Marshanda

Cerita Dewasa Hot Mesum Seks Terbaru Marshanda

Marshanda, Gadis cantik yang satu ini sempat terkenal di awal tahun 2000an. beberapa sinetron yang dibintangi oleh Marshanda sangat terkenal sekali waktu itu.

“CUT…CUT….Nice work everyone. Syuting hari ini sampai disini. Terima kasih. Besok kita ketemu lagi di set yang berikutnya OK.”, kata sang sutradara yang segera disambut meriah oleh seluruh artis dan krew film yang terlibat.
Marshanda
Marshanda
Marshanda yang menjadi pemeran utama dalam syuting sinetron Bidadari itu pun bernafas lega. Gadis remaja yang cantik itu mengusap peluh yang sedikit membasahi peluhnya. Marshanda duduk beristirahat di bangkunya sambil menikmati es jeruk, melepas lelah setelah syuting seharian mulai dari waktu pulang sekolah. Tas sekolah pun masih dia bawa, bahkan Marshanda pergi ketempat syuting masih mengenakan seragam sekolahnya. Hhmmm siapa bilang jadi artis itu gampang? Capeknya gak kalah sama kerja lainnya.

“Cha, kamu gak dijemput mama kamu?”, tanya sang sutradara pada artis belia itu.

“Nggak, Oom. Mama sama keluarga yang lainnya lagi ketempat nenek. Kemarin ada telpon katanya nenek Chacha sakit.”, jawab Marshanda.
“Oooh, tapi nenek kamu nggak apa-apa khan?”

“Nggak apa-apa sih Oom. Paling cuma masuk angin atau apalah. Biasanya kalo kangen sama keluarganya, nenek suka sakit, biar ditengokin. Ntar kalo semua udah ngumpul disana, sakitnya sembuh deh.”
“Itu mah kangen keluarga, bukannya sakit. Ya, udah biar kamu pulang diantar sama Raj Kumar aja. Biar dia nggak cuma makan gaji buta aja.”
“Oh nggak usah Oom. Biar Chacha naik taksi aja.”

“Eh, jangan. Sekarang khan udah malem. Bahaya buat kamu naik taksi sendirian malem-malem gini di Jakarta. Udah biar si Kumar yang nganter kamu. HOOII KUMAR…. SINI LOE.”

Seorang laki-laki setengah baya berbadan tinggi besar segera berlari menghampiri Marshanda dan sutradara. Laki-laki itu keturunan India, maklum masih ada hubungan saudara sama pemilik PH, Ram Punjabi. Bahkan karena hubungan keluarga itulah, Raj Kumar bisa bekerja disini. Tanpa skill atau pengetahuan apapun di bidang perfilman, Raj Kumar pun ditempatkan di seksi umum dengan job deskription yang serabutan, sekedar bantu sana bantu sini.
Marshanda agak kurang suka sama lelaki yang satu ini. Nggak bisa apa-apa tapi sok banget. Crew lain pun juga nggak suka. Nggak bisa apa-apa, tapi gayanya sok banget.Untungnya dia masih ada hubungan saudara sama si Boss, jadi krew lain nggak berani negor tingkahnya. Selain itu Marshanda suka serem kalo ngeliat dia. Badan tinggi besar, berowokan, tangan dan kakinya penuh bulu, sepintas mengingatkan Marshanda akan Gorilla raksasa.

“Ada apa nih? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Raj Kumar dengan mata jelalatan melihat Marshanda, gadis remaja yang cantik yang sering kali menghiasi pikiran dan khayalan kotornya.

“Eh, kamu tolong antar Chacha pulang kerumahnya ya. Dia nggak ada yang jemput soalnya semua keluarganya lagi pergi kerumah neneknya.”
“Eh… gak usah Oom. Terima kasih. Biar chacha pulang naik taksi aja.”, tolak Marshanda.
“Udah biar Oom Kumar aja yang ngantar kamu. Bahaya naek taksi malem-malem gini. Oom nggak keberatan kok.”, jawab Raj Kumar.

“Iya Cha. Sekarang biar si Kumar yang nganter kamu. Entar kalo kamu naek taksi, trus ada apa-apa, saya yang disalahkan sama keluarga kamu.”, imbuh sang sutradara.
Akhirnya dengan agak berat hati, Marshanda pun meng-iyakan tawaran tersebut. Marshanda pun segera naik ke mobil Raj Kumar, dan mobil itu pun segera berlalu dari lokasi syuting.
* * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Capek ya Cha? Gimana kalo kita makan-makan dulu? Oom tahu restoran yang masakannya enak banget.”, tanya Raj Kumar sambil tersenyum. (Senyum menjijikkan pikir Marshanda)
“Nggak usah Oom. Terima kasih. Tapi Chacha nggak laper. Anterin Chacha pulang aja.”, tolak Marshanda.
“Ooohhh…. ya udah deh. Eh kamu udah dapet skenario yang buat besok nggak?”
“Udah Oom.”
“Kapan kamu dikasih skenario itu?”
“Kemaren lusa. Mbak Lusi yang ngasih.”
“Lho kemaren lusa?? Kamu nggak denger kalo skenarionya ada perubahan. Kemaren si penulis naskah mengganti sebagian dialognya. Kalo skenario yang kamu punya itu dikasih kemaren lusa berarti itu skenario yang lama, bukan yang udah direvisi kemaren.”
“Eh, masa sih. Kok nggak ada yang ngasih tau Chacha sih?”

“Mungkin Lusi lupa ngasih ke kamu. Tadi dia kan nggak masuk. Oh ya Oom punya copiannya di rumah. Kamu bawa aja.”
Marshanda agak ragu nge-jawabnya. Dia butuh skrip yang baru, tp artinya dia harus kerumah orang ini dulu. Entah kenapa Marshanda merasa gak enak harus kerumah Raj Kumar.
“Besok kita langsung syuting setelah loe pulang sekolah. Kalo kamu nggak baca skrip yang baru sekarang, ntar kamu nggak bisa menjiwai karakter kamu lho. Kita mampir sebentar ke rumah oom buat ngambil skrip itu, trus Oom langsung antar kamu puloang. Gimana?”
“Eeng…Iya deh. Tapi nanti langsung antar Chacha pulang ya? Takut kemaleman.”
“Iya, kamu tenang aja.”, jawab Raj Kumar sambil tersenyum mencurigakan.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Mobil Raj Kumar akhirnya memasuki halaman parkir sebuah rumah yang cukup mewah di salah satu kawasan perumahan elit di jakarta. Raj Kumar segera turun dari mobil, lalu mengajak Marshanda masuk kerumahnya. Dia meminta Marshanda untuk membantu mencari naskah itu karena dia menaruhnya diantara tumpukan berkas yang lain. Marshanda pun mengikuti ajakan Raj Kumar. Lebih cepat urusan ini diselesaikan, lebih baik pikir Marshanda dalam hati.

“Sini, Cha. Skripnya ada di sini. Kamu cari aja di tumpukan kertas di meja itu. Oom mau ke kamar dulu.
Marshanda memasuki ruangan yang keliatannya seperti ruang menonton televisi atau film. Fasilitas Home Theatre terlihat di satu sisi kamar. Di sisi lainnya ada sofa besar. Di sebelah sofa itu, ada meja yang diatasnya ada tumpukan kertas yang berantakan. Marshanda segera menghampiri meja itu dan mulai mencari skrip baru yang dibutuhkannya. Sedangkan Raj Kumar pergi ke kamarnya yang terletak di sebelah ruangan itu.
“Sudah ketemu Cha?”, tanya Raj Kumar.

“Belum, Oom. Dimana sih Oom nar….”, jawaban Marshanda terhenti setelah memperhatikan keadaaan sekitarnya. Dia melihat Raj Kumar duduk di sofa besar itu dengan mengenakan piyama. Gelagat tidak enak segera menyergap pikiran Marshanda. Dia segera beranjak menghampiri pintu ruangan itu yang sekarang dalam keadaan tertutup. Marshanda mencoba membuka pintu, tapi tak berhasil. Pintu itu terkunci. Rasa takut segera memenuhi perasaan Marshanda.

“Chacha mau pulang Oom. Tolong oom bukain pintunya. Chacha mau pulang. Sekarang.”
“He…he…he…Kenapa buru-buru Cha? Kita santai aja disini dulu.”, jawab Raj Kumar sambil bergerak perlahan mendekati gadis remaja yang ketakutan itu.

Raj Kumar perlahan mendekati Marshanda. Langkahnya perlahan tapi pasti, membuat Marshanda tak bisa bergerak melarikan diri. Marshanda seperti kelinci mungil yang ketakutan menghadapi hewan buas yang akan memangsanya. Senyum Raj Kumar makin melebar melihat calon mangsanya itu, gadis belia cantik yang sering menghinggapi mimpi-mimpi kotornya. Dan tak lama lagi segala angan-angan kotornya itu akan terwujud.
“Chacha mau pulang Oom. TOLONG…TOLONG…..”, teriak Marshanda. Kepanikan mulai melanda dirinya. Tangannya berusaha membuka kenop pintu, tapi pintu itu tetap tak mau terbuka.

“Percuma saja kamu teriak terus. Hanya bikin bibir kamu yang indah jadi capek he..he… Ini ruang Home Theathre yang sengaja dilapisi peredam suara. Jadi walaupun kamu teriak sekenceng-kencengnya, kagak bakalan ada yang denger.”, kata Raj Kumar sambil berusaha memeluk tubuh Marshanda.

“Eeh…i..ini.. Oom mau apa? le..lepasin Chacha Oom. Lepas.. uukh..lepasin Chacha Oom”, rengek Marshanda.
Marshanda berusaha memberontak dari dekapan Raj Kumar. Tapi apalah daya tenaga seorang gadis melawan raksasa ini. Airmata mulai menggenangi mata bintang artis remaja itu. Walaupun Marshanda masih remaja dan belum pernah pacaran tapi dia tahu betul nasib apa yang akan menimpa dirinya. Sepasang tangan berbulu lelaki India itu segera memegang kedua tangan Marshanda. Tangan Marshanda kemudian ditelikung dibelakang punggungnya sendiri, lalu diikat dengan sapu tangan yang agaknya sudah dipersiapkan Raj Kumar untuk menjalankan aksinya. Kemudian Raj Kumar membopong tubuh Marshanda lalu diletakkan di sofa besar yang ada di ruangan itu. Raj Kumar lalu duduk juga disamping Marshanda yang mulai menangis meminta dilepaskan.
“Hiks..hiiks… tolong lepasin Chacha Oom. Ka..kalo Oom mau uang, berapa saja nanti Chacha kasih, tapi hiks.. tolong lepasin Chacha Oom.”

“Aku sama sekali gak butuh uang, sayang. Kalo butuh uang, aku tinggal minta sama bos kamu, saudaraku yang tercinta itu. Yang aku butuhkan adalah hangatnya tubuh indah kamu, anak manis he.. he… he….”

Sambil terkekeh girang, Raj Kumar mulai menjalankan aksinya. Salah satu kakinya ditumpangkan ke atas paha Marshanda agar gadis itu tak bisa bangun dari sofa. Salah satu tangannya merangkul tubuh gadis belia itu agar tetap bersandar di bantalan sofa. Sehingga tangan yang lainnya bisa bebas membuka kancing seragam sekolah yang dikenakan Marshanda. Tampaknya hari itu memang hari keberuntungan Raj Kumar karena Marshanda hari itu mengenakan beha dengan pengait pembuka di bagian depan. Jemari Raj Kumar pun langsung membuka pengait beha chacha hingga tubuh bagian depan artis remaja itu kini terbuka bebas di depan mata Raj Kumar yang seperti keranjang ( emang laki-laki mata keranjang itu matanya kaya keranjang ya he he he ).

Mata Raj Kumar pun semakin bersinar penuh nafsu saat melihat payudara artis belia yang cantik itu. Payudara Marshanda memang masih kecil mengingat usianya yang remaja. Tapi hal itu tak mengurangi keindahannya. Kencang dengan putting coklat muda yang terlihat menantang. Bibir Raj Kumar pun segera melahap payudara mungil itu. Putingnya ia permainkan dengan ujung lidah, sesekali bahkan dihisap dengan kuat.
“Huu..huu..jangan Oom. Lepasin Chacha Oom hu.. hu.. Chacha gak ma….uukh…”

Marshanda masih menangis. Dia benci dengan lelaki jahanam ini. Sebelumnya belum pernah ada laki-laki yang melihat dada telanjangnya. Bajingan ini bahkan dengan kurang ajarnya berani mempermainkannya dengan mulutnya. Pada mulanya Marshanda hanya merasa jijik atas perlakuan Raj Kumar di payudaranya itu. Dia hanya merasa agak geli. Tapi lama-lama rasa geli itu mengakibatkan sesuatu yang lain dirasakan oleh Marshanda. Jilatan-jilatan lidah kasar Raj Kumar yang menyapu seluruh bagian buah dadanya itu terutama di putingnya, hisapan bibirnya yang kuat seakan menarik putingnya, serta cambang dan kumis Raj Kumar yang bergesekan dengan kulit payudaranya yang sensitif itu, lambat laun menimbulkan sensasi lain yang belum pernah dirasakan Marshanda. Desah kenikmatan mulai muncul di sela-sela tangisnya.
“Hentikan Oom… aahh.. ja…sstt..jangan Oom ….”

Mendengar desahan Marshanda, Raj Kumar pun tambah bersemangat. Tangannya mulai bergerilya, membelai paha mulus artis remaja itu di balik rok seragam sekolahnya. Bahkan tangannya mulai nakal mengusap vagina Marshanda yang masih tertutup celana dalam. Raj Kumar pun menyeringai senang saat dia rasakan kelembapan pada celana dalam gadis cantik itu, yang menandakan gejolak birahi yang mulai menghinggapi korbannya.
“He..he..he.. Enak khan Cha. Kamu jangan nangis. Oom nggak akan menyakiti kamu. Oom hanya mau memberikan kenikmatan sama kamu. Dan sebentar lagi kamu akan merasa lebih nikmat ha…ha…ha…”
Raj Kumar pun segera melucuti celana dalam Marshanda, dan dia pun segera terpana melihat keindahan yang ada di depan matanya. Vagina Marshanda masih tampak rapat hingga tanpa memeriksa selaput dara didalamnya, Raj Kumar sudah tahu kalau artis remaja ini masih perawan. Vagina itu baru ditumbuhi bulu-bulu halus yang lembut dan tertata rapi.
Airmata Marshanda masih menetes meratapi nasib yang dia tahu akan menimpa dirinya. Rasa jengah dan malu juga menghinggapi dirinya ketika harta yang selama ini dijaganya kini menjadi tontonan bajingan ini. Tiba-tiba …..
“Uuugh…. sst… stop Oom. Aah.. anu Chacha om apa… in aaah…”
Artis remaja itu tiba-tiba tersentak, tubuhnya menggeliat, ketika bibir Raj Kumar mulai menjilati vaginanya. Sensasi ini baru pertama kalinya dirasakan Marshanda. Marshanda hanya merasakan kegelian di selangkangannya, bukan hanya rasa geli biasa tapi rasa geli yang mengirimkan getaran-getaran birahi ke seluruh syaraf tubuhnya.
Raj Kumar tambah bersemangat meneruskan aksinya. Lidahnya yang besar dan kasar dengan lincah menelusuri lorong-lorong vagina gadis remaja itu. Clitoris mungil Marshanda pun tak luput dari sergapan lidahnya, bahkan terkadang dihisapnya kuat sampai tubuh Marshanda mengejang. Tapi kedua tangan Raj Kumar memegangi kedua paha Marshanda sehingga dia dapat meneruskan aksinya tanpa terganggu rontaan gadis belia itu.
“Aaahh…ampun Oom Ja..aahh.. jangan diterusin Oom. Chacha nggak kuat aahh..”
“Ha..ha..ha… kamu nggak usah pura-pura cantik, kamu pasti merasa nikmat. Kamu suka kalo Oom jilatin memek kamu, hisapin itil kamu sampai kamu mendesah nggak karuan ha..ha…”
“Nggak. Aahh… Chacha nggak suka. Sstt…. ja..jangan diterusin Oom. AAAHHH…….”

Tubuh gadis remaja itu mengejang hebat ketika orgasme pertama dalam hidupnya dirasakannya. Raj Kumar dengan rakus menjilati cairan kenikmatan yang mengalir dari lubang surga Marshanda.

Marshanda memejamkan matanya. Tubuhnya lemas setelah mengalami orgasme pertama kali dalam hidupnya. “Inikah kenikmatan seks itu?”, pikir Marshanda. Tapi dibalik rasa nikmat yang baru saja dirasakannya, terselip perasaan sesal, marah dan malu. Marshanda malu dan marah pada dirinya, bagaimana dia bisa merasakan kenikmatan padahal dia sedang diperkosa.

Tiba-tiba Marshanda merasakan ada benda hangat yang menggesek permukaan vaginanya. Mulanya Marshanda membiarkannya karena gesekan-gesekan itu mengirimkan sinyal-sinyal kenikmatan di tubuhnya apalagi saat benda hangat itu juga menggesek clitorisnya. Tapi ketika Chacha merasakan benda hangat itu mulai mencoba menerobos masuk liang vaginanya dia pun membuka matanya. Dia melihat Raj Kumar mencoba memasukkan penisnya ke dalam liang vaginanya. Marshanda kaget dan takut, bagaimana bisa penis raksasa yang besarnya hampir menyamai pergelangan tangan Marshanda itu mau dimasukkan ke dalam vaginanya yang kecil.
“JA..JANGAN OOM. SAKIIT.. AAKHH.. JANGAN OOM.”

“He.. he… he.. tenang saja manis. Pertamanya memang agak sakit, tapi lama-lama nanti kamu pasti menikmatinya dan minta lagi he.. he… he…”
Marshanda menjerit kesakitan, vaginanya terasa perih dan panas ketika benda raksasa itu memaksa masuk ke liang vaginanya. Raj Kumar tak memperdulikan jeritan Marshanda, dia terus memaksakan kepala penisnya masuk ke belahan vagina yang indah itu. Setelah kepala penisnya sudah memasuki liang vagina Marshanda, Raj Kumar berhenti sejenak. Dia melakukan ini agar vagina yang perawan itu agak terbiasa dengan benda asing di dalamnya.
“Uughh, memek kamu sempit banget Cha. Enaaakkk he…he…he…”

“Hiks… keluarin Oom. Sakit… aakhh….”
Raj Kumar segera melumat bibir Marshanda agar rengekannya terhenti. Tangannya mulai lagi meremas kedua payudara Artis remaja itu. Kedua putingnya dia permainkan dengan jari-jarinya yang lincah. Raj Kumar mulai melakukan gerakan memompa kecil-kecil dan perlahan, tapi dia tetap menjaga agar penisnya tidak menerobos selaput Marshanda. Raj Kumar ingin agar memek Marshanda yang sempit itu terbiasa dulu dengan penisnya, sehingga nanti saat dia memperawani artis belia itu, Marshanda tidak merasa terlalu sakit.
Marshanda menangis tanpa suara. Suara tangisnya tertahan karena bibirnya dilumat bibir Raj Kumar dengan ganas. Lidah Raj Kumar dengan liar menjelajahi mulutnya. Pada mulanya Marshanda hanya merasakan vaginanya perih dan panas ketika penis Raj Kumar mulai melakukan gerakan memompa dengan perlahan. Tapi lama-lama disamping rasa perih yang semakin memudar karena otot vaginanya mulai agak terbiasa, Marshanda juga merasakan kenikmatan karena penis Raj Kumar menggesek-gesek klitorisnya. Dinding vaginanya yang dengan ketat menjepit penis raksasa itu juga mengirim sinyal-sinyal kenikmatan karena gerakan Raj Kumar itu. Putingnya yang dipermainkan Raj Kumar seakan tak mau kalah, memberikan rangsangan yang semakin meningkatkan birahi artis remaja itu. Disamping perasaan marah, sedih, dan malu yang melanda dirinya, Marshanda juga merasa sedikit lega karena perbuatan Raj Kumar itu membuat vaginanya mulai mengeluarkan cairan kenikmatan lagi yang mengurangi rasa perih dan panas yang dirasakannya. Tapi tiba-tiba…..

“AAAKKKHHH……. SAAKKIIT……. ADUUHH……”

Marshanda menjerit kesakitan ketika Raj Kumar memaksa penisnya menerobos selaput dara gadis belia itu. Raj Kumar memaksakan penisnya masuk dalam satu gerakan sampai mentok. Dia melihat masih ada sedikit bagian penisnya yang tidak bisa masuk. Dia mendiamkan dulu gerakan memompanya agar vagina Marshanda terbiasa. Bibirnya kembali melumat bibir ranum artis remaja itu agar teriakannya tak terdengar. Selain itu Raj Kumar sengaja tidak melakukan apa-apa karena dia tidak mau keluar lebih dulu, karena saat dia mengambil keperawanan Marshanda, otot vaginanya menjepit penisnya dengan kuat. Rontaan Marshanda saat penetrasi itu dilakukan membuat vaginanya membuat gerakan meremas dan menyedot penisnya dengan kuat.

“Uuughh…. memek kamu nikmat banget Cha. Baru kali ini Oom merasakan vagina yang bisa meremas dan menyedot kaya gini.”
“Huu…hu… hiks… sa..sakit Oom. Lepasin Chacha Oom, sakit…hu…huu..”
“Tenang saja manis. Memang sakit waktu pertama kali, tapi entar pasti enak kok. Oom Janji he…he..”
Setelah berhenti sebentar, Raj Kumar memulai gerakan memompanya, perlahan-lahan dia tarik penisnya sampai hanya ujung kepala penisnya yang tertinggal, lalu dia masukkan lagi penisnya sampai mentok tak bisa maju lagi. Raj Kumar terus melakukan hal itu dengan perlahan sambil bibir dan tangannya yang seakan tak ingin ketinggalan menjelajah lekuk indah tubuh artis belia itu. Bibirnya yang dikelilingi jambang tebal itu bergerak liar, kadang melumat bibir manis Marshanda sampai gadis itu hampir kehabisan nafas, kadang menciumi leher Marshanda, meninggalkan bekas cupang yang memerah kontras dengan kulit Marshanda yang putih mulus, kadang bahkan bibir itu turun sampai ke bagian dada artis belia itu, menghisap gemas putting Marshanda yang kini mengacung makin keras karena rangsangan-rangsangan yang diberikan permainan Raj Kumar.

Marshanda kembali memejamkan mata, berusaha tidak memperdulikan segala apa yang dilakukan Raj Kumar. Tapi apalah daya seorang gadis muda yang sama sekali tak berpengalaman dalam seks terhadap permainan seorang maniak seks yang sangat berpengalaman. Desahan lirih Marshanda mulai terdengar saat birahi kembali menjalari seluruh tubuhnya. Permainan yang ahli dari bibir Raj Kumar yang menjelajah bibir, leher, bahkan menghisap putingnya yang semakin sensitif, gesekan bulu cambang yang kasar di permukaan kulitnya, dan juga gerakan penis Raj Kumar yang besar yang menggetarkan syaraf kenikmatan di seluruh dinding rongga vaginanya, klitorisnya yang terjepit dan tergesek oleh gerakan penis Raj Kumar, memberikan getaran-getaran birahi yang terus menjalar ke seluruh tubuh gadis belia itu.

“Aaahh…..ssstt…aaahh….”, desah Marshanda yang dilanda birahi seksual.
“He…he… kamu cantik sekali Cha. Memek kamu juga enak. Bener2 memek paling enak yang pernah Oom entot.”
Marshanda tak kuasa meladeni omongan kotor Raj Kumar. Dia sudah tenggelam dalam gelombang kenikmatan yang baru kali ini dia rasakan. Apalagi Raj Kumar mulai menigkatkan tempo tusukannya saat dia merasakan vagina gadis cantik yang ditindihnya itu bertambah basah dengan cairan kenikmatan. Keringat mulai membasahi tubuh kedua insan yang dilanda birahi itu, padahal ruangan itu ber-AC.

“Uuughh…. Chacha….aakkhh……Oom…. Chacha….aaaahhh….”
Tubuh Marshanda mengejang dengan liar ketika orgasme menerpa dirinya. Kedua kakinya mengapit erat pantat Raj Kumar seakan dia ingin agar penis Raj Kumar menusuk lebih dalam. Raj Kumar pun tak kuasa menahan orgasmenya. Vagina artis cantik itu seakan mengisap dan meremas kuat penisnya. Kontraksi otot vagina Marshanda saat dia orgasme memang luar biasa, sampai seorang Raj Kumar yang biasanya mampu bertahan lama sekarang tak kuasa menahan semprotan maninya yang membanjiri liang vagina Marshanda.
“Aakkkhhh…. Oom juga nyampe Cha. Aaakkhh.. ayo Cha peras semua mani Oom sayang. Biar kamu hamil anak Oom he.. he…”
“Aakhh…sstt…aahhh…”

Setelah orgasme panjang yang melanda mereka berdua, Raj Kumar dan Marshanda pun lemas menikmati sisa-sisa orgasme mereka. Beberapa saat kemudian, Raj Kumar yang pertama kali bangkit. Dia membalikkan tubuh Marshanda sehingga gadis remaja itu tengkurap di atas sofa dengan kaki di atas lantai yang dilapisi karpet. Lutut Marshanda menjadi poros penahan tubuhnya. Kemudian Raj Kumar melepaskan ikatan pada kedua tangan Marshanda. Marshanda yang masih lemas tak mampu berbuat apa-apa, dia hanya bernafas lega karena bajingan ini akhirnya mau membebaskannya. Tapi Marshanda salah besar jika dia berpikir Raj Kumar sudah puas dengan permainanya, karena tak lama kemudian dia merasakan penis raksasa Raj Kumar kembali memasuki vaginanya dari belakang.
“Uuukhh…. ja.. jangan lagi Oom. Chacha capek aaakh….”

Raj Kumar tak memperdulikan rengekan Marshanda. Dia hanya ingin memuaskan nafsunya. Pantat Marshanda yang membulat dia pegangi dengan kedua tangan dan dia langsung memompa gadis belia itu dengan kecepatan tinggi. Terkadang tangannya menampar pantat indah itu hingga Marshanda menjerit kesakitan. Memang lelaki india itu luar biasa, walaupun tadi sudah orgasme tapi kontolnya masih keras dan siap beraksi lagi. Lama-lama Marshanda yang tadinya lemas menjadi bangkit lagi gairahnya. Desahannya pun kembali terdengar memenuhi ruangan. Raj Kumar pun bertambah semangat mendengar desahan gadis belia yang mulai terhanyut dalam permainannya itu.

Marshanda memang sudah benar-benar terhanyut dalam kenikmatan seks. Pantatnya juga mulai bergerak maju mundur seakan menyambut tusukan Raj Kumar yang ganas. Desahannya yang tadinya lirih menjadi semakin keras, berpadu bagai simponi indah dengan dengusan Raj Kumar yang merasa keenakan menikmati tubuh gadis belia itu. Marshanda seakan lupa dengan kenyataan bahwa dia sedang diperkosa. Bahkan dengan tanpa malu artis remaja yang cantik itu berteriak mengekspresikan kenikmatannya saat orgasme kembali meledak di tubuhnya.
Raj Kumar yang belum keluar merubah posisinya. Kini Marshanda dia gendong berhadapan dengan sambungan lutut gadis itu dia kaitkan ke lengannya dan kedua tangannya menahan pantat Marshanda. Kemudian dia kembali memompa gadis belia itu sambil berdiri. Marshanda mengalungkan kedua tangannya di leher Raj Kumar agar dia tidak terjatuh. Dengan posisi ini penis Raj Kumar seakan dapat menusuk lebih dalam sampai ke mulut rahim gadis belia itu. Tubuh mereka yang berhimpitan membuat Marshanda merasa nikmat karena payudara dan putingnya yang mengacung tegak bergesekan dengan dada Raj Kumar yang berbulu lebat. Bahkan ketika Raj Kumar mulai melumat bibirnya, tanpa sadar artis cantik itu membalas juga dengan liar. Mereka terus berpacu dalam nafsu sampai puncak kenikmatan itu kembali datang. Mereka orgasme bersamaan, orgasme panjang yang lebih intens dari yang sebelumnya. Bahkan Marshanda untuk pertama kalinya merasakan multi orgasme. Badannya menggeliat liar dalam gendongan Raj Kumar. Raj Kumar pun mendengus liar, menyemprotkan banyak sekali maninya ke vagina gadis itu, seakan-akan semua cadangan spermanya dia tumpahkan semuanya ke memek Marshanda. Raj Kumar pun menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa dengan Marshanda masih dalam gendongannya. Marshanda merasa kenikmatan yang dirasakannya melolosi seluruh tulang di tubuhnya, dia merasa lemah sekali sehingga dia membiarkan tubuhnya diatas pangkuan Raj Kumar dengan posisi memeluk bajingan yang menodainya dan alat kelamin mereka berdua masih bersatu. Saking lelahnya setelah berpacu dalam nafsu hampir dua jam lamanya, tak lama kemudian Marshanda pun tertidur masih dengan posisi seperti itu.

“He..he… gue beruntung banget bisa nikmatin tubuh cewek cantik kayak kamu Cha. Artis remaja yang sedang naik daun yang jadi impian berjuta lelaki sudah aku nikmati he…he…he…”.

Raj Kumar membiarkan posisi mereka seperti itu. Dia membiarkan kontolnya lemas dalam vagina Marshanda yang hangat. Tak lama kemudian Raj Kumar pun tertidur juga dengan memeluk Marshanda.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Raj Kumar terbangun ketika mendengar dering jam bekernya. Jam weker di rumahnya selalu dia stel dengan alarm jam 5 pagi. Raj Kumar kaget karena dia mendapati Marshanda sudah tak ada lagi dalam pelukannya. Tapi setelah dia mengamati keadaan disekelilingnya, dia pun bernafas lega. Ternyata Marshanda tak pergi kemana-mana. Gadis itu duduk meringkuk sambil menangis di dekat pintu. Raj Kumar pun bersyukur karena dia kemarin sempat menyembunyikan kunci pintu ruangan ini hingga Marshanda tidak dapat melarikan diri. Dia pun menghampiri Marshanda yang masih menangis.

“Hu…hu…hu…..hiks..hu..hu….”
“Kenapa kamu nangis sayang? Oom kan nggak nyakitin kamu. Oom cuma pengen ngajari Chacha kalo ML itu enaaaaak beneer. Chacha ingat kan kalo kemaren Chacha juga nikmatin ML sama Oom sampe teriak-teriak kenceng bener he..he…he…”.

cerita seks pemerkosaan marshanda


“Hu…hu… Oom jahat. Oom memperkosa Chacha. Chacha udah nggak perawan lagi. En…entar kalo Chacha hamil gimana hu..hu…hu..”.
“Tenang aja Cha. Kalo Chacha hamil, Oom mau kok jadi suami Chacha he… he…he…”.
Marshanda tak bisa membayangkan jika dia harus menjadi istri bajingan ini. Tangisnya pun makin keras.
“Udah… udah… kamu jangan nangis lagi. Sekarang kamu mandi dulu biar badan kamu seger, habis gitu Oom akan antar kamu pulang.”.
Marshanda pun akhirnya berhenti menangis karena harapan dia untuk dapat bebas timbul setelah mendengar janji Raj Kumar. Gadis belia itu pun menurut ketika diajak Raj Kumar menuju kamar mandi karena dia memang ingin membersihkan diri dari bekas perlakuan Raj Kumar terhadapnya.
“Oom keluar dulu, Chacha mau mandi.”, kata Marshanda ketika dia melihat Raj Kumar mengikuti dia kedalam kamar mandi.
“Kenapa Cha? Malu? Oom khan udah lihat semuanya he…he…”, jawab Raj Kumar dengan santai sambil menutup pintu kamar mandi.

Rasa takut, marah, dan juga malu kembali menghinggapi benak Marshanda, tapi dia akhirnya menyerah dan membiarkan tingkah Raj Kumar karena Marshanda ingin bisa lekas pulang dan bebas dari bajingan ini.
Marshanda segera berbilas di bawah shower yang ada di kamar mandi itu mencoba membersihkan tubuhnya yang dia rasakan sangat kotor, kotor oleh aib yang diperbuat oleh Raj Kumar terhadapnya. Hati Marshanda kembali terasa perih ketika dia mencoba membersihkan bekas darah di pangkal pahanya. Dia sudah tak perawan lagi, kehormatannya sudah hilang, diambil secara paksa oleh lelaki yang sekarang dengan santainya melihat dia mandi. Marshanda memejamkan matanya sambil menyabuni seluruh badannya, mencoba melupakan keberadaan lelaki itu. Tapi tiba-tiba sepasang lengan mendekapnya dari belakang.

“Eeh Oom mau ngapain lagi?”, tanya Marshanda ketakutan.
“Tenang, sayang. Oom cuma mau bantu kamu mandi he..he… Sekarang biar Oom yang menyabuni badan kamu yang indah ini.”

Marshanda ingin berontak, tapi akhirnya dia sadar apalah daya seorang gadis seperti dia berhadapan dengan lelaki ini. Marshanda pun akhirnya pasrah dan mendiamkan perbuatan Raj Kumar. Tangan Raj Kumar dengan nakal segera menyerbu buah dada Marshanda. Marshanda mendesah perlahan ketika Raj Kumar mengusap-usap payudaranya yang belum tumbuh sempurna itu dengan sabun. Terkadang Raj Kumar meremas pelan payudara itu, terkadang putingnya dijepit dengan jari-jari Raj Kumar kemudian dipilin lembut. Putting artis belia itu menjadi semakin keras karena rangsangan lelaki yang sudah sangat berpengalaman itu. Tak cuma itu, bibir Raj Kumar pun mulai ikut aktif, mengciumi belakang telinga Marshanda, kuduknya, sampai ke lehernya. Marshanda merasakan kontol Raj Kumar yang sedari tadi terhimpit belahan pantatnya mulai membesar dan mengeras.

“Uugh… Oom aah…”, desah Marshanda makin mengeras ketika salah satu tangan Raj Kumar mulai mengelus-elus vaginanya. Jari lelaki itu dengan lincah segera menemukan klitorisnya dan mempermainkannya.
Ketika birahi Marshanda mulai meningkat, Raj Kumar tiba-tiba menghentikan aksinya. Tanpa sada
r Marshanda sedikit merasa kecewa. Raj Kumar menyuruh Marshanda agar membungkukkan badannya dengan kaki sedikit mengangkang sambil berpegangan ke tembok. Raj Kumar lalu berjongkok di belakang Marshanda. Lidah dan mulutnya yang ganti menjelajahi vagina Marshanda dari belakang. Marshanda kembali mendesah nikmat, lidah Raj Kumar yang besar dan panjang menyelusup linacah ke dalam liang vaginanya. Klitorisnya kembali digosok jari Raj Kumar yang tak mau tinggal diam. Bahkan Marshanda merasakan nikmat lain ketika terkadang dengan tanpa rasa jijik lidah Raj Kumar menjilati anusnya. Rangsangan yang gadis belia itu rasakan makin meningkatkan gairah seksualnya sampai akhirnya setelah beberapa menit Marshanda pun menjerit nikmat diterpa orgasme seksual yang kembali dirasakannya setelah kemarin malam.

“AAKHH…. CHACHA AAAHH… EENAAKK OOM…”

Raj Kumar pun dengan rakus menjilati cairan kenikmatan yang mengalir dari lubang surga Marshanda. Tangannya memegangi tubuh Marshanda agar gadis itu tidak terjatuh.
Raj Kumar lalu duduk diatas dudukan toilet yang tertutup. Dia membiarkan gadis cantik itu menikmati sisa-sisa orgasmenya. Kemudian dia memanggil Marshanda lalu menyuruhnya berjongkok di depannya.
“Itu tadi namanya Oral Seks Cha. Enak khan? Oom sudah memberikan kenikmatan sama kamu tanpa kontol Oom masuk ke memek kamu. Sekarang ganti kamu yang harus memberikan kenikmatan oral seks sama Oom.”
“Ma…ma…maksud Oom apa? Chacha nggak ngerti Oom.”
“Kamu jilatin kontol Om dengan lidah kamu, lalu kamu hisep2 pake mulut dan bibir kamu yang seksi itu he…he….”.
“Ah Enggak Oom. Chacha nggak mau, khan jijik.”.
“Eits kamu jangan egois gitu donk. Oom tadi kan nggak jijik waktu jilatin memek kamu, bahkan anus kamu pun Oom jilatin, dan kamu nikmatin semua itu kan?”.
“Ta.. tapi Chacha nggak bisa Oom.”
Tangan Raj Kumar pun segera menjambak rambut Marshanda, lalu dia membentak gadis manis yang ketakutan itu.
“UDAH!! Jangan banyak omong. Pokoknya sekarang kamu jilatin kontol Oom atau Oom nggak akan ngelepasin kamu. Ngerti!!”
Dengan perasaan takut dan jijik, Marshanda pun mulai menjilati kontol Raj Kumar.
“Nah, gitu dong. Aaakh… enak. Jilatin juga kepalanya aakhh… bagus. Lubang kencingnya juga Aakhh….”

Slruup…sllrrupp….
“Sekarang masukin kontol Oom ke mulut kamu. Hisap kayak kamu menghisap permen lolipop.”
Marshanda mencoba memasukkan kontol yang besar itu ke dalam mulutnya, tapi hanya kepala dan sebagian kecil dari batangnya saja yang bisa masuk. Raj Kumar mendesah keenakan, dia menyuruh gadis cantik itu mengeluar masukkan kontolnya ke mulut. Raj Kumar memberi Marshanda petunjuk tentang cara blowjob. Petunjuk Raj Kumar pun dituruti Marshanda dengan baik agar dia tak lagi menerima perlakuan kasar dari bajingan itu. Raj Kumar pun mendesah keenakan karena Marshanda ternyata cepat sekali belajar dan sekarang sudah bisa melakukan blowjob dengan bibirnya yang lembut itu.
“Aaaakhh….. yak gitu Cha aakhh… enak. Kamu pinter banget Cha. Kayaknya kamu berbakat. Natural Cocksucker aahh…. Oom mau nyampe aaakkhhh….. telen semua mani Oom Cha aaaaakkhhh…”
Raj Kumar pun akhirnya orgasme karena nikmatnya blowjob Marshanda. Dia menahan kepala Marshanda agar tak melepas kulumannya. Maninya menyemprot deras di dalam mulut Marshanda. Artis belia itu pun terpaksa menelan sebagian sperma Raj Kumar, sebagian lagi meleleh di sela-sela bibirnya yang masih disumbat kontol raksasa Raj Kumar.

“Uhuk..uhk…”, Marshanda terbatuk-batuk setelah dia bisa melepaskan kontolkan Raj Kumar dari mulutnya.
“Aaahh…. kamu benar-benar cewek yang luar biasa Cha. Nggak cuma memek kamu aja yang enak, mulut kamu juga yahut he… he… he…”

Setelah Marshanda selesai batuknya, Raj Kumar segera menarik gadis itu ke arahnya. Raj Kumar menyuruh Marshanda memasukkan kontol Raj Kumar kedalam memeknya sambil duduk di pangkuan Raj Kumar.
“Ja.. jangan Oom. Chacha nggak mau lagi. Jangan.”

“Sayang, kemaren kita khan juga udah ngelakuin jadi sekali lagi nggak masalah khan?! Awas, kalo kamu nggak nurut perintah Oom, Oom nggak akan ngelepasin kamu dan Oom akan memperkosa kamu terus tiap hari. Kalo kamu nurut apa kata Oom, Oom janji habis ini Oom akan ngelepasin kamu dan nganterin kamu pulang.”.
Marshanda pun akhirnya memilih untuk mematuhi semua perintah bajingan terkutuk ini agar ia bisa bebas. Raj Kumar menyuruhnya untuk mengangkangi Raj Kumar yang masih duduk di toilet. Posisi badan mereka berhadapan.
“Nah, sekarang kamu pegang kontol Oom, lalu masukin sendiri ke memek kamu. Cepat.”
“Akkhh… aduh.”
Marshanda merintih ketika memaksa kontol besar itu ke memeknya yang sempit. Gadis itu melakukannya dengan perlahan agar tidak terlalu sakit, sampai akhirnya kepala kontol Raj Kumar pun bisa masuk ke memek sempit itu. Raj Kumar pun menyuruh artis remaja itu untuk memasukkan lebih dalam. Marshanda pun menurutinya, dia memaksa kontol itu semakin masuk ke dalam liang vaginanya sampai akhirnya dia merasa ujung kontol yang besar dan panjang sampai menyentuh mulut rahimnya. Raj Kumar lalu menyuruhnya melakukan gerakan naik turun sehingga sekarang kelihatan seperti Marshanda yang ngentot Raj Kumar.
“Aaahh….ssst…aahhh…”, rintihan dan desahan nikmat Marshanda mulai terdengar lagi.

“Aaakhh…. kamu pinter Cha. Terus aaahhh…. enak. Sambil goyangin pantat kamu. Puter-puter kayak goyangan ngebornya si Inul aaakhh…”

Marshanda terlarut dalam birahinya. Pantatnya terus dia naik turunkan menunggangi penis Raj Kumar. Kadang pantatnya dia goyangkan, berputar, maju-mundur yang membuat Raj Kumar makin keenakkan. Bahkan ketika Raj Kumar memeluk lalu melumat bibirnya, Marshanda membalasnya tak kalah bernafsu. Desah kenikmatan mereka makin keras berpadu dengan indahnya. Setelah hampir setengah jam mereka berpacu dalam birahi, Marshanda merasakan kalo orgasmenya akan datang. Dia semakin liar menggoyang Raj Kumar, insting alami yang dimilikinya membuat ia tanpa sadar makin mempercepat tempo genjotannya. Raj Kumar yang juga merasa kalo orgasmenya akan datang, segera memegangi pantat Marshanda, membantunya agar naik turun lebih cepat. Bahkan Raj Kumar dengan paksa mencoba membuat kontolnya menusuk lebih dalam sampai-sampai Marshanda seakan merasa kalo kontol itu menusuk sampai ke perutnya.

“AAAAKKKHH…….Oom nyampe Cha aaaaakhh….”

“Chacha juga aaaaaakkhhh………..”
Kedua insan itu orgasme bersamaan. Mereka berpelukan erat menikmati sensasi luar biasa yang baru saja mereka rasakan. Setelah beberapa lama mereka tetap dalam posisi itu, Raj Kumar lalu mengajak Marshanda mandi kembali. Setelah mandi dan berganti pakaian, Raj Kumar mengantarkan Marshanda pulang. Dan didalam mobil, dalam perjalanan pulang, Raj Kumar menyuruh Marshanda sekali lagi melakukan blowjob sampai akhirnya dia keluar dalam mulut dengan lesung pipit manis itu. Sebelum melepaskan Marshanda, Raj Kumar mengancam agar gadis itu tidak menceritakan perbuatannya kepada siapapun terutama Polisi. Raj Kumar bilang dia merekam persetubuhan mereka berdua tadi malam dalam kamar untuk koleksi pribadi, tapi kalau Marshanda macam-macam, rekaman itu akan disebarkannya hingga karir Marshanda pun akan hancur. Marshanda menangis memohon Raj Kumar agar tidak melakukan hal itu. Raj Kumar menyanggupinya asalkan Marshanda tidak berbuat macam-macam.

Setelah kejadian itu Marshanda tak mau datang ke lokasi syuting. Dia mendesak mamanya agar dia bisa pindah ke PH lain. Mamanya bingung dan mencoba bertanya ada masalah apa, tapi Marshanda tak mau menjelaskan pokoknya dia mau pindah dari Multivision Plus yang telah mengontraknya. Mama Marshanda pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti permintaan putrinya itu. Maka terjadilah skandal perseteruan antara Marshanda dan Multivision Plus seperti yang diberitakan di beberapa media cetak beberapa waktu lalu.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
.
beberapa tahun kemudian………..
“Ah..ahh….ahhh….”
Desahan-desahan nikmat terdengar bersahutan dari sebuah apartemen di Jakarta. Seorang gadis cantik dengan liarnya menunggangi seorang laki-laki yang tidur terlentang di ranjang dalam kamar salah satu apartemen itu. Gadis itu bagaikan seorang joki yang ahli sedang mengendarai kudanya. Goyangannya begitu erotis dan panas. Sang lelaki cuma bisa mengerang nikmat karena goyangan si gadis cantik. Liukan liar sang gadis membuat pria itu tak bisa bertahan lama dan dia pun menyemprotkan spermanya ke liang kenikmatan gadis itu. Sang gadis yang belum mencapai puncaknya makin mempercepat goyangannya agar dia bisa mendapatkan puncaknya sendiri. Tapi apa daya penis sang lelaki telah lemas padahal baru satu ronde mereka berpacu. Sang gadis yang penasaran segera turun dari tubuh sang lelaki. Penis sang lelaki yang sudah lemas itu segera dikulum dengan mulutnya. Hisapan mulut, permainan lidah dan segala teknik yang dimilikinya dalam oral seks dikeluarkan gadis itu dengan harapan sang penis bisa berdiri kembali.

“Aaahh…. sudah Cha. Gue udah capek nih. Kamu memang bener-bener cewek yang luar biasa. Permainan kamu diranjang ganas banget. Aahh… gue puas banget bisa ngentot sama kamu. Makasih ya sayang. Sekarang gue mau tidur sebentar, nanti sore khan kita syuting lagi.”, kata Baim Wong sambil memejamkan matanya, mencoba beristirahat sesudah puas berpacu dalam birahi.

Gadis itu yang ternyata adalah Marshanda yang telah tumbuh menjadi gadis dewasa dengan lekak-lekuk tubuh yang makin indah. Payudara membulat penuh, tak seberapa besar tapi proporsional dengan tubuhnya. Payudara itu dihiasi putting indah yang terlihat selalu mengacung menantang. Vagina yang terawat rapi tanpa rambut. Kaki jenjang. Wajah manis dengan lesung pipit di kedua pipinya. Benar-benar suatu keindahan yang sempurna.
Dengan kesal Marshanda meninggalkan Baim yang tak sanggup memuaskannya dan menuju ke kamar mandi. Dalam kamar mandi, dibukanya lemari kecil yang ada di dalam kamar mandi itu. Marshanda mengambil sesuatu dari lemari itu. Ternyata benda yang diambilnya adalah sebuah dildo yang berukuran besar, dua kali lebih besar dari penis si Baim. Lalu artis cantik yang sedang naik daun itu segera memasukkan dan memainkan dildo itu di dalam memeknya. Dia berusaha mencapai puncak yang gagal dia dapatkan dalam persetubuhannya dengan Baim Wong. Desahannya pun mulai memenuhi kamar mandi itu.
“Aah..ahh…ini baru namanya Kontol aah…”

Marshanda mendesah nikmat. Dildo dengan ukuran inilah yang bisa memuaskannya, dildo dengan ukuran sebesar kontol Raj Kumar, bajingan yang mengambil keperawanannya. Marshanda masturbasi sambil mengenang pengalamannya waktu diperkosa Raj Kumar. Dia teringat bagaimana rasanya saat kontol Raj Kumar yang besar, panjang, dan keras menusuk sampai dalam ke dalam lubang memeknya. Membuatnya orgasme berkali-kali. Marshanda masih ingat kalo kontol Raj Kumar masih bisa berdiri dengan gagahnya setelah mengeluarkan maninya. Dia teringat bagaimana hanya dengan permainan lidah Raj Kumar, Marshanda bisa mencapai orgasme. Kenangan-kenangan itu semakin meningkatkan birahi Marshanda, sampai akhirnya dia pun menjerit keras saat orgasmenya pun datang.

Setelah sejenak beristirahat menikmati sisa-sia orgasmenya, Marshanda pun lalu mandi dan kembali lagi ke kamar. Dia melihat Baim sudah terlelap dalam tidurnya. Dasar cowok lemah dan egois, maki Marshanda dalam hati.

Marshanda memang dikenal dalam pandangan khalayak umum sebagai artis yang baik-baik, jarang digosipin. Tapi dikalangan selebriti sendiri, Chacha lebih dikenal sebagai cewek yang bisa diajak “having fun”. Asal cocok, mereka bisa menikmati tubuh Marshanda yang indah itu. Bahkan kepiawaian Marshanda dalam urusan seks menjadi legenda tersendiri dalam kalangan selebritis. Tapi sayang jarang banget yang dapat memuaskan Marshanda dalam urusan birahi.

Marshanda melamun dalam kamar itu. Dia berpikir siapa lelaki yang dapat membuatnya merasakan kenikmatan seperti saat pertama kali dia mengenal seks. Kenikmatan yang begitu intens dan berulang-ulang. Bahkan sampai saat ini tak ada seorang pun yang bisa membuatnya multi orgasme seperti waktu itu. Akhirnya setelah melamun hampir satu jam, Marshanda pun bangkit dari duduknya. Dia meraih Handphonenya lalu memencet-mencet nomor dalam keypadnya. Terdengar nada tunggu.
Tut…. tut…..

“Halo?”, jawab seorang lelaki dari speaker handphone Marshanda.
Marshanda ragu untuk menjawab, dia hanya diam.
“Halo?! Siapa nih?”, tanya laki-laki itu lagi.
Setelah menarik nafas panjang dan mengumpulkan keberaniannya, Marshanda pun berbicara melalui handphonenya.
“Halo. Eeeng.. Oom Kumar. Enggg…. i…ini Chacha Oom.”
?????????????????

Cerita Dewasa Hot Mesum Seks Terbaru Marshanda

Agustus 07, 2018 Add Comment

Ariel Tatum XXX

Cerita Dewasa Hot Mesum Seks Terbaru Ariel Tatum XXX

Ariel Tatum baru saja selesai mandi pagi, tubuhnya kini terasa segar. Senin pagi ini ia harus menemui pak benny ketua jurusan fakultas hukum di kampusnya. Dia berusaha memakai pakaian serapih mungkin, diluar kebiasaanya setiap ke kampus yg selalu memakai pakaian casual. Ariel Tatum sudah menduga cepat atau lambat ia akan dipanggil oleh fihak kampus berkaitan dengan gambar gambarnya yg dimuat di subuah majalah khusus pria.

Biaya kuliah saat ini sangat mahal, apalagi usaha orang tuanya agak tersendat sehingga otomatis aliran uang pun tersendat. Beruntung seorang kawan menawarinya pekerjaan menjadi model di sebuah majalah khusus pria dewasa, syaratnya tentu saja harus berani tampil hot.

Ariel Tatum menerima tawaran itu dan gambarnya pun kerap menghiasi majalah pria dewasa, uang yg diterima nya pun cukup lumayan. Namun meski begitu, tetap saja penghasilannya belum cukup memenuhi seluruh kebutuhan hidup dan kuliahnya , oleh karena itu di waktu luang ia juga menjadi "escort".
Ariel Tatum XXX
Ariel Tatum XXX
Ariel Tatum bercermin untuk terakhir kalinya, mengagumi tubuhnya sendiri, rambut panjang , body ideal dan buah dada yg membanggakan. Lisa tak pernah memakai make up berlebih , ia mempunyai kecantikan alami , kecantikan yg banyak membuat mata para lelaki terbelalak. hari ini lisa sengaja memakairok hitam diatas lutut dan blouse putih yg ketat mencetak buah dadanya.

DIa tiba di ruang ketua jurusan sedikit terlambat akibat macet. Ariel Tatum mengetuk pintu dan masuk , ia sedikit terkejut karena selain pak benny , disana ada pak lukas pembantu rektor, dan pak aris dosen di fak hukum. di meja kerja pak benny tergeletak majalah dewasa yg memuat gambar gambar panas Ariel Tatum yg semi nude. Ariel Tatum sedikit panik, karena ia tak menyangka harus bertemu tiga orang itu, tadinya ia akan sedikit "merayu" ketua jurusan seandainya ia akan kena sanksi ..tapi sekarang..?

"silakan duduk " kata pak benny
"pagi pak..." jawab Ariel Tatum dan duduk

"Tatum...kamu dipanggil kemari sehubungan dengan gambar kamu yg dimuat di majalah ini , kamu tahu ini bisa mencoreng nama baik kampus ini.." kata pak benny.

"tapi pak...gambar ini punya estetika seninya , bukan gambar tabloid murahan..apalagi majalah ini punya reputasi yang bagus..." Ariel Tatum membela diri

"meski begitu bukan berarti kamu bisa bebas seperti ini , ingat reputasi terhormat kampus kita, apalagi dimana kamu kuliah tertulis jelas disitu." kata pak lukas

Ariel Tatum menyadari bahwa percuma ia berdebat , ia pasti kalah. namun ia tetap mencari cara bagaimana ia bisa keluar dari masalah ini. Lisa berusaha menarik simpati mereka.

"maaf pak...sekarang ekonomi keluarga saya sedang bermasalah, sementara kebutuhan saya banyak terutama untuk membayar uang kuliah pak..." kata Ariel Tatum sedikit memelas.

"tapi kan kamu bisa bilang...atau setidaknya mengajukan permohonan beasiswa..." kata pak aris
"maaf Tatum, namun demi nama baik kampus kita ..kamu bisa saja kami keluarkan " kata pak benny kemudian.

Ariel Tatum sedikit panik , ia sudah setngah jalan di fakultas hukum, ia tak mau jika harus berhenti di tengah jalan, dan menyia nyiakan tahun tahunnya.

"aduh...pak...tolong..saya mohon kebijaksanaannya......saya siap melakukan apa saja pak..." kata Ariel Tatum

ruangan itu mendadak sunyi. Lisa kemudian menyesali ucapannya , ia bisa merasakan ketiga mata lelaki itu memandanginya dengan penuh minat, keringat dingin keluar dari dahi lisa.

"kita bisa mempertimbangkannya kembali kok..tapi tentu saja sesuai kata kata kamu...kamu harus melakukan sesuatu"

"maksud bapak...?" Ariel Tatum mulai meduga apa yg ada di balik otak dosennya itu
"kamu terlihat sangat berbakat di majalah ini..sekarang....seberapa jauh kamu bisa memanfaatkan "bakat" kamu itu untuk menolong kuliah kamu...." kata pak benny sambil tersenyum nakal

Ariel Tatum mengerti maksud perkataan itu , ia memang tak punya banyak pilihan , namun ia juga sedikit enggan harus melayani ketiga dosen bejadnya ini.

"saya mengerti pak..tapi saya juga punya syarat..semuanya hanya dilakukan hari ini , di tempat ini dan tidak berlanjut ke hari atau waktu lain.." kata lisa

ketiga orang itu terlihat ragu , mereka saling memandang. Ariel Tatum tahu ia harus memanfaatkan keraguan mereka. Ariel Tatum pun berpindah tempat duduk ke sofa, disana ia sengaja memamerkan pahanya yg mulus, membuat ketiga pria ia itu menelan ludah.

"bagaimana pak setuju.....?" kata Ariel Tatum sambil membuka dua kancing blousenya dan menyibakan rambutnya ke belakang.

Pak benny org pertama yg menghampiri, celananya terlihat menggembung. Pak benny kemudian berlutut diantara kaki Ariel Tatum. Ariel Tatum menyambutnya dengan melebarkan kakinya , ia membiarkan tangan pak benny menyusuri kaki dan pahanya sampai ke pangkal paha.

Pak lukas menyusul mendekati, dengan sedikit kasar ia meremas buah dada Ariel Tatum dan mencubit putingnya. sementara pak benny melepaskan rok mini dan Cd Ariel Tatum, ia terpana melihat keindahan vagina lisa yg tertutup sedikit rambut halus. Pak benny mendorong Ariel Tatum agar berbaring di sofa untuk kemudian ia menjilati vagina lisa penuh nafsu dengan jilatan yang hangat dan basah

"kamu cantik sekali Ariel Tatum...." kata pak lukas sambil melepas blouse Ariel Tatum dan branya
"dan ingat kamu .harus melakukan apa saja hari ini sesuai perintah kami.." kata pak lukas kemudian

Ariel Tatum kembali berkeringat dingin , kata kata pak lukas membuatnya berpikir , apakah ada yg lebih buruk dripada harus melayani nafsu bejad ketiga dosennya ini..?
"tapi...aahh.." Ariel Tatum tak dapat melanjutkan kata katanya, ketika pak lukas menyedot buah dadanay dengan kasar, sementara buah dada satunya jadi mainan pak aris.

serangan bersamaan pada tubuhnya menimbulkan efek yg luar biasa bagi Ariel Tatum, ini pertama kalinya ia harus melayani tiga pria sekaligus. Ariel Tatum merasakan ada sesuatu dalam tubuhnya yg siap meledak. Sementara bagai kelaparan pak benny masih menjilati vagina Ariel Tatum , tak lama kemudian lisa merasakan sesuatu yg hangat dan basah mengalir diantara kakinya, dan tubuhnya seolah kehilangan tenaga

rasa geli dan nikmat muncul ketika pak lukas menjilati seluruh tubuh Ariel Tatum, dari leher sampai perut, tangannya tak lepas dari buah dada Ariel Tatum. Ariel Tatum mencoba menikmati dan meresapi semua rangsangan yg ia dapatkan dari tiga org ini.

perlahan tapi pasti jilatan jilatan pak benny membuat Ariel Tatum mencapai kembali orgasme,

"aahh..ahhhh...pak...aauhhhh...." rintih Ariel Tatum tubuhnya kembali melemas

belum sempat Ariel Tatum mengumpulkan tenaga, tiba tiba pak benny bekata

"yahh..belum apa apa udah lemes.....sekarang kan baru kita mau mulai..."

Ariel Tatum terkejut melihat penis pak benny saat ia melepas celananya. besar dan panjang menegang, ia khawatir tak snggup menghadapinya, ia menggeleng dan sedikit protes..

"nanti dulu pak...bentar..saya masih lemas......bentar lagi..."

'hehehe..ingat perjanjiannya kan.....? apalgi kamu bilang harus hari ini dan saat ini juga..hehehe...siap atau enggak ya harus mau... hehehe.." kata pak benny tak mempedulikan perotes Ariel Tatum, lalu memasukan penisnya ke vagina Ariel Tatum, setiap inchi penis pak benny masuk sebuah kesakitan dirasakan Ariel Tatum, yg walau bukan virgin namun vaginanya masih sempit.
Ariel Tatum mengerang saat kepala penis menerobos masuk, namun ia sedikit tertolong oleh cairan yg keluar akibat rangsangan sebelumnya. Setelah beberapa lama . penis pak benny terlihat terbenam di dalam vagina Ariel Tatum, ia menggeram puas, ia kemudian mengatur posisi untuk siap menggenjot tubuh Ariel Tatum

Ariel Tatum menangis kesakitan saat gigi pak aris menggigit buah dadanya sampai lecet, namun belum juga penderitaannya berakhir pak lukas ikut ikutan menggigit buah dada lisa yg satunya, hingga kedua buah dadanya menjadi lecet

"awww..sakit...jangan..kasar kasar..pak...tolong....." ucap Ariel Tatum kesakitan

mereka berdua malah menjilati dan menyedot buah dada Ariel Tatum tepat dilkukanya, membuat Ariel Tatum menangis kesakitan.

menahan sakit Ariel Tatum menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, ia menyesali perkataanya tadi . ia tak sengaja bicara seperti itu, bahwa ia siap melakukan apa saja. sedikit kesadaran membuatnya ia tiba tiba berontak.

Dengan penis yg masih menancap di vagina Ariel Tatum, benny berkata

'eeitt..mo kemana sayang....ingat kamu berjanji memberikan bakat kamu ke kita bertiga hehehehe..."
Ariel Tatum lemas tak berdaya, ia hanya bisa pasrah sekarang, ia tak menyangka akan menjadi begini.
Penderitaan Ariel Tatum makin bertambah saat tiba tiba pak benny mempercepat genjotannya, vagina Ariel Tatum terasa sangat sakit harus menerima beban di luar kapasitasnya. menit demi menit berlalu , menit menit penuh kesakitan bagi Ariel Tatum.

diantara rasa sakit Ariel Tatum merasakan cairan hangat mengalir diantara kakinya, sebentar lagi akan mencapai orgasme, pak lukas dan pak aris sudah melepaskan mulutnya dari buah dada Ariel Tatum, namun mereka masih tetap meremas remas buah dada Ariel Tatum yg terlihat sudah memar dan lecet.


Tiba tiba, pak benny mencabut penisnya dari vagina Ariel Tatum, sambil tiba tiba membalikan tubuh Ariel Tatum.
tanpa basa basi lagi ia menusukan penisnya ke anus Ariel Tatum. Ariel Tatum tak sempat menjerit karena, mulutnya telah disumpal oleh penis pak lukas dengan menahan sakit ia juga harus mengocok penis pak lukas dengan mulutnya, akhirnya karena tak tahan kesakitan Ariel Tatum akhirnya tak sadarkan diri. entah berapa lama Ariel Tatum pingsan namun ketika sadarkan diri , rasa sakit itu belum hilang , bahkan penis pak aris kini sedang menancap di vaginanya, di buah dadanya terasa cairan putih kental juga di mulutnya.

"hehehe.....sudah bangun sayang......tenang sebntar lagi bapak selesai kok.." kata pak aris.

Ariel Tatum agak sedikit lega sampai tiba tiba pak lukas berkata,

"setelah ini kamu harus melayani kita bertiga sekaligus.....kalo sampe pingsan...kita akan panggil engkus satpam kampus untuk menikmati tubuh kamu juga ..hahahahah..."

Ariel Tatum terdiam lemas , lelah tak berdaya berharap hari ini cepat berlalu.

Cerita Dewasa Hot Mesum Seks Terbaru Ariel Tatum XXX

Agustus 06, 2018 Add Comment

Sandra Dewi XXX

Cerita Dewasa Hot Mesum Seks Terbaru Sandra Dewi XXX

Pagi itu sangat dingin, tapi aku memaksakan diri untuk membuka mataku walaupun sebenarnya ingin tinggal di tempat tidur di bawah selimut yang tebal.
"Aku harus bangun!" hanya itu yang berada di pikiranku sekarang, sehingga akupun bangkit berdiri menuju ke kamar mandi. Keadaan memang cepat berubah, sebulan yang lalu aku masih tinggal bersama mama dan papa tiriku, sekarang aku tinggal seorang diri. Dan secara otomatis aku harus mencari biaya hidup sendiri, karena aku tidak mau membebani mama dengan biaya hidupku. Untung aku cepat mendapat pekerjaan yang layak, yang mampu menghidupiku di kota yang cukup mahal ini. Sebuah perusahaan webdesign membutuhkanku sebagai assisten dalam bidang keuangan dan pemasaran.
Sandra Dewi XXX
Sandra Dewi XXX
Hujan rintik-rintik menemaniku memasuki fairground Cebit, salah satu pameran komputer terbesar di dunia yang berlangsung di Hannover. Perusahaan di mana aku bekerja menjadi salah satu pemilik stand di pameran ini. Untuk sementara aku tinggal di sebuah hotel yang lumayan besar di hannover zentrum.
Setelah aku memarkir mobilku dan mulai melangkah ke pintu masuk, aku mendengar suara yang tidak asing. Yah, beberapa orang bertampang Asia sedang berbicara Indonesia. Tidak aku sangka bahwa aku bakal bertemu orang Indonesia di pameran ini, dan hal itu terjadi di hari pertama. Sekilas aku mendengar bahwa mereka sedang membicarakan aku. Seorang yang berdasi biru berkata ke temannya, "wah yang ini pasti blasteran". Dan mereka pun hanya bisa menebak-nebak sambil berbisik. Aku hanya tersenyum, sampai di depan pintu masuk salah satu dari mereka membiarkan aku masuk terlebih dahulu dan secara spontan aku mengucapkan terima kasih dalam bahasa Indonesia. Lama dia terdiam, sampai dia akhirnya mengejarku sambil meminta maaf, dan bermaksud meminta nomor teleponku. Dengan tertawa aku berkata bahwa aku tidak marah, karena tidak ada alasan untuk itu. Tetapi aku tidak memberikan langsung nomor teleponku, aku hanya memberitahu bahwa aku bekerja di salah satu stand di salah satu hall. Hanya sampai di situ pertemuanku dengannya karena aku harus cepat menuju standku.

Kesibukan Cebit yang luar biasa membuatku melupakannya, hingga tiba saat makan siang ketika pintu kantorku diketuk oleh seorang hostes yang bekerja di stand kami yang mengatakan bahwa ada seorang pria yang hendak bertemu denganku. Dengan sedikit heran aku mempersilakan masuk dan ternyata pria Indonesia tadi pagi. Dia mengulurkan tangan kanannya sambil berkata, "Andre!" Dan saya pun menjawab, "Sandra dewi Aloris." Dia mengajakku untuk makan siang bersama yang langsung kutolak karena banyaknya pekerjaan yang menungguku. Dan diapun mengerti keadaanku.
Tak lama kemudian dia kembali lagi sambil membawa 2 kantong kertas yang berisi makanan. Dia masuk ke kantor dan memberikannya kepadaku sembari berkata bahwa aku harus makan. Saat itu hatiku trenyuh, apalagi setelah sekian lama tidak ada orang yang memperhatikanku, akhirnya aku menyuruh dia tinggal untuk makan bersamaku di kantorku. Sekitar 1 jam kami berbincang bincang, dia kembali bertanya tentang nomor teleponku yang akhirnya aku berikan kepadanya. Dia berjanji akan menelponku nanti malam setelah pameran tutup.

Setelah pameran hari pertama berakhir, kami berjanji untuk makan bersama di salah satu restoran di kota. Aku sempat kembali di hotel untuk mandi dan sedikit berdandan. Sekitar jam delapan malam, pintu kamarku diketuk dengan pelan. Aku pun membuka pintu itu dan Andre sudah berdiri di depan pintu. Di lobby menunggu 3 teman Andre lainnya. Di restoran kami banyak berbincang bincang, mengenai bisnis dan segala macam. Dari situ akhirnya aku tahu bahwa dia seorang atasan di sebuah kantor di Taiwan dan 3 orang temannya adalah bawahannya. Mereka sangat menyenangkan dan senang bercanda.
Waktu berakhir terlalu cepat, sampai tiba waktunya untuk kembali di hotel. Andre mengantar teman-temannya terlebih dahulu sebelum dia mengantarku sampai depan pintu kamar. Sebelum aku masuk ke kamar dia memegang tanganku dan berkata, "Sandra dewi kamu malam ini terlihat cantik sekali." Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih dan memberikan sebuah ciuman di pipinya sebagai ucapan selamat malam.

Keesokan harinya kami bertemu kembali di tempat parkir dan langsung saling bertegur sapa. Hanya saat ini Andre berani mengusap rambutku dan bertanya apakah aku bisa tidur semalam. Hal seperti ini yang sudah lama kurindukan, satu sisi hatiku mengingatkanku kepada papa tiriku sedangkan satu sisi hati yang lain menginginkan sesuatu yang lebih dari dia. Mungkin dari segi umur, aku sadar bahwa aku lebih menyukai pria yang matang dan berumur. Aku tidak tahu kenapa.

Pada waktu makan siang Andre kembali datang ke standku, sambil membawa setangkai mawar yang langsung diberikan kepadaku. Hatiku pun kembali berbunga dan segera melupakan sakit kepala yang sebelumnya aku rasakan. Kali ini kami berdua makan siang berdua di M�nchener Halle, di sana cukup ramai karena pengunjung dan karena musiknya.
Kami berbincang bincang mengenai hal privat kami, dan anehnya aku merasa dekat sekali dengan dia. Aku dengan ringan bisa menceritakan semua permasalahanku, tentang kesepianku, tentang sekolahku, tentang mama dan papa tiriku. Dia hanya mendengarkan sembari memberi komentar yang melegakan. Dia menyadarkanku bahwa aku tidak seorang diri di dunia ini yang mempunyai banyak masalah, dan bahwa masih ada orang lain yang bisa dipercaya. Aku pun bertanya tentang dirinya, kemudian dia bercerita bahwa dia pernah bertunangan dengan seorang gadis yang akhirnya dia tinggalkan. Aku sebenarnya cukup heran, dengan umurnya yang hampir 30 dan dengan penghasilannya yang lebih dari cukup serta tampang dan tubuhnya yang menarik kenapa dia belum berkeluarga. Sedangkan aku tahu pasti untuk ukuran orang Indonesia pasti sudah cukup terlambat.
Kembali tiba saat untuk berpisah, kami harus kembali ke pekerjaan masing masing.

Sekitar pukul empat sore Andre menelponku. Dia mengajakku untuk menyertai dia ke sebuah stand party. Karena aku juga tidak punya kesibukan lainnya, maka aku langsung setuju. Pukul enam lebih seperempat Andre sudah menungguku di depan stand seorang diri. Aku segera merapikan mejaku, dan sedikit memperbaiki make up ku kemudian aku keluar menuju ke Andre. Dia langsung mengambil tasku dan menentengnya sambil melingkarkan tangannya ke bahuku. Di stand party sudah banyak orang hadir, bir-bir sudah mulai dihidangkan, brezel dan muffin juga tersedia. Aku mencari sebuah stand meja yang kosong sementara Andre mengambilkan cocktail dan makanan kecil yang ada. Sembari berdiri kami pun kembali berbincang bincang, semakin malam kamipun semakin akrab. Karena banyak orang yang hadir, maka kami pun harus berdiri semakin dekat. Tangannya masih di pinggangku dan aku pun berdiri di sampingnya sekedar untuk bisa bersandar di dadanya. Sesekali ada orang lain yang menyapa Andre, sedangkan karena aku orang baru maka aku tidak mengenal seorang pun. Diselingi musik kami pun sedikit menari di tempat yang cukup sempit, terkadang Andre mencium pipi, atau tengkukku.
Hampir sepanjang acara kami saling berpelukan, membagi cium, dan belaian. Dalam hatiku aku sadar bahwa aku menginginkan dirinya. Tapi aku takut untuk jatuh cinta lagi.

Hampir pukul satu malam, Andre mengajak untuk pulang. Aku pun sudah tidak tahan lagi, mungkin karena aku terlalu banyak minum. Akhirnya aku harus meninggalkan mobilku di sana karena sudah tidak mungkin lagi aku untuk menyetir. Andre mengantarku ke kamarku, di depan pintu dia hanya menatapku tanpa bicara apa pun. Dari matanya aku tahu apa yang dia inginkan. Aku tidak menyangkal bahwa aku juga menginginkan hal yang sama. Aku menarik dirinya ke pelukanku. Sambil berciuman dia mendorongku ke kamar sambil menendang pintu hingga tertutup rapat. Dia mengangkatku sembari berciuman dengan gampangnya, dan aku pun melingkarkan kedua kakiku ke pinggangnya. Dia meletakkanku ke ranjang sembari mencoba membuka bajuku. Dia sedikit menemukan kesulitan dalam membuka bajuku, mungkin karena terlalu rumit. Setelah berhasil membuka baju atasku dia meremas buah dadaku sambil mencari bibirku. Sambil berciuman dia membelai-belai vaginaku, sedangkan aku pun mencari penisnya. Tanganku membuka gesper dan membuka kancing celananya. Aku berusaha untuk melepaskan diri dari tindihannya dan aku membuka celananya. Segera aku menjilat penisnya, mulai dari ujungnya hingga hampir seluruhnya masuk ke dalam mulutku. Tanganku membelai bijinya sambil sekali-kali aku menyedot penisnya. Andre sangat menikmati semuanya itu, dia berusaha untuk mencapai vaginaku, tapi tidak aku biarkan. Aku ingin supaya dia menikmati semua itu. Tetapi ternyata Andre tidak bisa diam saja. Dia menarik kepalaku dan menciumiku dengan kasar, meletakkan tubuhku kembali di tindihannya. Aku hanya merintih, dan memohon supaya dia memulai permainan sesungguhnya. Sebelumnya aku menyodorkan kondom yang tersedia di rak hotel, aku tidak mau menanggung resiko.
Dia pun segera memakainya dan kemudian mengangkat kedua pahaku ke bahunya, dia pun memulainya. Aku menikmati setiap gerakannya, sesekali dia mengangkat pantatku dan memegang pinggangku dan menarik ke arah tubuhnya. Kemudian dia membaringkan diri karena lelah, aku pun mulai mengambil kendali. Aku duduk di atasnya, memasukkan penisnya ke vaginaku, sambil aku menciumi dadanya. Sambil berpelukan kami menyelesaikan semuanya, kami hanya berdiam diri sementara aku masih berada di atasnya. Seakan kami tidak rela waktu kembali bergulir, hingga tiba saatnya Andre untuk pulang ke hotelnya.
Tapi malam itu aku tidur dengan berjuta mimpi baru.

Keesokan harinya Andre sudah di depan pintu kamarku lagi, rambutnya terlihat agak basah dan tubuhnya wangi sekali. Sementara aku belum selesai berpakaian. Andre duduk di sofa sambil melihatku berpakaian dan berkata, "Sandra dewi kamu cantik sekali kalau memakai baju itu." Padahal saat itu aku belum mengenakan apa-apa, hanya pakaian dalam saja. Segera aku melemparkan bantal ke arahnya dan dia hanya tertawa. Selesai berpakaian kami pun segera berangkat. Di mobil kami saling berpegangan tangan dan kadang-kadang saling mencium. Di bagian belakang mobil dia menggantungkan beberapa kemeja dan jas serta dasi, dia menjelaskan bahwa itu persediaan untuk nanti malam karena dia malas pulang malam-malam. Aku hanya tertawa, sambil menggodanya bahwa dia terlalu banyak berharap.

Menjelang siang hari aku memberitahu Andre bahwa aku ada tamu penting dan tidak bisa ikut makan siang. Dia pun mengerti, dan pukul 2 siang, setelah tamuku pulang dia langsung masuk membawa kantong makanan dan sebotol air mineral. Dia mengambil sebuah kursi dan meletakkan di sampingku, mengambil sumpit yang tersedia dan mulai menyuapiku. Pertama kali aku agak malu, tetapi kemudian aku bahkan duduk di pangkuannya. Hal ini sangat menyenangkan sekali. Sesekali kami saling berciuman. Setelah makanan habis aku kembali berdiri di depannya, kemudian aku berjongkok. Membuka kancing celananya dan mencari apa yang aku mau. Andre hanya menjerit pelan sewaktu dia tahu apa yang aku lakukan, dia menganggap aku gila, tetapi dia kemudian menikmati jilatan-jilatanku. Ujung yang paling sensitif aku permainkan dengan lidahku, dengan sebelah tangan yang mengocok penisnya. Tidak lama kemudian dia mencapai orgasm, aku membersihkan semua sisa-sisanya dengan tisiu basah. Dia duduk sambil berbenah, menutup kembali celananya dan memelukku. Sampai dia sadar bahwa dia harus kembali ke standnya.

Sore harinya kami hanya ingin cepat cepat kembali ke hotelku. Kami menolak semua undangan standparty yang ada. Dalam perjalanan pulang kami sempat membeli makanan untuk makan malam kami. Di hotel kami berendam bersama dengan air hangat, sambil bertukar cerita dan mimpi. Setelah itu kami makan malam, tak lama kemudian kami pun sudah berbaring di atas ranjang. Aku hanya meletakkan kepalaku di dadanya sambil memeluk erat tubuhnya. Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari Andre, dan aku pun ikut terlelap. Sekitar pukul 3 pagi aku terbangung karena ada belaian di kepalaku. Andre membelai rambut sambil memandangiku. Mengetahui bahwa aku juga sudah bangun dia memulai untuk mencium bibirku, menarik tubuhku lebih rapat ke tubuhnya. Kami saling berpanggut dan menggigit, dia meremas buah dada dan vaginaku. Ciumannya berlanjut ke bawah, ke puntingku, ke perutku dan ke selangkanganku. Andre menciumi paha bagian dalamku, kemudian klitorisku yang membuatku bergetar hebat. Aku menekan kakiku di punggungnya, menarik rambutnya dan mengerang. Sampai saatnya Andre berdiri dan memakai kondom, kemudian membuka kedua kakiku. Dia memasukkan penisnya dengan pelan seakan takut melukaiku. Aku hanya bisa memejamkan mataku dan menunggu. Permainan kami telah membuat malam itu menjadi indah, segalanya terjadi dengan otomatis, kami mendapatkan apa yang kami inginkan. Hanya tinggal sisa waktu untuk tidur dengan perasaan puas.

Tak terasa hari ini adalah hari terakhir pameran. Sudah 5 hari aku melewatkan hariku bersama Andre. Aku tidak percaya bahwa hari ini adalah hari terakhir buat kami, karena aku harus check out siang hari ini dan Andre pulang ke Taiwan keesokan harinya. Sepanjang perjalanan ke fairground kami hanya berdiam diri, hingga di tempat parkir. Andre mengeluarkan kartu namanya dan beberapa nomor telepon pribadinya. Dia mengharap bahwa hubungan kami tetap berlanjut, dan dia juga mengundangku untuk mengunjunginya di Taiwan. Berat rasa hati mendengar semuanya itu. Kalau waktu bisa berhenti berputar, membiarkan aku bersama Andre tetap bersama. Aku tidak percaya bahwa ternyata aku masih bisa untuk jatuh cinta, ya aku jatuh cinta kepada Andre. Aku tidak pernah mengungkapkan hal itu kepadanya karena aku tidak yakin akan perasaanku saat itu. Kini aku sadar bahwa aku jatuh cinta. Andre menarik kepalaku ke dadanya, sambil mengeringkan air mataku. Berbisik dia mengucapkan rasa cintanya kepadaku, bahwa dia mengharapkan aku pun begitu. Aku hanya bisa mengangguk pelan tanpa jawaban. Padahal hatiku menjeritkan kata cinta kepadanya, mungkin aku terlalu sombong untuk mengungkapkan, atau aku terlalu takut?

Hari ini sudah hampir 2 minggu sejak cebit berakhir. Andre masih rajin menelponku, dan aku pun selalu menunggu telepon darinya. Tetapi aku tidak mau menaruh banyak harapanku kepada dia. Biarkan waktu yang membuktikan bahwa kami memang berjodoh.

Cerita Dewasa Hot Mesum Seks Terbaru Sandra Dewi XXX

Agustus 06, 2018 Add Comment

Dinda Kirana XXX

Cerita Dewasa Hot Mesum Seks Terbaru Dinda Kirana XXX

Dinda Kirana, seorang artis yang masih sangat muda belia. Umurnya baru 16 menuju 17 tahun. Sebelumnya, dia hanya model iklan dan figuran di beberapa film dan ftv, tapi namanya langsung melejit ketika dia bermain sebagai Baby di sinetron Kepompong. Peran Baby sebagai gadis ABG yang imut, manja, modis, namun agak lemot membuat semua orang yang menonton Kepompong begitu gemas dengannya. Wajahnya memang cantik nan imut. Sebuah wajah yang benar-benar sedap dipandang. Apalagi pipinya yang sedikit gembil. Hari ini hari sabtu, hari biasa bagi Dinda untuk atletik yang diwajibkan dari sekolahnya. Dia sampai di tempat yang biasa digunakan sekolahnya untuk tempat atletik. Dia berjalan ke gerbang.
Dinda Kirana XXX
Dinda Kirana XXX
“eh itu kan kak Baby yang maen Kepompong !”, teriak salah satu anak perempuan yang kelihatannya masih SMP.
“kak Baby kak Baby..tunggu sebentar dong”.
“iyaa ?”, dia menengok ke anak itu sambil tersenyum.
“boleh foto bareng gak ? aku ngefans banget sama kakak. boleh yah ? yah ?”.
“boleeh..”. Kalah gue, masa anak kecil, hpnya BB, pikir Dinda.
“sama minta tangannya dong, kak ?”.
“oke, kakak tanda tangan dimana nih ?”. Anak itu kebingungan mencari-cari di dalam tasnya.
“di sini aja, kak…”.
“nah udah..”.
“tambahin for Hana dong, kak”.
“naah, udah nih..”.
“waah makasih banget, kak..oh iya aku boleh minta satu lagi nggak, kak ?”.
“apa ?”.
“boleh nyubit pipi kakak nggak ? aku gemes bangeet”.
“oh yaudah boleh”.
“eemmmm gemeeess. makasih ya, kak. kakak baik banget..”.
“iyaa, sama-sama..”. Sambil tersenyum, Dinda melambaikan tangannya. Setelah itu, dia menuju lapangan sambil mengelus-elus kedua pipinya, lumayan sakit dicubit kencang tadi.
“eii Din ! di sini !”. Dinda berjalan menuju temannya itu.
“baru dateng lo, Din ?”.
“iyaa, gue kesiangan bangunnya. lo udah dari tadi ?”.
“nggak, gue juga baru dateng hehe”.
“yee, gue kira udah dari tadi lo..”. Dinda duduk di samping temannya, Karina.
“lari sekarang yuk ah, Rin..”.
“ayu deh..”. Mereka berdua dengan 3 orang lainnya pun mulai berlari mengelilingi lintasan lari.
Meski cuma lari santai, tapi kedua kemasan susu Dinda berguncang naik-turun dengan indahnya. Setiap pria langsung memandanginya yang terus berlari. Mata mereka tertuju pada dada seorang Dinda Kirana. Sungguh sepasang buntalan daging yang berguncang dengan begitu indah. Dinda bukannya tak menyadari kalau dia menjadi pusat perhatian, dia hanya pura-pura tak tahu. Wajahnya memerah setiap ada pria yang iseng menggodanya atau menyiulinya.
“dari tadi banyak yang godain lo, Din. cie cie”.
“iih, apaan sih lo, Rin..”, ujar Dinda mencubit pinggang Karina yang langsung mengaduh kesakitan. Untuk urusan berpakaian, Dinda memang tomboy, tak seperti perannya sebagai Baby yang selalu modis dan feminim. Namun sifat Baby yang manja dan polos memang ada di dirinya. Dia masih malu-malu jika digoda cowok. Padahal dia mempunyai wajah yang cantik dan imut dan dia juga berstatus artis yang sedang naik daun, harusnya dia tak perlu malu-malu. Karina pun sering meledeknya yang malu-malu terhadap cowok.
Meski banyak yang bilang wajahnya cantik dan ngegemesin, tapi Dinda tetap saja grogi berduaan dengan cowok karena merasa dirinya tidak menarik.
“huf huf, finish juga”. Mereka berdua mengatur nafas sambil meminum minuman mereka masing-masing.
“hai Din, Rin..”.
“eh Edo..baru dateng ?”.
“nggak, udah dari tadi”. Edo adalah salah satu pesaing dari beberapa pria yang mendekati Dinda. Pastilah bangga punya pacar seorang artis yang cantik dan imut.
“Din..lo udah sarapan belum ?”.
“ng..belum”, jawab Dinda singkat.
“kalo gitu kita sarapan yuk ?”.
“ah..ng..nggak usah, gue udah janji ma Karina..”.
“ha ? janji apa ?”, tanya Karina kebingungan.
“aww..iyaa, dia mau maen ke rumah gue”, jawab Karina cepat setelah pinggangnya dicubit Dinda.
“gue boleh ikut gak ?”.
“ha ? masa lo mau ke rumah gue pagi-pagi ? kalo dia sih gak apa-apa. nah lo cowok, masa main ke rumah gue pagi-pagi ?”, balas Karina agak nyolot.
“oh yaudah deh..”. Edo pun meninggalkan mereka berdua.
“sori, Rin. tadi gue nyubit lo. abisnya lo gak langsung konek sih tadi”.
“iya, tapi sakit tau ! nih gue bales !”.
“aww..sakit !!”.
“makanya jangan asal nyubit orang”.
“iih gemes gue kalo lo cemberut”.
“adu du duh”, pipi Dinda dicubit kecil oleh Karina.
“Rin, gue pulang duluan ya ? gue udah lapeeer hehe”.
“oh yaudah, Din..ati-ati yaa”. Dinda berjalan keluar lapangan atletik dan menuju jalan raya. Dia berdiri di atas trotor seperti sedang menunggu seseorang.
“eh itu Baby Kepompong !”, teriak beberapa gadis remaja.
“kak Baby..minta tanda tangannya dong !!”.
“iya sini sini”, ujar Dinda dengan wajah yang ramah. Sedang memberikan tanda tangan dan foto-foto dengan beberapa fansnya itu, sebuah mobil sedan berhenti. Seorang pria tua turun dari mobil.
“semuanya, aku permisi pulang duluan ya..”.
“iyaa, makasih ya kak Baby”.
“sama-sama..”, jawab Dinda dengan tersenyum. Pria tua itu membukakan pintu untuk Dinda.
“ayo, Pak, jalan”.
“kita ke mana nih, non ?”.
“pulang aja deh, Pak. aku pengen makan di rumah”.
“ok non..”. Dinda tersenyum-senyum sendiri mengingat fans-fansnya tadi.
Dia sama sekali tak menyangka akan terkenal seperti sekarang. Di manapun, pasti ada orang yang mengenalinya. Meskipun dia lebih senang kalau dikenal sebagai Dinda Kirana bukan sebagai Baby Kepompong. Tapi, tak apalah, pikirnya. Sampai juga di rumahnya.
“Mama, aku pulang !!”, teriaknya penuh semangat.
“eh kamu udah pulang..ayo kita sarapan”.
“lho ? emang Papa sama Mama belum sarapan ?”.
“belum, ayo kita sarapan”.
“asiik, sarapan bareng-bareng hihihi”. Usai makan, Dinda pergi ke kamarnya, beristirahat di kasurnya yang empuk. Sambil mendengarkan lagu favoritnya dari radio, Dinda santai-santai di kamarnya. Kadang ia juga sedikit menari mengikuti irama lagu. Kamarnya begitu harum, bersih, dan rapih. Meski manja, tapi dia memang selalu rajin membersihkan kamarnya. Dia memutuskan untuk mandi, menyegarkan tubuhnya yang sedikit basah setelah joget tadi. Di kamar mandi, dia melucuti pakaiannya. Kulitnya benar-benar putih mulus, sebuah tubuh yang padat berisi.
Gadis imut itu tak pernah menyadari kalau kedua buah payudaranya tergolong besar untuk seumurnya. Bulat, dan sangat padat berisi. Selesai mandi, Dinda mengenakan pakaian rumahnya. Bermanja-manjaan dan mengobrol dengan kedua orang tuanya adalah hal paling utama di hari Sabtu bagi Dinda.
“Dinda, kamu nggak pergi sama temen-temen kamu ?”.
“nggak, Mah. Aku mau di rumah aja ah”.
“kalau gitu kita semua jalan-jalan yuk ?”, ajak ayahnya.
“ayuuk ayuuk. mau jalan-jalan kemana, Pah ?”.
“kita ke waterpark aja, gimana ?”.
“ok asiiik”. Bersama ayah dan ibunya, Dinda pergi ke waterpark. Seperti biasa, banyak juga yang mengenalinya sebagai Baby. Tapi, yang menarik adalah pakaiannya. Hotpants yang cukup mini dan tanktop ungu yang melekat di tubuh Dinda seakan tak bisa menutupi kemontokan tubuhnya. Di antara kerumunan yang mengelilinya, para lelaki yang ada di belakang Dinda bisa memandang jelas belahan payudaranya. Oh, sungguh belahan gunung kembar yang begitu indah. Masing-masing lelaki itu rasanya ingin merogoh ke dalam tanktop sang gadis imut dan meremas-remas isinya sampai puas.
Kulit permukaan payudara Dinda yang terlihat, begitu putih dan mulus, sangat mengunggah selera. Dinda tetap tersenyum meski sebenarnya dia mendapat perlakuan yang tak menyenangkan dari kerumunan orang yang mengelilinginya. Cubitan gemas mungkin biasa diterima Dinda, tapi artis berwajah imut itu sedang mendapat pelecehan seksual dari fans yang ada di belakangnya. Dia merasakan ada yang menyentuh-nyentuh payudaranya dan meremas-remas pantatnya. Dinda jadi kebingungan sendiri, harusnya ia berteriak dan langsung pergi dari kerumunan fansnya itu. Tapi, Dinda tak mau fansnya kecewa dan menganggapnya sombong. Sambil tetap berusaha tersenyum, dia tetap memberikan tanda tangan dan berfoto bersama. Meskipun mukanya agak memerah. Setidaknya ia berhasil menghindari tangan-tangan iseng yang mengusilinya. Tapi tangan-tangan itu terus kembali. Dinda sudah tak tahan lagi, dia pun meninggalkan kerumunan itu dengan alasan dipanggil kedua orang tuanya.
Dia merasa lega bisa lepas juga dari kerumunan fansnya, terlebih lagi bisa lepas dari tangan-tangan usil yang tadi menggerayanginya tanpa ketahuan siapapun. Entah kenapa, Dinda merasa jantungnya berdegup cepat sejak kejadian tadi. Mungkin karena baru kali ini, ada yang menyentuh atau lebih tepatnya menggrepe dirinya. Padahal kemarin-kemarin perbuatan paling parah dari fansnya paling hanya mencubit sangat kencang. Tak pernah ada yang melakukan pelecehan seperti tadi. Bodohnya Dinda, ia baru sadar pakaian yang ia kenakan. Tanktop dan hotpants yang ia kenakan bisa memperlihatkan betapa mulus dan putih kedua paha dan permukaan payudaranya. Ditambah, dia habis berenang. Semakin tercetaklah lekuk-lekuk tubuhnya pada tanktop dan hotpantsnya. Dinda tak mau ambil pusing, dia tetap berekreasi dengan ayah dan ibunya.
“ayo kita pulang, udah sore..”, ajak ibu Dinda.
“yaah, Mah, bentar lagi deh, ya ? ya ?”, rayu Dinda.
“iya, Mah. jarang kita bisa jalan-jalan kayak sekarang.”.
“yaudah deh”.
“asiiik”, teriak Dinda senang.
Dinda dan keluarganya berada di tempat rekreasi sampai sore lalu makan di restoran sebelum akhirnya pulang ke rumah. Sampai rumah, Dinda langsung ambruk di kasurnya. Dia begitu lelah, tubuhnya terasa pegal dimana-mana.
“sayang..”.
“hmm ?”, Dinda setengah bangun.
“Mama sama Papa mau pergi ke Jogja, bantu Tante Ida pindahan..kamu di rumah yaa ?”.
“haa ? mm, iyaa”.
“kalau mau apa-apa kamu minta tolong sama Jajang atau Sardi yaa ?”.
“iyaa..”. Dinda pun tertidur lagi, ayah dan ibunya sudah pergi. Jajang adalah pembantu di rumah Dinda yang sudah bekerja selama 4 tahun dan Sardi adalah supir yang baru bekerja 2 tahun. Karena Jajang dan Sardi sangat sopan dan sudah dipercaya, orang tua Dinda merasa tak khawatir meninggalkan putrinya sendirian bersama kedua pria tua itu. Lagipula, Dinda sudah sangat akrab dengan Jajang dan Sardi.
“nngggg !!!”. Dinda meregangkan kedua kaki dan tangannya. Dia turun dari ranjang dan mencuci muka serta menggosok giginya, rutinitas paginya.
Wajah Dinda memang sangat cantik dan imut, kulit wajahnya pun putih, halus dan mulus. Siapapun pasti akan suka melihat wajahnya. Tak hanya mempunyai wajah cantik, Dinda juga dianugerahi tubuh yang sangat seksi untuk seumurnya. Tinggi badannya yang tidak terlalu menjulang ke atas membuat tubuhnya menjadi begitu padat berisi. Semua nutrisi makanannya memenuhi kepadatan tubuhnya secara merata dan proporsional. Meskipun begitu, Dinda sama sekali tak pernah menyadari potensi dirinya yang bisa menjadi ‘dewi’ bagi para lelaki. Bayangkan saja, wajahnya begitu cantik dan imut, tubuhnya juga sudah seperti anak kuliahan. Dan yang paling penting, dia masih ABG, tubuhnya yang sekarang yang sedang ranum-ranumnya masih bisa dibentuk agar lebih sempurna, meski memang tak usah dibentuk pun, tubuhnya juga sudah membuat para lelaki ngiler. Dinda kaget saat baru saja membuka pintu kamarnya, wajah Jajang terpampang di depan matanya.
“aduh, Pak Jajang ngagetin aja..”.
“maaf, non..tadi Pak Jajang mau bilang ke non Dinda, sarapan udah siap”.
“oh iyaa, Pak”.
“Mama sama Papa kemana sih, Pak ?”, tanya Dinda saat Jajang akan meninggalkannya yang sudah duduk di kursi meja makan.
“Nyonya sama Tuan pergi ke rumah tantenya non Dinda..”.
“ha ? oh iya iyaa..”. Dinda baru ingat kalau tadi ayah dan ibunya pamit kepadanya, maklum namanya juga setengah sadar.
“kenyang kenyang”. Usai sarapan, Dinda keluar rumah dan mendekati Sardi yang lagi mencuci mobil.
“pagi, Pak Sardi”.
“eh non Dinda..udah bangun..”.
“iya, Pak..hehe..Pak Sardi lagi nyuci mobil yaa ?”.
“iya, non. mobilnya kotor..”.
“oh..yaudah, Pak. aku mau lari sebentar dulu yaa..”.
“loh, non ? tunggu ?”.
“kenapa, Pak ?”.
“non mau lari pagi pake piyama ?”.
“ha ? oh iyaa”, Dinda langsung masuk ke dalam rumah dan mengenakan pakaian yang lebih pantas untuk lari pagi.
“Pak Sardi, aku lari pagi dulu yaa..”.
“iya, non..ati-ati..”. Tak beberapa lama, Dinda pulang. Dan saat di depan gerbang rumahnya.
“BYURR !! AAAKKHH !!!”. Saat Sardi membuang air yang ada di ember, Dinda muncul.
Dinda tersiram air. Dia jadi benar-benar basah kuyup.
“aduuh non maaf maaf maaf, non !!”.
“nggak apa-apa, Pak..”, jawab Dinda sambil tersenyum kecut.
“maaf non maaf maaf”, Sardi benar-benar panik, takut anak majikannya itu marah besar.
“iya, Pak, nggak apa-apa kok”, kali ini Dinda tersenyum manis. Senyuman yang begitu manis, Sardi sampai diam sesaat mendapat senyuman dari anak majikannya. Karena panik dan terpesona dengan senyuman Dinda, Sardi baru sadar kalau makhluk indah yang ada di depannya itu basah kuyup. Karena kaos yang dikenakan Dinda berwarna putih, Sardi bisa melihat bayang-bayang bra gadis imut itu yang berwarna biru muda. Seketika, Sardi menjadi seperti batu, seolah pandangannya terkunci pada bayang-bayang tonjolan yang ada di dada Dinda. Tentu si artis imut itu menyadari kalau Sardi sedang memperhatikan kedua buntalan daging yang ada di dadanya. Dia langsung pergi dari hadapan Sardi dan masuk ke dalam rumah, takut Sardi akan melakukan hal yang lebih ‘lanjut’ kepadanya.
Dinda berpapasan dengan Jajang.
“non Dinda kok basah gini ?”, tanya Jajang yang sebenarnya hanya bermaksud untuk menghentikan Dinda sehingga bisa memandangi tubuh indah anak majikannya itu.
“tadi kesiram Pak Sardi, Pak..”, jawab Dinda langsung berlalu ke kamarnya. Jantung Dinda berdegup cukup kencang, dia benar-benar khawatir sekali dengan pandangan Jajang dan Sardi tadi. Dia sadar pasti kaos putihnya jadi transparan karena basah, dan tatapan supir dan pembantunya benar-benar menakutkan. Apalagi tak ada siapa-siapa selain Jajang dan Sardi. Dinda mengunci pintu kamar dan masuk ke kamar mandi setelah mengambil pakaian ganti. Dinda sudah berganti pakaian, tapi dia masih takut keluar kamarnya. Tidak dengan Jajang dan Sardi yang pandangannya tadi bagai srigala kelaparan. Meskipun, Dinda belum pernah ‘nyerempet’ hal-hal berbau sex, tapi dia tahu, dengan 2 pria yang memandangnya dengan tatapan ‘pemburu’ seperti tadi, pastilah berbahaya untuknya yang tak ayal satu-satunya wanita yang ada di rumah sekarang.
“tok !! tok !! tok !! non Dinda !!”.
“ada apa, Pak ?”, jawab Dinda sedikit berteriak dari dalam kamar.
“ada telepon, non ? dari sekolah !”. Mendengar ada telepon dari sekolah, Dinda agak panik, dan langsung membuka pintu kamarnya yang terkunci dari dalam. Sebuah kesalahan kecil namun fatal yang dilakukan Dinda yang akan mengubah kehidupannya. Jajang berdiri di ambang pintu. Senyuman jahat dan tatapan pemangsa tergambar di wajah jelek itu. Dia langsung menyergap Dinda hingga membuat gadis imut itu terjatuh ke lantai. Tentu Jajang menindih Dinda di atasnya. Jajang menduduki paha Dinda dan menahan kedua tangan Dinda.
“LEPASIN !! PAK JAJANG LEPASIN AKU !!! TOLONG !! PAK SARDI !!!!”, teriak Dinda sambil meronta-ronta.
“percuma, non..cuma ada kita berdua..si Sardi lagi beli rokok..hehehe..”. Tentu perlawanan Dinda tak ada artinya. Jajang malah tersenyum memperhatikan usaha perlawanan terakhir dari ‘mangsa’nya yang sebenarnya tak ada artinya untuk Jajang.
“jangan, Pak..tolong..lepasin aku…”, kali ini Dinda memohon. Dia berharap agar Jajang mengurungkan niatnya, berharap agar Jajang iba karena ingat kalau dia adalah anak majikannya. Tapi, pemandangan gunung kembar Dinda karena kaos basah tadi dan sekarang sudah tak melakukan perlawanan, hawa nafsu yang sudah menguasai Jajang tentu tak mau melewatkan kesempatan ‘baik’ ini.
“tenang, non…ntar kalo udah Pak Jajang genjot, non Dinda juga bakalan keenakan kok..”, bisik Jajang sebelum mulai menjilati daun telinga kiri Dinda.
“aahhhmm jangaanhh..”, Dinda berusaha menjauhkan telinganya dari jangkauan lidah Jajang. Tapi, percuma saja. Jajang malah gencar merangsang Dinda, tak hanya menjilati, Jajang meniupi, menciumi, bahkan mengemuti daun telinga ABG cantik itu. Awalnya, Dinda hanya merasakan jijik dan juga basah. Tapi, lama kelamaan, Dinda merasakan sensasi lain. Tubuhnya terasa menghangat, ada rasa menggelitik di dalam tubuhnya, dan rasa di telinga kirinya kini terasa basah, geli, tapi enak.
“Paaaak jangaaan..”.
Bosan dengan telinga kiri Dinda, Jajang pindah menggeluti telinga kanan anak majikannya yang imut. Jajang langsung menyambar bibir mungil Dinda.
“emmmm mmmm ummm”. Air mata mengalir keluar. First kiss seharusnya menjadi momen yang indah dan tak terlupakan, namun first kissnya baru saja diambil paksa oleh pembantunya sendiri, itulah yang membuat Dinda sedih. Lembut dan empuknya bibir Dinda membuat Jajang semakin beringas. Tak henti-hentinya pria tua jelek itu melumat, menyedot, dan mengemut-emut bibir mungil Dinda. Jajang menekan kedua pipi Dinda untuk membuka paksa mulut Dinda yang tertutup rapat. Padahal, tangan kanan Dinda bebas, tapi gadis cantik itu hanya bisa memukul dengan tenaga yang sangat pelan. Begitu terbuka, lidah Jajang langsung menyelip masuk ke dalam rongga mulut Dinda tanpa permisi.
“cceepphhh ccppphh ssllpphh eemmmm”. Jajang kini yakin, dia sudah menguasai anak majikannya yang menggemaskan itu. Tanpa disadarinya, Dinda mulai membalas pagutan Jajang.
Dinda tak mengerti kenapa dia malah membalas ciuman paksa Jajang, lidahnya pun kini mulai melawan belitan lidah Jajang.
“hemmmmhhh emmmhhh”. Dengusan nafas Jajang semakin cepat, nafsunya semakin naik setelah mendengar dengungan suara dari gadis ABG nan cantik jelita yang sedang dicumbunya, artinya dia mulai menikmati dicumbunya. Tangan kiri Jajang mulai menggerayangi bagian ‘menonjol’ dari tubuh Dinda. Sudah lama Jajang ingin merasakan gumpalan daging ini, setiap hari dia selalu terganggu dengan kemasan susu tahan guncangan milik Dinda, terutama saat Dinda memakai kaos. Dua buah dada Dinda memang sangat ‘menonjol’, seperti mengundang para lelaki untuk memandanginya. Jajang agak terkejut saat tangannya menggenggam payudara kanan Dinda, tangannya tak cukup besar untuk menggenggam gumpalan daging empuk Dinda itu secara utuh, ternyata lebih besar dari dugaan Jajang selama ini.
“enngghhh !!”. Dinda kaget saat payudaranya dicengkram kasar oleh Jajang. Payudara yang sangat empuk dan kenyal membuat Jajang sangat gemas.
Jajang pun menurunkan ciumannya. Saatnya untuk lebih merangsang Dinda. Leher Dinda dicumbui dengan membabi buta oleh Jajang. Tentu pembantu tua itu sudah fasih betul cara untuk merangsang gairah seorang wanita. Selain payudara, dan zona V, kuping dan leher adalah bagian yang juga sensitif dari tubuh seorang wanita. Cocok bagi Jajang yang sedang ingin memperlemah perlawanan Dinda.
“ccppp ccpphhh”.
“Paaaakkhh aaaammmhhh”, gumam Dinda. Lama kelamaan, ABG imut itu tak bisa mengelak dari nikmatnya rangsangan-rangsangan Jajang. Aroma tubuh Dinda yang ‘menghangat’ benar-benar menaikkan tensi Jajang. Aroma tubuh Dinda begitu wangi dan sensual. Sudah waktunya untuk menelanjangi gadis imut yang sudah pasrah ini, pikir Jajang. Dia menyingkap kaos Dinda ke atas. Nafas pria tua itu memburu melihat buntalan daging kembar Dinda. Meski masih terbungkus bh, Jajang begitu ngiler melihat kulit permukaan payudara Dinda yang menyembul dari dalam bhnya. Begitu putih dan mulus.
Jajang pun mengangkat tubuh Dinda ke atas tempat tidur.
“jangan, Pak…”, pinta Dinda pelan.
“non..diem aja..ntar Pak Jajang bikin enak deh KEHEHEHE !!”. Tak mau repot-repot, Jajang menyingkap bh Dinda. Mata Jajang terbelalak, dia langsung menelan ludah. Gunung kembar yang benar-benar indah, putih mulus, terlihat begitu bulat sempurna dan padat berisi, dan juga bertahtakan 2 pucuk payudara berwarna agak merah muda yang sangat menggiurkan. Sungguh sepasang payudara terindah yang pernah dilihatnya, pikir Jajang. Dengan kedua tangannya, Jajang menggenggam kedua ‘roti’ empuk itu.
“Paaakhh…mmm janganhh”. Remasan-remasan Jajang memang ‘mengganggu’ Dinda. Dia belum pernah merasakan seperti ini, rasanya enak sekali. Putingnya terasa mengeras dan menjadi lebih sensitif. Tentu Jajang sadar, Dinda benar-benar mulai terangsang. Dia comot dan tarik-tarik kedua puting itu seperti ingin mencabutnya dari payudara Dinda.
“aahhhh eemmnnhhhh”. Jajang kelihatan asik sekali memainkan kedua puting Dinda, mencubit, menekan, memencet, dan memilin-milinnya.
“happh..nymmm nymmm..”. Jajang mencaplok puting kanan Dinda.
“emmmm hhemmm Paakk mmmm”. Dinda merasakan rasa nikmat luar biasa saat Jajang mengemuti dan mengenyoti kedua induk payudaranya secara bergantian. Dia tak bisa menjauhkan Jajang dari payudaranya, tubuhnya menyuruhnya untuk membiarkan apa yang sedang terjadi. Membiarkan Jajang menyantap kedua buah payudaranya agar kenikmatan itu terus berlanjut. Bagai bayi kelaparan, Jajang mengenyot kuat kedua ‘pabrik’ susu Dinda seakan memaksanya untuk memproduksi susu. Dinda memang masih berusaha untuk mendorong kepala pembantunya itu untuk menjauh dari payudaranya, namun tenaga Dinda bagaikan hilang. Alhasil, kedua pegunungan kembar Dinda pun menjadi bulan-bulanan Jajang yang gemas. Seluruh permukaan kedua buah dada Dinda diciumi, dijilati, dicupangi, bahkan digigiti oleh Jajang tanpa terlewat. Tak heran Jajang begitu gemas dengan payudara Dinda sebab memang benar-benar padat berisi, sangat empuk, kenyal, sangat kencang, dan bentuknya yang bulat sempurna.
Benar-benar payudara idaman yang ingin dimiliki setiap wanita, dan payudara idaman lelaki untuk dikenyoti setiap hari. Harusnya payudara Dinda masih ranum dan dalam masa pertumbuhan, tapi payudara Dinda terlihat sudah sangat matang seperti payudara wanita berumur 19 tahun lebih. Jika mendapat perawatan tubuh yang tepat, bukan tak mungkin kalau Dinda akan menjadi wanita ‘bom sex’. Wajah imut nan cantik ditunjang tinggi badan yang ideal serta tubuh padat berisi dan payudara yang besar tentu akan menjadikan Dinda sebagai artis bom sex yang mampu membuat para pria ngiler hanya dengan melihatnya saja jika sudah memasuki 20 tahun lebih nanti. Cukup puas dengan ‘makanan’ pembuka berupa ‘roti’ kenyal yang putih mulus, Jajang berniat akan mulai menyantap ‘sajian’ utama yang ada di selangkangan Dinda.
“ja jaangan, Pakhh..”. Dinda berusaha mempertahankan celana pendeknya yang masih bercokol di selangkangannya untuk tetap menutupi daerah itu.
Jajang menyingkirkan tangan Dinda dan menarik paksa celana gadis cantik itu bersamaan dengan celana dalamnya.
“glek…”, Jajang menelan ludah. Matanya seperti mau meloncat saat memandangi bukit gundul nan indah yang ada di tengah-tengah selangkangan Dinda. Bentuknya benar-benar sempurna, selangkangan yang begitu mulus dan sedap dipandang. Kedua bibir vagina Dinda masih menutup dengan sangat rapat, warna kulit sekitar vaginanya pun tak berbeda dengan warna kulitnya, bukti kalau belum ada yang pernah menyatroni daerah itu. Dan hiasan berupa bulu-halus membuat bagian itu terlihat semakin indah dan cantik. Penis Jajang terasa nyut-nyutan, ingin segera mencoba alat kelamin Dinda yang sangat menggugah selera itu.
“jangaan, Pak..tolong..”, Dinda menutupi daerah pribadinya, tapi seakan dia tak bisa bergerak, padahal harusnya dia leluasa bergerak. Jajang hanya tersenyum, dia menarik celana dan cd Dinda agar benar-benar lepas dari kedua kaki Dinda. Tak ada lagi yang bisa menghalangi pria tua itu dengan daerah intim si gadis cantik.
Memang, tangan Dinda masih menutupi daerah Vnya, tapi rasanya Jajang mudah untuk menyingkirkannya karena Dinda juga setengah hati. Setengah hati dari artis menggemaskan itu sebenarnya ketagihan dengan rasa nikmat yang diberikan Jajang. Jajang turun dari ranjang dan mengangkat kedua kaki Dinda ke atas, dia seperti ingin mengangkat Dinda tapi dia hanya memposisikan atau lebih tepatnya menyeret pantat Dinda ke tepi ranjang.
“jangaaan…”. Tak ada lagi belas kasihan jika sudah menyangkut hawa nafsu. Padahal Dinda sampai menangis, tapi Jajang tak mengindahkannya. Yang ada di pikirannya hanyalah vagina Dinda yang sangat menggiurkan. Jajang menyingkirkan tangan Dinda dan meniup-niup vagina Dinda.
“aaahhmmm…”. Tiupan-tiupan Jajang memancing gairah Dinda perlahan, semakin mengalahkan harga dirinya.
“memek non wangi banget..”, puji Jajang yang sangat menyukai aroma vagina Dinda yang memang sangat harum itu. Wajah Dinda menjadi merah padam mendengar ucapan Jajang tadi.
Dia merasa malu mendapatkan pujian tentang vaginanya dari pembantunya sendiri. Daerah paling intim dari tubuhnya yang harusnya hanya bisa dilihat olehnya dan calon suaminya nanti, kini sedang dipandangi pembantunya dan bahkan memberikan pujian betapa harumnya alat kelaminnya itu.
“aaaahhhhh !!”. Jajang langsung membenamkan wajahnya ke selangkangan Dinda, menghirup kuat-kuat aroma harum dari vagina gadis cantik itu. Dinda menggeliat-geliat menerima cumbuan Jajang yang bertubi-tubi pada daerah pribadinya.
“aahhmmm”, kedua paha Dinda menutup seketika, menjepit kepala Jajang saat dia merasakan ada benda lunak dan hangat yang mengenai bibir kemaluannya.
“udaahh Paaakhh stooopphhh”, pinta Dinda, dia bingung dengan apa yang ia rasakan sekarang. Rasanya sungguh geli dan nikmat luar biasa secara bersamaan. Kedua kaki Dinda semakin kencang menjepit kepala Jajang dan tetap berusaha mendorong kepala Jajang.
“mmmnnhh Paaakkhhh stooopphh !!”. Jajang malah semakin nafsu menggerogoti vagina Dinda.
Lidah Jajang terus mencucuk vagina Dinda, menjilati bagian dalamnya.
“emmpphh sllpphhh sllphhh”. Jajang jadi semakin asik melahap kemaluan Dinda, baru kali ini dia merasakan vagina yang begitu manis dan sangat harum. Jadi gini rasanya memek perawan ABG cakep, pikir Jajang yang merasa sangat betah di selangkangan Dinda. Tubuh Dinda berkedut-kedut seiring kenikmatan yang memberikan ‘sengatan’ listrik kepadanya terus menerus.
“aaahhhh mmmhhh hhmmhhhh…”, lirih Dinda yang sudah mulai menyerah pada serangan lidah Jajang di bawah sana. Seorang gadis muda berkulit putih mulus yang tak mengenakan apapun pada bagian bawah tubuhnya, sementara di selangkangannya ada seorang pria tua yang kelihatan sangat asik berkutat di sana adalah sebuah pemandangan yang sangat eksotis. Dinda hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, menggelepar-gelepar merasakan rasa nikmat yang amat luar biasa. Jajang betul-betul menikmati tiap jengkal bahkan tiap senti dari alat kelamin anak majikannya itu.
Vagina Dinda tak ubahnya bagai ‘kue’ yang sangat lezat bagi Jajang, ingin dinikmati sampai habis. Selangkangan Dinda pun sudah basah kuyup dengan air liur Jajang.
“aaaahhhmmmm”, tubuh Dinda bergetar hebat seketika. Ya, Jajang sedang asik mulai mengulas dan memainkan klitoris Dinda dengan lidahnya sambil mengobel-ngobel lubang vagina gadis imut itu. Aliran listrik yang mengejutkan terus dirasakan Dinda menjalar di sekujur tubuhnya. Dari mulut mungilnya, terus keluar desahan-desahan lepas dengan suara yang begitu menggairahkan. Jajang semakin menggila setelah mencicipi lelehan lendir yang mulai keluar dari vagina Dinda. Rasanya gurih bercampur manis. Jajang sudah tak sabar ingin minum ‘sirup cinta’ dari vagina artis cantik itu.
“aaahhhh emmmhhh Paaaakkk hmmmhhh UUUUNNNHHHH !!!!”, tubuh Dinda menegang, kedua kakinya yang tadi menggantung di tepi ranjang menjadi lurus kaku, dan kedua pahanya semakin menjepit kepala Jajang. Secara refleks, Dinda menekan kepala Jajang ke vaginanya sendiri dengan kedua tangannya seperti ingin membekap Jajang dengan vaginanya.
“ssrpphhhh !!! sllrrpphhh !!!!”, Jajang menyeruput dan menyedot dengan sangat kuat, dia tak melewatkan satu tetes pun cairan vagina Dinda yang sangat lezat. Cairan Dinda pun habis tak bersisa.
“memek non Dinda rasanya manisss”, ujar Jajang tersenyum licik. Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di ambang pintu kamar Dinda. Tentu itu adalah Sardi. Jajang langsung berdiri, dia panik.
“Pak Sardi…tolong….”, pinta Dinda lemah. Karena Jajang berdiri, tentu Sardi bisa melihat vagina Dinda yang indah dengan sangat jelas.
“Jang..lo nggak bilang-bilang gue kalo lagi asik-asikan sama non Dinda hehehe…”. Jajang yang tadi sempat khawatir langsung lega.
“ngapain juga gue manggil lo ?!”, kedua pria tua itu bercanda seakan tak menghiraukan gadis cantik yang sedang mengangkang tak berdaya di atas ranjang. Bukan tak berdaya, lebih tepatnya putus asa, Dinda kira Sardi masih punya hati dan menolongnya, tapi ternyata Sardi juga langsung ‘lapar’ melihatnya yang sudah bugil.
“nyicip memeknya ya, non..HEHEHE !!!”. Tanpa izin, Sardi langsung membenamkan wajahnya di selangkangan Dinda.
“aaaahhhh !! jaangaaan, Paakhhh !!”. Dinda berusaha menahan kepala Sardi sebisanya dengan kedua tangannya. Tapi, aroma vagina Dinda tentu membuat Sardi sangat bersikukuh untuk mencicipinya.
“aaahhmmmm !!! stooophhhh !! nnnmmm”. Dinda berusaha mati-matian agar tidak kalah dengan nafsunya sendiri seperti tadi saat Jajang menggerogoti selangkangannya. Kedua paha Dinda menjepit erat kepala Sardi, berharap Sardi akan tak tahan dan menjauh dari bagian bawah tubuhnya. Mungkin itu bisa terjadi kalau selangkangan Dinda bau amis, tapi salah Dinda sendiri, dia merawat daerah intimnya itu setiap hari sehingga daerah Vnya itu pun tentu harum dan wangi, tak heran kalau Sardi begitu betah berlama-lama di sana.
“aaaahhmmmm emmmmhhhh”, suara desahan Dinda terdengar begitu seksi dan sensual, sepertinya ABG berwajah imut itu mulai menikmati ‘kilikan’ lidah Sardi di alat kelaminnya.
Dinda menyerah pada nafsunya sendiri untuk kedua kalinya. Bagi ABG yang belum pernah merasakan jilatan pada daerah intimnya, rasa nikmat yang muncul memang terlalu kuat untuk dilawan bagi Dinda.
“gimana..non…enak..kan ?”, goda Sardi di sela-sela aktivitasnya menggelitik klitoris Dinda.
“i..iyaaaa..Paaakhhh….enaaaakkkhhhh ooooohhhhh !!!!!”.
“kalo enak..buka pahanya yang lebar dong…”, ujar Sardi mencubit gemas paha putih mulus nan montok Dinda. Wajah Dinda semakin merah saat dia melebarkan kedua pahanya, dia malu karena merasa memberi izin kepada supirnya itu untuk bisa mengakses selangkangannya dengan lebih leluasa. Setelah menunjukkan senyuman licik pada wajahnya, Sardi langsung menyerbu vagina wangi itu dengan gencar. Dinda sampai kelojotan, gadis itu menggeliat-geliat hebat, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, tubuhnya berkedut-kedut, dan desahannya begitu lepas. Wanita manapun akan bereaksi sama dengan Dinda, lidah Sardi benar-benar lincah.
“Paaaakhh Paakkhhh Paaakkkhhhh !!! Paakkkhhh Saardiiii !!!!”, lenguh Dinda memegangi kepala Sardi.
“ccrrrr sllluuuphhh !!! slllrrrrpphhh !!!”. Cairan vagina Dinda yang rasanya manis langsung tak bersisa diseruput Sardi.
“gimane, Di ? mantep kan memeknye non Dinda ?”.
“uanjrit..ni memek paling enak yang pernah gue jilatin..”. Sardi membenamkan wajahnya dalam-dalam ke selangkangan Dinda. Tak pernah terbayangkan oleh Dinda. Selama ini tak ada lelaki yang pernah menyentuhnya di daerah pribadinya, tapi sekarang, hanya dalam satu kesempatan, langsung 2 orang pria paruh baya yang menyantap vagina perawannya. Jajang dan Sardi masing-masing menahan kedua paha Dinda. Sambil mengelus-elus paha Dinda, keduanya memperhatikan alat kelamin Dinda seperti benda pameran seni. Artis imut itu terasa begitu terekspos saat ini, dia hanya bisa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“emmmhhhh….”. Dinda merasakan basah pada kedua pahanya. Dia membuka matanya. Sardi sedang menjilati paha kanannya dan Jajang sedang menciumi paha kirinya.
Kedua pria tua itu merangsang Dinda lagi, tak membiarkan gairah Dinda turun sedikitpun.
“aaahhhmmm…”. Kedua pangkal paha Dinda dijilati dengan asiknya oleh Jajang dan Sardi.
“ayo non..diri…”. Sardi memapah Dinda untuk berdiri dan Jajang melepaskan kaos dan bh Dinda. Polos sudah artis imut itu. Tak ada lagi sehelai benang pun yang menempel di tubuh montok Dinda. Tiap lekuk tubuhnya kini tak bisa ia tutupi lagi dari mata Jajang dan Sardi. Sungguh tubuh yang sangat indah. Begitu putih mulus, begitu padat berisi, Jajang dan Sardi pun meneguk ludah menyaksikan pemandangan yang sangat indah. Mereka hampir tak percaya kalau anak majikannya yang baru berumur 16 tahun itu memiliki tubuh indah seperti wanita berumur 22 tahun lebih. Sekal dan matang. Dengan gemasnya, Jajang menggenggam kedua bongkahan pantat Dinda yang sangat kenyal itu, memukul-mukulnya, dan meremas-remasnya. Sedangkan Sardi asik meremasi susu Dinda sambil mengobel-obel vaginanya. Dinda tak ubahnya bagai boneka berukuran raksasa yang bisa diapakan saja oleh Sardi dan Jajang.
Pemandangan seorang gadis cantik berkulit putih mulus yang tak mengenakan apapun berada di antara 2 pria jelek berkulit hitam yang masih berpakaian lengkap benar-benar sebuah pemandangan yang sangat erotis.
“hhmmmm eemmmmhhh Paaaakhhhh”, lirih Dinda. Kecupan-kecupan Jajang pada tengkuk lehernya dan kuluman Sardi pada kedua putingnya secara bergantian benar-benar sangat merangsang. Kemarin-kemarin, Dinda bingung dengan remaja putri yang sudah tak perawan lagi. Kenapa mereka mau berhubungan intim dengan pria yang belum tentu jadi suami mereka, tapi kini dia tahu jawabannya. Perasaan melayang seperti yang ia rasakan sekarang memang membuat lupa diri. Tanpa Dinda sadari, kondisinya lebih parah dibandingkan remaja-remaja putri lainnya. Yang lain, biasanya kehilangan keperawanan dengan pacarnya atau pria seumuran. Sedangkan Dinda akan kehilangan kesucian tubuhnya pada 2 lelaki tua yang umurnya 2x lipat lebih dari umurnya yang tak lain dan tak bukan adalah supir dan pembantunya sendiri. Sangat ironis memang.

Aroma tubuh telanjang Dinda yang harum benar-benar membangkitkan nafsu birahi Jajang dan Sardi. Mereka asik menggerayangi tubuh mulus anak majikan mereka yang imut itu. Dinda juga sudah menyerah pada 2 bandot mesum itu. Tubuhnya habis diemek-emek oleh Jajang dan Sardi.
“ayo non Dinda berlutut…”. Seperti tersihir, Dinda menurut, dia bertumpu pada kedua lututnya. Sardi sibuk melucuti pakaiannya sendiri, sementara Jajang berdiri di depan Dinda yang tengah berlutut. Tiba-tiba saja, dia langsung menekan kepala Dinda ke selangkangannya.
“emmfffhhh emmffhhh !!!!”, Dinda meronta-ronta.
“non Dinda harus biasain dulu sama bau kontol Pak Jajang, non hehehehe”, ujar Jajang tak mengindahkan penolakan Dinda, malah semakin menekan wajah Dinda ke selangkangannya. Dinda merasa mual sekali, air mata membasahi matanya, tanda ia menahan rasa mualnya. Kolor Jajang memang apek luar biasa, tak heran kalau gadis cantik itu merasa ingin muntah.
Tiba-tiba ada sesuatu yang menekan bagian belakang kepala Dinda. Sardi sedang menekan-nekankan selangkangannya ke bagian belakang kepala Dinda. Jadilah Dinda terjepit di antara 2 selangkangan pria tua yang sangat apek itu. Dinda tak bisa menghirup udara segar, hanya bau kolor apek yang ada di depannya.
“hhhh…”, Dinda langsung mengambil nafas sebanyak-banyaknya setelah Jajang melepaskan kepalanya. Akhirnya dia bisa menghirup udara segar sementara Sardi dan Jajang terkekeh-kekeh melihat Dinda megap-megap. Dinda merasa kesal sekali, padahal dia sudah tak melakukan perlawanan tapi tetap saja dia diperlakukan kasar oleh kedua pria bejat itu.
“non Dinda jangan cemberut gitu dong nang ning ning nang ning nung…hehehe..”, ujar Sardi seperti sedang menghibur anak kecil.
“…”. Dinda hanya bengong saja. Jajang dan Sardi merasa begitu berkuasa melihat anak majikan mereka bersimpuh di hadapan mereka tanpa mengenakan apapun seperti seorang budak yang sedang menunggu perintah selanjutnya dari tuannya.
“nah non Dinda kan udah ngeliatin memeknya..sekarang giliran kita ngasih liat kontol kita HEHEHE”. Secara serempak, Sardi dan Jajang melorotkan kolor mereka masing-masing. Mata Dinda langsung terbelalak. 2 benda yang meloncat keluar dari kolor Jajang dan Sardi sangat mengerikan bagi Dinda. Hitam, berurat, dan kelihatan sangat ‘tebal’. Gadis cantik imut itu bergidik ngeri, dia memang belum pernah melihat alat kelamin lelaki tapi, dia tahu kalau akan menyakitkan jika benda itu sampai masuk ke dalam kemaluannya karena terlalu besar.
“gimana, non ? batang kita berdua gede kan ? dijamin non Dinda bakalan kelepek-kelepek deh HAHAHAHA !!!”.
“eit..mau ke mana, non ? masa abis ngeliat kontol, mau kabur ? tadi diem-diem aja ? ngeri ya ? GAKGAKGAK !!!”, ejek Jajang sambil menahan Dinda agar tetap berlutut.
“jangan takut non..kita nggak bakal maen kasar kok..”, ujar Sardi menenangkan Dinda.
“paling kita sodok memek non Dinda sampe ngilu HAKHAKHAK !!!”, tambah Sardi.
“jangaaan ennggffhhh”.
“jangan ngelawan lagi, non…kalo masih ngelawan, bakal kita lemparin non Dinda ke pangkalan preman di pengkolan depan gang sono biar non Dinda dipake sama preman-preman yang suka maen kasar..non Dinda mau ?”, ancam Jajang.
“hmph mph…”, Dinda mengangguk ketakutan.
“nah gitu dong..nah sekarang non Dinda kocokkin kontol kita”. Sardi menuntun tangan kiri Dinda untuk menggenggam penisnya, sementara Jajang menuntun tangan Dinda yang satunya.
“gi..gi..gimana ?”, tanya Dinda ketakutan. Ancaman Jajang tadi benar-benar efektif menurunkan mental gadis cantik itu.
“ya kocok, non..kayak gini..”, Sardi memberi contoh dengan tangannya. Setelah mendapatkan contoh, Dinda mulai mempraktekkannya. Baik tangan kanan maupun tangan kiri Dinda yang halus itu mulai bergerak naik-turun. Melihat saja belum pernah, apalagi mengocok 2 penis sekaligus seperti sekarang, tak heran gerakan tangan Dinda sangat kaku. Jajang dan Sardi tak terlalu memikirkannya, yang penting, tangan Dinda yang mengocok penis mereka terasa halus.
“ya non ! terus non ! enaakh non !!”. Hanya dalam 1 menitan saja, gerakan tangan Dinda mulai luwes, mengocok penis yang ada di kedua genggaman tangannya dengan lihai. Pemandangan kontras, tangan Dinda yang putih mulus sedang menggenggam 2 buah batang kejantanan yang hitam. Malah, tanpa disuruh, Dinda mengusap-usap kepala penis baik milik Jajang ataupun Sardi dengan jempolnya, memberikan tambahan rasa nikmat ke 2 pria tua itu.Jantungnya berdebar-debar sambil terus mengocokki 2 batang yang keras seperti kayu itu. Entah itu perasaan takut atau malah penasaran, bagaimana bila kedua penis itu benar-benar masuk ke dalam vaginanya.
“ayo non..disepongin juga hehe..”.
“mph…nggak..mau….”. Dinda menutup rapat-rapat mulutnya dan menjauhkan mulutnya dari 2 burung yang mendekatinya.
“eit non…jangan nolak…ntar non Dinda sendiri yang ketagihan deh HEHEHE !!”. Sardi menahan kepala Dinda, dan Jajang menekan kedua pipi Dinda.
“oooggg !!!”, Dinda tersiksa dengan 2 penis yang berusaha masuk ke dalam mulut mungilnya itu.
Seperti tak berperikemanusiaan, Jajang dan Sardi menjejali mulut Dinda dengan penis mereka. Alhasil, Dinda benar-benar tersiksa, mulutnya otomatis terbuka lebar untuk bisa menerima 2 penis yang memaksa masuk ke dalam mulut mungilnya. Hanya kepala penis mereka yang bisa masuk ke dalam mulut Dinda.
“ayo, non..gerakkin lidahnya dong..”.
“oohhh…”. Jajang dan Sardi langsung bergetar saat merasa lidah menyapu lubang kencing berkali-kali.
“emmphhh empphh”. Liar sekali kelihatannya, mulut Dinda dijejali 2 penis yang besar apalagi Dinda terlihat mulai menikmati rasa amis dari batang kejantanan milik supir dan pembantunya itu. Dinda bisa bernafas lega, 2 penis itu keluar dari mulutnya.
“ayo non..non Dinda mau nyepongin yang mana dulu ? KEKEKEKE…”. Sardi dan Jajang ingin memperlukan Dinda dengan membuat gadis imut itu memilih penis mana yang ingin dicicipinya. Dinda menutup matanya, wajahnya memerah, dia sendiri yang menggenggam 2 penis itu dan mendekatkannya ke mulutnya.
“wah non Dinda mau nyepongin kita berdua sekaligus ? HAGHAGHAG !!”.
Dinda hanya bisa menerima ejekan Jajang, kupingnya panas mendengar hal itu, tapi instingnya membuatnya semakin menikmati mengulum 2 kemaluan yang berbeda bentuk dan rasa itu.
“emmm…”. Bagai sudah berpengalaman, Dinda mengemut-emut kepala penis Jajang dan Sardi bergantian, dan kedua tangannya setia mengocok-ngocok kedua batang keras itu.
“oohhhh !!!”. Kuluman dan emutan Dinda sangat mengenakkan bagi Jajang dan Sardi.
“non Dinda udah biasa nyepongin cowok ya? mantep banget sedotannya ooouuhhh !!!”, ejek Sardi. Dinda memang mendengar ejekan Sardi, tapi dia lebih memilih diam dan terus mengulumi 2 ‘tongkat’ sakti yang ada di depannya. Gadis cantik itu malu sekali, tadi dia menolak, tapi sekarang dia sendiri yang begitu aktif mengoral kemaluan Jajang dan Sardi. Aroma jantan dan rasa khas dari alat kelamin 2 pria tua bejat itu serasa bagai ‘narkoba’ bagi Dinda. Semakin dinikmati, semakin enak. Oh, kenapa ? kenapa rasanya aku nggak bisa berenti. kenapa enak banget rasanya?, pikir Dinda.
Benar-benar bagai anak kecil yang disuguhi permen batangan. Dinda kelihatan semakin asik menikmati penis Jajang dan Sardi. Diciumi, dijilati, diemut-emut sambil dikocok-kocok kedua batang itu. Seharusnya, ia bisa memukul selangkangan supir dan pembantunya itu sehingga ia bisa kabur dan selamat dari perkosaan. Tapi, nafsu yang mengaktifkan insting reproduksinya mengatakan kepada anggota tubuhnya untuk memuaskan 2 lawan alat kelaminnya itu. Jajang dan Sardi tentu menikmati kuluman anak majikannya itu. Mereka melecehkan dan mengejek Dinda. Dinda tak bisa membalas.
“eh eh udah non…daripada nyepong terus..mendingan kita maen sodok-sodokan yuk non…HEHEHE !!”. Jajang mencabut keluar penisnya dari mulut Dinda. 2 batang kejantanan itu telah basah kuyup bermandikan air liur Dinda. Jajang dan Sardi mengangkat Dinda dan menaruh tubuhnya di ranjang. Jajang langsung mengambil posisi.
“sori Di..gue duluan yee GAHAHA !!”. Dinda hanya bisa melihat Jajang memposisikan alat kelaminnya, dia sudah pasrah.
“non Dinda tahan ya..pertamanya sakit tapi ntar juga enak kok KEKEKE !!!”.
“eennggghhh saakkiiithh !!!!”, rintihan Dinda saat merasakan rasa nyeri luar biasa pada kemaluannya. Benda tumpul yang sedang masuk perlahan ke liang vaginanya itu serasa akan membelah dua dirinya.
“anjriiit !! pereeet !!!”, teriak Jajang yang kesusahan menyelipkan penisnya masuk ke dalam celah sempit di selangkangan anak majikannya itu. Sementara Dinda merasakan sakit luar biasa seiring otong Jajang yang semakin menusuk ke dalam. Sungguh vagina yang benar-benar sempit dan peret. Proses penetrasi yang paling ‘sulit’ bagi Jajang dan proses paling menyakitkan bagi Dinda.
“ookkhh !!! maantaaabbhhh !!!”, teriak Jajang sambil mengacungkan jempol ke arah Sardi yang sedang menekuk wajahnya, kesal karena keduluan Jajang. Jempol Jajang menandakan kalau vagina anak majikannya benar-benar jempolan dan juara. Bagaimana tidak jempolan, penis Jajang yang sekarang sudah berada seluruhnya di dalam liang vagina Dinda terasa seperti dicengkram kuat dan diremas-remas oleh dinding vagina Dinda.
Jepitan dinding vagina sungguh luar biasa. Batang Jajang terasa diperas-peras. Jajang terdiam bukan untuk membiarkan Dinda beradaptasi dengan penis kelaminnya, tapi dia memang sedang menikmati betapa sempit dan hangatnya liang kemaluan Dinda.
“nnhh !!!”, rintih Dinda, wajahnya menunjukkan kalau dia sedang kesakitan. Penis Jajang yang menyesakki liang vagina Dinda mulai bergerak. Perihnya luar biasa, seperti sikat kawat yang sedang menggosok alat kelaminnya, itu yang dirasakan Dinda. Jajang melihat ke bawah. Batangnya yang keluar 1/2 dari vagina Dinda berlumuran darah. Tentu itu darah perawan dari kemaluan Dinda. Bangga dan puas sekali. Bisa memerawani gadis ABG yang tak hanya cantik dan sexy, tapi juga artis yang tengah naik daun.
“eenn !! enggpphh !!!”, meski Jajang ‘menumbuk’ dengan sangat perlahan, namun rasanya benar-benar pedih. Kuku Dinda pun menancap di punggung Jajang, ekspresi pelampiasan dari rasa sakit yang teramat sangat.
Sungguh rintihan yang sebenarnya memilukan. Penis Jajang terlalu besar bagi vagina Dinda yang sekalipun belum pernah dirojoki batang kejantanan lelaki. Tapi, Jajang tak memikirkan hal itu. Rasanya terlalu nikmat, penisnya serasa seperti diremas, dipijit, dan dikocok sekaligus. Sardi hanya bisa memperhatikan saja. Tubuh putih mulus anak majikannya itu sedang digeluti oleh temannya. Melihat temannya begitu keenakan, Sardi sudah ngaceng berat ingin sekali merasakan belahan yang ada di tengah selangkangan anak majikannya itu.
“emmhh mmmhhh nngghhh”, Dinda mulai merasakan nikmat di sela-sela rasa sakitnya. Vagina Dinda sudah mulai beradaptasi terhadap benda asing yang sedang ada di dalamnya. Gesekan-gesekan di liang vaginanya mulai mengenakkan.
“emmm…uummhh….”, Dinda mulai melirih pelan. Rasa sakit, ngilu, pedih, pokoknya rasa yang tak mengenakkan Dinda kini telah terkikis dan tergantikan dengan rasa nikmat yang semakin lama semakin bertambah.
Jajang tahu kalau gadis imut yang sedang digenjotnya kini mulai merasakan nikmat. Dia mulai menaikkan tempo sodokannya.
“aaahhhh eemmhhh ohhhh uuummhhhh aaahhhhh”, desah Dinda.
“mulai enaak kan, non ? hehehe..”, ejek Jajang mempermainkan psikologis artis menggemaskan itu. Jajang memegangi pinggul Dinda dan menggerakkan pinggangnya memutar.
“aaaahhhmmmm”. Dinda merasa vaginanya seperti diaduk-aduk, sungguh kenikmatan yang luar biasa.
“jawab dong, non…enak kan ??”, jawab Jajang sambil menekan-nekan klitoris Dinda agar gairah gadis muda itu semakin naik dan tak malu-malu untuk menjawabnya.
“iyaaa aahhh, Paakkhh ! enaaakkhhhh oooohhhhh !!!”, erang Dinda. Wajah Dinda terlihat binal sekali, kesan imut itu kini sama sekali tak terlihat. Dia tengah dilanda kenikmatan dari alat kelamin Jajang yang sedang mengaduk-aduk kemaluannya. Memang sudah hakekatnya, batang kejantanan seorang pria bisa memberikan kenikmatan yang luar biasa pada seorang wanita meski pada awalnya si wanita dipaksa.
Tapi, lihat Dinda kini. Dia begitu meresapi nikmatnya tongkat Jajang yang terus menggosoki liang vaginanya. Bahkan, kaki Dinda melingkar erat di pinggang Jajang dan meladeni cumbuan Jajang dengan begitu bergairah serta membiarkan pembantunya itu menyusu pada kedua buah payudara ranumnya. Sardi hanya bisa menahan nafsunya melihat Jajang menggenjot Dinda. Suara desahan Dinda benar-benar membuat Sardi nafsu berat. Tapi, nampaknya Jajang masih ingin berlama-lama menikmati jepitan kemaluan Dinda. Sambil terus mendesah keenakan karena pompaan Jajang di alat kelaminnya, Dinda menengok ke arah Sardi. Tatapannya seakan mengatakan kalau dia juga menginginkan batang kejantanan supirnya itu. Gadis cantik itu sudah dikuasai nafsu birahi, tak memikirkan martabatnya lagi. Di dalam kamarnya sendiri, Dinda yang telanjang bulat tengah digenjot oleh pembantunya, sementara supirnya sedang menunggu giliran untuk menggenjotnya juga. Benar-benar pemandangan yang sangat menggairahkan.
2 pria tua dengan 2 batang kejantanan yang besar dan berurat berada di dalam kamar dengan seorang ABG cantik yang sudah mempasrahkan tubuhnya untuk 2 pria tua itu, benar-benar pemandangan yang tak akan mungkin dipercaya jika tak melihatnya sendiri.
“non Dinda..ganti posisi yuk..”. Jajang memeluk dan mengangkat Dinda perlahan. Dinda langsung memeluk Jajang begitu tubuh montoknya terangkat. Tak hanya takut terjatuh, Dinda juga tak mau alat kelaminnya terpisahkan dengan pentungan Jajang. Dia sedang asyik-asyiknya merasakan kenikmatan luar biasa dari sodokan-sodokan batang Jajang, tentu secara insting Dinda tak mau tongkat pembantunya itu terlepas dari liang vaginanya. Kini Dinda duduk di atas selangkangan Jajang. Tubuh gadis muda dan pria tua itu masih terhubung oleh alat kelamin mereka. Jajang memegang pinggang Dinda dan mulai menyodok-nyodokkan penisnya ke atas untuk menyundul rahim Dinda.
“ooohhhh !! Paaakkhhh !! emmmmhhhh !!!”, sepertinya Dinda tengah mengalami orgasme. Jajang menarik Dinda ke pelukannya dan melumat bibir lembut ABG cantik itu.
Keduanya terlihat begitu bergairah, malah Dinda yang agresif. Dia balas pagutan Jajang sambil menggerakkan pinggulnya maju mundur untuk mengocok penis Jajang yang ada di dalam vaginanya.
“pook pook”, sambil asik terus mencipok Dinda, Jajang meremasi dan menepuk-nepuk bongkahan pantat Dinda yang memang empuk nan kenyal itu dengan sangat gemas. Jajang juga memeluk Dinda dan membenamkan wajahnya sendiri di kedua buntalan daging empuk gadis cantik itu. Benar-benar sempurna tubuh anak majikannya itu, pikir Jajang. Putih mulus, padat berisi, dan proporsional. Belum lagi kedua bongkahan pantat dan kedua buah payudara Dinda yang begitu bulat, kencang, dan kenyal. Sungguh tubuh yang sedap dipandang mata.
“ooohhh oohhh hemmhhh”, Dinda menggerakkan pinggulnya dengan liarnya, maju-mundur, naik-turun, dan berputar. Pokoknya untuk menjaga agar penis Jajang yang mengisi vaginanya terus bergesekkan dengan alat kelaminnya. Jajang menyaksikan pemandangan anak majikannya itu bergoyang di atas penisnya sambil tersenyum.
Tangan Jajang pun asik meremasi kedua buah payudara Dinda. Insting membuat Dinda bergerak dengan begitu liar dan agresif, sama sekali tak terlihat kalau dia baru pertama kali berhubungan intim. Hanya butuh satu batang kejantanan yang kokoh untuk memancing sisi Dinda yang lain. Sisi lain Dinda yang ternyata sangat suka akan rasa nikmat saat mengocok alat kelamin laki-laki dengan kemaluannya.
“argh ! gak tahan lagi gue !”. Sardi langsung naik ke atas tempat tidur dan mendorong Dinda ke depan. Dia sudah tak tahan lagi mendengar desahan dan melihat anak majikannya itu bergoyang liar di atas penis Jajang, dia harus menyodokkan penisnya ke dalam tubuh indah yang ada di atas Jajang itu.
“mau apa, Pak ?!”, tanya Dinda yang merasakan sesuatu pada pintu masuk lubang pantatnya.
“udah gak tahan, non..pengen nyodok pantatnya non Dinda ! HEHEHEHE !!”.
“jangan, Pak !”, Dinda langsung menutupi pantatnya dengan kedua tangannya.
Jajang langsung mengambil kedua tangan Dinda dan menindihnya di bawah punggungnya.
“egh ! jangan, Pak ! aku nggak mau !!”. Rasanya lucu melihat Dinda menolak pantatnya disodomi Sardi jika dilihat dari penis Jajang yang sudah lama menyesakki liang vaginanya. Lagipula, bukan gadis imut itu yang memegang kendali, melainkan Jajang dan Sardi sebab ‘tongkat kendali’ berada di tubuh kedua pria tua itu. Sedangkan, tubuh Dinda hanyalah ‘kapal’ nafsu birahi yang sebentar lagi akan ‘dinahkodai’ oleh 2 orang sekaligus.
“non Dinda tenang aja. lebih enak kok disodok depan belakang..hehehe”, bisik Jajang.
“jangaan, Pak ! jaang…HMMMPPFFHHH !!!”, Dinda menggigit bibir bawahnya dengan kencang. Rasanya luar biasa perih di pantatnya. Seakan lubang pantatnya akan terkoyak.
“HEENNGGHHH !!! AAAKKHHH !!”. Sardi masa bodoh dengan rintihan kesakitan Dinda. Dia terlalu asik mendorong penisnya masuk ke dalam lubang anus Dinda yang sempit luar biasa.
“EEEGGGHHH !”. Air mata keluar dari sela-sela matanya, perih luar biasa.
Nafas Dinda terasa pendek sekali, bagian bawah tubuhnya sungguh tak nyaman. Tak nyaman karena terasa penuh berjejalan. Kedua lubang di bagian bawah tubuhnya disumbat oleh 2 batang penis yang besar. Sardi diam tak bergerak, penisnya sudah tak bisa masuk lagi ke dalam liang anus Dinda. Jajang juga tak menggerakkan ‘tiang’ miliknya. Meski bejat, tapi mereka masih memikirkan anak majikannya yang kelihatan belum beradaptasi. 2 pria tua itu cukup mengerti keadaan Dinda. Gadis imut itu baru pertama kali disetubuhi tapi sudah disodok depan belakang sekaligus, pastilah ‘berat’ baginya. Dinda belum pernah merasakan seperti ini. Bagian bawah tubuhnya benar-benar terasa penuh sesak. Sementara Jajang dan Sardi sedang menikmati betapa hangat dan sempitnya lubang di tubuh anak majikannya, khususnya Sardi. Dinda yang sedang menahan sakit tentu secara alami mengencangkan pantatnya, dan tentu liang anusnya yang semakin mengecil membuat penis Sardi semakin ‘tercekik’ di dalamnya.
Bisa dibilang, posisi Dinda sudah ‘terkunci’. Dengan penis pembantunya yang mengait vaginanya dengan kuat dan penis supirnya yang menancap di liang anusnya dengan kokoh, tentu membuat Dinda tak bisa kabur kemana-mana. Gadis cantik itu tak akan bisa meloloskan diri dari himpitan Jajang dan Sardi selama batang kejantanan Jajang dan Sardi masih nyangkut di 2 lubangnya. Melihat posisinya sekarang, tubuh Dinda bagai jembatan penghubung saja. Jembatan yang menghubungkan antara organ kejantanan Sardi dengan organ kejantanan Jajang. Mendengar irama nafas Dinda yang mulai teratur, Jajang iseng menggerakkan penisnya sedikit.
“aammhh…”, lirih Dinda pelan yang menandakan rasa pedih di pantatnya sudah agak mereda. Jajang mengenyot-enyot payudara kiri Dinda sementara Sardi menciumi tengkuk leher Dinda. Kedua pria tua itu merangsang Dinda agar membuat ABG cantik itu ‘nyaman’ alias rasa sakit dari lubang anusnya yang baru saja diperawani segera hilang.
“non…Pak Sardi mulai yaa..”, bisik Sardi sambil terus menciumi tengkuk leher Dinda.
“pe..pelan..pelan..Paakh”, pinta Dinda pelan.
“iya, non…”. Sesuai permintaan, Sardi menarik penisnya dengan sangat perlahan dan sedikit sebelum mendorong masuk ke dalam lagi. Meski sama-sama kasar dan bejat pada awalnya, tapi Jajang dan Sardi cukup ‘lembut’ juga terhadap Dinda. Mungkin karena Dinda yang tak melakukan perlawanan berarti dan bisa dibilang cukup ‘kooperatif’, Sardi dan Jajang jadi tak mau menyakiti Dinda.
“EMNNG”, erang Dinda masih merasakan nyeri saat penis Jajang dan Sardi mulai bergerak perlahan. Tarik-dorong-tarik-dorong dan seterusnya. Sardi dan Jajang melakukannya dengan sangat perlahan. Mereka tak ingin ABG cantik yang sedang mereka ‘kait’ itu merasa kesakitan.
“uuuhhmmm mmmhhhh aaahhhhh aahhh !!”, desah Dinda. Akhirnya, Dinda mulai merasakan nikmatnya penetrasi ganda. Gerakan batang keras yang bergerak keluar masuk di liang vagina dan liang anusnya sekaligus, memberikan sensasi yang sungguh luar biasa. Jajang terus menggesek vagina Dinda dan Sardi terus menggosok liang anus Dinda.

Dinda benar-benar terbuai dengan kenikmatan yang ia rasakan. 2 hari yang lalu, bicara dengan cowok saja ia masih malu-malu, tapi kini dia sedang digarap 2 lelaki sekaligus. Nasib yang sama sekali tak terduga.
“OOOHH PAAKKHH OOOHHHH AAAHHHH !!!!”, erang Dinda melepaskan puncak kenikmatannya. Orgasmenya tentu lebih cepat dari sebelumnya. Sementara Sardi dan Jajang masih tenang ‘menggaruki’ liang vagina dan liang anus Dinda. Kadang saat Jajang mendorong penisnya, Sardi menarik penisnya, dan sebaliknya. Dan kadang, Sardi dan Jajang sama-sama menarik dan sama-sama mendorong penisnya. Variasi gerakan kedua pria tua itu membuat Dinda bahkan lebih cepat orgasme dari sebelumnya. Apalagi saat Sardi dan Jajang menarik penisnya bersamaan, membuat Dinda merasa ditarik ke 2 arah berlawanan secara bersamaan, sungguh sensasi yang benar-benar luar biasa. Jika saja ada yang masuk ke kamar Dinda saat ini, pasti akan langsung tercengang dengan apa yang ada di atas ranjang.
Seorang ABG cantik dengan tubuh yang begitu putih mulus terhimpit di antara dua tubuh hitam, dan 2 penis yang keluar masuk dari depan dan belakang. Gerakan penis Jajang dan Sardi begitu kompak, merojoki tubuh yang ada di tengah-tengah mereka. Desahan Dinda pun begitu lepas, dia benar-benar sedang dilanda kenikmatan. Wajahnya menunjukkan semuanya. Jajang-Dinda-Sardi, ketiganya begitu menikmati persenggamaan mereka. Tak hanya Sardi dan Jajang, Dinda juga tak ingin kenikmatan yang sedang dirasakannya berakhir. Kalau saja Dinda tahu kalau ‘diperkosa’ 2 pria sekaligus rasanya senikmat seperti sekarang, pasti Dinda sudah meminta supir dan pembantunya itu untuk menyenggamainya sedari dulu.
“AAH AAH NONNHH !!! AAAAKHHHHH !!!! CRROOTT !! CRROOOT CROOOTT !!!!”. Jajang menusukkan penisnya ke atas sampai mentok di vagina Dinda untuk ‘menembak’ sel telur Dinda dalam jarak sedekat mungkin. Letupan sperma Jajang sangat kuat. Lebih dari 5x letupan sperma ditembakkan Jajang, menghangatkan rahim dari anak majikannya itu.
“mmmm”. Dinda merasakan rasa hangat di rahimnya. Rasa hangat yang membuat alat kelaminnya terasa begitu nyaman.
“Di angkat non Dinda…”. Tanpa mencabut keluar penisnya dari anus Dinda, Sardi mendekap tubuh Dinda dan mengangkatnya dari atas Jajang. Jajang langsung menyingkir.
“emmhhh mmhhh”. Sungguh terlihat seksi saat Dinda bertumpu pada lututnya di atas tempat tidur sementara tangan supirnya melingkar di pinggangnya. Apalagi saat Dinda menengok ke belakang agar Sardi bisa mencumbu bibirnya sambil terus disodomi di pantatnya oleh supirnya itu. Seperti adegan seksual yang biasa ditampilkan di film-film biru. Tangan Sardi pun asik meremas-remas kedua kemasan susu Dinda yang membusung ke depan karena posisinya yang sekarang. Jajang menyaksikan Dinda yang begitu menikmati berciuman sambil disodomi Sardi. Terlihat sensual sekali anak majikannya itu. Tanpa disuruh, Dinda menurunkan bagian atas tubuhnya. Kini, dia bertumpu pada kedua lutut dan tangannya. Posisi yang sangat jelas memberi sinyal kepada Sardi.
Sinyal yang memberi tahu kalau ABG imut itu ingin disodok sekuat-kuatnya dari belakang.
“OOOHHH !!! TEERUUSSHH PAAKKHHH !!! OOOHHHH !!! YEESSHHH !!!”. Sardi semakin nafsu menghentak-hentakkan penisnya setelah mendengar suara desahan Dinda. Mulai dari menarik kedua tangan Dinda, mendekap tubuh Dinda, dan berpegangan pada pinggang Dinda, semuanya Sardi lakukan agar bisa menyodok anus Dinda sekuat-kuatnya.
“pook !! pook !! pokk !! pook !!!”, suara tumbukan antara selangkangan Sardi dengan kedua bongkahan pantat Dinda yang montok itu. Tak hanya Sardi yang ‘bekerja’, tapi Dinda juga melakukan umpan balik yang sangat membantu. Saat Sardi menusukkan penisnya maju, Dinda memundurkan pantatnya. Benar-benar gerakan yang padu dan harmonis bagi 2 insan yang umurnya terpaut jauh itu.
“oooh ohhh oohhh”. Desahan mereka berdua saling bersahut-sahutan, mereka berdua bermandikan keringat mereka masing-masing.
“PAAAKKKHHH !!!!!!”.
“NOONNNHHH !!!”. Tubuh mereka berdua sama-sama mengejang dan kaku.
Dari kepala sampai pangkal penis Sardi semuanya terkubur dalam di anus Dinda. Rasa hangat kini dirasakan Dinda di liang anusnya juga. Vaginanya terasa hangat juga. Campuran darah + cairan vagina + sperma Jajang meleleh keluar dari vagina Dinda. Sardi mencabut penisnya, puas sekali rasanya.
“hhh hhh”. Bagai robot kehilangan sumber tegangan, tubuh Dinda langsung ambruk dan telungkup di atas tempat tidur. Benar-benar lelah sekali rasanya, seperti habis lari 10 km, perasaan Dinda. Padahal tadi sama sekali tak terasa lelah. Nafasnya terengah-engah, keringat bercucuran dimana-mana namun Dinda merasa hangat dan nyaman di liang vagina dan anusnya. Dinda menengok ke belakang saat merasa kedua bongkahan pantatnya diremas-remas.
“non, Pak Jajang nyobain pantatnya ya, tadi kan belom HEHEHE”.
“mmhh..”, jawab Dinda dengan suara lemah. Tentu dia tahu, dia tak bisa menolak pembantunya itu. Kondisinya yang lemah dan juga ada keinginan untuk lagi membuat Dinda pasrah terhadap apa yang akan dilakukan supir dan pembantunya yang kelihatannya akan ‘berdiri tegak’ secara bergantian.
Seharian itu, Jajang dan Sardi memaksa Dinda untuk melayani nafsu bejat mereka terus menerus. Kedua pria tua mesum itu ternyata memiliki stamina seperti kuda liar. Tenaga mereka seakan tak habis-habis untuk ‘menjajah’ tubuh semok anak majikan mereka itu, tongkat mereka seakan tak mau beristirahat, selalu bisa berdiri kembali setelah istirahat beberapa menit saja. Entah mereka benar-benar perkasa, menggunakan obat kuat, atau punya ajian tertentu. Dinda pun secara mengejutkan juga mempunyai stamina yang luar biasa untuk wanita yang baru pertama kali berhubungan intim. Meski dia sudah sangat lemas sampai tak bisa mendesah, tapi setidaknya dia masih sadar meskipun Jajang dan Sardi terus menerus menggempurnya secara bergantian. Memang tak masuk akal, namun sampai malam mereka bertiga masih asik berpesta sex. Jajang dan Sardi begitu ketagihan dengan liang vagina Dinda yang luar biasa sempit, dan anusnya apa lagi, lebih sempit. Rasa nikmat yang berkelanjutan tentu membuat perubahan psikologis pada Dinda.
Kini, artis imut itu malah menyukai saat benda tumpul Jajang atau Sardi masuk ke dalam tubuhnya, mengisi relung vagina atau anusnya. Akhirnya mereka bertiga tertidur, tak kuat lagi. Sungguh hari yang menyenangkan dan memuaskan bagi Jajang dan Sardi, penis mereka sudah kering kerontang, isinya kini ada di dalam tubuh anak majikan mereka, membanjiri rahim dan anusnya serta membasahi tenggorokannya. Dan untuk Dinda, entahlah, hari yang menyenangkan juga atau hari paling sial baginya. Tapi, wajah Dinda terlihat ‘lega’ dan lepas. Saking banjirnya rahim Dinda, lelehan-lelehan cairan terus keluar dari vagina Dinda. Kalau Dinda sampai hamil, mungkin mereka bertiga pun takkan tahu siapa ayahnya sebab kedua pria tua itu sama-sama ikut ambil bagian dari proses pembuatannya dan sama-sama ‘menanam saham’ di rahim Dinda berkali-kali. Satu hal yang pasti, sperma Jajang dan Sardi tercampur dengan rata di dalam rahim Dinda. Selama tertidur, sperma-sperma Jajang dan Sardi sedang berusaha menjebol pertahanan rahim gadis cantik itu.
Dinda membuka matanya, sepertinya sudah pagi. Dia baru sadar kalau ada dua buah tangan di kedua buah payudaranya. Kedua tangan itu pastilah tangan Sardi dan Jajang. Kemarin, seharian, artis imut itu dijajah habis-habisan oleh 2 pria tua itu. Karena memang cuma bertiga, Sardi dan Jajang bisa puas menggumuli Dinda, menikmati tubuh sintalnya tanpa takut ketahuan orang tua gadis imut itu. Daerah intim Dinda sudah benar-benar berantakan. Noda-noda putih yang telah mengering seakan-akan menjadi hiasan selangkangan Dinda. Selama sehrian penuh kemarin, Dinda harus melayani 2 pria yang telah menjadikannya sebagai budak seks. Bahkan Dinda sama sekali tak bisa turun dari tempat tidurnya kecuali ke kamar mandi, itu pun digendong Jajang atau Sardi. Dia terus dicabuli kedua pelayannya. Sardi dan Jajang tak membiarkan anak majikannya yang imut itu kemana-mana. Dinda tak bisa kabur, jika Dinda beralasan lapar atau haus, Sardi akan turun mengambilkannya sementara Jajang menindih dan mencumbui Dinda sehingga gadis cantik itu tak bisa melarikan diri.
Dinda memegang perutnya, entah sudah berapa liter sperma yang telah menggenang di rahimnya. Dinda sama sekali tak bisa membayangkan kalau dia sampai hamil. Anehnya, pikiran Dinda bukan takut apa yang akan terjadi pada kehidupannya. Tapi, dia berpikir siapa ayahnya ? tak mungkin dia mengetahui siapa yang telah menghamilinya. Apakah nanti dia akan mempunyai 2 orang suami ?, pikir Dinda yang malah memancing gairahnya. Seharian penuh ‘diguncang’ 2 pria perkasa sepertinya mulai mengubah Dinda.
“Pak Jajang, Pak Sardi bangun dong”.
“ha ? emm ? apa ? siapa ? kenapa ?”.
“ha ? apaan sih ?”.
“bangun, udah pagi nih”, ujar Dinda yang anehnya terdengar agak manja.
“ha ? iyaa..”. Tapi mereka berdua sama sekali tak bergerak. Dinda pun menyingkirkan tangan Jajang dan Sardi dari kedua buah payudaranya. Dia turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.
Berbeda sekali, hawa kamar mandi dengan hawa kamarnya. Di kamar mandinya, Dinda mencium aroma segar dan wangi, namun di kamarnya, aroma alat kelamin dan persetubuhan begitu kental. Sambil mandi dan membersihkan tubuhnya, Dinda mengingat-ingat apa yang telah terjadi kemarin.
“ayo dong, bangun”. Mencium aroma harum, Sardi membuka matanya perlahan. Dan ketika melihat sesosok tubuh putih mulus di ambang pintu kamar mandi, mata Sardi langsung terbuka lebar. Dinda tersenyum ketika Sardi melongok memandangi tubuhnya.
“Jang ! Jang ! bangun, Jang !”.
“ha ? apaan sih ?”.
“noh liat !”. Jajang juga melongok melihat Dinda yang berdiri di ambang pintu kamar mandi tanpa sehelai benang pun menempel di tubuh sintalnya. Meski sudah melihat tubuh telanjang Dinda kemarin, tapi melihat gadis cantik itu berdiri tanpa mengenakan apapun dan tanpa malu-malu adalah sebuah pemandangan yang benar-benar sempurna untuk sebuah pagi cerah bagi Jajang dan Sardi.
“wah, non Dinda udah mandi nih ?”.
“iyaa..”, jawab Dinda sambil tersenyum.
“oh iyaa..sekarang hari senin..non Dinda mesti berangkat sekolah..”. Meski kurang ajar telah membuat Dinda melayani nafsu bejat mereka semalaman kemarin, tapi Jajang dan Sardi masih sadar kalau harus melayani anak majikannya itu untuk berangkat sekolah.
“enng..aku gak mau sekolah hari ini…”.
“lho ? kenapa, non ?”.
“enngg…akuu..akuu..”, Dinda menggigit bibir bawahnya. Gelagat artis imut itu tentu ‘mengundang’ Jajang dan Sardi untuk mendekatinya. Dengan kompak, Jajang dan Sardi masing-masing menggenggam bongkahan pantat Dinda yang empuk nan kenyal itu.
“jangan-jangan non Dinda mau kita entotin lagi kayak kemaren ya ?”, tanya Sardi yang pikirannya sudah sangat penuh dengan pikiran mesum terhadap anak majikannya yang cantik itu. Dinda mengangguk perlahan, wajahnya agak memerah, dia merasa malu untuk mengakuinya.
“jadi non Dinda mau bolos supaya bisa ngelayanin kita di ranjang ya ? hehe”, ujar Jajang melecehkan Dinda.
“mm..iyaa”, jawab Dinda, menambah warna merah di wajahnya.
“non Dinda suka kita entotin ?”.
“hm mh”. Tubuh Dinda justru terasa menghangat mendengar lecehan-lecehan Jajang dan Sardi yang merendahkan dirinya.
“berarti mulai sekarang non Dinda harus mau kita entot kapan aja n’ dimana aja kita mau..”.
“iyaa, Pak…”, jawab Dinda yang mulai terangsang. Jajang dan Sardi asik mengendusi tubuh sang gadis bertubuh sintal nan berkulit putih mulus. Aroma tubuh Dinda yang segar dan harum tentu membangkitkan gairah 2 pria tua itu dengan sangat cepat. Senjata mereka berdua juga sudah sangat siap. Bukan siap untuk menjajah lagi, tapi mungkin, lebih tepat jika dikatakan siap ‘mengawal’ sang artis imut bernama Dinda Kirana di atas singgasananya alias ranjangnya yang sudah awut-awutan dan noda sperma dimana-mana. Namun di tempat itulah, 2 orang pria tua dan seorang gadis muda merasa nyaman untuk merasakan nikmatnya dunia. Kali ini, Dinda melayani Jajang dan Sardi dengan sepenuh hati, tak segan-segan memberikan tubuhnya kepada pembantu dan supirnya itu. Dan hari itu, seperti kemarin, Dinda lalui tanpa turun dari ranjang, tapi kali ini, atas kemauan Dinda sendiri. Dan mungkin hari-hari selanjutnya akan seperti itu jika keadaan memungkinkan sebab Dinda kini sudah bertekad bulat untuk menyediakan rahimnya untuk Jajang dan Sardi. Dihamili Jajang dan Sardi merupakan keinginan terbesar Dinda saat ini. Desahan mulai terdengar lagi dari kamar gadis imut itu seketika Jajang dan Sardi mulai menggumulinya lagi. Keesokan harinya, Dinda terbangun karena alarmnya, jam setengah 6 pagi. Jajang mendekap gadis cantik itu dari belakang dan Sardi memeluknya dari depan. Baik 2 pria tua itu maupun si artis cantik sama-sama tak mengenakan pakaian apapun. Sejak dari minggu pagi sampai selasa pagi, tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh seksi Dinda, semuanya terbuka, bebas untuk digeluti oleh kedua pejantannya, siapa lagi kalau bukan Jajang dan Sardi. Sang pemerkosa Dinda yang malah jadi ‘majikan’ Dinda sejak pagi kemarin.
“Pak Jajang, Pak Sardi, bangun..”, ujar Dinda dengan suara yang begitu lembut dan manja seperti seorang istri yang sedang membangunkan suaminya. Tapi, untuk kasus Dinda, istri yang sedang membangunkan suami-suaminya.
“udah pagi ya, non ?”.
“iyaa, Pak..ayo dong, bangun, aku kan mau sekolah..”.
“iya, non..”. Jajang dan Sardi melepaskan pelukannya. Dinda pun bangun dan menuju kamar mandi. Sama halnya seperti kemarin, dia berjalan dengan agak tertatih-tatih. Selama 2×24 jam, meskipun tak terus menerus, alat kelamin dan duburnya disodok oleh 2 benda tumpul yang tergolong besar dan keras, tak mungkin jika selangkangan artis imut yang baru merasakan nikmatnya proses reproduksi itu tak terasa ngilu. Dinda keluar kamar mandi, Jajang dan Sardi sudah tak ada, begitu juga dengan sprei, selimut, bantal, dan juga gulingnya sudah tak ada di ranjangnya. Dinda memakai seragam sekolahnya. Akhirnya, setelah melalui 2 hari tanpa pakaian, dia bisa merasakan betapa hangatnya jika memakai pakaian. Dinda keluar dari kamar dan menuju ruang makan.
“non, sarapan udah siap”, ucap Jajang.
“iyaa, Pak. makasih yaa..oh iyaa, Pak..seprei, selimut, bantal sama guling di cuci yaa ?”.
“iya, non..abisnya bau sih hehe”.
“ntar sekalian dikasih pewangi ruangan yaa, Pak ?”.
“emangnya kenapa, non ?”.
“masih bau, Pak ?”.
“bau apa, non ?”, goda Jajang.
“..engg…”.
“bau apa, non ? Pak Jajang nggak ngerti ?”.
“mm..bau…”. Wajah Dinda menjadi merah, dia menatap ke bawah. Dia tahu kata apa yang mesti diucapkan, tapi rasanya malu sekali untuk mengatakannya, masalahnya dia belum pernah mengucapkannya. Dan dia tahu kalau Jajang sedang melecehkannya, menggodanya, dan memaksanya secara halus untuk mengatakan ‘kata’ itu.
“bau apa sih non ?”, Jajang tersenyum licik.
“nng..ba..bau peju..”, ucap Dinda cepat, wajahnya merah bagai tomat.
“oh bau peju..bilang dong, non HAHAHA !! iya, ntar Pak Jajang semprot pake pewangi ruangan”. Anehnya, dilecehkan seperti itu, Dinda serasa tak bisa marah kepada Jajang, dia hanya bisa menahan rasa malunya, menerima pelecehan dari Jajang.
“Pak Jajang, aku berangkat sekolah dulu yaa”. Tiba-tiba Jajang langsung menarik Dinda ke pelukannya dan melumat bibirnya.
“emmhh mmhhh uummmhhh”. Dinda seakan tak bisa menolak, dia membiarkan pembantunya itu melumat bibirnya sesukanya.
Dengan leluasa, Jajang menyedot bibir anak majikannya yang cantik jelita itu sambil asik meremasi pantat Dinda juga.
“ccpphh sspphh”. Lidah Jajang menyelip masuk ke dalam mulut Dinda dengan mudahnya.
“Pak..aku..mau..berangkat…”, ucap Dinda terputus-putus saat Jajang mengecupi bibirnya.
“oh iya, non..hehe..maaf, Pak Jajang lupa hehe..”. Dinda tersenyum dan mengelap mulutnya yang berlumuran air liur Jajang dengan tisu dari meja makan. Dinda sebagai anak yang punya rumah seolah tak punya rantai komando lagi di rumahnya sendiri karena peristiwa yang baru saja terjadi menegaskan kalau Jajang dan Sardi lah yang berkuasa sedangkan Dinda lah yang menjadi ‘pelayan’nya. Buktinya, tadi Jajang bisa mencumbu bibir anak majikannya itu tanpa mendapatkan perlawanan sedikit pun.
“non Dinda, pulang sekolah langsung pulang ya ?”.
“kenapa, Pak ?”.
“Pak Jajang udah kangen ngeliat non Dinda nggak pake baju hehe”, bisik Jajang sambil meniup telinga Dinda. Dinda pun tersenyum malu mendengar kata-kata pembantunya itu yang sebenarnya sangat merendahkan dirinya sebagai anak majikan.
“ayo, Pak. kita berangkat..”.
“non Dinda duduk di depan dong..”. Tanpa sadar, Dinda menuruti Sardi yang sebenarnya memberi perintah kepadanya.
“aneh rasanya..”, celetuk Sardi saat menyetir.
“aneh kenapa, Pak ?”.
“aneh ngeliat non Dinda pake baju lagi KEKEKE !!”. Memang enak sekali melecehkan ABG cantik yang menerima semua lecehan dan tak marah, itulah yang dirasakan Jajang dan Sardi sebab anak majikannya itu hanya tertunduk malu dan tak pernah marah walau dilecehkan seperti apapun. Contohnya, kemarin, Dinda menjilati kaki Sardi atas perintah Sardi dan menjilati ketiak Jajang atas perintah Jajang. Semua hal mesum yang pernah dilihat dan didengar Jajang dan Sardi dipraktekkan kepada artis imut itu.
Bagi 2 pria tua seperti Jajang dan Sardi, bisa ‘menguasai’ gadis ABG yang berwajah cantik, bertubuh sexy, dan juga berstatus artis adalah sebuah mimpi yang jadi kenyataan. Dan untuk Dinda, entahlah, apa dia harus merasa sedih atau bagaimana menjadi budak seks bagi 2 pelayannya sebab kata-kata dan perintah cabul dari Sardi dan Jajang yang melecehkannya malah menimbulkan rasa geli dan memancing gairahnya. Dinda sendiri tak tahu telah jadi apa dirinya, pokoknya dia merasa begitu bergairah saat Jajang dan Sardi melecehkannya.
“Pak Sardi, nanti jemput kayak biasa yaa..”.
“iya, non..tapi tunggu dulu, non..”. Sardi menahan tangan Dinda.
“a..”. Belum sempat berkata, bibirnya langsung disambar supirnya itu.
“mmm emmm”. Seperti tadi di rumah, Dinda tak kuasa menolak cumbuan Sardi yang semakin ganas melumat bibir lembut Dinda. Bibir Dinda memang sangat lembut, tak heran Jajang dan Sardi begitu ketagihan mencumbunya. Bagai lupa segalanya, Dinda malah membalas lidah Sardi, lidah mereka berdua pun saling melilit.
Saat Sardi menarik bibirnya, Dinda malah memajukan mulutnya bagai mencari-cari bibir Sardi.
“non Dinda..enak yaa dicipok Pak Sardi ? KEHEHEHE !!”. Dinda tersadar, matanya terbuka, dan mengulum bibir bawahnya, malu karena memang benar dia menikmati percumbuan tadi. Dinda melihat ke jamnya, jam 06.50.
“aduh, Pak..aku telat..”. Dinda langsung keluar dari mobil dan berlari menuju gerbang sekolah. Saat dia di depan gerbang, dia baru ingat kalau mulutnya basah oleh air liur Sardi sehabis ciuman tadi. Untungnya, dia bawa tisu, dia langsung mengeringkan mulutnya sebelum melewati gerbang sekolah yang sebentar lagi akan ditutup. Seharian, setiap kali Dinda menelan ludah sekedar untuk membasahi tenggorokannya, pasti ada rasa sperma di tenggorokannya. Mungkin karena seharian kemarin, Jajang dan Sardi tak hanya menumpahkan mani mereka ke rahim dan anus Dinda, tapi juga mencekoki gadis imut itu untuk meminum cairan hina dari alat kelamin mereka berkali-kali sampai sang artis cantik selalu merasa seperti sedang menelan sperma. Dinda agak berhati-hati mengobrol dengan teman-temannya, takut mereka bisa mencium aroma sperma dari nafasnya. Melihat tingkah Dinda yang sama seperti hari biasanya, pastilah tak ada yang menduga.
Benar, pasti tak akan ada yang menduga alasan sebenarnya kenapa gadis berparas imut itu tak masuk sekolah kemarin. Bukan karena sakit seperti yang ia bilang, melainkan karena ia sibuk melayani nafsu bejat supir dan pembantunya di atas ranjangnya sendiri seharian. Teman-teman Dinda yang berwajah tampan, kaya, maupun yang pintar hanya bisa melihat tubuh indah Dinda dalam mimpi dan fantasi mereka sama seperti para fans Dinda. Sedangkan Jajang dan Sardi yang tak ayal hanyalah 2 orang pria yang sudah tua, hidup pas-pasan, dan tak sampai mengenyam bangku SMA, mereka bisa melihat tubuh seksi Dinda tanpa ditutupi sehelai benang pun. Bahkan, mereka bisa menyuruh artis berwajah imut nan polos itu apa saja termasuk menari striptease khusus untuk mereka berdua. Sekolah pun usai, namun tak seperti biasa, Dinda sama sekali tak merasa lelah, tubuhnya terasa segar-segar saja, meski memang, rasa ngilu selalu muncul di selangkangannya setiap ia berjalan cepat. Sekolah hari itu pun terasa ‘ringan’ bagi Dinda, dia juga tak tahu mengapa.

Cerita Dewasa Hot Mesum Seks Terbaru Dinda Kirana XXX

Agustus 06, 2018 Add Comment