakinya berdempetan lurus ke atas. Hal ini membuat jepitan lubang Lily makin erat di penis suaminya.

Ia kemudian berhenti bergerak dan melepaskan pegangannya. Ia menyuruh Lily untuk berbalik dan menungging masih di pinggir tempat tidur. Ia mengarahkan penisnya lagi dan mulai menusuk vagina Lily. Ia terus memompa sambil sesekali tangannya meremas-remas bokong semok Lily. Kadang juga ia menampar kedua bokong itu hingga sedikit kemerahan. Ia mendorong dengan keras hingga badan Lily terguncang-guncang ke depan ketika suaminya itu mencoblosnya.

Tiba-tiba ia berheti, lalu mulai meludahi lubang pantat Lily. Ia meludahi beberapa kali dan dengan tangannya melumuri ludah di lubang pantat itu hingga rata. Telunjuknya kemudian mulai berusaha menerobos membuka lubang yang tampak sempit itu. Ketika seluruh telunjuknya sudah masuk, ia lalu keluarkan lagi dan memasukkan jempolnya. Setelah jempolnya bisa masuk semua, ia keluarkan penisnya dari lubang vagina Lily, kemudian mulai mengarahkan kepalanya ke lubang anus itu.

Kepala penis itu mulai menyusup masuk ke lubang sempit itu perlahan, hingga seluruh kepalanya terbenam. Ia terus mendorong perlahan hingga sebagian batangnya masuk, lalu ia tarik lagi. Terus ia mulai maju mundur sambil sesekali ia meludahi lubang itu dan penisnya sendiri.

Johan :”Anjirr, bego, istri punya memek cantik begitu malah disodomi, keterlaluan ini dokter bajingan”
Agus :”Iya bro sayang itu memek dianggurin, padahal kalo demen bool jangan kawin ama dia ya, kawin aja ama elo Han, kan elo punya bool juga”
Johan :”Wah sialan lo, ogah gua mah disodomi ama dia”

Makin lama gerakan Dokter Tan makin cepat. Lily mengambil bantal dan membenamkan wajahnya dalam-dalam ke bantal itu. Entah mungkin ia menahan sakit yang amat sangat. Tapi suaminya tidak peduli, ia terus mendorong. Dorongan itu makin lama makin cepat hingga tiba-tiba ia melepaskan penisnya dari anus istrinya, kemudian ia loncat ke kasur dan menarik rambut Lily. Ia kocok penisnya dengan cepat di hadapan wajah Lily dan tersemburlah maninya beberapa kali membasahi wajah cantik itu. Sesudah beberapa semburan, ia masukkan penisnya ke dalam mulut Lily. Lily mengerti dan mulai mengemut penis yang baru keluar dari anusnya itu supaya sisa-sisa maninya terkuras semua.

Setelah merasa puas, Dokter Tan berbaring dan menarik selimut. Tampaknya ia kelelahan. Lily kemudian bangun menuju kamar mandi. Di situ ia langsung naik ke bathtub dan menyalakan shower. Ia membasuh mukanya sampai bersih dari mani suaminya. Kemudian sambil berdiri ia mengarahkan gagang shower ke selangkangan dan lubang pantatnya dari arah bawah. Badannya menegang. Aku kira ia merasakan sensasi rangsangan lagi ketika itu, tetapi ternyata bukan, ia menahan sakit.

Hadi :”Loh itu mau orgasme apa gimana tuh?”
Agus :”Engga bro, liat mukanya, itu sih kesakitan deh kayanya”
Johan :”Iya lah, titit segede gitu nusuk-nusuk bool mungilnya, lecet kayanya. Kasian bener sih kamu cantik”
Agus :”Iya bro, liat dia kayanya nangis deh. Itu air shower apa air mata sih kayak sama…”

Di satu sisi kami benar-benar disuguhi pertunjukan seks yang sangat erotis, di mana sang suami benar-benar mendominasi istrinya. Tapi lama kelamaan kami jadi terenyuh melihat penderitaan yang dialami sang istri. Setelah ia merasa cukup bersih, ia mengambil handuk dan mulai mengeringkan tubuhnya. Untuk dibagian lubang anusnya, ia mengelap sangat pelan, supaya tidak menyakitinya. Ia terlihat agak tertatih ketika berjalan. Di depan wastafel ia mengambil sebuah salep dari kotak obat, kemudian ia mengeluarkan salep itu seujung telunjuknya dan mengoleskannya dengan sangat hati-hati di anusnya.

Hadi :”Ah entar kalo gua punya bini kaga bakalan tusbol, kasian bini gua”
Agus :”Iya lo kalo mau tusbol jangan sama bini lo, sama Johan aja dia mah gapapa”
Johan :”Sialan lo pribumi maho”

Lily termenung sejenak memandang dirinya yang telanjang di depan cermin. Ia membetulkan rambutnya, mengusap wajahnya supaya tidak ada bekas air mata di pipinya, dan menguatkan dirinya kembali. Ia kemudian keluar kamar mandi menuju kamar tidurnya. Di situ tampak suamnya sudah tertidur. Ia memakai celana dalam dan dasternya kembali, kemudian naik ke ranjang dan berbaring tepat di sisi suaminya.



“Dear Doctor,

Terima kasih atas suguhannya. Aku akui dada istrimu lebih montok dari istriku. Memek istrimu juga sangat manis Dok, entah kenapa kamu masih saja minta tusbol. Kamu ada kelainan kah??

Hasan”

Begitulah email yang kukirim ke Dokter Tan, mereply emailnya dulu yang sengaja tak kuhapus. Tak lupa kulampirkan video rekaman mulai dari istrinya berenang, mandi hingga persetubuhan di kamar tidur. Aku sengaja tidak memasukkan video ketika istrinya kesakitan di kamar mandi setelah disodomi olehnya. Aki merasa simpati padanya. Aku khawatir kalau Dokter Tan tahu istrinya merasa tersiksa, ia malah menambah siksaan ke istrinya.

Ali :”Sudah kau kirim emainya Hasan?”
Aku :”Sudah bos, tapi ini bener ngga apa-apa? Dia ga akan lapor polisi?”
Ali :”Engga lah, dia juga sama udah bikin video ilegal waktu ngerekam istrimu kan. Lagipula dia tepi yang fair lah, dia ga akan lapor polisi, kemungkinan malah dia akan cari cara supaya bisa bales kamu lagi”
Hadi :”Tapi San, lu emang berhasil ngerekam bininya. Oke lah di rekaman kita, bininya telanjang. Di rekaman dia, binilu ga telanjang, cuma selangkangan aja yang terekam. Tapi dia itu udah berhasil menyentuh binilu San, ditambah lagi mahasiswanya. Jadi sebenernya pembalasan lu masih kurang San”
Aku :”Tapi dia kan dokter, ada kesempatan. Lah gua gimana nyari kesempatannya?”
Agus :”Bro, kita punya rekaman dia kan?”
Aku :”Iya punya. So what?”
Agus :”Gua ada ide bro…”
Johan :”Wah gua ikut…ikut…”

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 2 Terbaru

Agustus 02, 2018 Add Comment

Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Terbaru

Dokter Vina kemudian meletakkan scanner USG itu ke tempatnya kembali dan menutup perut istriku. Istriku kemudian dipersilakan turun dari ranjang dan duduk kembali di sampingku.
“Pak Hasan, maaf, tapi sepertinya ini tidak bisa diteruskan. Janin yang ada di istri Bapak ternyata tidak berkembang. Jadi harus dikuret,” Dokter Vina menjelaskan kepadaku
Usia kehamilan istriku saat itu baru sebulan. Itu adalah kehamilan pertama istriku. Sebenarnya kami berharap banyak untuk segera mendapat momongan. Tetapi dengan kondisi ini, ya sudahlah…
“Bu Rini, Ibu jangan sedih ya. Nanti setelah kuret, dicoba lagi ya Bu, jangan putus asa,” kini Dokter Vina menjelaskan kepada istriku.
“Iya Dok tidak apa-apa. Mungkin belum saatnya. Kami yakin ini memang yang terbaik,” jawabnya berusaha tegar.
“Nah Pak Hasan, kalau mau kita jadwalkan besok sore. Kebetulan saya besok sore kosong, jadi bisa untuk tindakan operasi. Untuk biaya, karena Bapak karyawan di sini saya kira semuanya gratis. Coba cek ke bagian keuangan Pak biar lebih yakin,” saran Dokter Vina kepadaku.
“Gimana Neng? besok sore saja?” tanyaku pada istriku. Aku memang sering memanggilnya Neng walaupun namanya Rini.
“Iya Mas besok sore saja,” jawab istriku mengiyakan.
Kemudian Dokter Rini memberikan resep obat yang harus diminum sebelum operasi. Kami pun berterima kasih dan pamit. Dokter Vina memang baik dan ramah orangnya. Itu sebabnya aku merasa aman kalau istriku ditangani olehnya.
Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku
Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku
Aku memang karyawan di rumah sakit swasta ini. Sudah tiga tahun aku bekerja di sini menjadi Manager IT. Karena aku sudah karyawan tetap, jika aku atau keluarga intiku berobat di sini, semuanya gratis. Kerja di sini pun sebenarnya sangat nyaman. Masalah kerjaan tidak terlalu merepotkan karena aku hanya perlu memaintain sistem informasi di tempat ini, itu pun dibantu dua teknisi yang menurutku sudah cukup handal. Suasana rekan kerjapun sangat akrab. Cuma ada satu yang mengganjal di sini.

Dokter Tan, Richard Tan, adalah direktur sekaligus pemilik rumah sakit ini. Masih muda, energik, umur sekitar 40 tahunan dengan badan yang tinggi atletis. Dia adalah dokter yang ramah dan baik sebenarnya, hingga sebuah masalah pernah terjadi di sini. Ada kecerobahan salah satu teknisiku sehingga sistem komputer kami macet selama empat jam. Sialnya itu terjadi di jam padat ketika banyak sekali pasien datang. Setelah empat jam, kami bertiga tim IT akhirnya bisa menyelesaikan masalah itu dan sistem normal kembali. Tetapi ketika masalah ini dibahas di meeting mingguan, ternyata ketika terjadi trouble, banyak pasien yang memutuskan untuk pindah ke rumah sakit lain karena menunggu terlalu lama.

“Lu orang udah gua bayar mahal-mahal, kagak becus ngerjain begini aja. Lu bilang lu sekolah komputer hah? ngurusin komputer rumah sakit kecil aja sampe macet, customer gua pada pergi gara-gara kerjaan lu. Makanya lu jangan maen game aja kerjaannya, ntar jadi goblok otak lu,” maki Dokter Tan.
Dokter Tan marah besar ketika meeting itu kepadaku. Itu pertama aku dimarahi olehnya selama bekerja di sini setelah dua setengah tahun. Aku berkali-kali minta maaf kepadanya tapi sepertinya dia masih kesal kepadaku.

Dia sebenarnya ingin memecatku ketika itu. Tapi setelah mempertimbangkan biaya pesangon yang harus dia keluarkan kalau aku dipecat, ditambah sebenarnya sistem sudah normal kembali, dia mengurungkan niatnya. Setelah rapat itu, dia jadi tidak terlalu respek terhadapku. Seolah-olah dia mencari celah untuk membuatku tidak betah di sini dan mengundurkan diri. Aku pun merasa kikuk kalau berpapasan dengannya, aku hanya menyapa basa-basi saja sambil menundukkan kepala. Dia pun paling hanya menjawab pendek.

Jadi, sore ini istriku datang ke rumah sakit sekitar jam setengah enam. Aku beres kerja jam lima, langsung ke lobby untuk menemani istriku. Kami sengaja memilih waktu praktek Dokter Vina karena dia satu-satunya dokter kandungan yang wanita dan muslim. Kami dinasehati untuk sebisa mungkin menjaga aurat, termasuk dalam memilih dokter kandungan di mana dokter tersebut akan melihat bagian paling rahasia dari istriku. Istriku pendidikannya tidak tinggi, hanya lulusan madrasah aliyah saja di kampungnya. Sehari-hari dia bersama ibu-ibu yang lain di komplek tempat kami tinggal membuka usaha katering kecil-kecilan, kebetulan istriku memang pintar masak.

Karena sudah bikin janji, kami menghubungi bagian pendaftaran dan langsung diarahkan ke bagian kandungan. Di situ ada tiga ruangan, ada yang untuk pemeriksaan dan ada yang untuk tindakan operasi. Kami langsung diarahkan untuk masuk ke ruangan operasi dan menunggu. Istriku pun sudah mulai merasa mules karena obat yang diminumnya memang untuk merangsang supaya mules. Kami menunggu tak lama, sekitar 5 menitan ketika tim dokter itu tanpa mengetuk pintu masuk ke ruangan.

Kami berdua terperanjat karena ternyata yang masuk bukan Dokter Vina, tetapi Dokter Tan. Yah, dia memang dokter spesialis kandungan juga. Tapi kenapa dia yang masuk, kemana Dokter Vina? Dokter Tan langsung duduk di kursi dokter sambil membawa map catatan medik istriku.
“Sore Pak Hasan, sore Ibu, siapa namanya? Rini ya,” sapanya ramah sambil memeriksa catatan tersebut. AKu malah curiga, dia tidak pernah seramah ini kepadaku sebelumnya.
“So..sore Dok, kami kira Dokter Vina yang…,” istriku menjawab terbata-bata.
“Ooh Dokter Vina ada jadwal di ruangan lain, tapi tidak apa-apa, sama saja. Oke, sudah siap, ayo silakan naik ke ranjang…” kata Dokter Tan.

“Tidak mungkin, aku tahu betul bahwa seharusnya sore ini Dokter Vina jadwalnya kosong. Sebab jadwal praktek semua dokter ada di databaseku. Kenapa jadi begini…” batinku. Kemudian istriku berdiri menuju ranjang sambil dipapah oleh suster, sementara aku masih terbengong-bengong tidak percaya. Operasi ini tentu tidak bisa ditunda karena obat itu sudah merangsang supaya perut istriku mules dan harus segera dikuret. Aku tersadar dari lamunanku ketika Dokter Tan bangkit menuju ranjang, ketika dia melewatiku, dia menepak pundakku dengan keras, sambil melirik ke arahku, dengan senyum picik.

Ah, itu dia. Dia akan membuka mendapatkan perhiasanku yang selama ini kujaga rapat baik-baik. Dia akan menyingkap aurat istriku, tepat di bagian yang paling rahasia. Aku merasa tidak karuan. Keringatku menetes walaupun di ruangan berAC. Antara shock karena Dokter Vina tidak ada, malu, marah, dan terhina. Tentu saja dia bisa mengatur jadwal prakter dokter semaunya sebab dia yang punya rumah sakit ini.

Istriku menurunkan celana dalamnya kemudian meletakkannya di meja sebelah ranjang. Lalu ia naik ke ranjang dan berbaring. Dokter Hendrik mulai berbincang kecil dengannya. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena aku antara sadar dan tidak sadar dengan keadaan ini. Dokter Hendrik adalah ahli anastesi yang akan membius istriku selama operasi.

Suster kemudian membantu istriku supaya posisinya agak maju. Dia membantu meletakkan kedua kaki istriku di sandaran kaki yang ada hingga kaki istriku mengangkang selebar-lebarnya. Dia masih berusaha menutupi selangkangannya dengan bagian bawah daster batik merahnya. Kemudian Dokter Hendrik mulai bekerja sehingga perlahan-lahan kulihat di wajah istriku bahwa dia mulai kehilangan kesadaran, hingga tak sadar sepenuhnya. Kedua tangannya diletakkan di samping tubuhnya.

“Suster, suruh Johan dan timnya masuk. Dia ada di luar ruangan,” perintah Dokter Tan ke susternya. Susternya kemudian keluar pintu dan mempersilahkan empat orang lelaki berjas putih masuk ke ruangan. Apa lagi ini. Mereka adalah mahasiswa koas yang memang sedang magang di sini. Aku sudah pernah melihat mereka sekitar dua minggu terakhir.

Keempat orang itu, aku bahkan tidak tahu mana yang namanya Johan, langsung masuk mendekati ranjang tanpa menghiraukan keberadaanku. Mereka langsung menghampiri Dokten Tan, dan tampak dia memberi penjelasan tentang apa yang akan ia lakukan. Suster berdiri di dekat Dokter Tan tampak membantu menyiapkan peralatan kuret. Suster lalu mengambil kain putih dan mau dipasang di atas perut istriku, tapi Dokter Tan mencegahnya.

Dokter Tan langsung menyingkapkan daster istriku. Dibukanya sampai ke perut. Aku hanya bisa melihat dan membayangkan dari samping, bagaimana pria-pria itu memperhatikan selangkangan istriku. Kemulusan pahanya yang putih, rambut kemaluannya yang biasa dicukur rapi, belahan vaginanya yang berwarna merah gelap. Perhiasan istriku itu kini dikangkangkan selebar-lebarnya di mata pria-pria yang tidak berhak, yang bahkan istriku pun tidak mengenalinya. Dokter Tan tampak mulai bekerja, tangannya bergerak lincah, dan keempat mahasiswa koas itu memperhatikan dengan seksama. Aku hanya termenung menyaksikan peristiwa itu, tanpa mampu bergerak sedikitpun dari kursi selama sekitar setengah jam. Ketika akhirnya suster merapatkan kembali kedua kaki istriku dan mengulurkan dasternya sampai ke bawah lagi.

“Pak, sudah selesai. Silakan ditunggu sampai istrinya sadar ya Pak. Nanti saya ke sini lagi,” ujar suster kepadaku.
“Baik Sus terima kasih,” jawabku.
Dokter Hendrik keluar duluan dari ruangan itu bersama keempat mahasiswa koas. Terakhir tinggal Dokter Tan yang baru selesai mencuci tangannya, kemudian dia duduk kembali ke meja di depanku menuliskan beberapa hal di catatan medik istriku. Setelah selesai, dia bangkit menuju pintu keluar. Sebelum keluar, dia menoleh kepadaku dan berkata kepadaku,
“Nice pussy Hasan, your wife has a beautiful pussy. I think I wanna grab it one more time…” dengan senyum penuh kemenangan.

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Terbaru

Agustus 02, 2018 Add Comment

Berganti Pasangan Dengan Istri Kenalan Dari Selingkuhanku

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Berganti Pasangan Dengan Istri Kenalan Dari Selingkuhanku Terbaru

Cerita mesum dari ajang pesta seks ini terjadi sekitar beberapa hari yang lalu yang dari awal aku memulai hubungan selingkuh dengan istri dari teman di kantorku. Sampai akhirnya dia memperkenalkan aku dengan teman yang suaminya orang kaya dimana dia promosi ke temanya bahwa aku memiliki tongkol yang besar dan temanya itu ingin sekali bercinta rame-rame, bagaimana kisah selanjutnya ?

Aku sedang menyantap makan siang di sebuah cafe yang terletak di lantai dasar gedung kantorku. Hari itu aku ditemani Pak Erwan, manajer IT perusahaanku dan Lia, sekretarisku. Biasanya aku makan siang hanya dengan Lia, sekretarisku, untuk kemudian dilanjutkan dengan acara bobo siang sejenak sebelum kembali lagi ke kantor. Tetapi hari itu sebelum aku pergi, Pak Erwan ingin bertemu untuk membicarakan proyek komputerisasi, sehingga aku ajak saja dia untuk bergabung menemaniku makan siang.
Berganti Pasangan Dengan Istri Kenalan Dari Selingkuhanku
Berganti Pasangan Dengan Istri Kenalan Dari Selingkuhanku
Aku dan Pak Erwan berbincang-bincang mengenai proyek implementasi software dan juga tambahan hardware yang diperlukan. Memang perusahaanku sedang ingin mengganti sistem yang lama, yang sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan perusahaan yang terus berkembang. Sedangkan Lia sibuk mencatat pembicaraan kita berdua.

Sedang asyik-asyiknya menyantap steak yang kupesan, tiba-tiba HPku berbunyi. Kulihat caller idnya.. Dari Santi.

“Hallo Pak Robert. Kapan nih kesini lagi” suara merdu terdengar diseberang sana.
“Oh iya. Nanti sebentar lagi saya ke sana. Saya sedang makan siang nih. Bapak tunggu sebentar ya” jawabku.
“He.. He.. Sedang nggak bisa ngomong ya Pak” Santi menggoda.
“Betul Pak.. OK sampai ketemu sebentar lagi ya” kataku sambil menutup pembicaraan.
“Dari klien” kataku.

Aku sangat hati-hati tidak mau affairku dengan Santi tercium oleh mereka. Hal ini mengingat Pak Arief, suami Santi, adalah manajer keuangan di kantorku. Kebetulan Pak Arief ini sedang aku kirim training ke Singapore, sehingga aku bisa leluasa menikmati istrinya.

Seusai menikmati makan siang, aku berkata pada Lia bahwa aku akan langsung menuju tempat klienku. Seperti biasa, aku minta supaya aku tidak diganggu kecuali kalau ada emergency. Kamipun berpisah.. Mereka kembali ke lantai atas untuk bekerja, sedangkan aku langsung menuju tempat parkir untuk berangkat mengerjai istri orang he.. He..

Setelah kesal karena terjebak macet, sampai jugalah aku di rumah Santi. Hari sudah menjelang sore. Bayangkan saja, sudah beberapa jam aku di jalan tadi. Segera kuparkirkan Mercy silver metalik kesayanganku, dan memencet bel rumahnya. Santi sendiri yang membukakan pintu. Dia tersenyum gembira melihat kedatanganku.

“Aih.. Pak Robert kok lama sih” katanya.
“Iya.. Tadi macet total tuh.. Rumah kamu sih jauh.. Mungkin di peta juga nggak ada” candaku.
“Bisa aja Pak Robert..” jawab Santi sambil tertawa kecil.

Dia tampak cantik dengan baju “you can see” nya yang memperlihatkan lengannya yang mulus. Buah dadanya tampak semakin padat dibalik bajunya. Mungkin karena sudah beberapa hari ini aku remas dan hisap sementara suaminya aku “asingkan” di negeri tetangga.

Kamipun masuk ke dalam rumah dan aku langsung duduk di sofa ruang keluarganya. Santi menyuguhkan orange juice untuk menghilangkan dahagaku. Nikmat sekali meminum orange juice itu setelah lelah terjebak macet tadi. Dahagakupun langsung hilang, tetapi setelah melihat Santi yang cantik, dahagaku yang lainpun muncul. Aku masih bernafsu melihat Santi, meskipun telah lima hari berturut-turut aku setubuhi dia.

Kucium bibirnya sambil tanganku mengelus-elus pundaknya. Ketika aku akan membuka bajunya, dia menahanku.

“Pak.. Santi ada hadiah nih untuk bapak”
“Apaan nih?” jawabku senang.
“Ini ada teman Santi yang mau kenal sama bapak. Orangnya cantik banget.”

Lalu dia bercerita kalau dia berkenalan dengan seorang wanita, Susan, saat dia sedang berolahraga di gym. Setelah mulai akrab, merekapun bercerita mengenai kehidupan seks mereka. Singkat cerita, Susan menawarkan untuk berpesta seks sambil bertukar pasangan di rumah mereka.

“Dia ingin coba ini bapak. Katanya belum pernah lihat yang sebesar punya Pak Robert” kata Santi sambil meraba-raba kemaluanku.
“Saya sih OK saja” jawabku riang.
“Oh ya.. Nanti pura-pura saja Pak Robert suamiku” kata Santi sambil pamit untuk menelpon kenalan barunya itu.

Aku dan Santi kemudian meluncur menuju rumah Susan di kawasan Kemang. Untung jalanan Jakarta sudah agak lengang. Tak lama kamipun sampai di rumahnya yang luas. Seorang satpam tampak membukakan pintu garasi. Santipun menjelaskan kalau kami sudah ada janji dengan majikannya. Susan menyambut kami dengan ramah.

“Ini perkenalkan suami saya”

Seorang laki-laki paruh baya dengan kepala agak botak memperkenalkan diri. Namanya Harry, seorang pengusaha properti yang sukses. Santipun memperkenalkan diriku pada mereka.

Aku kagum pada rumah mereka yang sangat luas. Dengan perabot-perabot yang mahal, juga koleksi lukisan-lukisan pelukis terkenal yang tergantung di dinding. Bayangkan saja betapa kayanya mereka, karena orang sekelas aku saja kagum melihat rumahnya yang sangat wah itu.

Tetapi aku lebih kagum melihat Susan. Wanita ini memang cantik sekali. Terutama kulitnya yang putih dan mulus sekali. Ibaratnya kalau dihinggapi nyamuk, si nyamuk akan jatuh tergelincir. Disamping itu bodynya tampak seksi sekali dengan buah dada yang besar dan bentuk tubuh yang padat. Sekilas mengingatkan aku pada bintang film panas di jaman tahun 80-an.. Entah siapa namanya itu.

Merekapun menyuguhkan makan malam. Kamipun bercerita basa-basi ngalor ngidul sambil menikmati hidangan yang disediakan. Ditengah makan malam itu, Santi pamit untuk ke toilet. Dengan matanya dia mengajakku untuk mengikuti dia.

“Pak, habis ini pulang aja yuk” kata Santi berbisik perlahan setelah keluar dari ruang makan.
“Kenapa?” tanyaku.
“Habisnya Santi nggak nafsu lihat Pak Harry itu. Sudah tua, botak, perutnya buncit lagi”.

Aku tertawa geli dalam hati. Tetapi aku tentu saja tidak menyetujui permintaan Santi. Aku sudah ingin menikmati istri Pak Harry yang cantik sekali seperti boneka itu. Kupaksa saja Santi untuk kembali ke ruang makan.

Setelah makan, kamipun ke ruang keluarga sambil nonton video porno untuk membangkitkan gairah kami. Tak lama, seorang gadis pembantu kecil datang untuk menyuguhkan buah-buahan. Tetapi mungkin karena kaget melihat adegan di layar TV home theater itu, tanpa sengaja dia menjatuhkan gelas kristal sehingga pecah berkeping-keping. Kulihat tampak Susan melotot memarahi pembantunya itu, sedangkan si pembantu kecil itu tampak ketakutan sambil meminta maaf berkali-kali.

Adegan di TV tampak semakin hot saja. Tampak Pak Harry mulai mengerayangi tubuh Santi di sofa seberang. Sedangkan Santi tampak ogah-ogahan melayaninya.

“Sebentar Pak.. Santi mau lihat filmnya dulu”

Aku tersenyum mendengar alasan Santi ini. Sementara itu Susan minta ijin ke dapur sebentar. Akupun mencoba menikmati adegan di layar TV. Meskipun sebenarnya aku tidak perlu lihat yang seperti ini, mengingat tubuh Susan sudah sangat mengundang gairahku. Tak lama akupun merasa ingin buang air kecil, sehingga akupun pamitan ke belakang.

Setelah dari toilet, aku berjalan melintasi dapur untuk kembali ke ruang keluarga. Kulihat di dalam, Susan sedang berkacak pinggang memarahi gadis kecil pembantunya tadi.

“Ampun non.. Sri nggak sengaja” si gadis kecil memohon belas kasihan pada majikannya, Susan yang cantik itu.
“Nggak sengaja nggak sengaja. Enak saja kamu bicara ya. Itu gelas harganya lebih dari setahun gaji kamu tahu!!” bentak Susan.
“Gajimu aku potong. Biar tau rasa kamu..”

Si gadis kecil itu terdiam sambil terisak-isak. Sementara wajah Susan menampakkan kepuasan setelah mendamprat pembantunya habis-habisan. Mungkin betul kata orang, kalau wanita kurang dapat menyalurkan hasrat seksualnya, cenderung menjadi pemarah. Melihat adegan itu, aku kasihan juga melihat si gadis pembantu itu. Tetapi entah mengapa justru hasrat birahiku semakin timbul melihat Susan yang sepertinya lemah lembut dapat bersikap galak seperti itu.

“Dasar bedinde.. Verveillen!!” Susan masih terus berkacak pinggang memaki-maki pembantunya. Dengan tubuh yang putih bersih dan tinggi, kontras sekali melihat Susan berdiri di depan pembantunya yang kecil dan hitam.
“Ampun non.. Nggak akan lagi non..”
“Oh Pak Robert..” kata Susan ketika sadar aku berada di pintu dapur. Diturunkannya tangan dari pinggangnya dan beranjak ke arahku.
“Sedang sibuk ya?” godaku.
“Iya nih sedang kasih pelajaran ik punya pembantu” jawabnya sambil tersenyum manis.
“Yuk kita kembali” lanjutnya.

Kamipun kembali ke ruang keluarga. Kulihat Santi masih menonton adegan di layar sementara Pak Harry mengelus-elus pahanya. Aku dan Susanpun langsung berciuman begitu duduk di sofa. Aku melakukan “french kiss” dan Susanpun menyambut penuh gairah.

Kutelusuri lehernya yang jenjang sambil tanganku meremas buah dadanya yang membusung padat. Susanpun melenguh kenikmatan. Tangannya meremas-remas kemaluanku. Dia kemudian jongkok di depanku yang masih duduk di sofa, sambil membuka celanaku. Celana dalamku dielusnya perlahan sambil menatapku menggoda. Kemudian disibakkannya celana dalamku ke samping sehingga kemaluankupun mencuat keluar.

“Oh..my god.. Bener kata Santi.. Very big.. I like it..” katanya sambil menjilat kepala kemaluanku.

Kemudian dibukanya celana dalamku, sehingga kemaluankupun bebas tanpa ada penghalang sedikitpun di depan wajahnya. Dielus-elusnya seluruh kemaluan termasuk buah zakarku dengan tangannya yang halus. Tingkah lakunya seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru.

Kemaluankupun mulai dihisap mulut Susan dengan rakus. Sambil mengulum dan menjilati kemaluanku, Susan mengerang,emmhh.. emhh, seperti seseorang yang sedang memakan sesuatu yang sangat nikmat. Kuelus-elus rambutnya yang hitam dan diikat ke belakang itu.

Sambil menikmati permainan oral Susan, kulihat suaminya sedang mendapat handjob dari Santi. Tampak Santi mengocok kemaluan Pak Harry dengan cepat, dan tak lama terdengar erangan nikmat Pak Harry saat dia mencapai orgasmenya. Santipun kemudian meninggalkan Pak Harry, mungkin dia pergi ke toilet untuk membersihkan tangannya.

Sementara itu Susan masih dengan bernafsu menikmati kemaluanku yang besar. Memang kalau kubandingkan dengan kemaluan suaminya, ukurannya jauh berbeda. Apalagi setelah dia mengalami orgasme, tampak kemaluan Pak Harry sangat kecil dan tertutup oleh lemak perutnya yang buncit itu. Tak heran bila istrinya sangat menikmati kemaluanku.

Tak lama Santipun kembali muncul di ruang itu, dan menghampiriku. Susan masih berjongkok di depanku sambil mempermainkan lidahnya di batang kemaluanku. Santi duduk di sampingku dan mulai menciumiku. Dibukanya bajuku dan puting dadakupun dihisapnya. Nikmat sekali rasanya dihisap oleh dua wanita cantik istri orang ini. Seorang di atas yang lainnya di bawah. Sementara Pak Harry tampak menikmati pemandangan ini sambil berusaha membangkitkan kembali senjatanya yang sudah loyo.

Kuangkat baju Santi dan juga BHnya, sehingga buah dadanya menantang di depan wajahku. Langsung kuhisap dan kujilati putingnya. Sementara tanganku yang satu meremas buah dadanya yang lain. Sementara Susan masih mengulum dan menjilati kemaluanku.

Setelah puas bermain dengan kemaluanku, Susan kemudian berdiri. Dia kemudian melepaskan pakaiannya hingga hanya kalung berlian dan hak tingginya saja yang masih melekat di tubuhnya. Buah dadanya besar dan padat menjulang, dengan puting yang kecil berwarna merah muda. Aku terkagum dibuatnya, sehingga kuhentikan kegiatanku menghisapi buah dada Santi. Susan kemudian menghampiriku dan kamipun berciuman kembali dengan bergairah.

“Ayo isap susu ik ” pintanya sambil menyorongkan buah dada sebelah kanannya ke mulutku. Tak perlu dikomando lagi langsung kuterkam buah dadanya yang kenyal itu. Kuremas, kuhisap dan kujilati sepuasnya. Susanpun mengerang kenikmatan.

Setelah itu, dia kembali berdiri dan kemudian berbalik membelakangiku. Diapun jongkok sambil mengarahkan kemaluanku ke dalam vaginanya yang berambut tipis itu. Kamipun bersetubuh dengan tubuhnya duduk di atas kemaluanku menghadap suaminya yang masih berusaha membangunkan perkakasnya kembali. Kutarik tubuhnya agak kebelakang sehingga aku dapat menciumi kembali bibirnya dan wajahnya yang cantik itu.

“Eh.. Eh.. Eh..” dengus Susan setiap kali aku menyodokkan kemaluanku ke dalam vaginanya. Aku terus menyetubuhinya sambil meremas-remas buah dadanya dan sesekali menjilati dan menciumi pundaknya yang mulus.

Sementara itu Santi bersimpuh di ujung sofa sambil meraba-raba buah zakarku, sementara aku sedang menyetubuhi Susan. Terkadang dikeluarkannya kemaluanku dari vagina Susan untuk kemudian dikulumnya. Setelah itu Santi memasukkan kembali kemaluanku ke dalam liang surga Susan.

Setelah beberapa menit, aku berdiri dan kuminta Susan untuk menungging di sofa. Aku ingin menggenjot dia dari belakang. Kusetubuhi dia “doggy-style” sampai kalung berlian dan buah dadanya yang besar bergoyang-goyang menggemaskan. Kadang kukeluarkan kemaluanku dan kusodorkan ke mulut Santi yang dengan lahap menjilati dan mengulumnya. Benar-benar nikmat rasanya menyetubuhi dua wanita cantik ini.

“Ahh.. Yes.. Yes.. Aha.. Aha.. That’s right.. Aha.. Aha..” begitu erangan Susan menahan rasa nikmat yang menjalari tubuhnya. Hal itu menambah suasana erotis di ruangan itu.

Sementara Pak Harry rupanya telah berhasil membangunkan senjatanya. Dihampirinya Santi dan ditariknya menuju sofa yang lain di ruangan itu. Santipun mau tak mau mengikuti kemauannya. Memang sudah perjanjian bahwa aku bisa menikmati istrinya sedangkan Pak Harry bisa menikmati “istriku”.

Sementara itu, aku masih menggenjot Susan secara doggy-style. Sesekali kuremas buah dadanya yang berayun-ayun akibat dorongan tubuhku. Kulihat Pak Harry tampak bernafsu sekali menyetubuhi Santi dengan gaya missionary. Tak beberapa lama kudengar erangan Pak Harry. Rupanya dia sudah mencapai orgasme yang kedua kalinya.

Santipun tampak kembali pergi meninggalkan ruangan. Sementara aku masih menyetubuhi Susan dari belakang sambil berkacak pinggang. Setelah itu kubalikkan badannya dan kusetubuhi dia lagi, kali ini dari depan. Sesekali kuciumi wajah dan buah dadanya, sambil terus kugenjot vaginanya yang sempit itu.

“Ohh.. Aha.. Aha.. Ohh god.. I love your big cock..” Susan terus meracau kenikmatan.

Tak lamapun tubuhnya mengejang dan dia menjerit melepaskan segala beban birahinya. Akupun sudah hampir orgasme. Aku berdiri di depannya dan kusuruh dia menghisap kemaluanku kembali. Sementara, aku lirik ke arah Pak Harry, dia sedang memperhatikan istrinya mengulumi kemaluanku. Kuremas rambut Susan dengan tangan kiriku, dan aku berkacak pinggang dengan tangan kananku.

Tak lama akupun menyemburkan cairan ejakulasiku ke mulut Susan. Diapun menelan spermaku itu, walaupun sebagian menetes mengenai kalung berliannya. Diapun menjilati bersih kemaluanku.

“Thanks Robert.. I really enjoyed it” katanya sambil membersihkan bekas spermaku di dadanya.
“No problem Susan.. I enjoyed it too.. Very much” balasku.

Setelah itu, kamipun kembali mengobrol beberapa saat sambil menikmati desert yang disediakan. Kamipun berjanji untuk melakukannya lagi dalam waktu dekat.

Dalam perjalanan pulang, Santi tampak kesal. Dia diam saja di dalam mobil. Akupun tidak begitu menghiraukannya karena aku sangat puas dengan pengalamanku tadi. Akupun bersenandung kecil mengikuti alunan suara Al Jarreau di tape mobilku.

“We’re in this love together..”
“Kenapa sih sayang?” tanyaku ketika kami telah sampai di depan rumahnya.
“Pokoknya Santi nggak mau lagi deh” katanya.
“Habis Santi nggak suka sama Pak Harry. Udah gitu mainnya cepet banget. Santi nanggung nih.”

Akupun tertawa geli mendengarnya.

“Kok ketawa sih Pak Robert.. Ayo.. Tolongin Santi dong.. Santi belum puas.. Tadi Santi horny banget lihat bapak sama Susan make love” rengeknya.
“Wah sudah malam nih.. Besok aja ya.. Lagian saya ada janji sama orang”.
“Ah.. Pak Robert jahat..” kata Santi merengut manja.
“Besok khan masih ada sayang” hiburku.
“Tapi janji besok datang ya..” rengeknya lagi saat keluar dari mobilku.
“OK so pasti deh.. Bye”

Sebenarnya aku tidak ada janji dengan siapa-siapa lagi malam itu. Hanya saja aku segan memakai Santi setelah dia disetubuhi Pak Harry tadi. Setidak-tidaknya dia harus bersih-bersih dulu.. He.. He.. Mungkin besok pagi saja aku akan menikmatinya kembali, karena Pak Arief toh masih beberapa hari lagi di luar negeri.

Kukebut mobilku mengarungi jalan tol di dalam kota. Semoga saja aku masih dapat melihat film bagus tayangan HBO di TV nanti.

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Berganti Pasangan Dengan Istri Kenalan Dari Selingkuhanku Terbaru

Agustus 01, 2018 Add Comment