Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 4 Terbaru
Malam itu juga di kantor, aku mengirim email beserta video sore itu ke email Dokter Tan. Aku yakin dia akan sangat sangat sangat terkejut meilhat istrinya kami kerjai. Aku menang. Yah, aku menang. Dokter bajingan itu hanya mencolok kemaluan istriku, aku pun mencolok kemaluan istrinya, tapi lebih keren lagi teman-temanku menyetubuhinya, di kamar tidurnya, bahkan hingga istrinya orgasme.Baru dua menit email itu terkirim, ternyata sudah ada balasan dari Dokter Tan. Aku menduga-duga pasti ia memakiku dalam email balasannya. Tapi tunggu, ada lampiran video juga di balasannya. Aku langsung mendownloadnya, sedikit lama karena filenya cukup besar juga.
Begitu download selesai, aku tak sabar langsung membuka file video itu. Seperti kuduga, file video dengan resolusi cukup besar. Gambarnya jernih. Tapi aku sangat shock melihat awal dari video itu, itu video di ruang tamu, ruang tamu rumahku. Ada Dokter Tan, beberapa mahasiswa magangnya, dan istriku.
![]() |
| Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 4 |
“Gimana Rini cantik? apakah kamu bersedia menyerahkan tubuh kamu hanya kepada kami berlima, atau seluruh dunia bisa melihat memekmu di internet?” kata Dokter Tan.
“Ta…tapi… Dokter janji jangan sebarin video itu ya… Dokter janji kan?” ujar Rini
“Iya, you percaya lah sama gua. Abis hari ini, you ga akan pernah lihat kami lagi,” jawab Dokter Tan
“Te…terus… tolong Dok, jangan kasih tahu suami saya…” ujar Rini
“Hahaha… tenang Rin, you punya suami ga akan tahu kalo istrinya udah gue entotin di rumahnya sendiri cantik…” ujar Dokter Tan
Aku langsung berkeringat di ruangan kantor yang berAC ini. Semoga ini tidak benar-benar terjadi. Tanggal di video menunjukkan kejadiannya sore ini, pas ketika kami di rumah Dokter Tan.
“Ba…baik Dokter, saya akan nurut kata Dokter…” ujar Rini
“Bagus, kita pindah ke ruang tengah aja yah, kayanya di sana lebih lega. You keep shooting ya?” kata Dokter Tan ke salah satu mahasiswanya
“Ya Dokter ini masih recording,” kata mahasiswa yang sedang merekam mereka
Mereka semua masuk ke ruang tengahku. Ruangan itu tempat nonton tv, dengan sebuah sofa panjang dan karpet tebal di depannya.
Dokter Tan menyuruh keempat mahasiswanya duduk di sofa.
“Rini, kau buka celana mahasiswa gua semua, dan isep kontolnya satu per satu,” perintah Dokter Tan ke Rini.
Rini awalnya agak ragu, tapi dia mulai mendekati ke salah satu mahasiswa yang paling ujung. Rini membuka ikat pinggang mahasiswa itu, kemudian membuka celana panjangnya dan menurunkannya hingga mata kaki.
“Wah udah ahli urusan buka celana laki-laki. Itu mahasisiwa gua namanya Johan. Lu buka celana dalamnya, terus isep kontolnya,” perintah Dokter Tan lagi.
Rini agak malu ketika membuka celana dalam biru itu. Begitu dibuka, penis Johan masih setengah bangun, yah namanya Johan, seperti nama teman kantorku yang cina itu, bedanya Johan yang ini lebih ganteng, badannya lebih atletis. Istriku ketika itu memakai daster ungu, dan kerudung ungu juga. Ia ragu-ragu memegang dan menggenggam penis Johan, lalu kepalanya dimasukkan ke dalam mulutnya. Mulut mulai bergerak-gerak menghisap kepala penis Johan sementara tangan kanannya menggenggam batangnya.
“Jilat cantik, jilat…”suruh Johan kepada istriku. Rini mulai memainkan lidahnya. Ketiga mahasiswa yang lain spontan membuka celana mereka sendiri dan mulai mengocok penis mereka hingga bangun. Dokter Tan terus merekam semua adegan itu. Aku termasuk jarang dioral oleh Rini, kebalikannya, aku malah hampir tiap berhubungan dengannya selalu kuawali dengan menjilat kemaluannya. Tapi kini, istriku harus mengoral penis-penis bajingan itu semua.
Rini terus mengoral Johan hingga disuruh pindah ke sebelahnya. Ia bergeser pindah sambil tetap berlutut di hadapan mereka yang duduk di sofa.
“Itu namanya Rio, gimana Rini? gede mana penis Rio sama suamimu si Hasan hah?” ejek Dokter Tan. Kuakui di antara berempat itu, penis Rio yang paling besar, lebih besar daripada punyaku juga. Kulihat istriku kesulitan karena kepala penis Rio benar-benar memenuhi mulut istriku.
Sekitar satu menit, Rini disuruh pindah lagi ke sebelahnya. Namanya Erik. Rini melanjutkan mengoral penis Erik yang sudah tegang duluan. Tangan Erik membelai-belai kepala RIni yang masih tertutup kerudung, sementara tangan Rini mengocok batang penis Erik.
“Dok, saya buka ya belakangnya, udah ga tahan nih,” ujar mahasiswa yang belum dioral.
“Iya terserah lu aja Marcel,” jawab Dokter Tan.
Marcel langsung bangkit dan mendekati pantat Rini yang sedang menungging. Diangkatnya daster istriku perlahan seolah ia mendramatisir momen itu. Tersingkaplah pantat istriku yang masih tertutup celana dalam warna pink. Marcel meremas-remas pantat itu sebentar sebelum diturunkannya celana dalam istriku melewati kedua kakinya.
“Aih mulus juga pantatnya…” ujar Marcel
Marcel merenggangkan kedua kaki istriku sehingga ia bisa melihat lebih jelas belahan di tengah kedua pantat istriku itu. Muka Rini kulihat memerah tapi ia tidak bisa apa-apa karena kepalanya ditekan oleh Erik supaya mulut istriku tidak lepas dari penisnya.
Marcel mulai menjilat kemaluan istriku. Kepalanya didekatkan ke selangkangan RIni dan lidahnya dijulurkan menyapu organ-organ yang ada di situ. Setiap aku mengoral istriku, dia tidak akan bisa diam dan pinggulnya akan bergerak-gerak merespon jilatanku. Kali ini pun sama, mereka tampak menikmat goyangan pantat Rini akibat menerima jilatan di kemaluannya.
“Hahaha pake jilbab tapi goyangannya hot juga ya,” ujar Rio
“Justru ini nih yang sok tertutup padahal napsuan juga,” sahut Johan
Marcel menghentikan jilatannya, kemudian dia mengarahkan kepala penisnya ke lubang kemaluan istriku. Ditempelkannya dan dia mulai mendorong. Rini berusaha menahan tubuh Marcel dengan tangannya tapi tangannya langsung dipegang oleh Johan sementara Marcel terus berusaha mendorong sambil meremas pantat Rini.
“Aduh gila peret banget nih memek,” kata Marcel sambil terus memasukkan batangnya mili demi mili hingga akhirnya semuanya terbenam di dalam lubang istriku. Ia mulai bergerak maju mundur. Tiap bergerak maju, ia hentakkan tubuhnya menabrak tubuh istriku sehingga pantatnya bergoyang indah. Baru sekitar dua berjalan, Johan minta gantian. Marcel menyingkir sambil terus mengocok penisnya, sementara Johan mulai menyetubuhiku istriku dengan mudah karena kemaluannya tampaknya sudah licin, mungkin karena cairan pelumas di tubuhnya. Yah, istriku kelihatannya menikmati perlakuan mereka.
Tak lama setelah itu Johan melepaskan penisnya, istriku ditarik oleh Erik ke atas tubuhnya di sofa. Erik menyuruhnya mendudukinya sambil membelakanginya, tentu saja dengan penis yang menancap ke kemaluan istriku. Rini duduk perlahan setelah lubangnya pas dengan penis Erik yang ada dibawahnya. Setelah kemaluan istriku menelan penis Erik, ia disuruh bergerak naik turun, tapi dia diam saja.
“Ayo, manis, naik turun, peres tuh penisnya Erik,” ujar Dokter Tan yang berada di persis di depannya sambil tetap merekamnya.
“Aku ga… ga bisa Dok…” jawab Rini lirih sambil tetap duduk diam di pangkuan Erik
“Harus bisa…” kata Dokter Tan menyuruh lagi. Tapi istriku tetap diam.
“Johan, buka bajunya, tarik!” suruh Dokter Tan ke Johan. Johan langsung membuka daster istriku lewat kepalanya, sedangkan Rio membuka BHnya yang berwarna krem sehingga buah dadanya mencuat menantang mereka semua. Tinggal kerudung ungu itu yang tersisa di tubuh istriku.
Erik menarik ujung kerudung Rini kebelakang sehingga dada Rini terbuka lebar.
“Ayo kamu perek, naik turun!” perintah Johan sambil meremas kedua buah dada istriku dengan keras. Rini terkejut menerima perlakuan itu tapi ia tetap tidak mau. Johan terus menyuruhnya sambil mencubit kedua puting istriku, tapi ia tetap menolak.
Aku merasa kasihan sekali melihat kondisi istriku. Kedua payudaranya memerah akibat remasan Johan yang keras. Air matanya meleleh di kedua pipinya, tapi ia tetap menolak untuk bergerak. Erik yang kesal karena merasa tidak dilayani lalu membanting istriku ke sampingnya sehingga istriku menungging di atas sofa. Erik lalu dengan kasar menyodok-nyodok kemaluan istriku sambil menampar-nampar pantatnya. Karena sangat bernafsu, Erik tidak terlalu lama hingga akhirnya melepas penisnya lalu pindah ke depan istriku, menarik kerudungnya ke atas dan mengocok penisnya tepat di depan wajah istriku hingga akhirnya maninya muncrat berkali-kali membasahi wajah istriku.
Begitu Erik pindah, Johan langsung mengisi posisi yang ditinggal Erik. Johan langsung menyodok dengan cepat dan brutal sehingga tubuh istriku tersentak-sentak ke depan. Johan pun tidak lama lalu ia mengikuti apa yang dilakukan Erik, memuncratkan maninya di wajah istriku, sebagian membasahi kerudungnya.
Marcel membalikkan tubuh istriku hingga terlentang di atas sofa. Ia mengangkangkan kedua kakiku istriku lebar-lebar dengan kasar kemudian mengarahkan kepala penisnya ke lubang istriku. Bless, tanpa kesulitan penisnya langsung menyusup ke dalamnya. Ia menyodok-nyodok juga dengan kasar sambil mencubiti kedua buah dada istriku. Kadang ia menghisap puting-putingnya, dan meninggalkan cupangan di kedua buahnya. Marcel terus menyodok hingga akhirnya ia hampir keluar. Ia lepaskan penisnya kemudian locat mengangkangi wajah istriku dan menyiramkan maninya di wajah istriku.
Kini giliran Rio yang mendekati istriku. Ia menarik kerudungnya sehingga lepas dari kepalanya. Istriku kini benar-benar telanjang bulat. Ia mengelap wajah istriku dari sisa-sisa mani temannya menggunakan kerudung itu sampai bersih. Marcel lalu mengarahkan penisnya ke lubang kemaluan istriku dan mulai mendorong. Karena penis Rio sangat besar, ketika kepalannya saja yang baru masuk tubuh istriku langsung tersentak. Mungkin ini pertama kalinya kemaluannya dimasuki penis sebesar itu.
Didorongnya terus sampai seluruh batang penisnya masuk, tubuh istriku terangkat merespon panjangnya benda yang masuk ke dalam tubuhnya. Rio mulai bergerak maju mundur. Gerakannya lebih pelan, jauh dari kasar dan brutal seperti teman-teman sebelumnya. Justru gerakan pelan itu, ditambah karena batangnya yang besar sehingga memenuhi rongga kemaluan istriku, dinding-dinding vaginanya benar-benar tergesek oleh batang penis itu, klitorisnya tersundul-sundul, sehingga istriku menjadi tampak sangat terangsang dan menikmatinya. Ditambah mulut Rio yang menghisap-hisap puting istriku yang kanan membuat istriku makin kelojotan.
Puting istriku memang sangat sensitif. Sering kali ketika aku menyetubuhinya sambil menghisap putingnya, maka tak lama ia akan orgasme. Tampaknya sekarang pun hampir terjadi. Demi menerima sodokan yang sangat nikmat di kemaluannya ditambah hisapan di putingnya membuat badannya otomatis ikut bergoyang, pantatnya terangkat-angkat dan berputar-putar mencari posisi ternikmat yang bisa ia dapatkan. Tangannya refleks memeluk tubuh Rio dan mulutnya melenguh panjang dan keras, tanda ia mendapatkan puncak kenikmatan dari persetubuhan itu.
Pinggulnya terus berputar akibat dari puncak kenikmatan yang amat sangat, vaginanya berkedut seolah memerah batang penis Rio. Akibatnya Rio pun makin mempercepat gerakannya dan menyemprotkan maninya di dalam kemaluan istriku.
“Hahaha, bisa orgasme juga ternyata perek ini,” ejek Dokter Tan
“Keren juga lo Rio, batang lo super sih,” kata Marcel ke Rio
Rio hanya tersenyum saja sambil menghabiskan sisa-sisa maninya yang masih tertinggal di dalam penisnya. Kemudian ia bangun dan meninggalkan istriku yang terlentang kelelahan.
“Johan, gantian lo yang rekam nih,” kata Dokter Tan sambil menyerahkan handycam. Dokter Tan kemudian menghampiri Rini dan mengangkatnya hingga menungging kembali, kali ini Rini berlutut di lantai tetapi badannya di atas sofa. Dokter Tan mulai meludahi lubang anus Rini hingga sangat licin dan mulai mencoba memasukkan satu dua jarinya di lubang itu.
“Aduh Dok sakit, jangan di situ Dok,” rintih istriku.
“Hah diem lo perek, anus lu masih perawan kan, si Hasan ga pernah nusuk anus lu kan? nih gua ajarin,” jawab Dokter Tan.
Setelah dua jari bisa masuk, Dokter Tan mulai mencoba memasukkan penisnya ke dalam lubang pantat istriku. Kepala penisnya sangat besar, Johan mengclose up adegan itu di mana kepala penis Dokter Tan benar-benar meregangkan lubang pantat istriku yang mungil. Dokter Tan terus memaksa sambil meludahi lubang itu, membuat istriku merintih dan berteriak. Rio berinisiatif menutup mulut istriku dengan tangannya supaya teriakan istriku tidak terlalu kencang.
Dokter Tan masih terus mendorong hingga akhirnya kepalanya bisa masuk semua. DIa terus meludahi batang penisnya sendiri dan terus mendorong hingga setengah batangnya bisa masuk. Ia tarik keluar perlahan kemudian dimasukkan lagi. Rio memegangi mulut istriku sementara Marcel memegangi pundaknya supaya tidak banyak bergerak. Dokter Tan mulai bergerak maju mundur menikmati pijitan anus istriku pada penisnya. Jelas saja pijitannya sangat kuat sebab itu pertama kalinya lubang anus istriku dimasuki penis sebesar itu.
Makin lama gerakan Dokter Tan makin cepat, istriku sudah diam pasrah tidak bergerak sampai akhirnya Dokter Tan melenguh sambil meremas pantat istriku dengan kuat. Ia menyemprotkan maninya di dalam anus istriku.
“Ahh gila emang istri si Hasan ini, ga percuma, nikmat banget anusnya,” ujar Dokter Tan sedikit terengah-engah. Dokter Tan menikmati momen itu sambil menunggu orgasmenya reda. Setelah itu ia mencabut penisnya yang mulai mengecil dari lubang pantat istriku. Ternyata ada sedikit kotoran tertinggal di penisnya bercampur cairan kental putih. Tentu saya karena istriku memang tidak mempersiapkan diri untuk dianal.
“Sialan, ada tainya lagi,” ujar Dokter Tan. Dia lalu menuju kamar mandi dan terdengar suara gemericik air dari kamar mandi sementara Johan masih merekam tubuh istriku yang sudah lunglai berbaring menyamping di karpet.
“Hei, gotong perek itu kemari,” terdengar perintah Dokter Tan. Mereka lalu menggotong tubuh istriku seperti mengangkat karung tepung, dan meletakkannya di lantai kamar mandi. Dokter Tan mendudukkan istriku yang sudah tidak berdaya dengan posisi menyandar ke tembok kamar mandi. Kemudian ia berdiri, dan mengarahkan penisnya ke tubuh istriku di bawahnya. Lalu memancarlah cairan kuning dari penis itu. Ia mengencingi tubuh istriku. Diarahkannya air kencing itu ke muka, dada, rambut, perut dan selangkangan istriku.
“Hahaha, rasain lu Hasan, gua kencingin istri lu depan belakang,'” ujar Dokter Tan sambil tertawa. Mahasiswanya yang lain pun mengikuti apa yang ia lakukan, memancarlah air kencing itu dari keempat pria lainnya, sementara istriku hanya bisa berusaha supaya air kencing mereka tidak mengenai wajahnya.
Puas mengencingi istriku, mereka langsung keluar kamar mandi. Tak lama video itu berakhir. Aku hanya bisa terpaku menyaksikan itu semua, di kantorku. Aku tidak jadi pemenang. Aku bukan pemenang. Justru istriku lagi-lagi jadi korban, korban egoku.
Perasaan antara, terhina, sedih, marah, bercampur dalam hatiku. Kenapa istriku yang harus jadi korbannya. Padahal aku sudah menahan diri untuk tidak menyetubuhi Lily, tapi ternyata apa yang dialami istriku lebih menyakitkan.
—
Jam sebelas malam aku sampai rumah. Aku buka pintu rumah sendiri karena aku bawa kunci. Aku masuk ke ruang tengah, istriku sedang nonton tv di sofa, di tempat dia dipermalukan sejadi-jadinya tadi sore.
“Eh mas baru pulang jam segini,” ujar Rini
“Neng kok belum tidur?” tanyaku
“Belum ngantuk nih,” jawabnya
Aku duduk di meja makan sementara Rini menuju ke dapur membuatkanku teh manis panas. Ia berjalan tertatih-tatih.
“Kok jalannya pincang?” tanyaku
“Ehmmm, iya tadi aku jatoh tadi, tapi gapapa kok udah dikasih balsem,” jawabnya. Aku tahu bahwa sebenarnya ia pasti masih kesakitan karena tadi lubang anusnya diperawani oleh dokter bajingan itu.
“Neng ga sakit kan?” tanyaku lagi
“Engga kok Mas, aku cuma agak cape hari ini,” jawabnya berbohong
Aku membersihkan diri, kemudian berbaring di kamar tidur kami bersebelahan dengan istriku yang memakai daster putih. Aku teringat video tadi, bagaimana tubuh molek istriku dikerjai oleh pria-pria bangsat itu. Aku jadi penasaran seperti apa tubuhnya sekarang? seperti apa dadanya yang sudah dihisap oleh mereka? seperti apa kemaluannya? apakah jadi longgar? apakah lubang anusnya terluka?
Aku menjadi terangsang memikirkan hal itu. Aku mulai menciuminya, mulai dari pipinya, bibirnya, hingga lehernya. Aku tahu walau istriku baru saja diperkosa tadi sore, ia tidak akan menolakku. Ia tidak pernah menolakku. Kubuka dasternya lalu kucopot BHnya. Aku mendapati bekas cupangan di situ, dua di kanan dan satu di kiri.
“Loh kok ada cupangan?” tanyaku pura-pura heran
“Itu bukan cupangan. Tadi siang aku tidur ga pake baju karena gerah, eh banyak nyamuk. Aku garuk eh jadi begini,” jawabnya bohong.
“Nyamuknya pasti nyamuk jantan ya hahaha,” kataku mencairkan suasana
“Iya kali, tau tuh nyamuk nakal,” katanya tersenyum. Mungkin ia merasa lega karena suaminya tidak curiga.
Aku terus menciumi buah dadanya, perutnya, pinggulnya sambil melolosi celana dalamnya. Kubuka kakinya lebar-lebar, kuamati perhiasan istriku yang paling rahasia ini, yang tadi sore telah terenggut kesuciannya oleh mereka. Kuhirup aromanya, masih seperti aroma yang kukenal. Aku mulai menciumi dan menjilat bibir vaginanya, sambil membayangkan inilah yang tadi dihajar oleh pria-pria itu, yang dimasuki dan disodok berkali-kali. Aku makin terangsang.
Kujilati sampai basah hingga istriku pun terus menggelinjang menikmati perlakuanku. Aku segera membuka celanaku hingga penisku mengacung, kemudian mulai mengarahkan ke vaginanya. Yah, sekarang lebih gampang masuknya. Biasanya agak seret. Penisku masuk dengan mudahnya menggelosor di dalam lubang vagina istriku. Aku terus memaju-mundurkannya menikmati lubang ini.
“Aduh mas, terus mas… Mas, lubangku masih rapet ga mas?” tiba-tiba dia bertanya di tengah persetubuhan ini, pertanyaan yang belum pernah ia tanyakan selama ini.
“Masih neng, aduh enak banget ini,” jawabku berbohong
Istriku tersenyum mendengar jawabanku. Ia memelukku sambil kami berciumam bibir dengan bibir, sementara di bawah aku terus menyodokknya. Setelah sekitar lima menit, aku minta ia berbalik. Ia mengerti, lalu ia menungging. Aku mulai menyodoknya lagi dari belakang sambil aku mengusap-usap dan mencoba membuka lubang duburnya. Bisa kulihat, tampak lebih longgar.
“Aduh mas jangan di situ dong, ndak boleh,” ujarnya
“Engga kok neng, cuma pengen lihat aja hehe…” jawabku singkat
Aku terus menyodok menyetubuhinya, tak lama dalam posisi doggy ini hingga maniku tersembur di dalam kemaluannya. Aku sudah terlalu terangsang sehingga aku tidak bisa membuatnya orgasme terlebih dahulu.
Aku langsung berbaring di sampingnya. Dia pun berbaring di pelukanku.
“Mas, aku udah ga betah di sini. Kita cari rumah yang lebih deket sama kantormu saja, biar ga terlalu jauh,” ujarnya masih berada di pelukanku.
“Iya dek, nanti ya kita cari…” jawabku mantap
Sebuah sore yang cerah ketika aku mengunjungi sebuah kafe di sebuah pusat pertokoan di kota ini. Aku mencari seseorang yang aku sudah buat janji dengannya. Itu dia, sedang duduk seorang diri membaca tabletnya sampai ia akhirnya melihat kedatanganku. Ia berdiri dan menyambutkan dan kami bersalaman.
“Hasan apa kabar?” lama tidak ketemu
“Baik Dok, Dokter apa kabar?” jawabku
“Yah, beginilah kita…” katanya sambil kami duduk
“Pesan apa pak?” tanya seorang pelayan mendekati kami
“Aku jus buah naga ya,” jawab Dokter Tan
“Aku minta teh hijau lechi ya,” jawabku
“Baik pak ditunggu ya..” ujar pelayan itu.
“Dok, pertama aku mau minta maaf. Pertama untuk semua kesalahanku ketika di rumah sakit. Kedua untuk apa yang telah kulakukan di rumah Dokter,” kataku
“No no no, Hasan. Aku yang salah. Aku yang tidak bisa mengontrol diri ketika memeriksa istrimu di rumah sakit. Ini semua awalnya gara-gara kesalahanku,” ucapnya.
“Hasan, entah bagaimana aku harus minta maaf kepadamu, dan kepada istrimu. Apa yang kulakukan benar-benar keterlaluan, menjijikkan. Sementara kau, sama sekali tidak melakukan apa-apa ke istriku. Yah, apa yang kau lakukan, sesuai dengan apa yang pernah kulakukan kepada istrimu di rumah sakit. Tapi apa yang terakhir kulakukan, benar-benar…” ujar Dokter Tan.
“Dok, aku dan istriku ingin melupakan ini semua. Saya harap ini yang terakhir kalinya kita seperti ini,” jawabku
“Baiklah Hasan, aku juga sadar apa yang telah kita lakukan selama ini salah, akibatnya istri-istri kita yang menjadi korban. Sekali lagi, aku minta maaf..” kata Dokter Tan sambil menjulurkan tangan
“Iya Dok, sama-sama, sekali lagi aku juga minta maaf,” kataku
Kami berjabat tangan kembali. Pelayan datang mengantarkan pesanan kami.
“Hasan, aku ingat kau pernah lalai ketika bekerja di rumah sakit masalah komputer. Tapi itu sudah kau bereskan. Selain itu, tidak ada masalah lain. Sebenarnya pekerjaanmu cukup memuaskan. Kalau kau mau, kau bisa bekerja kembali di tempatku,” kata Dokter Tan
“Terima kasih Dok tawarannya, tapi akan kami pertimbangkan dulu,” jawabku diplomatis.
“Ya ya, dan jangan khawatir, kalau istrimu mau periksa, saya akan pastikan Dokter Vina yang memeriksa. Saya akan pergi jauh-jauh hahaha…” ujarnya berusaha meyakinkan
“Hasan, kenapa waktu di rumahku, kalian tidak semuanya menyetubuhi istriku? malah cuma berdua? apa istriku kurang seksi” tanya Dokter Tan penasaran
“Bukan begitu Dok, sebenarnya tujuan kami cuma pamer saja, bahwa kami bisa melakukan seperti itu. Untuk urusan kepuasan, kami lebih memilih dengan istri-istri kami yang sah. Kebetulan dua orang itu memang belum menikah jadi tidak punya pelampiasan,” terangku.
“Oh I see, Oke,” jawabnya
“Satu lagi Dok kalau aku boleh kasih saran, istri Dokter sebenarnya sangat tersiksa kalau disetubuhi lewat anusnya. Di video yang kami tonton, dia menangis kesakitan setelah dokter sodomi. Ini sih saran saya, sebaiknya dihentikan saja,” usulku.
Dokter Tan terdiam melihat ke langit sore yang cerah, menerawang sesuatu.
“Yeah bener juga. Secara ilmu, aku pun yakin kalau apa yang kulakukan salah. Aku dokter kandungan, jelas mengerti. Memang selama ini aku terlalu mengikuti nafsuku saja, mungkin karena bosan dan mencari variasi. Tapi ya tetap pada dasarnya, itu penyimpangan. By the way makasih sarannya. Saya akan berhenti,” jawabnya.
“Ok Dok, sudah sore, saya mau langsung pulang. Terima kasih atas waktunya,” ujarku
“Terima kasih juga Hasan, saya harap hubungan kita mulai sekarang jadi hubungan baru yang lebih baik,” ucapnya.
Kami berjabat tangan lagi, yang ketiga kali hari itu. Mungkin jabat tangan kami yang terakhir…




