Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 3 Terbaru
Sehari setelah kukirim email video pembalasanku ke Dokter Tan, kami tidak bisa lagi memonitor gerak-gerik Lily di rumahnya. Ternyata Dokter Tan sudah mencabut semua set kamera yang kupasang. Padahal satu unit kameranya lumayan mahal, tapi untungnya Ali tidak mempermasalahkannya. Tapi set kamera yang satu lagi yang mana Dokter Tan memiliki akses untuk memonitornya belum dicopot. Dengan sedikit trik, kami bisa masuk ke sistem kamera tersebut dan mengawasi rumah Dokter Tan walaupun bukan di spot-spot yang bisa menimbulkan pemandangan erotis.Itulah hebatnya tim ini, dengan peralatannya bisa masuk ke sistem kamera keamanan siapa saja, tergantung tingkat enkripsi sistem itu. Persis kayak di pelem-pelem.
Hari ini adalah waktu yang telah direncanakan. Kami memeriksa kamera di rumah sakit, Dokter Tan keluar rumah sakit sekitar pukul satu siang bersama keempat mahasiswa magangnya. Mereka pergi menggunakan mobil Dokter Tan, artinya mereka tidak mungkin langsung pulang karena mobil mahasiswa yang lain masih ada di rumah sakit semua.
![]() |
| Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 3 |
Agak deg-degan juga apakah hal ini akan berhasil atau tidak. Semua peralatan sudah disiapkan. Semua tim tampak antusias, terutama Johan yang tampaknya telah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Lily.
Kedatangan kami ke rumah Dokter Tan sore itu disambut pembantunya yang telah mengenali kami ketika memasang kamera beberapa hari minggu yang lalu. Karena sudah kenal kami dipersilakan masuk ke ruang tamu.
“Waduh mas-mas, bapaknya belum pulang, bagaimana ya?” tanya pembantu itu
“Kalo ibunya ada mbak?” tanya Ali
“Ada, bentar yah saya panggilkan, pada mau minum apa?” kata pembantu itu
“Aduh makasih Mbak jangan repot-repot, teh saja cukup,” jawab Ali lagi
“Baik ditunggu sebentar ya,” ujarnya sambil masuk ke rumah
Tak lama Lily datang ke ruang tamu, dia tampak baru bangun tidur terlihat dari bekas di wajahnya. Dia menggunakan kaos yang cukup panjang dan celana pendek selutut sehingga kami masih sedikit bisa menikmati betisnya yang bunting. Betisnya dulu, sebelum kami menikmati yang lainnya.
“Oh mas-mas ini dari security camera yah? iya kemaren suami saya kayanya nyopot beberapa kamera di sini terus saya ga tau disimpen di mana. Apa ada yang rusak atau ada gangguan?” tanya Lily. Tampaknya suaminya tidak memberi tahu Lily perihal kami yang mengintip dirinya. Pembantunya datang menyuguhkan teh manis untuk kami kemudian masuk lagi ke ruangan tengah.
“No, no. Semua baik-baik saja kok mbak, hmm, siapa namanya mbak?” tanya Ali pura-pura tidak tahu.
“Saya Lily,” jawab Lily pendek.
“Oh Mbak Lily. Iya semua baik-baik saja. Kami hanya ingin memperlihatkan hasil monitor kamera kami ke Mbak,” jawab Ali santai.
“Eh mas, sepertinya saya pernah lihat mas deh, tapi di mana ya?” tiba-tiba Lily memperhatikanku.
“A…anu mbak, ah mungkin perasaan mbak saja, saya juga belum pernah kemari,” elakku sekenanya
“Oh ya…ya, mungkin perasaan aja. Jadi apa yang mau diperlihatkan?” tanya Lily lagi
“Johan, kemarikan ipadnya,” kata Ali kepada Johan.
Johan mengeluarkan ipad dari tasnya, kemudian memberikannya ke Ali. Ali mulai mencari video yang dimaksud di folder dan mulai menyetelnya.
“Mbak, ini antara kita saja ya, tidak perlu diketahui orang lain. Suami Mbak juga tidak perlu tahu lah masalah ini,” ujar Ali sedikit berbisik kepada Lily.
“Loh memangnya kenapa sampai suami saya tidak boleh tahu?” tanya Lily penasaran.
“Coba saja dicek sendiri,” jawab Ali sambil menyerahkan ipad itu ke Lily.
Lily mulai menyaksikan video demi video, mulai dari ia berenang bugil, kegiatan dia di kamar mandi dan kamar tidur, sampai dengan hubungan intimnya dengan suaminya. Perlahan mukanya berubah menjadi memerah, nafasnya agak cepat dan bulir keringan menetes di pelipisnya. Dia menonton sampai semuanya tuntas. Kemudian dia memeluk ipad itu seolah tak ingin ipad itu jatuh ke tangan kami lagi.
“Oke, saya sadar sekarang, kalian penjahat kelamin bajingan, kalian mau apa? mau memeras saya?” tanya Lily dengan nada suara agak tertahan karena marah
“Mbak Lily, saya harap video ini tidak perlu jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Saat ini, sampai detik ini, kami masih bisa mengamankannya. Tapi besok? belum tahu. Saya harap kita bisa bekerja sama supaya video ini tetap aman dan sampai tidak tersebar,” jawab Ali sangat diplomatis
“Oke, kalian minta berapa?” tanya Lily singkat dan mulai tidak sabaran
“Kami tidak minta uangmu sayang, kamu bisa simpan uangmu dengan utuh. Kami hanya minta, tubuhmu saja…” jawab Ali.
Mendengar jawaban Ali, muka Lily makin merah. Ia benar-benar marah dengan kami namun ia masih berusaha menahan diri.
“Kalian benar-benar bajingan. Kalian pikir saya mau menyerahkan tubuh saya begitu saja?” ujar Lily
“Oke, kami tidak akan lama-lama kalau mbak tidak mau bekerja sama. Tapi, mbak siapkan kalo besok video itu sudah tersebar di internet?” jawab Ali lagi
Lily terdiam. Dia berusaha berpikir jernih. Dia tampak tidak ingin melayani kami, tapi dia juga tidak mau video itu tersebar.
“Apa tidak ada jalan lain? please, sebutkan saja berapa harganya, akan saya penuhi,” Lily mencoba menawar kepada Ali.
“Mbak, bayangkan saja besok semua staf di rumah sakit suami Mbak, semua tahu apa yang bos mereka lakukan terhadap Mbak, seorang dokter kandungan menyodomi istrinya sampai istrinya menangis kesakitan, mbak benar tidak apa-apa kalau itu sampai tersebar?” Ali masih terus berusaha membujuk.
Lily terdiam kembali, kemudian tubuhnya melunglai. Ia berikan ipad itu ke Ali dengan tangan kirinya, tanda ia sudah tidak respek dengan kami.
“So, kalian mau apa dengan tubuhku? kalian mau memperkosa aku?” tanya Lily pelan
“Oh tidak manis, kami tidak suka ada pemaksaan. Justru kau harus melayani kami dengan sepenuh hati. Jadilah istri kami untuk sebentaaaar saja, kami janji kami tidak akan berlaku kasar seperti suamimu manis,” jawab Ali meyakinkan. Aku bahkan tidak menduga Ali bisa berkata-kata seperti itu.
“Kapan? dimana?” tanya Lily lagi singkat
“Sekarang, di kamarmu,” jawab Ali tegas
“Sekarang? itu ada pembantuku bagaimana kalau dia tahu? bagaimana kalau anakku pulang?” tanyanya agak panik
“Let’s make it simple honye, kita masuk ke kamar, kunci pintunya, dan semua akan selesai dalam sekejap saja. Mudah bukan? Setelah itu kamu tidak perlu khawatir dengan video ini. Kami tidak akan mengingkari janji kami,” jawab Ali berusaha meyakinkan.
Lily terdiam lagi, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini adalah jalan terbaik.
“Baiklah, tunggu sebentar,” jawab Lily. Kemudian ia berdiri menuju kamarnya. Setelah memastikan pembantunya tidak ada, dia mempersilakan kami masuk ke kamarnya.
“Masuk saja,” katanya sambil memberi tanda. Kami berenam masuk dengan cepat ke kamar itu.
Lily menjadi orang terakhir yang masuk ke kamar. Ia menutup dan mengunci pintu itu. Entah bagaimana perasaan yang lain, tapi aku merasa canggung. Apakah harus sejauh ini untuk membalas apa yang suaminya telah lakukan kepada istriku. Tapi sudah terlanjur, aku meyakinkan diri bahwa ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Kamar itu sangat luas, ada meja tv, sofa, dan lantainya beralaskan karpet yang cukup tebal.
“Kalian tunggu dan lihat ya, aku duluan,” kata Ali pada kami.
“Siap bos,” Yono menjawab.
Kami duduk berlima di sofa yang cukup besar berbentuk huruf L. TInggal Ali yang duduk di tepi ranjang sedangkan Lily masih berdiri mematung di dekat pintu.
“Kemari manis, dekat dengan abang,” ujar Ali. Lily berjalan pelan mendekati Ali di tepi ranjang.
“Buka kaosnya sayang,” pinta Ali. Lily perlahan mulai mengangkat kaosnya melewati kepalanya hingga tinggal BH berwarna hitam yang menutupi dadanya yang lumayan besar, kontras dengan kulitnya yang putih.
“Celana juga sayang,” pinta Ali lagi. Lily menurut dan mulai menurunkan celananya hingga ia tinggal memakai celana dalam berwarna hitam juga.
“Berbaring di sini sayang, ayo,” Ali meminta Lily berbaring di ranjang. Lily masih dengan gerakan perlahan mulai naik ke ranjang dan kemudian berbaring terlentang.
“No no, tengkurep dulu aja sayang, supaya kamu tidak tegang dan merasa relax,” ujar Ali. Lily pun kemudian membalikkan badannya. Ali kemudian berjalan ke meja rias Lily dan melihat ada botol minyak zaitun. Ia mengambilnya dan kembali ke dekat Lily.
Ia membuka botol itu dan mulai mengucurkan isinya ke punggung dan tengkuk Lily. Kemudian dengan tangannya yang kekar ia mulai memijiti bagian belakang Lily. Kadang ke atas kadang ke samping kadang ke bawah. Lalu ia membuka kait BH di punggung Lily dan dilebarkannya ke samping sehingga kami bisa melihat gundukan buah dada Lily yang terhimpit di bawah tubuhnya.
Setelah puas bermain di punggung, tangan Ali mulai bergerak ke bawah meremasi bongkahan pantat Lily yang membulat. Ia menurunkan celana dalam Lily hingga kini ia telanjang sama sekali. Ali melumuri sekujur bagian belakang tubuh Lily dengan minyak dari tengkuk hingga betis dan telapak kakinya, memijati, kadang membelai, kadang meremas dan bahkan mencubit. Lily sama sekali tidak memberikan perlawanan, bahkan sepertinya menikmati perlakuan Ali. Ali memang mengetahui cara memijat, ini ia lakukan supaya Lily menikmati semua proses ini dan tidak memberikan perlawanan.
Ali kemudian menarik kedua kaki Lily saling menjauh sehingga ia mengangkang. Ali memberikan lebih banyak lagi minyak di belahan pantat Lily, kemudian jarinya dengan lembut mulai menyusuri belahan itu perlahan dari klitorisnya di bawah, naik lagi ke lubang pantatnya, turun lagi sampai klitorisnya hingga kami melihat pantat Lily bergerak-gerak menerima sentuhan erotis jari-jari Ali.
“Agus, shoot here now,” kata Ali pada Agus. Agus mulai menyalakan handycam dan mendekati ranjang dan mulai merekam kegiatan mereka, terutama fokus ke pantat dan selangkangan Lily yang sedang dikerjai oleh Ali.
“Oke manis, coba berbalik sekarang,” ujar Ali kepada Lily
Lily membalikkan tubuhnya, tapi ia terkejut ketika melihat Agus sedang merekamnya hingga ia refleks menutup kedua buah dada dan selangkangannya menggunakan kedua tangannya.
“No, jangan direkam lagi, kamu sudah janji bajingan,” ujar Lily marah kepada Ali
“Ssst tenang sayang, ini cuma buat koleksi kami saja. Aku janji manis, semua video tidak akan ada yang tersebar asal kamu mau nurut. Oke… Sini tangannya buka lagi, biar abang pijit lagi ya manis…” Ali berusaha membujuk Lily sambil menarik kedua tangannya sehingga kedua buah dada itu terbuka kembali.
Ali mulai memijit kedua pundak Lily sehingga Lily menjadi relaks kembali. Tetes demi tetes minyak zaitun mengucur di kedua buah dada Lily hingga ke perut dan pinggangnya diikuti belaian tangan Ali membalurnya. Ali meremas-remas kedua payudara itu sambil sesekali mengurut putingnya sehingga Lily merasa geli dan nikmat. Ia ingin melenguh tapi berusaha menahan supaya suaranya tidak keluar sehingga yang terdengan seperti ia menggumam. Ketika tangan Ali meremas, badan Lily ikut merespon sehingga punggungnya terangkat dari ranjang. Tangan Lily refleks mencengkram lengan Ali menikmati perlakuan tersebut.
Puas bermain di payudara, Ali melanjutkan ke perut dan pinggul Lily. Diremas-remasnya kedua pinggul Lily sehingga Lily meresponnya menggoyangkan pinggulnya. Lalu tangan Ali terus ke bawah membalur dan meremas paha hingga betis Lily. Kemudian Ali menyampingkan kedua kaki Lily hingga Lily mengangkang lagi. Kemudian kedua kaki Lily ditekuknya keduanya di bagian lutut sehingga vagina Lily terangkat dan makin jelas terlihat. Ali meneteskan sedikit minyak zaitun di belahan vagina Lily.
“Hasan, sepertinya ini bagianmu,” ujar Ali kepadaku. Ali mengerti bahwa ini saatnya aku membalas perlakuan suami Lily kepada istriku Rini, yaitu dengan menjamah selangkangannya. Aku berdiri dan mendekati selangkangan Lily. Lipatan bibirnya menebal dengan kulit disekelilinya yang putih mulus, di atasnya sejumput rambut kemaluan yang hitam tertata rapi. Benar-benar pemandangan yang luar biasa indahnya. Aku mengambil botol minyak zaitun dan melumuri tanganku hingga licin. Kemudian jempolku mulai mengelus lipatan bibir itu hingga perlahan kedua bibir itu memisah meninggalkan celah berlubang di antara keduanya. Jempolku terus masuk ke celah itu dan terus bergerak perlahan ke atas dan ke bawah hingga Lily meresponnya dengan menggerakkan pinggulnya ke atas dan ke bawah. Kemudian setelah kurasa ia cukup basah, kusodorkan jari telunjuk dan jari tengahku ke muka lubang vaginanya, kudorong perlahan sambil kuputar-putar seperti mengebor lubang itu supaya menganga lebih besar.
Terus kutekan perlahan hingga kedua jariku tenggelam di lubang itu. Kutarik keluar, kemudian kudorong lagi ke dalam berulang-ulang hingga pinggul Lily bergerak makin tidak karuan dan mulutnya mulai melenguh tanda ia menikmati perlakuanku. Aku merasa ia sudah hampir orgasme, lalu kuhentikan gerakan jariku agar ia merasa tanggung.
Aku turun dari ranjang dan berdiri di samping Agus yang masih terus merekam.
“Lanjut?” tanya Ali padaku.
“Engga, cukup. Suaminya cuma main tangan di memek istriku, jadi aku cuma segitu aja,” jawabku
“Oke, terus siapa lagi yang mau?” tanya Ali ke teman-teman yang lain
“Elo ga mau ngentot dia bos?” tanya Johan pada Ali
“Engga ah, gue cuma mau raba-raba aja. Gue mah setia ma bini gue,” jawab Ali ringan.
“Ya udah gua aja kalo gitu,” jawab Johan spontan
Johan langsung berdiri dan menanggalkan pakaiannya satu per satu hingga ia bugil. Aku sebenarnya sudah ngaceng juga, tapi melihat Johan bugil berhasil membuat tititku tidur kembali. Johan langsung naik ke ranjang dan hinggap di atas tubuh Lily. Tapi ternyata ia tidak langsung menyodokkan torpedonya yang sudah bangun walaupun lubang Lily sudah becek dan menganga. Ia memperhatikan wajah Lily, menikmati kecantikannya, sambil mengelus rambut dan pipi Lily yang mulus itu.
“Lily, oh I love you honey,” bisik Johan di telinga Lily.
Johan kemudian mencium bibir Lily dengan ciuman mesra. Lily yang memang sedang sangat terangsang membalas ciuman itu sehingga aku seperti melihat sepasang kekasih yang sedang berciuman, bukan seorang penjahat kelamin yang sedang memangsa korbannya.
“Oh Lily, kamu cantik sekali. Kalau kau mau jadi kekasihku, aku tidak akan menyiksamu seperti suamimu. Aku akan memberikan kepuasan kepadamu cantik,” ujar Johan. Lalu ia mencium Lily lagi dengan lahap.
“Gombal juga nih si Johan,” kata Ali sambil tersenyum
Sambil terus mencium Lily, Johan mulai mengarahkan torpedonya ke lubang yang basah itu. Tidak terlalu sulit baginya karena penisnya memang sudah tegang maksimal. Kepala penisnya berhasil menemukan celah yang diliputi selaput-selaput bibir yang halus. Ia gesekkan kepala penisnya sedikit untuk membuka jalan bagi batangnya sementara bibirnya tak lepas mencium mesra bibir Lily. Perlahan ia mulai mendorong, kepala penisnya mulai menyibak tirai vagina Lily yang sedikit berjengger. Terus ia dorong sampai kepalanya masuk semua, lalu ia dorong sekaligus sehingga tubuh Lily terhentak merasakan tusukan benda tumpul itu di tengah dirinya.
Johan terus menekan ke depan sehingga kangkangan Lily yang tadinya ke depan sedikit-sedikit berubah arah menjadi ke atas. Johan kadang menghujam dengan keras dan cepat kadang ia memperlambat seolah dengan penuh perasaan. Ia benar menikmati gesekan dinding vagina Lily pada sekeliling batang penisnya. Johan terus menghentak dari atas sambil kedua telapak tangannya mulai meremas kedua buah dada Lily, sementara bibirnya kadang bergerilya ke telinga hingga ke leher Lily.
Sekitar dua menit dalam posisi itu tampaknya membuat Johan semakin dekat. Ia memperlambat gerakannya seolah ia tidak ingin momen persetubuhan itu berhenti. Tapi justru Lily yang menjadi aktif dari bawah ia menggoyang pinggulnya ke atas dan memutarnya sehingga selangkangan keduanya menjadi sangat berdempetan. Menerima perlakuan seperti itu, Johan makin tidak kuat.
“Aduh sayang, aku mau keluar sayang, akkhh…” Johan berbisik di telinga Lily tapi cukup keras sehingga kami bisa mendengar
“Aku juga, terus yang keras…” jawab Lily
Akhirnya kulihat tubuh keduanya mengejang secara bersamaan, tangan-tangan mereka saling memeluk satu sama lain seolah tak ingin tubuh mereka seinchi pun berpisah. Mereka saling menikmati puncak persetubuhan ini sampai akhirnya pelukan mereka melonggar.
“Makasih sayang…” ujar Johan sambil mencium pipi Lily yang masih memerah, entar karena gerah atau karena malu merasakan nikmat.
Johan melepaskan pelukannya kemudian bangun dan memakai pakaiannya sementara Lily terlentang lemas dengan kedua telapak tangannya menutupi selangkangannya.
“Giliran siapa lagi?” tanya Ali
“Giliran gue sekarang,” jawab Yono sambil membuka celananya.
“Elo kaga bro?” tanya Johan ke Hadi sambil merapikan pakaiannya.
“Ogah ah bekas elu mah, ntar gue kena penyakit kelamin lagi,” jawab Hadi sekenanya
“Sialan lo, gua mah bersih tau, aman…” jawab Johan rada keras
“Neng cantik balik badan neng,” ujar Yono yang penisnya sudah mengacung lega karena terbebas dari himpitan celana dalamnya sambil membatu Lily membalikkan badannya.
Lily pun membalikkan badannya sambil menungging karena ia merasa Yono akan mendoggynya.
“Aduh mulus banget ini pantat, sekel lagi,” kata Yono sambil mengelus dan meremas pantat Lily. Yono kemudian merenggangkan kedua kaki Lily dan mencolok vagina Lily dari belakang.
“Sialan nih peju si Johan banyak banget,” katanya. Tapi dia tidak ambil pusing. Ia langsung mengarahkan penisnya ke lubang yang sudah sangat becek itu dan langsung mendorongnya masuk. Tubuh Lily terhentak kembali menerima sodokan itu. Ia mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk menerima kenikmatan yang datang lagi sebab orgasme sebelumnya benar-benar menguras staminanya. Mungkin sudah lama ia tidak merasakan orgasme sehebat itu karena selama ini ia hanya menjadi pelampiasan nafsu suaminya yang tidak memperhatikan kepuasan dirinya.
Yono mulai bergerak dengan ritme yang tetap dan perlahan sambil tangannya terus meremasi dan kadang-kadang menampar bongkahan pantat Lily. Lalu jarinya mulai usil mencolok lubang anus Lily yang sebenarnya sudah licin. Ia ludahi lubang itu supaya jempolnya bisa masuk.
“Aduh bang jangan di situ bang…” tiba-tiba Lily memohon kepada Yono.
“Eit Yon jangan disodomi Yon, kasian pacar gua,” Johan ikut menimpali dari sofa
“Kaga, pake jari doang,” jawab Yono sambil terus memompa Lily dan jempolnya mengurek-urek lubang anus itu. Memompa sambil disuguhi lubang anus Lily yang merah kontras dengan bongkahan pantatnya yang putih membuat nafsu Yono naik makin tinggi. Ia mempercepat goyangannya sambil kedua tangannya meremas erat pantat Lily dan..
“Aduuuuuuh, enak banget gila,” teriak Yono sambil memuncratkan maninya sedalam-dalamnya di vagina Lily. Tak lama ia melepaskan penisnya dan duduk lemas di belakang Lily yang masih menungging. Agus tak melewatkan momen itu, ia menzoom handycamnya ke arah vagina Lily yang meneteskan cairan-cairan putih kental dari lubangnya.
“Ga nyangka gue, pertama ngentot langsung dapet panlok, cantik, bahenol pula, rejeki anak soleh emang,” kata Yono sambil memakai celananya lagi.
“Siapa lagi yang mau?” tanya Ali kepada kami. Kami semua menggeleng tanda pertunjukan sudah usai. Lily menurunkan pantatnya sehingga ia berbaring tertelungkup di ranjangnya. Ia mengambil napas panjang tanda lega bahwa ia sudah tidak perlu lagi melayani kami.
“Oke, thanks ya Mbak Lily, kami pamit dulu. TIdak usah repot-repot mengantar kami keluar. Yang penting kami janji video Mbak Lily tidak akan kami sebar,” ujar Ali bermaksud pamit.
Lily tidak bisa merespon apa-apa. Ia hanya berbaring menatap kami yang keluar dari kamarnya satu per satu. Johan adalah yang terakhir keluar. Ia menutupi tubuh telanjang Lily dengan selimut yang ada di ranjang itu sambil mengecup pipi Lily.
“Makasih ya sayang. I will always love you. Mmuahh,” uajr Johan pada Lily sambil mencium pipinya. Lily tetap tak merespon.

EmoticonEmoticon