Tiga Ronde Yang Sangat Luar Biasa

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Tiga Ronde Yang Sangat Luar Biasa Terbaru

Aku (sebut saja Aswin), umur hanpir 40 tahun, postur tubuh biasa saja, seperti rata-rata orang Indonesia, tinggi 168 cm, berat 58 kg, wajah lumayan (kata ibuku), kulit agak kuning, seorang suami dan bapak satu anak kelas satu Sekolah Dasar. Selamat mengikuti pengalamanku.

Cerita yang aku paparkan berikut ini terjadi hari Senin. Hari itu aku berangkat kerja naik bis kota (kadang-kadang aku bawa mobil sendiri). Seperti hari Senin pada umumnya bis kota terasa sulit. Entah karena armada bis yang berkurang, atau karena setiap Senin orang jarang membolos dan berangkat serentak pagi-pagi. Setelah hampir satu jam berlari ke sana ke mari, akhirnya aku mendapatkan bis.
Tiga Ronde Yang Sangat Luar Biasa
Tiga Ronde Yang Sangat Luar Biasa
Dengan nafas ngos-ngosan dan mata kesana kemari, akhirnya aku mendapat tempat duduk di bangku dua yang sudah terisi seorang wanita. Kuhempaskan pantat dan kubuang nafas pertanda kelegaanku mendapatkan tempat duduk, setelah sebelumnya aku menganggukkan kepala pada teman dudukku. Karena lalu lintas macet dan aku lupa tidak membawa bacaan, untuk mengisi waktu dari pada bengong, aku ingin menegur wanita di sebelahku, tapi keberanianku tidak cukup dan kesempatan belum ada, karena dia lebih banyak melihat ke luar jendela atau sesekali menunduk.

Tiba-tiba ia menoleh ke arahku sambil melirik jam tangannya.
"Mmacet sekali ya?" katanya yang tentu ditujukan kepadaku.
"Biasa Mbak, setiap Senin begini. Mau kemana?" sambutku sekaligus membuka percakapan.
"Oh ya. Saya dari Cikampek, habis bermalam di rumah orang tua dan mau pulang ke Pondok Indah," jawabnya.
Belum sempat aku buka mulut, ia sudah melanjutkan pembicaraan,
"Kerja dimana Mas?"
"Daerah Sudirman," jawabku.

Obrolan terus berlanjut sambil sesekali aku perhatikan wajahnya. Bibirnya tipis, pipinya halus, dan rambutnya berombak. Sedikit ke bawah, dadanya tampak menonjol, kenyal menantang. Aku menelan ludah. Kuperhatikan jarinya yang sedang memegang tempat duduk di depan kami, lentik, bersih terawat dan tidak ada yang dibiarkan tumbuh panjang. Dari obrolannya keketahui ia (sebut saja Mamah) seorang wanita yang kawin muda dengan seorang duda beranak tiga dimana anak pertamanya umurnya hanya dua tahun lebih muda darinya. Masa remajanya tidak sempat pacaran. Karena waktu masih sekolah tidak boleh pacaran, dan setelah lulus dipaksa kawin dengan seorang duda oleh orang tuanya. Sambil bercerita, kadang berbisik ke telingaku yang otomatis dadanya yang keras meneyentuh lengan kiriku dan di dadaku terasa seer! Sesekali ia memegangi lenganku sambil terus cerita tentang dirinya dan keluarganya. "Pacaran asyik ya Mas?" tanyanya sambil memandangiku dan mempererat genggaman ke lenganku. Lalu, karena genggaman dan gesekan gunung kembar di lengan kiriku, otakku mulai berpikiran jorok. "Kepingin ya?" jawabku berbisik sambil mendekatkan mulutku ke telinganya. Ia tidak menjawab, tapi mencubit pahaku.

Tanpa terasa bis sudah memasuki terminal Blok M, berarti kantorku sudah terlewatkan. Kami turun. Aku bawakan tasnya yang berisi pakaian menuju kafetaria untuk minum dan meneruskan obrolan yang terputus. Kami memesan teh botol dan nasi goreng. Kebetulan aku belum sarapan dan lapar. Sambil menikmati nasi goreng hangat dan telor matasapi, akhirnya kami sepakat mencari hotel. Setelah menelepon kantor untuk minta cuti sehari, kami berangkat.

Sesampai di kamar hotel, aku langsung mengunci pintu dan menutup rapat kain horden jendela. Kupastikan tak terlihat siapapun. Lalu kulepas sepatu dan menghempaskan badan di kasur yang empuk. Kulihat si Mamah tak tampak, ia di kamar mandi. Kupandangi langit-langit kamar, dadaku berdetak lebih kencang, pikiranku melayang jauh tak karuan. Senang, takut (kalau-kalau ada yang lihat) terus berganti. Tiba-tiba terdengar suara tanda kamar mandi dibuka. Mamah keluar, sudah tanpa blaser dan sepatunya. Kini tampak di hadapanku pemandangan yang menggetarkan jiwaku. Hanya memakai baju putih tipis tanpa lengan. Tampak jelas di dalamnya BH hitam yang tak mampu menampung isinya, sehingga dua gundukan besar dan kenyal itu membentuk lipatan di tengahnya. Aku hanya bisa memandangi, menarik nafas serta menelan ludah.

Mungkin ia tahu kalau aku terpesona dengan gunung gemburnya. Ia lalu mendekat ke ranjang, melatakkan kedua tangannya ke kasur, mendekatkan mukanya ke mukaku, "Mas.." katanya tanpa melanjutkan kata-katanya, ia merebahkan badan di bantal yang sudah kusiapkan. Aku yang sudah menahan nafsu sejak tadi, langsung mendekatkan bibirku ke bibirnya. Kami larut dalam lumat-lumatan bibir dan lidah tanpa henti. Kadang berguling, sehingga posisi kami bergantian atas-bawah. Kudekap erat dan kuelus punggungnya terasa halus dan harum. Posisi ini kami hentikan atas inisiatifku, karena aku tidak terbiasa ciuman lama seperti ini tanpa dilepas sekalipun. Tampak ia nafsu sekali. Aku melepas bajuku, takut kusut atau terkena lipstik. Kini aku hanya memakai CD. Ia tampak bengong memandangi CD-ku yang menonjol. "Lepas aja bajumu, nanti kusut," kataku. "Malu ah.." katanya. "Kan nggak ada yang lihat. Cuma kita berdua," kataku sambil meraih kancing paling atas di punggungnya. Dia menutup dada dengan kedua tangannya tapi membiarkan aku membuka semua kancing. Kulempar bajunya ke atas meja di dekat ranjang. Kini tinggal BH dan celana panjang yang dia kenakan. Karena malu, akhirnya dia mendekapku erat-erat. Dadaku terasa penuh dan empuk oleh susunya, nafsuku naik lagi satu tingkat, "burung"-ku tambah mengencang.

Dalam posisi begini, aku cium dan jilati leher dan bagian kuping yang tepat di depan bibirku. "Ach.. uh.." hanya itu yang keluar dari mulutnya. Mulai terangsang, pikirku. Setelah puas dengan leher dan kuping kanannya, kepalanya kuangkat dan kupindahkan ke dada kiriku. Kuulangi gerakan jilat leher dan pangkal kuping kirinya, persis yang kulakukan tadi. Kini erangannya semakin sering dan keras. "Mas.. Mas.. geli Mas, enak Mas.." Sambil membelai rambutnya yang sebahu dan harum, kuteruskan elusanku ke bawah, ke tali BH hingga ke pantatnya yang bahenol, naik-turun.

Selanjutnya gerilyaku pindah ke leher depan. Kupandangi lipatan dua gunung yang menggumpal di dadanya. Sengaja aku belum melepas BH, karena aku sangat menikmati wanita yang ber-BH hitam, apalagi susunya besar dan keras seperti ini. Jilatanku kini sampai di lipatan susu itu dan lidahku menguas-nguas di situ sambil sesekali aku gigit lembut. Kudengar ia terus melenguh keenakan. Kini tanganku meraih tali BH, saatnya kulepas, ia mengeluh, "Mas.. jangan, aku malu, soalnya susuku kegedean," sambil kedua tangannya menahan BH yang talinya sudah kelepas. "Coba aku lihat sayang.." Kataku memindahkan kedua tangannya sehingga BH jatuh, dan mataku terpana melihat susu yang kencang dan besar. "Mah.. susumu bagus sekali, aku sukaa banget," pujiku sambil mengelus susu besar menantang itu. Putingnya hitam-kemerahan, sudah keras.

Kini aku bisa memainkan gunung kembar sesukaku. Kujilat, kupilin putingnya, kugigit, lalu kugesek-gesek dengan kumisku, Mamah kelojotan, merem melek, "Uh.. uh.. ahh.." Setelah puas di daerah dada, kini tanganku kuturunkan di daerah selangkangan, sementara mulut masih agresif di sana. Kuusap perlahan dari dengkul lalu naik. Kuulangani beberapa kali, Mamah terus mengaduh sambil membuka tutup pahanya. Kadang menjepit tangan nakalku. Semua ini kulakukan tahap demi tahap dengan perlahan. Pertimbanganku, aku akan kasih servis yang tidak terburu-buru, benar-benar kunikmati dengan tujuan agar Mamah punya kesan berbeda dengan yang pernah dialaminya. Kuplorotkan celananya. Mamah sudah telanjang bulat, kedua pahanya dirapatkan. Ekspresi spontan karena malu.

Kupikir dia sama saja denganku, pengalaman pertama dengan orang lain. Aku semakin bernafsu. Berarti di hadapanku bukan perempuan nakal apalagi profesional. Kini jari tengahku mulai mengelus perlahan, turun-naik di bibir vaginanya. Perlahan dan mengambang. Kurasakan di sana sudah mulai basah meski belum becek sekali. Ketika jari tengahku mulai masuk, Mamah mengaduh, "Mas.. Mas.. geli.. enak.. terus..!" Kuraih tangan Mamah ke arah selangkanganku (ini kulakukan karena dia agak pasif. Mungkin terbiasa dengan suami hanya melakukan apa yang diperintahkan saja). "Mas.. keras amat.. Gede amat?" katanya dengan nada manja setelah meraba burungku. "Mas.. Mamah udah nggak tahan nikh, masukin ya..?" pintanya setengah memaksa, karena kini batangku sudah dalam genggamannya dan dia menariknya ke arah vagina. Aku bangkit berdiri dengan dengkul di kasur, sementara Mamah sudah dalam posisi siap tembak, terlentang dan mengangkang. Kupandangi susunya keras tegak menantang.

Ketika kurapatkan "senjataku" ke vaginanya, reflek tangan kirinya menangkap dan kedua kakinya diangkat. "Mas.. pelan-pelan ya.." Sambil memejamkan mata, dibimbingnya burungku masuk ke sarang kenikmatan yang baru saja dikenal. Meski sudah basah, tidak juga langsung bisa amblas masuk. Terasa sempit. Perlahan kumasukkan ujungnya, lalu kutarik lagi. Ini kuulangi hingga empat kali baru bisa masuk ujungnya. "Sret.. sret.." Mamah mengaduh, "Uh.. pelan Mas.. sakit.." Kutarik mundur sedikit lagi, kumasukkan lebih dalam, akhirnya.. "Bles.. bles.." barangku masuk semua. Mamah langsung mendekapku erat-erat sambil berbisik, "Mas.. enak, Mas enak.. enak sekali.. kamu sekarang suamiku.." Begitu berulang-ulang sambil menggoyangkan pinggul, tanpa kumengerti apa maksud kata "suami".

Mamah tiba-tiba badannya mengejang, kulihat matanya putih, "Aduuh.. Mas.. aku.. enak.. keluaar.." tangannya mencengkeram rambutku. Aku hentikan sementara tarik-tusukku dan kurasakan pijatan otot vaginanya mengurut ujung burungku, sementara kuperhatikan Mamah merasakan hal yang sama, bahkan tampak seperti orang menggigil. Setelah nafasnya tampak tenang, kucabut burungku dari vaginanya, kuambil celana dalamnya yang ada di sisi ranjang, kulap burungku, juga bibir vaginanya. Lantas kutancapkan lagi. Kembali kuulangi kenikmatan tusuk-tarik, kadang aku agak meninggikan posisiku sehingga burungku menggesek-gesek dinding atas vaginanya. Gesekan seperti ini membuat sensasi tersendiri buat Mamah, mungkin senggamanya selama ini tak menyentuh bagian ini. Setiap kali gerakan ini kulakukan, dia langsung teriak, "Enak.. terus, enak terus.. terus.." begitu sambil tangannya mencengkeram bantal dan memejamkan mata. "Aduuhm Mas.. Mamah keluar lagi niikh.." teriaknya yang kusambut dengan mempercepat kocokanku.

Tampak dia sangat puas dan aku merasa perkasa. Memang begitu adanya. Karena kalau di rumah, dengan istri aku tidak seperkasa ini, padahal aku tidak pakai obat atau jamu kuat. Kurasakan ada sesuatu yang luar biasa. Kulirik jam tanganku, hampir satu jam aku lakukan adegan ranjang ini. Akhirnya aku putuskan untuk terus mempercepat kocokanku agar ronde satu ini segera berakhir. Tekan, tarik, posisi pantatku kadang naik kadang turun dengan tujuan agar semua dinding vaginanya tersentung barangku yang masih keras. Kepala penisku terasa senut-senut,
"Mah.. aku mau keluar nikh.." kataku.
"He.. eeh.. terus.. Mas, aduuh.. gila.. Mamah juga.. Mas.. terus.. terus.."
"Crot.. crot.." maniku menyemprot beberapa kali, terasa penuh vaginanya dengan maniku dan cairannya. Kami akhiri ronde pertama ini dengan klimaks bareng dan kenikmatan yang belum pernah kurasakan. Satu untukku dan tiga untuk Mamah.

Setelah bersih-bersih badan, istirahat sebentar, minum kopi, dan makan makanan ringan sambil ngobrol tentang keluarganya lebih jauh. Mamah semakin manja dan tampak lebih rileks. Merebahkan kepalanya di pundakku, dan tentu saja gunung kembarnya menyentuh badanku dan tangannya mengusap-usap pahaku akhirnya burungku bangun lagi. Kesempatan ini dipergunakan dengan Mamah. Dia menurunkan kepalanya, dari dadaku, perut, dan akhirnya burungku yang sudah tegang dijilatinya dengan rakus. "Enak Mas.. asin gimana gitu. Aku baru sekali ini ngrasain begini," katanya terus terang. Tampak jelas ia sangat bernafsu, karena nafasnya sudah tidak beraturan. "Ah.." lenguhnya sambil melepas isapannya. Lalu menegakkan badan, berdiri dengan dengkul sebagai tumpuan. Tiba-tiba kepalaku yang sedang menyandar di sisi ranjang direbahkan hingga melitang, lalu Mamah mengangkangiku.

Posisi menjadi dia persis di atas badanku. Aku terlentang dan dia jongkok di atas perutku. Burungku tegak berdiri tepat di bawah selangkangannya. Dengan memejamkan mata, "Mas.. Mamah gak tahaan.." Digenggamnya burungku dengan tangan kirinya, lalu dia menurunkan pantatnya. Kini ujung kemaluanku sudah menyentuh bibir vaginanya. Perlahan dan akhirnya masuk. Dengan posisi ini kurasakan, benar-benar kurasakan kalau barang Mamah masih sempit. Vagina terasa penuh dan terasa gesekan dindingnya. Mungkin karena lendir vaginanya tidak terlalu banyak, aku makin menikmati ronde kedua ini. "Aduuh.. Mas, enak sekali Mas. Aku nggak pernah sepuas ini. Aduuh.. kita suami istri kan?" lalu.. "Aduuh.. Mamah enak Mas.. mau keluar nikh.. aduuh.." katanya sambil meraih tanganku diarahkan ke susunya. Kuelus, lalu kuremas dan kuremas lagi semakin cepat mengikuti, gerakan naik turun pantatnya yang semakin cepat pula menuju orgasme.

Akhirnya Mamah menjerit lagi pertanda klimaks telah dicapai. Dengan posisi aku di bawah, aku lebih santai, jadi tidak terpancing untuk cepat klimaks. Sedangkan Mamah sebaliknya, dia leluasa menggerakkan pantat sesuai keinginannya. Adegan aku di bawah ini berlangsung kurang lebih 30 menit. Dan dalam waktu itu Mamah sempat klimaks dua kali. Sebagai penutup, setelah klimaks dua kali dan tampak kelelahan dengan keringat sekujur tubuhnya, lalu aku rebahkan dia dengan mencopot burungku. Setelah kami masing-masing melap "barang", kumasukkan senjataku ke liang kenikmatannya. Posisinya aku berdiri di samping ranjang. Pantatnya persis di bibir ranjang dan kedua kakinya di pundakku. Aku sudah siap memulai acara penutupan ronde kedua. Kumulai dengan memasukkan burungku secara perlahan. "Uuh.." hanya itu suara yang kudengar. Kumaju-mundurkan, cabut-tekan, burungku. Makin lama makin cepat, lalu perlahan lagi sambil aku ambil nafas, lalu cepat lagi. Begitu naik-turun, diikuti suara Mamah, "Hgh.. hgh.. " seirama dengan pompaanku.

Setiap kali aku tekan mulutnya berbunyi, "Uhgh.." Lama-lama kepala batanganku terasa berdenyut.
"Mah.. aku mau keluar nikh.."
"Yah.. pompa lagi.. cepat lagi.. Mamah juga Mas.. Kita bareng ya.. ya.. terus.." Dan akhirnya jeritan..
"Aaauh.." menandai klimaksnya, dan kubalas dengan genjotan penutup yang lebih kuat merapat di bibir vagina, "Crot.. crott.." Aku rebah di atas badannya. Adegan ronde ketiga ini kuulangi sekali lagi. Persis seperti ronde kedua tadi.

Pembaca, ini adalah pengalaman yang luar biasa buat saya. Luar biasa karena sebelumnya aku tak pernah merasakan sensasi se-luar biasa dan senikmat ini. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi, meski aku tahu alamatnya. Kejadian ini membuktikan, seperti yang pernah kubaca, bahwa selingkuh yang paling nikmat dan akan membawa kesan mendalam adalah yang dilakukan sekali saja dengan orang yang sama. Jangan ulangi lagi (dengan orang yang sama), sensasinya atau getarannya akan berkurang. Aku kadang merindukan saat-saat seperti ini. Selingkuh yang aman seperti ini.

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Tiga Ronde Yang Sangat Luar Biasa Terbaru

Juli 31, 2018 Add Comment

Diriku Tak Berdaya Di Rangsang Dalam Bis Kota

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Diriku Tak Berdaya Di Rangsang Dalam Bis Kota Terbaru

Nama saya Florence Kim, saya adalah warga Indonesia keturunan Korea yang sekarang sedang berada di Italy untuk tujuan bisnis Saya mempunyai pacar bernama Erick, seorang warga Roma, tapi sekarang saya tidak menceritakan pengalaman saya bersama Erick.

Diriku Tak Berdaya Di Rangsang Dalam Bis Kota
Diriku Tak Berdaya Di Rangsang Dalam Bis Kota
Pagi itu, kami makan pagi berdua sambil ngobrol-ngobrol ringan. Erick ada meeting dengan factory jam 11 pagi, jadi saya mungkin menghabiskan waktu dengan jalan-jalan sendiri, tapi tidak masalah soalnya saya sudah terbiasa kemana-mana sendiri. So, setelah cium perpisahan dengan Erick, saya mulai berbenah diri.

Pagi itu udara summer kebetulan sangat indah buat jalan-jalan. Saya memakai skirt-dress katun pendek, sekitar 10 cm di atas lutut, motif floral, dengan canvas-shoes di padukan dengan straw hat yang saya beli di Yogyakarta. Sip deh, komentar saya setelah mengecek sekali lagi di cermin. Baju ini bagus juga, leher bajunya yang berbentuk kotak, low cut memperlihatkan dada saya yang putih dan berukuran 36B.

Waktu saya turun dari kamar, melewati lobby yang crowded, saya sempat merasa tatapan mata yang tertuju pada saya, apa karena saya manis atau jarang kali ngeliat cewek Asia, tapi lumayanlah buat tambah PD.

Saya berjalan-jalan menyusuri jalan kecil di samping hotel. Tidak lama kemudian saya sudah berada di tengah toko-toko dan kafe-kafe kecil. Mungkin daerah pasar kali, soalnya saya baru pertama kali berada di Roma. Entah bagaimana melukiskan perasaan kalau kita berada di tengah-tengah kota yang ramai tapi semuanya asing buat kita. Something scary tapi agak menggoda karena banyak hal yang baru, seperti tampang cowok-cowok Italy yang lagi cofee break dengan baju kantor yang rapi. Kulit mereka yang kecoklatan, dagu yang keras dan mantap plus itu lho.. sisa cukuran yang masih kebiru-biruan bikin gemes pengen ngelus dech, juga perasaan mau nyobain bagaimana rasanya bercinta dengan mereka.

So, saya berjalan santai dengan pikiran yang bercampur aduk. Akhirnya saya berhenti di depan bus station, kemudian setelah saya pelajari rute di map saya, saya mau pergi ke Via Condotti. yah, buat window shopping.

Waktu saya naik ke bus tersebut, bus-nya lumayan padat, tapi tidak seperti di Jakarta sampai bergelantungan di pintu. Paling lorong bus itu penuh orang berdiri sambil berpegangan di pipa besi. Saya juga tidak menemukan tempat duduk jadi saya pilih tempat yang kelihatan agak kosong sambil berpegangan di pipa juga. Kemudian bus-nya melaju.

Saat menit-menit pertama, saya melihat-lihat sekeliling sambil bus itu melaju. Saya merasakan angin bertiup menerpa wajah dan bermain dengan rambut saya yang lurus sebahu. Waktu bus itu berbelok, saya merasa ada sentuhan ringan di paha saya.. kaget, saya melihat sekeliling tapi tidak ada yang ganjil. Saya melihat orang-orang sedang bercakap-cakap dan tidak ada yang mencurigakan. Saya mulai merasa ganjil karena keasingan saya di tengah-tengah bahasa mereka.

Karena tidak menemukan sesuatu yang aneh, saya pikir itu mungkin ketidaksengajaan, lalu saya kembali memandang lurus ke depan. Tapi tidak lama kemudian, tangan itu kembali lagi dan kali ini mengelus pantat saya dengan pelan. Saya menoleh mencari siapa tapi lagi-lagi tidak ada yang saya dapati. Lalu bus berhenti, masuk lagi segerombolan orang sehingga saya makin terhimpit. Saya pikir kalau sudah begini tidak mungkin lagi orang itu berani pegang-pegang, tapi dugaan saya salah karena tidak lama kemudian saya mulai merasakan tangannya di belakang lutut saya, bergerak naik ke atas paha saya. Terus terang saya terangsang sekali karena bagian tengah agak ke belakang dari lutut ke paha itu salah satu daerah sensitif saya.

Antara perasaan gundah, mungkin sungkan siapa tahu ada yang memperhatikan, tapi juga mulai terangsang jadi saya diamkan saja. Karena tidak ada yang bisa saya lakukan di tengah kepadatan bus dan pikir saya, toh dia cuma bisa pegang-pegang, lagi pula saya melihat di sekitar saya itu banyak cowok-cowok berpakaian rapi yang mungkin mau makan siang. So, insting iseng dan cuek plus pengen tahu saya lebih kuat daripada perasaan malu. Saya ingin tahu sejauh mana tangan orang tersebut bereaksi dan juga ngapain malu, nggak ada yang kenal saya ini, lagian cowok-cowok yang dekat saya cakep-cakep.

Mungkin karena saya diam saja, tangan itu mulai berani bergerak perlahan terus ke bagian atas paha tengah saya. Saya semakin grogi. Sambil menahan rasa nikmat yang mulai menjalar dari paha, saya gigit bibir saya, karena takut saya nanti bersuara (karena kebiasaan saya suka berisik). Saya mencoba untuk menyatukan kaki saya supaya tangannya tidak bisa menggerayang ke atas lagi tapi tidak bisa, karena bus itu bergoyang-goyang, yang membuat badan saya jadi limbung sehingga kaki saya harus agak direnggangkan supaya bisa berdiri dengan stabil.

Diantara perasaan nikmat plus tegang, tangan itu semakin berani kali ini dia maju ke atas, menuju ke celana dalam saya. Tangannya mulai membuat lingkaran-lingkaran kecil tepat di daerah sekitar lekukan pantat saya sebelah bawah dan di atas vagina saya yang tertutup celana dalam. Wow, makin terangsang plus grogi deh. Kali ini saya agak melenguh sedikit tapi tidak mengundang perhatian penumpang sebelah saya, mungkin mereka pikir saya kecapekan berdiri kali. Tapi si pemilik tangan ini makin berani setelah mendengar desahan saya. Dia mulai menyisipkan jemarinya ke dalam celana dalam saya yang mini itu. Tidak sulit karena mini, dia bisa merasakan daerah itu mulai basah karena ulahnya. Sungguh sulit untuk melukiskan perasaan saya saat itu.. mungkin pembaca bisa coba untuk membayangkan posisi saya di daerah yang asing dan baru.

Karena dapat angin merasakan kebasahan saya, dia mulai berani membuka bibir kemaluan saya dan memainkan jemarinya di antara kedua bibir itu sambil sesekali melingkar-lingkar di clitoris saya. Aduh, pembaca sungguh nikmat rasanya. Saking tidak kuat menahannya saya rapatkan lagi paha saya. Lalu dengan tiba-tiba saya mencoba untuk menjebak tangannya di antara paha saya, tapi refleksnya sangat bagus sehingga dia sempat lolos waktu itu. Lumayanlah pikir saya untuk catch my breath again. Jantung saya berdegup sangat kencang sampai-sampai saya takut kedengaran sama yang lain. Kaki saya yang mulai lemas sehingga saya sedikit bersandar di kursi yang terdekat.

Tapi tidak lama tangan itu kembali lagi kali ini saya merasa sesuatu yang dingin di celah paha saya yang nantinya saya sadar mungkin itu gunting or what and how? Karena berikutnya celana dalam saya sudah robek terbelah dua. Tangannya semakin berani beroperasi di antara kedua bibir vagina saya melingkar-lingkar dan mulai nenekan perlahan. Pelan namun mesra. Kemudian saya mulai merasa jarinya membuka kedua bibir kemaluan saya dan mulai memasukkan dua buah jarinya ke dalam vagina saya keluar masuk sambil digesekkan ke daerah clitoris saya. Saya terpana karena tidak menyangka dia seberani itu tapi tak kuasa untuk bertindak. Kaki saya mulai lemas lagi mungkin karena kenikmatan yang dihasilkan oleh gerakan jemarinya.

Saya terpaku oleh rasa itu, diam tak bergerak hanya bisa menikmati sambil kuat-kuat menggigit bibir menahan nikmat itu. Perasaan yang tak tertahankan itu membuat saya diam-diam berimajinasi bagaimana rasanya kalau penis yang ada di dalam vagina saya. Dalam diam saya sangat menikmati gerakan tangannya. Saya sudah sangat basah sekarang. Saya kuatir nanti terdengar bunyi seperti clep.. clep.. Saya berdiri setengah bersandar di situ antara perasaan grogi takut ketahuan tapi saya berdiri diam di situ tidak bergerak sambil menikmati permainan tangannya.

Tangan itu tidak berhenti juga mungkin dia dapat merasakan gerakan dinding vagina saya yang makin intense. Saya merasa saya hampir orgasme. Akhirnya tiba-tiba seperti gelombang saya merasakan suatu perasaan yang sangat hebat, mungkin saya orgasme seperti dalam sedetik itu saya berada di suatu tempat yang terang sekali.. sendirian. Untung saya masih bisa menahan tidak menjerit walau susah sekali dan bibir saya terasa sakit karena saya gigit keras sekali. Rasanya berdarah sedikit karena ada rasa besi dalam mulut saya.

Setelah itu, saya kembali bisa merasakan kehadiran orang-orang di sekitar dan membuka mata memandang jalan. Sambil menarik nafas panjang saya berdiri tegak. Saya rapatkan kaki saya, dan seperti semula, tangan itu sudah tidak ada. Saya lihat sekeliling, ada beberapa mata yang memandang saya dengan shock tetapi saya cuek saja. Saya berbalik memandang jalan kembali dan melihat ke jam tangan saya. Well, semua itu terjadi hanya dalam 10 menit.

Di depan saya melihat ada bus station. Saya cepat melewati orang-orang menuju pintu lalu saya turun. Setelah saya memijakkan kaki saya di tanah, saya pandangi lagi bus yang mulai bergerak maju tapi ada suatu gerakan yang menarik perhatian saya. Ternyata ada seorang cowok berkemeja biru, berambut coklat tua dan berumur sekitar 30 tahun mengangkat tangan dan memberi salute kecil pada saya seperti gaya militer di dekat kening itu lho. Dia tersenyum (jujur saja, dia memang ganteng. Kalau dia mendekati saya di sebuah café mungkin saya juga tertarik oleh tampang Italy-nya yang rough but nice itu) Tak sadar, saya pun tersenyum balik.

Begitulah pembaca. Saya mulai melihat sekeliling, ternyata saya sudah satu blok di dekat Via Condotti. Saya mulai berjalan sambil masih tersenyum simpul oleh pengalaman tadi. Pengalaman itu adalah salah satu starter yang membuat saya mulai suka melakukan hal-hal tersebut di tempat umum bahkan di Jakarta mungkin karena adrenalin yang berpacu sangat cepat kalau kita tahu kita di tempat umum membuat saya selalu ketagihan.

Wow, Masih begitu perasaan saya kalau mengingat kejadian itu, seperti saya menulis sekarang ini, vagina saya sudah basah. Tinggal menunggu nanti sore selesai jam kantor. Saya akan bertemu Erick, may be Erick can help me now.

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Diriku Tak Berdaya Di Rangsang Dalam Bis Kota Terbaru

Juli 06, 2018 Add Comment

Silaturahmi Keluarga

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Silaturahmi Keluarga Terbaru

Hallo para semproters, ketemu lagi sama selly, mau cerita lagi, sama kejadian selly alamin pas long weekend 4 hari kemaren. jadi ceritanya aku sama suami diajak liburan bersama keluarga besar suami di bali, berangkatlah kami sejak hari senin, suami ambil cuti dari kantor.

Silaturahmi Keluarga
Silaturahmi Keluarga
di ubud, pakde kami telah menyiapkan sebuah villa besar yang isinya ada beberapa cottage dan kolam renang, untuk keluarga besar kami, karna sebagian besar datang baru hari kamis, maka suasana villa masih sangat sepi, hanya ada aku dan suami, dan satu keluarga pakde saya.

suasana ubud yang begitu damai, membuat saya dan suami terbawa suasana, kami bercinta mungkin ada 3 kali sehari hihihi..tak ada yang lebih nikmat daripada ML dengan suami sendiri

hari rabu, banyak keluarga yang berdatangan, suasana makin rame, tapi karna villanya begitu besar, kami mendapatkan cottage masing2.., kira ada 5 keluarga yang menginap, salah satunya adalah mertua saya, adik2 ipar, dan ada pakde2 aku sama istrinya.

di ubud memang tidak ada jadwal yang pasti, karna tujuan kami disini memang untuk kumpul2 keluarga dan bersantai, jadi lebih banyak kami habiskan di dalam villa, berenang seharian, duduk2 dan ngobrol..

hari kamis pagi sehabis ML dengan suami, aku pergi ke kolam renang, suami memilih kembali tidur, karna masih jam 6.30 pagi..,

ketika di kolam renang..

“selly..” ..oh ternyata pakdeku
“hallo pakde..,pagi2 dah berenang…”..
“ayo sell, enakk nih seger…”

pagi itu masih sepi sekali, ubud pun sedikit kabut, yang lain masih pada tidur, aku pun membuka bajuku…dan hanya memakai bikini renangku, sebelum nyebur aku oleskan lotion..hmm tampak ada sedikit bekas sperma suamiku di daerah selangkangan..aku lap pake handuk…

kemudian aku nyebur..”ihh dinginn banget ya pakdee…”, pakdeku hanya tersenyum..

tampak aku lihat pria umur 60an ini mempunyai bulu dada, rambut keputihan, dan jago berenang..

setelah melakukan 5 kali bolak balik gaya dada, aku dan pakde ngobrol di pinggir kolam..

“dingin ya sell..”
“iyaa pakdee…, eh bude mana kok ga keliatan?”
“ohh budemu pagi2 dah keluar jalan2 ke pasar ubud.., suami mu mana sel ?”
“hehehe molor lah dia pakdee…”,jawabku
“abiss tempurr yaa”,canda pakdeku…
“hahhaa tau aja pakde”…sambil aku siram pakde pake airr..

“hajar teruss yaaa…,kalo pakde sih sebulan sekali itu juga kalo beruntung bisa bangun..” kata pakdeku..

“hahaha..emang kenapa pakde, kok loyo..makanya cari yang muda2 dong”..candaku

“hahhaaa bisa aja kamu sel..,kalo sama yang muda sih lsg tegak nih..”
jawabnya

“hihihih..pakde ahh..,makna buktinyaa”..aku kaget juga kok bisa ngomong gini, takut pakdeku tersinggung…

“serius sell mau tau ?” kata pakdeku…

“hhihihih..lah kan pakde sendiri yang nawarin buktii…”

kemudian pakde mendekat ke aku…sambil tolah toleh…

“hihihi pakde kenapa kok salting gitu ?”
“anu sel”
“apaa pakdee, ya udah sini selly liat, kalo beneran bisa tegak”
pakdeku, langsung salah tingkah di mendekat sama aku, sambil masukin tangannya ke dalam celana renangnya…

dahh sinii pakdee, biar selly yang pegang..hihihi, aku pun sambil sdikit tolah toleh, masukin tanganku ke dalam CD pakdeku ini..”hmm gedee sihh pakdee, tapi kok ga mau bangun..hihihiii”…

“eh sell…”, ” gapapa pakde”..sambil aku senyum senyum, aku kasi isyarat untuk turunin cdnya..,suasana sepi berkabut tipis, memang
memacu adrenaline ku

aku pun menuntun tangan pakdeku untuk menyentuh payudaraku..
“ugghh pakde”, tangan tua sedikit kasar, mulai nakal masuk ke balik bikini ku, membuat aku terangsang.., tangan pakde mulai kencang meremas payudaraku..”aghhh…”

aku pun pelan2 mengocok burungnya…,tapi mungkin karna didalam air dingin aga susah, aku membisikin pakde ”

“pindah jacuzzi aja pakde, lebih nyempil”

ada ruangan private jacuzzi di dalam villa, tempatnya aga terpencil terhalang semak2.., kami pun keluar dari kolam renang..

“pagi bapak ibu”, aga sedikit kaget, ternyata adalah penjaga villa..
“pagi mas…” jawabku..kemudian dia pun menawari handuk kering,

kemudian kami berdua jalan menuju jacuzzi, sepi banget kira2 masih jam 7 pagi,
“ahh airnya anget pakde enak nihh..”
kemudian pakdeku pun berendam…
langsung aku deketin pakdeku.., dia pun merangkul aku, langsung aku elus dada berbulunya, sambil aku mainin putingnya..

tangan pakde pun mulai nakal menuju payudaraku..meremas2,
ada sensasi sendiri bercinta dengan orang tua…hihihihi

pakde meraih bibirku dan melumatku dengan ciuman,
“hahaha pakde masih canggih juga ciumannya..” dia hanya tersenyum

aku meminta pakde untuk duduk di pinggiran, dan melepas cdnya, sehinga aku bisa ditengah2 selangkangannya..aku pun melepas tali bikini ku sehingga payudaraku bebas dimainkan
“ayoo buka pakdee…eng ing enggg,godaku..”
pakde pun melepas cdnya.., dan wow gede jugaa!
“wahh gedee ini pakdee, ayoo dongg bangunn!”hahaha
“gini2 ini pujaan wanitaa loh sell..”hahhaha

“dah rilex aja pakde..sini aku bikin bangun..”

aku pun mulai mengulum kantung dan menjilat2 ujung kontol pakde, dan mulai pelan2 tegak ,semakin kencang aku kulum..

“ugh sell..dah lama pakde ga diginiin..”, aku makin semangat dan akhirnya kontol pakde tegak 100%..
“nahh pakdee bangun jugaa…”, sambil aku terus mengocok kontolnya..

“iya nih selll..abis kamu sihh,..”, tanpa basa basi aku lanjutt mengulum kontol pakde..

“ahh sell ahh sell..enakk,”…aku pun merasakan horny di vaginaku..,
“sluppp sluppp”
tiba2 tangan pakde menahan kepalaku untuk berhenti mem-blowjob..

“sstt…uhh sell, bentar ” pakde ga tahan nihh..hihih, maklum dah lama banget ga blowjob..

aku cuman tersenyum..”pakde mau apa lagi, mentang2 dah bisa tegak nih hahhaaa”

pakde hanya terseyum, aku pun ambil siasat, “pakde mau ini yaa?” sambil aku menunjuk ke arah vaginaku..

“ahhh itu kan punya suamimu..” sambil tersenyumm

“hihihi bebas kok pakdee, ya udah sinii, aku pun menurunkan celana ku, jadi sekarang posisi kami sama2 telanjang..

“pakde sini dibawah”, aku mengambil posisi di pinggir jacuzzi, sambil membuka vagina ku lebar2…pakdeku bingung, kemudian aku memegang kepala pakde dan menuntun ke vagina ku…

“ahhhh..uhhh” enak pakde terus jilat vagina selly pakdee…”uhh ahhh..ahhhh” aku merasakan sensasi nya, “ahhhh ahhhh” aku menahan agar suaraku tidak terlalu kerass…

“ahhh..ahhh aahhhh, pakdeee terusss,,ahhhh ahhhhh..uhhhh..” ohh ga berasa aku ingin orgasmee..”ahhh ahhh terus pakdee”, pakde pindah posisi akhirnya jarinya keluar masukk vaginaku, sambil terus mengulum pentill kuu

“ahhh..ahhh..ahhh pakdee pakdeee..ahhhhhh”, tanpa aba2 aku segera mengangkat badanku ke dan minta pakde untuk duduk di pinggir jacuzzii

pakdee..ahhh, masukin pakdee..ahhhh…,
pelan2 pakde mengarahkan kontolnya ke vaginaku…

“blessss…” ahhhh sellyyy, enakk banget memekmu….”ahhh uhhhh” sell sell , pakde ga bisa lama2 nihhh…

“gapapa pakdee…” ahhh enakk pakdee kontolnya gedeee
“ahhh uhhhh ahhhh ahhhh..” aku terus diatas pakde…

“Sell pakde mau keluar..ahhh..ga kuatt sell”..
“uhhh gpp pakde keluarinn ajaa…”
“hahh…jangan sell, masa keluar di dalam..”

“uhh pakddee udahh gpp” semakin kencang aku naik turun diatas tubuh pakdee..
terlihat payudara naik turun dimuka pakdee..

“ahhh ahhhhhh…pakdee”
“sell sell sell pakde keluarrrr….”
“creettttt creetttttttt creetttt..ahhhhh ahhh ahhhhhh” pakdeku tubuhnya bergetarrr, sambil meremmm…

“ahh pakdee..ahhhh ahhhh….” aku berhenti dan menguatkan jepitan memeku ke kontol pakde…

“ahhh…ahhhh”, kami berdua langsung lemes berpelukan, sambil berciumann

hihihhi mau lagi pakde ? godaku..sambil belum melepaskan memeku..

“hehehe gilaa kamu sell, tapi makasih yaa, rasanya sperma pakde keluar semuaa..

“iyaa nih pakdee, berasa banget banyaknyaa…”

pelan2 aku lepaskan memeku, dan terlihat beberapa sperma pakde mengambang di air hihihihi

aku pun keluar dari jacuzzi dengan telanjang, dan lansung melilitkan handuk, sementara pakde ku masih mengatur irama nafasnya..

terlihat sudah jam 8, aku pake lagi bikiniku, dan berjalan ke kolam renang, meninggalku pakdeku, yang masih senyum2 dalam jacuzzi..

“pakdee, kalo mau lagi bilangyaa…tapi jangan lupa nanti aku ditraktir yaa..hihihihi”..dan pakde hanya senyum2 aja, sambil mengisyaratkan tanda setuju

kemudian aku berjalan ke kolam renang, disana ternyata sudah ada suamiku sedang bersiap siap mau renang..

“hai honey, darimana?”..dari jacuzzi jawabku.., dan tak lama kemudian banyak anggota keluarga yang lain berkumpul di kolam renang..termasuk bude istri pakdeku…

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Silaturahmi Keluarga Terbaru

Juli 05, 2018 Add Comment

Mbok Mirah Penjual Jamu Yang Orgasme Di Kamar Tidurku

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Mbok Mirah Penjual Jamu Yang Orgasme Di Kamar Tidurku Terbaru

Hai, nama saya Andi. Ini kisah saya liburan ke ke rumah ortu saya di suatu kabupaten yang terletak di lereng pegunungan karena lagi libur pergantian semester di universitas saya.

Mbok Mirah Penjual Jamu Yang Orgasme Di Kamar Tidurku
Mbok Mirah Penjual Jamu Yang Orgasme Di Kamar Tidurku
Pada saat itu saya sedang duduk-duduk di teras sambil menghirup udara segar tidak seperti di bandung yang sekarang sudah mulai tercemar polusi. kemudian setelah berselang beberapa menit, kemudian ada seorang wanita menggunakan capil (topi bambu berbentuk kerucut yang biasanya dipakai petani) dan menggendong sebuat bakul yang berisi botol-botol bekas syrup.

Mukanya tidak kelihatan karena ditutupi capil coklatnya tapi terlihat dari tanganya kalau dia berkulit putih. mungkin karena saya lama memerhatikanya dia kemudian dia masuk dari pagar yang terbuka dan masuk keteras.

“jamunya tuan…..”
kemudian dia membuka capilnya. terlihat seorang wanita yang kira-kira berumur 28 tahun. mukanya cantik sekali, putih mulus dan tak satupun jerawat hinggap di wajah cantiknya.

“jamunya ada apa aja mbok”
“ada jamu kuat, encok, pegel linu, cekot-cekot, asam urat dst. (macam-macam sampai pusing mendengarkanya)”

“waduh maaf mbok, saya nggak sakit”

“oh… kalau begitu minum jamu ini aja mas, ini buat sehari-hari supaya tetap sehat”
“ya udah deh mbok, yang itu aja…”

kemudian dia mengeluarkan sebuah gelas kaca dan mulai tanganya mengambil bermacam-macam botol dan menuangakanya ke gelas itu seperti bartender. Saya diam diam meliahatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. rambutnya yang hitam panjang dan lurus menghiasi wajahnya yang bersih itu. dan terlihat badannya sangat sintal dan langsing singset dan kaki putihnya yang tidak ditumbuhi bulu-bulu. Terlihat dia sangat merawat dirinya. mungkin dirinya rajin minum jamunya itu. dari atas melihat gundukan payudaranya dibalik bajunya. terlihat payudaranya yang SANGAT BESAR dan kencang itu. rupanya dia tidak menggunakan BH. tapi tetap saya kesulitan melihat putingnya karena bajunya ketat. tapi putingnya pun tidak terlihat karena bajunya tebal

“ini mas jamunya”

“triam kasih”

kemudian saya minum jamunya sedikit demi sedikit sambil melihat wajahnya yang cantik itu sambil berbincang-bincang

“waduh mbok, jamunya enak banget”

“trima kasih mas…”

“andi, nama saya andi. nama mbok siapa”

“nama saya Sumirah”

“panggilanya siapa mbok sumirah?”
“terserah mas”

“kalo manggilnya mbok mirah boleh nggak?”

“boleh mas, tapi jangan panggil saya mbok, saya kan belum nenek-nenek(tertawa kecil)”

“iya mirah kamu masih muda, cantik lagi”

“ah mas bisa aja deh”

“pasti suami kamu pasti senang sama kamu” ucapan ini tersirat untuk menanyakan statusnya karena biasanya disini orang kawin pada umur 20 tahunan

“saya belum kawin mas”
“ohh begitu toh”

“ngomong-ngomong mirah sudah jualan jamu sejak kapan?”
“sudah 7 tahun”

“ohh gitu toh mbak, oh ini mbak sudah habis”

kemudian saya memberikan gelas kepadanya
“3000 mas”

kemudian saya berdiri dan mengambil dompet saya di kantong dan mengambil selembar 5000 an
“ini mbak”
kemudian saya menyenggol tanganya. halus sekali.
ini mas kembalianya” kemudian saya menyenggol tanganya kembali
kemudian dia pergi dan menjajakan ketempat lain.
kemudian keesokan harinya saya ingin bertemu dia lagi sehingga saya kembali menunggu di teras rumah di pagi hari. cukup lama saya menuggunya sekitar setengah jam. tapi ujung hidungnya belum tampak juga. kemudian saya masuk kerumah.

kemudian sekitar 3 jam kemudian terdengar sebuah ketukan di pintu depan. kemudian saya buka pintunya dan ternyata yang datang rupanya si mirah.

“mas andi, jamunya lagi nggak?”
“wahh… dari tadi sudah saya tunggu-tunggu kok nggak datang”

“iya mass tadi saya lagi nganter anak saya ke sekolahan”
kemudian saya bingung, “belum kawin kok punya anak sih?” gumamku
kemudian saya ajak ke dalam rumah saya
“ayo mbak masuk aja”

“trima kasih mas”
kemudian dia langsung masuk kerumah saya dan melepaskan sendal kumalnya di depan
“eh mirah jangan dibuka sendalnya!”
“nggak papa mas nanti ngotorin lantai mas aja”
kemudian dia masuk kerumah dan duduk beralas ubin
“em mirah kok duduk disitu sih”
“kan kebiasaan saya begini mas, masa tukang jamu duduk di kursi, kan nggak sopan?”
“ini kan di ruang tamu jadi nggak apa-apa ayo duduk”

kemudian dia duduk di sofa.
“nah gitu dong nanti kalo duduk di lantai masuk angin lo…”
“iya mas”
“oh ya mirah, kemarin minumanya bikin saya sehat dan bertenaga”
“maksih mas, mas mau minum itu lagi?”
“iya mirah”

kemudian dia mulai meramu minumannya. tapi perbincangan kami membuatnya berhenti sebentar-sebentar
“mirah, biasanya yang laku itu jamu apa?”
“oh, biasanya jamu buat perempuan sama jamu kuat mas”
“jamu buat perempuan itu apa aja?”
“jamu pembesar dan pengencang payudara dan pantat, kulit putih dan mulus & jamu rapet mas. biasanya pagi-pagi
saja sudah laku mas”
rupanya menedengar begini saya penis saya sudah berdiri separo
“oh gitu toh, pantesan yang punya cantik sekali”
“ah mas bisa aja deh” katanya tersipu malu

“abis itu tetek kamu juga besar, pasti sering minum jamunya ya”
“ah mas ngga enak loh didengar orang”
“tenang mbak santai saja di sini cuman kita berdua, tapi yang tadi beneran lo mbak”
“oh itu gara-gara saya harus minum tiap hari”
“kok harus?”

“iya karena kalau rasanya beda berarti racikanya beda mas jadi hasilnya juga beda mas”
“oh gitu toh, ngomong-ngomong tadi mbak ini janda ya?”
“nggak mas”
“ngangkat anak angkat?”

“nggak mas, kok pertanyaannya seperti itu sih?”
“anu mbak saya bingung kok katanya nganter anaknya tapi belum nikah”

kemudian dia menumpahkan air jamunya ke lantai
“maaf mas nggak sengaja”
“enggak saya yang minta maaf saya lancang, saya mau ngambil pel dulu”

kemudian saya mengambil pel lantai di sudut ruang dan membawanya ke ruang tamu
“udah mas saya aja ngelap”
sebetulnya saya ogah-ogahan jadi langsung memberi pelnya ke mirah

“ini mirah”

kemudian dia langsung menjongkok di hadapan saya dan mengelap. ini adalah kesempatan emas melihat payudaranya. maju mundur maju mundur terlihat bukitnya bergoyang dengan indah tapi tetap putingnya tidak kelihatan tapi melihat separuh dadanya sudah cukup bagiku.

kemudian setelah itu dia kembali meramu jamunya
“sebetulnya begini mas, kisahnya memalukan mas… saya pacaran di desa terus main gituan sama dia, tapi dia melarikan diri”
“waduh maaf mirah kalau begitu”
“udah mas nggak papa, semuanya sudah terjadi nggak bisa kembali, lagipula ini juga salah saya, ini mas jamunya”
“ya makasih”

kemudian saya mengambil gelas penuh jamu itu dari tanganya
“saya jadi kepikiran mas”
“udah mas, itu kan masa lalu”

kemudian saya meneguk jamunya kembali

“mas emang udah pernah main gituan ya?”
“ya, emang kenapa?”
“nggak mas emang nggak takut hamil”, rupanya gadis ini gapsek (gagap seksual)
“mas kan punya ilmu biar nggak hamil”
“ah mas bisa aja deh…”
“betulan, mas nggak bohong”
“trus kesakitan nggak mas?”
“enggak, malah mau lagi”
“ah mas bohong ah”
“iya betulan”
“mas keliatan bohongnya, buktinya dulu saya begituan sakit”
“emang sama mantan pacar kamu diapain?”
“dulu pacarku pernah remas-remas itu saya, sakit mas, terus dia nunjukin itunya, saya ngeri mas ada bulunya
kriwil-kriwil hiii”
saya tertawa mendengar ini

“terus gimana mbak?”
“dia masukin itunya ke ini saya mas, perih banget mas trus pas dikeluarin ada darahnya mas, trus saya juga pernah ngeliat orang begituan mas di mobil, pas dicium dileher, perempuanya mangap-mangap mas, trus lehernya merah mas.saya jadi takut padahal ibu-ibu yang beli jamu suka ngobrol katanya sama suaminya begituan senang banget”
“itu tandanya perempuanya keenakan rah , terus yang dikatain ibu-ibu itu bener rah”
“tapi kok saya sakit, apa saya kelainan mas?”
“nggak, kamu nggak kelainan, pacar kamu yang kelainan, mas bisa buktiin kalo begituan itu enak”
“nggak ah mas, nanti anak saya jadi dua deh, susah mas”

“lho… kan tadi mas sudah bilang, mas kan punya ilmu biar nggak hamil”
“bukan ilmu hitam kan mas?”
“iya dong, gimana, mau nggak?”
“nggak mas, trima kasih nawarin”
“eh mirah, mas nggak nawarin dua kali lho, mas janji kamu nggak hamil dan nggak sakit seperti yang kamu lakuin sama pacar kamu”
“gimana ya mas”
“udah bilang ya aja susah banget, mas bikin kamu keenakan bahkan mau lagi”
“tapi mas janji ya, kalo nggak mas saya laporin ke polisi lo mas”
“iya”

kemudian dia mengangguk-angguk kecil. berarti sudah ada lampu hijau buat saya. kemudian saya mendekatinya dengan duduk di sampingnya. saya berusaha mendekatinya. tapi iya bergeser menjauhiku terus-menerus, tapi akhirnya dia dipojok juga.

“rah, kalo kamu minggir terus, kamu nggak dapat enaknya nanti”
“saya ndredeg (deg-degan) mas”
“kalo gitu kamu merem ya”

kemudian dia merem. saya mendekatakan bibir saya ke mulutnya. kemudian saya mencium bibit merekahnya itu kemudian setelah itu saya melepaskan bibir saya
“gimana rah?”
“enak mas”
“ini ada yang lebih enak, caranya nanti mulut kamu kebuka terus lidah kita ketemu”
“ih mas jijik”
“kamu kan belum rasain, kamu coba dulu, pas ti ketagihan”

kemudian dia membuka mulutnya. kemudian saya memiringkan kepala saya dan mendekatakan kepala saya dan kami melakukan french kiss. “hmpphh…hmpph…” katanya yang membuatku bergelora. rupanya tanganya mendorong keras punggungku seakan-akan tidak ingin melepaskanku. kemudian terasa juga payudaranya dan putingnya di dadaku.

konstan penisku naik dan sudah menempel di pinggangnya di balik bajuku. tanganku juga dipunggungnya juga merayap-rayap dan tangan saya surun ke bokongya yang bulat itu.
tak puas dengan bibir sensualnya itu, saya naik ke kupingnya. kupingnya saya gigit-gigit kecil dan lidah saya dengan nakalnya saya masukan kelubang telinganya. tercium aroma samponya.
“mas, geliii mas uhh sshhh ahhh”
cukup lama saya bermain dengan kupingnya kemudian saya turun ke lehernya dan menggigit kecil lehernya
“hmmpph ahh…uhh…”
desahanya berulang kali dan makin lama makin keras. tangan saya yang tadi di pantatnya sekarang sedang membuka
kancing bajunya.
“sshhh mas apa-apaan nih ahh uhhh jangan mas ochhh”
tetapi saya terus melanjutkannya sambil menggigit-gigit kecil lehernya. kemudian setelah membuka kacaningnya. FANTASTIS! tertampanglah sebuah sepasang buah dada sempurna!, tidak menggantung, bulat,besar montok seperti buah semangka yang sudah siap untuk dipanen. lebih besar dari punyanya paini. kemudian saya turun di dadanya dan membenamkan muka saya diantara dua bola basket itu dan kedua tangan saya memegan dua payudara itudan menjepitkan muka saya. ohh enaknya, muka saya seperti dipijit-pijit. kemudian setelah itu saya mulai meremas-remas payudaranya
“ochhh… mass geli aduh ahhh…” katanya bertubi-tubi. kemudian saya mulai mengemut payudara kananya dan tangan

Kiriku melemas gunung satunya. saya mulai menggigit putingnya yang sudah menegeras dan menyedot payudaranya dengan kekuatan vacum cleaner “mas ngilu ahh… enak… terus mas ouch ouch” desahanya sambil menggelinjang tak karuan. setelah cukup lama kemudian saya berpindah kepayudara kirinya dan sekarang tangan kanan saya mulai meremas payudara kanannya yang bahsah terkena air liuruku. bedanya di payudara kiri terasa lebih keras dari pada yang kanan. saya pun bersemangat. kemudian setelah itu kedua tangan saya turun lagi dan menurunkan resletingnya di belakang. kemudian setelah itu saya melepaskan kancingnya dan terlihatlah sebuah pemandangan yang nggak kalah serunya sama bukitnya. Terlihat pahanya mulus tak berbulu dan saya mulai mengelus-elus kedua tangan saya di pahanya. rupanya dia kegelian “mas geli mas uhh” katanya sambil bergoyang. setelah itu saya menurunkan celana dalamnya yang berwarna merah muda dan ada simbol talinya berwarna merah yang terlihat sudah basah di depannya.
“mas jangan mas”
tapi tidak saya hirau kan perkataanya dan saya turunkan CD-nya dan tertampaklah sebuah vagina yang sudah basah dan menggembung dan pink merekah serta dihiasi asesoris bulunya yang tipis dan haitam itu dan setelah itu hidungku saya benamkan di lubanganya itu
“eh mass mau diapain ahhh mas geli mass uhh… ouch… ouch…” dan saya gesekan ke atas dan ke kiri. setelah itu, giliran lidah saya yang beraksi. saya memasukan lidah saya dan menggerayapi vaginanya. dia berdesah lebih keras lagi “mas ach..ach terus mas” katanya sambil menjambakku. kemudian akhirnya saya menemukan klitorisnya. desahan nya lebih keras lagi. “mas terus mas jangan stop mas terus ahhhhh ahhhhh”. kemudian setelah beberapa menit, “mas mau keluar mas” kemudian setelah berselang beberapa detik dia memuncratkan cairanya ke muka saya

“mas maaf nggak sengaja”

“nggak papa kok”

kemudian saya yang saat itu masih berpakaian lengkap saya buka sampai telanjang bulat. rupanya ia ngeri punya saya yang dihiasi bulu bulu hitam

“mas saya takut mas…”
“udah, nggak papa kok, sekarang kamu emut konthol saya”
“di emut mas?”
“iya diemut”
“enggak mau mas”
“lho kan tadi saya emut itu kamu masa kok saya yang diemut kok nggak mau”
“jorok mas, kan itu buat pipis”
“tenang rah, saya kalo cebok selalu pake sabun, terus jembutnya saya sampoin kok, tenang aja rah”

kemudian dia mulai mendekatakan mulutnya dan dia masih taku
“ayo rah, pegang punya saya”
“iya mas”
tetapi tanganya hanya di keatas kan, tapi tidak menyentuhnya, karena tidak sabar, saya menggapai tanganya dan langung mendekatkan tanganya ke penisku dan saya tuntun tanganya untuk mengocok penis saya. kemudian kepalanya saya pegang dan saya dekatkan ke penis saya. enak sekali rasanya, meskipun awalnya rada sakit (kena giginya) tapi kemudian teratur, begini rasanya dikocokin sama orang yang biasa megang botol jamu jadi kocokanya lebih enak dan nyaman seperti pengocok profesional, maju mundur maju mundur gerakanya sangat sempurna. “ahh mairah terus, kamu pintar ahh terus mirah uhhhh” saking enaknya. dan beberapa menit kemudian “mairah saya ingin keluar dan akhirnya
“crruuut” saya mengeluarkan mani saya dimulutnya kerena lupa memberitahukannya.
“mas kok di mulut saya sih mas?, kan jijik tauk…” katahnya sambil membuang mani di mulutnya
“udah di telen aja”
“mas jangan sembarangan dong, masa ditelen?”

“kamu tau nggak, itu isinya protein semua, bahkan khasiatnya bisa ngalahin jamu kamu”
“ah mas kerjaanya bohong”
“mas nggak bohong, betulan kok”

“kalo tau gitukan nggak saya buang mas, kalo gitu sekali-sekali dimasukin botol aja mas biar buat campuran jamu saya”
aneh-aneh saja mirah ini
“mirah tolong bikinin jamu penambah tenaga biar mas kuat”
“iya mas”, kemudian dia mulai mengeluaran gelas dan mulai meramu lagi. saya pun tidak tinggal diam. saya duduk dibelakangnya dan kedua tangan saya memilin-milin putingnya
“mas, nanti tumpah loo”
tapi tidak saya hiraukan malah saya sambil cium tengkuknya
“mas geli mas mau tumpah lo mas”
kemudian setelah itu jamunya jadi saya suruh mirah memasukannya ke mulutnya tapi tidak ditelan kemudian setelah itu saya suruh berbalik badan dan kemudian kami french kiss lagi dan mentransfer airjamunya ke mulut saya. setelah jamunya habis saya telan, saya meremas payudaranya. efeknya jamunya dahsyat, setelah beberapa detik meminumnya, badan saya terasa panas dan penis saya berdiri lagi, urat-uratnya terlihat lebih menonjol dibanding sebelumnya kemudian setelah itu saya suruh mirah untuk tiduran
“mirah, kamu siap ya”
“iya mas. tapi janji beri saya kenikmatan tapi jangan beri saya anak ya mas”
“iya”

kemudian pertama kali saya menggesek-gesekan terlebih dahulu penis saya ke sekitar lubangnya
“mas enak mas udah mass masukin saja mass ahhhhh”
kemudian saya mulai memasukin liang surgawinya yang sangat kecil itu, bayangkan, saya meniduri seorang wanita yang meminum jamu rapet selama bertahun-tahun padahal tidak pernah behubungan. pasti sangat kecil sekali dan mengalahkan lubang orang perawan. tadi saja hampir tidak terlihat dibalik jembutnya. sehinggga saya juga sedikit
kesusahan karena terlau sempit tapi perlahan lahan saya akhirnya berhasil memasukan seperempat dan perlahan-lan akhirnya penuh juga. setelah ful baru saya oper ke gigi 6. dengan gaya konvensional, saya mulai menjalankan kontak sexual. “ah ah ah uh mas och ouc yess ochhhh ahhhh terus mas ahhh” desahanya yang mengundang birahi siapapun yang mendengarkanya.

Enak sekali dijepit dengan vagina super sempit ini. enak sekali rasanya ahhh. melihat payudaranya yang juga bergerak. menambah semangatku untuk memuaskanya, setelah sepuluh menit, saya minta kepada mirah untuk berposisi doggy style. enak sekali, ini adalah posisi paling enak dengan bakul jamu ini, tak lupa saya meremas pantatnya yang semok itu dan sesekali memukulnya, dan tak lupa juga saya memegang rambutnya dan menariknya seperti naik kuda “yes yess ah ah ah enak terus mirah” genjotanya RUARR BIASA pijatanya yang memijat penisku enak sekali dan beberapa menit kemudian si mirah akhirnya orgasme juga.

Setelah itu saya capek menggoyangkan pingang saya saya suruh mirah sekarang untuk posisi woman on top. sambil tiduran yang mirah diatas saya sambil bergerak keatas-kebawah tangan saya meremas payudaranya yang extra besar dan extra empuk. beberapa menit kemudian saya ingat janji saya pada mirah, saya yang juga ingin keluar langsung melepaskan penis saya dan melepaskan mani saya di lantai. kami berdua mengehentikan permainan ini karena permainan kami cukup lama (40 menit) gara-gara pengaruh jamu kuatnya mirah bahkan mirah orgasme 3kali.
“gimana mirah, enak kan?”

“iya mas, betul kata mas”
“lain kali kalo kamu mau kamu tinggal ke rumah saya kalo sedang liburan kesini”
“iya mas, terima makasih ya mas”
“iya”

Kemudian kami saling bericiuman.

“mas, saya hampir lupa, jamu sehat sama jamu kuat jadinya 7000 mas” masih aja ingat jamunya
“ini mirah kamu saya kasih bonus jadi 50 ribu” (disini uang dua puluh ribu saja sudah dibilang banyak
Setelah ini kami sering kontak fisik dengan mirah baik dirumahnya (apabila anaknya kesekolah) maupun dirumah saya dan tidak lupa saya kasih uang kadang-kadang buat bayar sekolahan anaknya.

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Mbok Mirah Penjual Jamu Yang Orgasme Di Kamar Tidurku Terbaru

Juli 04, 2018 Add Comment

Di Pantai Sepi

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Di Pantai Sepi Terbaru

Hari itu Eci masuk ke kantor dengan wajah sumringah. Begitu Irma dan Dita datang, dia langsung menyambut mereka dengan heboh.
“Gaaaaeeesss! Weekend ini kita ke sini yuk!” serunya sambil menunjuk layar HPnya
“Apaan sih Mpok, baru juga dateng” tukas Dita
Irma melihat foto di layar HP Eci “Hmm cantik pantainya Mbak, kayaknya masih sepi tuh. Dimana itu Mbak? Lombok? Bali?”
Eci menggeleng, lalu dengan antusias menyebut daerah di pantai selatan Jawa Barat. Irma dan Dita terkesiap, lalu ikut heboh seperti Eci.
“Waaahh deket banget! Boleh tuh!”
“Segitu mah berani aku juga nyetir” klaim Irma
Ya, ketiga gadis itu memang penggemar travelling. Tahun lalu ketiganya melanglang hingga ke luar pulau Jawa. Selain “pesta” rutin dengan para pria di kantor, mereka juga senang melepas stres dengan jalan-jalan. Ketiganya lalu menghampiri Dinda yang sudah sibuk mengetik.
“Da, ikut yuk weekend ini ke pantai, naik mobilnya Irma” ajak Eci
“Yah, aku mau jalan-jalan sama Anto mau ngerayain ultahnya dia” jawab Dinda kecewa
“Ooh, gak papa kalo gitu, nikmatin aja momen kalian berdua hehe…Ngomong-ngomong cowok lu gimana Ir?”
“Ah gampang dia mah, gak usah dipikirin” jawab Irma cuek

***

Di Pantai SepiSesuai rencana hari sabtu itu mereka berangkat pagi-pagi ke tempat tujuan dengan mobilnya Irma. Mobil Irma yang kecil hanya muat empat orang, tapi karena Dinda tidak ikut masih ada tempat untuk satu orang lagi. Awalnya mereka ingin mengajak salah satu dari para pria peserta pesta, tapi dipikir-pikir tidak adil juga kalau hanya memilih salah satu. Dan menurut Irma “Nanti ujung-ujungnya cuman ngentot bukannya menikmati pemandangan”. Jadilah mereka hanya bertiga. Dan setelah sempat nyasar sana-sini, melewati jalan rusak dan sepi, mereka akhirnya sampai di pantai yang dituju.
“Waaah cantik banget! Persis kayak di fotonya Mbak” seru Irma takjub
“Yo’i, mantep kan? Temen aku yang ngirim” balas Eci sambil menepuk dada
Dita tidak berkomentar. Gadis itu hanya tersenyum bahagia sambil langsung mengambil foto dengan kamera yang dibawanya. Mereka lalu menghabiskan waktu dengan berfoto ria, selfie, bermain pasir, dan bermain air. Walaupun di pantai selatan air di pantai itu tenang dan bersih karena ada semacam pembatas alami dari karang jauh di mulut teluk sana. Karena itulah mereka bebas terjun ke air yang hanya selutut itu tanpa takut terseret ombak. Mereka mengamati sekeliling hingga Irma melihat sesuatu agak jauh dari sana.

“Eh liat deh, itu kok banyak batu karang mencuat dari air gitu ya”
“Iiya ya, kayaknya di situ dangkal banget”
“Hmm jadi penasaran, kalo emang dangkal kita bisa selfie di sana…Kan unik gitu lho di tengah laut”
“Bener Mpok! Eh tapi gimana caranya kita ke sana? Takut ada yang dalem antara di sini ke sana, masa renang?”
Mereka lalu kembali mengamati sekeliling untuk mencari solusi, dan Eci menemukannya.
“Guys, liat tuh di pojok sana ada perahu nelayan sama yang punyanya” saking sepinya pantai itu, hanya ada mereka dan satu orang nelayan dengan perahunya di kejauhan.
“Trus kita minta dianterin ke sana pake perahunya gitu?”
“Iyalah Ir, kalo dia minta duit kita kasih aja, minimal tanya-tanya dululah”

Sepakat, ketiga gadis berjilbab itu menghampiri kapal si nelayan yang mereka lihat. Setelah cukup dekat mereka bisa melihat cukup jelas penampakan si nelayan yang umurnya sekitar 30-40an, berambut ikal, berkulit legam terbakar matahari, dan mengenakan kaos dan celana lusuh menutupi badan kekarnya.
“Permisi Pak” sapa Eci yang membuat si nelayan menghentikan aktivitasnya mengurai jaring
“Ya ada apa ya neng? Kalian wisatawan ya?” selidik si nelayan
“Yaa kalo bapak gak pernah ngeliat kami berarti kami pasti wisatawan dong pak hehe” jawab Eci mencoba mencairkan suasana. Walaupun si nelayan tersenyum, Dita merasa agak risih dengan sorot matanya yang seolah ingin menelanjangi mereka bertiga.
Tapi Dita tak mau berburuk sangka, dipikirnya karena pantai itu sepi, si nelayan jarang melihat wisatawan.
“Ini Pak, kami mau nanya soal batu-batu yang di sebelah sana itu” Eci menjelaskan situasi
“Oooh iya iya, di sana memang dangkal neng, kalo pas surut malah kayak jadi pulau gitu. Sekarang sih paling cuman selutut dalemnya” jelas si nelayan yang membuat ketiganya melihat ke bawah dan menyadari celana mereka memang sudah digulung selutut sehabis bermain air tadi.
“Wah segitu sih bisa” ujar Irma yang disambut anggukan setuju Dita
“Pak kita mau ke sana, ngeliat tempat itu bisa gak ya?” tanya Eci
“Mau foto-foto neng? Emang bagus tempatnya, cuman buat kita sih rada bahaya kalo surut bisa bikin kandas perahu. Tapi kalo sekarang bisa kok neng”
“Beneran Pak? Wah boleh dong!”
“Ayo semua, saya anterin. Tapi…Heh heh…Nanti…” si nelayan cengar-cengir
“Iiya Pak, tenang aja nanti kita bayar kok” tukas Irma yang dengan tak sabar meloncat ke atas perahu si nelayan.

Perasaan Dita sudah tidak enak dari tadi, tapi coba dihiraukannya. Semuanya naik ke perahu, dengan HP dan barang-barang berharga mereka dimasukkan dalam satu kantung plastik kedap air. Perahu kecil bermesin tempel itu pun melaju dan tak lama mereka sampai di dekat tempat yang dituju. Irma, Dita, dan Eci terpukau dengan beningnya air di sana. Mereka bisa melihat jelas pasir dan ganggang laut dengan ikan-ikan kecil berseliweran di bawah perahu. Tapi si nelayan menghentikan perahunya di situ, tidak di bukit pasir berbatu karang yang mereka tuju. Padahal tinggal beberapa meter saja.
“Lho Pak kok nggak terus ke situ?” protes Eci
“Wah, ternyata lebih dangkal dari yang sayah kira neng, kalo dipaksain takut kandas nih perahu”
“Yaah, padahal udah deket banget tuh” seru Irma kecewa
“Di sini airnya cuman sepinggang kok neng, kalo nyebur terus jalan atau renang ke sana juga nyampe” saran si nelayan
“Ya elah Pak, ntar basah dong baju kita pas di sana, padahal kan mau foto-foto” gerutu Eci
“Ini ada dayung Pak, kalo gak bisa pake mesin manual aja pake ini” saran Irma sambil mengangkat kayu yang lumayan berat yang tergeletak di sana
“Bukan cuman soal mesinnya neng, badan perahunya juga”
“Ooh gitu ya Pak…”
Dita dan Irma lalu berdiskusi merencanakan langkah selanjutnya sambil berdiri berjajar di atas perahu memandangi bukit pasir berkarang itu. Mereka tak menyadari si nelayan menyelinap di belakang mereka dan…

BYUR!
“Kyaaa!” jerit Irma kaget
BYUR!
“Aduh!” pekik Dita, juga kaget
Eci yang melihat kedua temannya didorong si nelayan hingga terjatuh dari perahu refleks berdiri. Tapi belum sempat dia protes, tangan si nelayan sudah mencengkram bahunya dan melempar tubuh mungil Eci dengan kasar ke laut.
BYUR!

Karena tinggi air di sana hanya sepinggang, ketiga gadis itu bisa langsung menguasai diri. Dengan tubuh dan pakaian basah kuyup ketiganya langsung berdiri berjajar menghadap ke perahu, dimana si nelayan dengan pongahnya berdiri sambil berkacak pinggang.
“Heh Pak! Apaan nih maksudnya!?” seru Irma sambil melotot marah
“Yah saya cuman bantuin kalian biar bisa ke sana, hahahaha” jawab si nelayan cuek
“Yee jangan gitu dong Pak!” gerutu Eci
Tapi si nelayan malah memasang tampang menyebalkan, sambil mengorek-ngorek kuping dengan kelingking seolah tak mau mendengar protes mereka.
“Nah, kan udah nyampe nih. Saya minta bayaran saya dong neng” tagih si nelayan dengan santai
“Hah!? Udah nyolot masih minta bayaran!? Gila lu ya!” seru Irma kesal
“Yaa percuma dong Pak, kan dompet kita di sana” tunjuk Eci ke perahu
“Emang siapa yang mau duit?”
“Hah!?”
“Saya minta dilayanin sama kalian bertiga aja deh, udah lama nih gak ngerasain memek hehehe…”

Mendengar permintaan si nelayan, ketiganya terkesiap. Memang mereka bukanlah gadis-gadis awam dalam urusan seks, malah lebih dari itu. Tapi mana mau mereka melayani sembarang orang seenak jidat, apalagi nelayan menyebalkan yang satu ini. Dita merutuk dalam hati, mestinya dia mengingatkan yang lain. Feelingnya ternyata benar. Pengalamannya bersama banyak pria membuatnya bisa merasakan niat jahat dan mesum seorang lelaki, bahkan bila ditutupi senyum sekalipun.
“Heh, jangan kurang ajar ya Pak! Situ pikir kami siapa?” seru Irma, merasa mereka tak memprovokasi si nelayan dengan pakaian seksi atau sejenisnya. Mereka juga merasa bersikap wajar dan tidak memperlihatkan sisi liar mereka sekalipun.
“Yaah neng, saya udah lama gak ngentot, cewek apapun saya ambil deh. Apalagi yang cakep kayak neng hehehe…Nih si otong udah gak sabar” jawab si nelayan sambil menunjuk selangkangannya. Seketika ketiga sahabat itu menatap ke sana dan seketika itu pula mereka terkejut.
“Ya ampun! Itu kontol apa tumor?” gumam Eci melihat tonjolan di celana lusuh si nelayan

“Enak aja! Gak mau ah! Udah ah Pak anterin kami lagi ke pantai, ntar saya kasih duit berapa aja situ mau!” gerutu Irma lalu beranjak mendekati perahu. Tapi si nelayan dengan sigap menyalakan mesin perahu.
“Ya udah, kalo gitu balik sendiri aja. Saya duluan yaaaa”
“Paaak jangaaaann!” teriak Eci panik. Bukan hanya takut ditinggalkan, barang berharga mereka pun masih tertinggal di perahu
“Naah kalo gak mau ditinggalin, kalian tinggal ‘bayar’ toh, gampang kan?” ekspresi si nelayan semakin lama semakin menyebalkan saja
“Tapi jangan gitu deh Pak, kita mau kok kasih duit berapa aja, pliiisss” Eci memohon
“Kagak! Duit gak ada artinya buat saya!” Si nelayan tampak emosi “Heh dengerin baik-baik, sekarang cuman ada saya di sini. Nanti bentar lagi bakalan ada yang lain, temen-temen saya semua. Kalian mau ngelayanin banyakan apa cuman saya doang hah? Mikir!”

Mendengar ancaman si nelayan ketiganya baru sadar, mereka sedang menghadapi seseorang yang benar-benar ingin memperkosa mereka dan sudah hilang akal sehatnya. Eci dan Irma berpandangan, lalu memandang Dita yang mengangguk pelan. Kode darinya bahwa si nelayan brengsek itu sudah tidak bisa diajak bicara lagi. Mempercayai penilaian Dita, Eci mengambil keputusan.
“Iya deh Pak, apa boleh buat…Ummmm…S-silakan aja…Kita setuju asal sama bapak seorang…” akhirnya Eci membuka suara
Melihat si nelayan meloncat-loncat kegirangan, Irma yang cemberut menggerutu pelan “Mudah-mudahan nih anjing cepet lemesnya, males banget harus ngelayanin orang kayak gitu”
“Nah, ayo mulai! Ayo semua buka bajunya!” perintah si nelayan
“Eeeh? Gak mau Paak!” sontak ketiganya protes
“Diaaam! Atau mau ditinggalin di sini hah!? Buka semuanyaaa!” bentak si nelayan sambil melotot

Kembali para gadis berpandangan, lalu dengan berberat hati mereka mulai melepas jilbab masing-masing yang sudah lepek terkena air laut. Eci dan Dita berusaha setenang mungkin, sementara Irma tidak berusaha sedikitpun menyembunyikan kekesalannya lewat ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya. Saat si nelayan memandangi dirinya yang sedang melepas kaos, Irma balas melotot yang anehnya membuat si nelayan cengar-cengir. Lalu perhatian si nelayan terpaku pada Dita yang hanya mengenakan BH dan celana dalam. Jakunnya naik turun melihat putih dan mulusnya kulit Dita. Seumur hidup dia tinggal di kampung nelayan, selama dia pernah menikah lalu cerai, selama dia mengunjungi lokalisasi murahan setempat, belum pernah sekalipun dia mencicipi tubuh wanita dengan kulit secerah Dita. Dengan ragu ketiganya melepas BH masing-masing, memperlihatkan puting susu mereka yang bertengger indah di atas gundukan empuk-empuk kenyal. Lalu celana dalam pun lepas, dan lewat air laut yang bening si nelayan bisa melihat hutan hitam lebat yang begitu kontras dengan kulit mereka yang berwarna cerah.

“Nah, sekarang lemparin semua bajunya ke sini!” perintah si nelayan masih dengan mata melototi tubuh polos ketiga korbannya. Tanpa bicara, ketiganya menuruti perintah. Dengan sigap, si nelayan menangkap buntalan pakaian ketiga korbannya satu persatu dan menyimpannya di perahu. Lengkap sudah, ketiga gadis itu sudah tak berdaya sekarang. Si nelayan bisa saja meninggalkan mereka di situ telanjang bulat; dan mereka tak akan bisa berbuat apa-apa karena pakaian, HP, dompet, dan kunci mobil Irma sudah di tangan si nelayan bejat.
Eci dkk hanya bisa berharap si nelayan adalah tipe pria yang cepat crot dan cepat puas, agar penderitaan mereka segera berakhir. Tapi tonjolan di celana pria itu semakin besar saja, membuat ketiganya khawatir sekaligus penasaran. Dan mereka segera mendapat jawabannya karena si nelayan mulai mencopoti pakaiannya sendiri. Dimulai dari kaosnya memperlihatkan tubuh legam berotot kekar. Dita menggigit bibir, dia memprediksi dengan tubuh seperti itu si nelayan pasti punya stamina yang cukup kuat.
Lalu akhirnya si nelayan memelorotkan celana selututnya hingga TOING! Tampaklah kontolnya yang dari tadi membuat ketiga gadis penasaran.
“Mampus gue…” gumam Eci sambil melotot
Yang lain pun ternganga. Betapa tidak, kontol si nelayan itu memang berukuran jumbo dari segi panjang dan diameter. Ereksinya pun sempurna, mengacung keras ke atas. Eci yang memeknya paling mungil jelas khawatir…sekaligus penasaran. Ketiganya harus menelan kenyataan bahwa calon pemerkosa mereka tidak bisa dianggap enteng.

BYUR! Tanpa ragu si nelayan meloncat ke air lalu dengan mantap mendekati Dita yang diincarnya dari tadi. Dengan takut Dita bergerak mundur menghindarinya, tapi apa daya nelayan berbadan tegap dan berkulit gelap itu keburu menangkapnya. Dengan bernafsu digerayanginya tubuh bugil Dita.
“Haahh pengen dari dulu ngerasain cewek putih kayak gini!” serunya
“Ngghhh jangan Paaakkk…Ahhh!” Dita memohon sambil sesekali memekik saat jari si nelayan dengan nakal memicu titik sensitifnya. Perlawanaan Dita mulai mengendur, dibiarkannya si nelayan menjilati leher putih mulusnya. Puting susunya semakin memanjang dan mengeras dipilin jari-jari kasar seorang nelayan. Dita memejamkan mata saat dua jari di bawah sana mulai menyusup masuk dalam belahan memek pinknya. Tak hanya mengusap kelentit dan bibir memeknya, dua jari itu juga semakin melesak ke dalam.
“Aaahhh Paaakkk….Nnnnghhhhh!” erang Dita sambil memeluk si nelayan dengan erat. Yang dipeluk tersenyum mengejek sambil terus mengobel memek Dita dalam-dalam.
“Tampang aja alim, kerudungan. Taunya udah gak segel, dasar perek!” hinanya
Tubuh Dita serasa panas dihina seperti itu, tapi anehnya hinaan itu malah merangsangnya lebih jauh. Hingga akhirnya Dita tak tahan, tubuh polosnya mengejang dalam pelukan si nelayan. Punggungnya melengkung ke belakang, matanya terpejam erat sementara mulutnya mengeluarkan lenguhan tertahan. Si nelayan tertawa melihat Dita gemetar dalam orgasme di pelukannya.

“Hahahaha! Dikobel aja udah keluar! Dasar pecun jilbaban!” si nelayan semakin puas menghina Dita
Irma dan Eci hanya bisa menyaksikan sahabat mereka disiksa secara birahi dan verbal oleh si nelayan. Saat perhatiannya teralih dengan Dita, bisa saja Irma dan Eci diam-diam naik ke perahu. Tapi mereka tak tahu cara menjalankan perahu itu, lagipula masa mereka meninggalkan Dita begitu saja. Hingga akhirnya mereka pasrah, berharap nafsu si nelayan segera reda. Masalahnya, pria itu masih belum menggunakan kontol raksasanya itu sama sekali.

Dengan pasrah Dita membiarkan si nelayan menyeret tubuhnya yang lemas ke area yang lebih dangkal, kira-kira hanya sepaha dalamnya. Tempat yang awalnya memang mereka tuju. Di sana, dengan tubuhnya terekspos sepenuhnya, Dita kikuk juga.
“Naaah beneran kan, saya tadi janjiin bawa kalian ke sini, nih udah nyampe hahaha” ujar si nelayan dengan tawa menyebalkan.
“Ahh Pak, jangan di sini…Nanti ada yang lihat” pinta Dita biarpun saat itu belum ada orang lain di pantai sepi itu.
“Bodo amat, kalo ada yang liat nanti kita ajak aja biar rame hahaha!” balas si nelayan sebelum mencaplok payudara Dita dan mengenyotnya kuat-kuat. Dita kembali melenguh dibuatnya.
“Mmmhhh…Nih susu..mmmpphh…Empuk gilaaa!” gumamnya diantara kenyotannya.
Setelah bukit susunya lepas dari mulut si nelayan, Dita memekik ketika tiba-tiba si nelayan dengan kasar membalik tubuhnya dan mendorongnya hingga Dita setengah membungkuk dengan tangan bertumpu di batu karang yang mencuat di atas laut. Dita menggigit bibirnya ketika dia merasa kontol jumbo si nelayan menggesek-gesek belahan bibir memeknya.
“Nnnghhh jangan Paakkk…Plisss jangan…” mohonnya biarpun dia tahu itu sia-sia
“Diem lu pecun! Memek udah basah gitu juga!” bentak si nelayan sambil menghentakkan pinggulnya
“Aaaaahhh!” Dita memekik kencang ketika batang keras itu menembus masuk memeknya dengan sekali tojos. Lubang nikmatnya serasa sangat penuh, dengan kepala kontol si nelayan mentok menyundul rahimnya. Untung dia sudah orgasme sewaktu dikobel tadi sehingga dinding memeknya sudah terlumasi sempurna.

Irma dan Eci menyaksikan pemandangan itu tanpa berkedip. Tanpa disadari, tangan masing-masing mulai bergerak sendiri meremas-remas payudara dan puting masing-masing. Di bawah sana, cairan bening mulai mengalir dari selangkangan mereka bercampur dengan air laut.
Si nelayan menarik kontol jumbonya pelan-pelan hingga tinggal seperempatnya. Lalu dimasukkannya kembali dengan sekali hentak, membuat Dita menjerit dan tubuhnya tersentak ke depan. Diulanginya pola itu beberapa kali, menikmati pemandangan tubuh bugil gadis manis yang tersentak kencang di setiap sodokannya. Hingga setelah puas menyiksa Dita, si nelayan mulai mengocok Dita dengan tusukan-tusukan pendek dan konstan. Walaupun demikian tusukannya masih terasa kasar dan penuh emosi. Dita mestinya sudah terbiasa, tapi ukuran kontol si nelayan ini sungguh luar biasa, ditambah sensasi seks terbuka di laut seperti ini membuatnya takluk. Dengan lenguhan dan desahan erotis di setiap genjotan si nelayan, Dita hanya bisa pasrah menikmati siksaan birahinya. Dia serasa menikmati orgasme kecil di setiap tusukan maut kontol si nelayan.

“Uggghhhh…Enak kan pecun…Ahh kesampean juga ngentotin cewek yang kulitnya putih” racau si nelayan sambil mengulurkan tangannya untuk meremas payudara Dita yang menggelantung terayun-ayun.
“Aaahhh Paakkk…A-aku mau…Keluaaarrr…Stoopp paaakkk!” pekik Dita histeris merasakan gelombang dahsyat hendak menerpa dirinya.
Alih-alih berhenti, si nelayan malah semakin gencar menggenjot memek Dita dan meremas payudara gadis bermata sipit itu keras-keras, sambil mencubit puting susu Dita yang sudah tegang maksimal. Dita pun menjerit histeris dan menggelinjang dalam puncak kenikmatan meski memeknya masih terus dirojok kontol raksasa si nelayan tanpa ampun.
“Ya ampun Dita…Gak kebayang deh…” gumam Irma yang masih meremasi payudaranya
“Bentar lagi giliran kita Ir…Muat gak ya…” tukas Eci yang mengobel memeknya sendiri
“Aah, tuh kan ujung-ujungnya ngentot lagi…” sungut Irma
Dita menjerit dan memohon agar si nelayan berhenti, karena genjotannya membuat Dita terus dilanda badai kenikmatan. Tapi segala usahanya sia-sia, malah dia mendapat hadiah tamparan di pantat mulusnya.
“P-paakkk…Udahhh…Mem-mmemek…Ak-ku ud..Ahhhhhh!”
“Owwwwhhh memek perek jilbaban emang bedaa!” geram si nelayan lalu PLAK! Dengan keji dia menampar pantat putih Dita hingga kemerahan, membuat gadis bermata sipit itu menjerit.
“Hahahahh seneng ya digituin? Kok tambah ngejepit neng? Huahahhahahh dasar cewek binal, pasti seneng kalo dibuntingin! Ya udah saya muncratin di dalem yah neng, hehehehe!”

Dita kembali memekik ketika orgasmenya datang, tapi kali ini tidak sekali tapi bertubi-tubi. Tubuhnya melemas tapi dibawah sana dinding memeknya berkontraksi, memijit-mijit kontol yang bertamu dengan tidak sopan di dalamnya. Si nelayan melotot merasakannya, dan goyangannya semakin kacau dan kasar.
“Anjing, ngempot nih memek! Ah anjing muncrat siaaaaaaaaaaaah!” geram si nelayan sebelum mendorong pinggulnya hingga kontolnya menancap sedalam mungkin di memek Dita.
“Nghaaaakkkhhh!” Dita melolong sambil mendongakkan wajahnya yang sudah acak-acakan. Semprotan cairan hangat si nelayan di bagian terdalam lubang nikmatnya mengantar Dita ke klimaksnya yang terakhir dan terdahsyat. Sebagai pamungkas dalam sesi multi orgasmenya, memang sensasi ‘dihamili’ seperti ini adalah yang paling nikmat. Menyemprotkan benih dalam rahim seorang wanita adalah tanda dominasi seorang pria. Dan menerima benih itu adalah pertanda si wanita sudah takluk di tangan si pria. Insting purba yang tak akan tergerus oleh waktu atau moral.
Dita mengerang tanpa suara dengan pandangan kosong, tubuhnya gemetar sambil sesekali tersentak-sentak. Bahkan saat kontol si nelayan tercabut meninggalkan lubang menganga pun, Dita masih setengah sadar tenggelam dalam lautan birahi. Si nelayan mengamati tubuh bugil yang mengejang-ngejang itu dengan pandangan sinis.
“Hmh, cantik-cantik doyan peju. Cih, dasar pecun kerudungan” ejeknya sambil meludahi punggung Dita.

Irma dan Eci marah melihat sahabat mereka diperlakukan seperti itu. Apalagi ketika si nelayan menghampiri keduanya dengan tampang mengejek.
“Heh anjing, kalo mau ngentot gak usah maen kasar gitu kali!” bentak Irma sambil melotot. Irma yang tomboy memang tak segan berkata kasar kalau sedang marah.
PLAK! Si nelayan membalas dengan tamparan di pipi Irma, membuat Eci menjerit kaget. Lalu dengan kasar dicengkramnya kedua tangan Irma sambil diseret ke area dangkal dekat Dita yang sekarang hanya terduduk lemas. Irma terus berontak sambil memaki-maki si nelayan.
“Anjing lo! Babi! Lepasin gue bangsaaaatt!”
Sialnya suara serak-serak basah Irma malah membuat si nelayan semakin terangsang. Kontolnya yang sudah muntah sekali mengeras lagi tanpa perlu disentuh. Makian Irma seperti musik saja di telinganya.
“Hahahahha! Nih pecun ngelawan aja padahal mah pasti pengen, iya gak ‘cun?” ejeknya sambil di menggerayangi Irma yang dia dekap dari belakang. Irma masih meronta dalam cengkraman si nelayan, apalagi ketika jari-jemari pria itu mulai merangsek di selangkangannya. Sadar akan dikobel hingga semaput seperti Dita, Irma meronta semakin keras.
“Ah ngepet! Lepasin tangan lu dari memek gua anjing!” makinya, tak sadar dirinya menambah bensin ke nyala api.

Rontaan Irma percuma saja, dua jari kasar milik si nelayan merangsek masuk menembus belahan memeknya. Si nelayan melecehkan Irma yang sudah tak perawan dan memeknya yang sudah basah. Dibalas Irma dengan serentetan nama penghuni kebun binatang. Tapi lama-lama Irma mengerang nikmat juga. Pasalnya seperti kontolnya, jari-jari si nelayan juga berukuran jumbo, dengan kulit kasar dan skill fingerbanging-nya juga cukup mahir. Hanya dengan melihat reaksi Irma, dengan cepat si nelayan menemukan titik sensitif Irma dan memfokuskan kobelannya di sana. Irma merasa klimaksnya segera tiba walaupun dia tak rela.
“Aaah lepasin bangsat! Aah memek guaa!! G-gak maaauuuuu…nnggggaaarrrrghhhh!”
Apa daya, Irma harus takluk juga pada birahinya. Rontaanya berubah menjadi geliat manja sambil sesekali tersentak. Matanya terpejam dengan mulut membentuk huruf ‘O’. Sukses membuat Irma si tomboy takluk, si nelayan tersenyum penuh kemenangan.
“Hah, ngomong aja gede! Dikobel dikit sama aja kelojotan lu pecun!” ledeknya
Irma yang masih gemetar tak bisa membalas. Dia hanya bisa menatap si nelayan sambil memasang ekspresi marah. Tak ada sumpah serapah dari bibir manisnya karena Irma masih sibuk terengah-engah mengambil nafas. Perlawanan Irma membuat si nelayan semakin horny. Bukan merkosa namanya kalo gak ngelawan, pikir si nelayan bejat.
Dengan kurang ajar diciumi dan dan dicupanginya leher Irma yang jenjang, geliatan dan rontaan Irma sudah tak ada artinya lagi seiring meningkatnya birahi gadis itu.

“Ahhhh…Nnnggghhhh…Lep…Lepasin b-bang-s-s-at…Ennghh…” umpat Irma, tapi kali ini dengan suara lemah dan gemetar, tanpa tenaga sama sekali. Si nelayan tertawa mengejek perlawanan setengah hati Irma, puting susu gadis itu yang semakin mengeras dia cubit dan pilin-pilin membuat Irma semakin blingsatan.
“Hahahah, mulai enak ya neeengg? Hmmm? Udah jangan pura-pura atuh, bilang aja eneng mau kontol saya, gede lho, pasti enak dimasukin ke memek situ” ledek si nelayan yang kontol kerasnya sudah masuk di antara dua paha Irma, menggesek-gesek bibir memek si gadis yang sudah banjir.
“Aaahh…S-siapa y-yang mau k-kontol letoy lu…A-anjing…” racau Irma, tangannya mencengkram erat tangan si nelayan yang meremas-remas buah dadanya. Tapi semua perlawanan dan rontaan Irma sudah tak berguna. Tubuhnya sudah takluk oleh rangsangan pejantan yang sedang menguasai tubuhnya. Dalam hati dia berteriak tak sabar ingin disodok oleh pentungan raksasa yang sekarang asyik menggesek-gesek bibir memeknya. Tapi Irma masih tak rela, tak mau si nelayan yang sudah melecehkan mereka secara fisik dan verbal menang.
“Neng badannya bagus ya, tinggi langsing, tampang juga cakep…Situ model ya? Artis?” si nelayan berbasa-basi seolah-olah ingin membuat Irma semakin menderita karena kontol raksasa itu masih bolak balik depan pintu tak mau masuk ke dalam.
“B-bukan urusan l-lo b-bangsat…N-ngentot ya ngen-t-tot a-aja a-anjing…” Irma membuang muka, tak ingin si nelayan melihat wajahnya yang sudah horny berat.
“Oh nih perek mau ngentot? Ya udah saya kasih yah…Duh emang dari dulu pengen nyicipin cewek tinggi kayak peragawati” ujar si nelayan santai sambil mengarahkan ujung kontolnya ke lubang memek Irma. Irma hanya bisa pasrah memejamkan mata dan menggigit bibir menanti saat-saat lubang kewanitaanya kedatangan tamu agung.

Dan JLEB! Kontol raksasa itu menembus memek Irma dengan sekali tancap, membuat gadis itu langsung melotot. Tubuh tinggi semampainya refleks menggelepar dan meronta. Gadis berjilbab itu mendongak menatap langit, mulutnya terbuka lebar tanpa suara. Irma langsung orgasme di tusukan pertama! Dia sungguh tak menyangka, dia tahu dia yang paling mudah klimaks di antara teman-temannya, tapi mestinya tak semudah ini.
“Hah? Baru dimasukin aja udah keluar? Nih cewek biar kerudungan maniak juga ternyata?” ujar si nelayan sambil menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Lalu dengan cuek dia langsung menggenjot tubuh lemas Irma di posisi berdiri. Irma hanya bisa mendesah dan melenguh pelan dengan suara serak-serak basahnya merasakan liang memeknya penuh sesak oleh kontol jumbo si nelayan. Dibiarkannya si nelayan mendekapnya dari belakang, dengan satu tangan si nelayan meremas payudara kenyalnya bergantian dan satu tangan lagi bermain di selangkannya, sesekali mempermainkan kelentitnya membuat Irma semakin merasa nikmat.
“Tuuuh kan, kalo udah ngerasain kontol sayah pasti enak kan” ejek si nelayan
“Mmmmhhh…K-kontol lu payaaah…G-gak…Ada en-en-naknya…Bangs-s-s-saaaaaat!” Irma masih bersusah payah membela harga dirinya. Kesalahan besar.

Mendengar ejekan Irma ekspresi si nelayan langsung berubah, tanpa peringatan dia menghentakkan pinggulnya kuat-kuat, dan genjotannya di memek Irma semakin keras dan brutal. Irma menjerit-jerit apalagi ketika payudaranya diremas semakin kasar oleh si nelayan.
“Dasar perek munafik! Masih aja gak ngaku! Makan nih kontol!” maki si nelayan dengan emosi
“Hrrrnghhh! Dasar cewek jaman sekarang! Udah tukang ngentot, tukang bohong lagi! Mau jadi apa negeri ini hah!” cerocosnya ngelantur sambil menggeram dan terus memompa tubuh Irma tanpa belas kasihan.
Tubuh Irma sekarang bagaikan boneka seks yang terpelanting-pelanting di tangan si nelayan. Satu buah dadanya yang sedang tidak diremas ikut berayun-ayun seiring gerakan tubuhnya. Tangan dan kaki Irma yang panjang dan indah bergerak dan meronta liar tanpa kendali. Irma terus menjerit histeris dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat tapi apa daya, bagaimanapun dia melawan tubuhnya tak kuasa menahan gelombang birahi yang datang seperti air bah.
“A-aaahhhhh…Ngggaaaahhhhkkk…G-gak mauuu…Gak r-relaaa akuuu samaaa…Ahhh…K-k-keluaaarrr!” Irma menjerit seperti menangis seiring klimaks dahsyat yang menerpa tubuhnya.
“S-stoppp…Plissss…M-memek akuu..Udahhh…Ahhhh kok lagiiii!” Irma histeris memohon si nelayan menghentikan genjotannya, tapi yang dia dapat malah satu orgasme lagi.
Dan lagi. Dan lagi. Dan lagi, begitu seterusnya membentuk rantai multi orgasme. Jangankan melawan, untuk berpikir lurus saja Irma kesulitan.

“A-aahhh s-stopppp…J-jangaannn…Nghhh…T-tolong…T-tolongin aku Ttaaaa…Mbak Eciiiii…Huuu” jeritan Irma benar-benar sudah seperti tangisan saja sekarang.
Eci yang dipanggil hanya mematung tak berkedip menyaksikan pemandangan di depan matanya. Sementara Dita masih terduduk lemas bersandarkan batu karang. Tak ada yang bisa menyelamatkan Irma dari derita birahi yang dia alami sekarang. Si nelayan tanpa ampun terus menghukum Irma yang berani melawan dan menghinanya.
“Pecun kerudungan! Tampang alim memek gatel! Doyan kontol tapi gak mau ngaku! Munafik!” maki si nelayan
“Hrrrgggghhh…Cewek kayak gini…Urrghhh mendingan dibuntingin aja! Nih nyumbang peju! Puas lu perek!?” si nelayan meracau tak jelas sambil terus menggeram. Sebelum akhirnya si nelayan mendorong kontolnya dalam-dalam hingga mentok di rahim Irma.
“Bunting lu pereeeek! Hrrrrrnggghhhhhhh!”
CROT! CROT! CROT!
“Aaaaaaaaaaahhhhhhhhh!”
Tubuh bugil Irma kejang-kejang dalam dekapan si nelayan seiring klimaksnya yang terakhir. Seperti Dita dia merasakan nikmatnya disembur di dalam di ujung multi orgasme. Si nelayan mengambil nafas sambil masih memeluk tubuh Irma dari belakang.
“Haahh, memeknya enak juga yang ini…Gak kalah sama yang tadi. Biar pecun tapi masih legit hahaha, tapi kayaknya sekarang udah dower tuh sama kontol sayah hahahahaa”
“Tadi aja sok-sokan ngelawan, udah dikontolin eh malah enak sendiri. Cih!” si nelayan melanjutkan ejekannya lalu dengan kasar didorongnya Irma hingga tubuh gadis itu terjerembab ke air. Irma boro-boro protes apalagi melawan karena tubuh telanjangnya masih didera sisa-sisa orgasme.

DEG!
Jantung Eci berdetak kencang ketika si nelayan menghampirinya. Mampus gue, pikir Eci yang matanya terus menatap benda raksasa yang menggantung di selangkangan si nelayan.
“Ini anak kecil atau apaan nih” gumam si nelayan yang mengamati tubuh mungil Eci dari atas ke bawah “Tapi udah jembutan, susu udah gede…” lanjutnya yang membuat Eci jengah. Tapi melihat Irma dihukum seperti tadi, Eci tak berniat untuk melawan. Walaupun di kantor dia paling tegas dan cerewet, di sini dia tidak punya otoritas.
“Heh neng, situ bukan anak bawah umur kan?”
“Aku seumuran sama mereka pak” jawab Eci agak kesal “Tuaan dikit malah” lanjutnya pelan
“Situ pasti demen kontol kayak temen-temennya kan? Hah ngapain sok-sokan pake kerudung, mending situ tiap hari gak usah pake baju kayak sekarang pamer susu sama meki, hahahaha!” Eci hanya menunduk dihina seperti itu.
“Iyaa…” jawabnya lirih
“Iya apa?”
“Iya aku…Aku emang gak perawan Pak”
Si nelayan menggeleng-gelengkan kepala seolah kecewa dan tak percaya, lalu berorasi dengan akting sekelas sinetron
“Hancur sudah negeri ini! Anak gadis jaman sekarang sudah tak bisa menjaga kehormatan, lalu malah bangga sudah berbuat dosa!”

Plis deh, kan situ yang merkosa kita tanpa provokasi, batin Eci kesal. Tapi ditelannya harga dirinya dan mencoba bernegosiasi untuk keselamatan dirinya dan teman-temannya.
“Bapak silakan kalo mau ngapa-ngapain aku, tapi tolong nanti lepasin dan kembalikan kami dan baju kami ke pantai ya pak” pintanya
“Hahaha! Anak kecil berani nawar! Maksudnya ‘ngapa-ngapain’ tuh apa? Jelasin dong!” si nelayan dengan cuek menghiraukan penawaran Eci
“Umm itu…Umm…Ngen…Ngentotin aku maksudnya” jawab Eci sambil tertunduk, menyembunyikan ekspresi malu campur kesal dan marah di wajahnya.
“Hahaha! Tampang polos mulut kayak sampah! Dasar perek kayak temen-temennya, sama aja munafiknya” si nelayan sepertinya sangat puas mempermalukan Eci dan teman-temannya.
“Eh tapi badannya situ bagus juga ya neng, biar kecil tapi bohay. Gemes deh sayah” lanjut si nelayan sambil menatap tubuh Eci seolah-olah ingin menelannya bulat-bulat.
“I-iya Pak, silakan aja pake badan aku tapi nanti…”
“Aaah! Nanti ya gimana nanti! Sini!” potong si nelayan sambil menarik tangan Eci ke area dangkal tempat dia mengeksekusi Irma dan Dita.

Eci menelan ludah. Sekarang gilirannya, dan dialah harapan terakhir bagi teman-temannya untuk menyelamatkan diri dari teror si nelayan dan kontol raksasanya. Tapi bila Dita dan Irma saja dibuat semaput, apalagi dirinya yang yang belum yakin memeknya bisa menampung keseluruhan si kontol monster. Lamunan Eci buyar ketika si nelayan mendorong tubuh bugilnya dengan kasar kebawah membuat gadis berkacamata itu berlutut.
“Aduh Pak!”
“Nih sepong dulu!” perintah si nelayan menunjuk selangkangannya.
Eci bergidik ngeri melihat benda raksasa yang sekarang berada tepat di depan wajahnya. Kontol hitam itu lebih mengerikan dilihat dalam jarak dekat. Tampak urat-uratnya yang berkilat basah terlumuri cairan cinta Irma. Jantung Eci berdetak kencang, kombinasi antara takut dan terangsang.
“Heh cepetan!” bentak si nelayan tak sabar
“I-iya Pak”
Eci mulai menjilat dan mencium kepala kontol yang masih lemas itu. Lalu Eci mulai menggengam dan mengocoknya pelan, tangan mungilnya merasakan sendiri dimensi kontol si nelayan yang membuatnya takjub. Perlahan si batang mulai bangun dari tidurnya, lalu sambil masih mengocok dengan tangan, Eci membuka mulutnya untuk melahap si kontol. Ah, ternyata memang terlalu besar buat rahang Eci. Susah payah Eci membuka rahangnya lebar-lebar, hingga akhirnya bisa masuk juga. Rahangnya terasa sakit dan pegal, tapi Eci penasaran juga sejauh apa dia bisa menelan kontol jumbo itu. Gadis itu tampaknya ingin mengetes batas kemampuannya.
“Uuuhhh anak kecil nelen kontol…Ajiibbb” racau si nelayan merasakan hangat dan lembabnya mulut Eci. Sekarang tombak saktinya sudah keras kembali.

Lama-lama mulut Eci terbiasa juga. Tidak sakit lagi tapi masih sangat sesak. Apalagi dengan mudah kepala kontol si nelayan menyentuh dinding kerongkongannya, padahal baru masuk tiga perempatnya. Eci menyerah, tak memaksakan diri memasukkan semuanya hingga ke pangkal. Sebagai gantinya dia mulai menggerakkan kepalanya pelan-pelan, dan menggunakan lidahnya untuk menggelitik batang keras di dalam mulutnya walaupun sangat sesak di sana. Si nelayan tertawa mengejek bibir Eci yang monyong dan pipinya yang kempot saking semangatnya Eci menyepong kontolnya.
“Aaah kecil-kecil jago nyepong juga…Dasar pada perek semua nih bertiga”
Eci membalas hinaan si nelayan dengan semakin mempercepat sepongannya. Harapannya si nelayan bisa ejakulasi di mulutnya, jadi setidaknya memek mungilnya bisa terhindar dari teror si kontol monster. Walaupun dalam hati Eci tak bisa mengenyahkan rasa penasaran seperti apa rasanya bila kontol itu menerobos masuk dalam memeknya.
“Uuughhh mantepppp….Ahhh udah ahh, jadi pengen langsung nyicip yang di bawah!” dengan kasar si nelayan memegang kepala Eci dan didorongnya hingga kontolnya terlepas dari mulut Eci.
“Yaaaahhhh” Eci melenguh kecewa karena rencananya gagal. Tapi ekspresinya disalah artikan oleh si nelayan.
“Ck ck ck…Yang ini kecil-kecil lebih haus kontol dari yang lain, dunia emang udah gila” ujarnya.

Si nelayan menarik tangan Eci hingga berdiri. Gadis berkacamata itu hanya pasrah saat tangan si nelayan menggerayangi tubuh mungil tapi sintalnya. Buah dada Eci yang bulat jadi sasaran si nelayan. Eci mendesah lirih merasakan puting susunya dirangsang hebat oleh jari si nelayan. Desahan Eci semakin kencang ketika kepala si nelayan nyosor menyusu pada payudaranya.
“Hmmmpffhh…Ahhh…Nenen dulu yah neng, gemes saya mmpffhhh sluurrp”
“Aaahhh jangan paaaak…” rengek Eci ketika menyadari jari-jari si nelayan mulai menelusuri hutan lebat di selangkangannya, lalu menggesek kelentit hingga akhirnya tiba di pintu masuk memek Eci. Melihat pola Dita dan Irma tadi yang dikobel sampai orgasme sebagai menu pembuka, Eci tahu dia akan mengalami nasib yang sama. Tapi jari si nelayan hanya masuk sedikit sebelum ditarik lagi.
“Wew, sempit amat neng, beneran kayak anak kecil. Muat gak yah dimasukin kontol?”
“Nggak pak, pasti gak akan muat segede gitu!” Eci memohon sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Tapi alih-alih mengerti dan bersimpati, nelayan bejat itu malah kegirangan.
“Waah! Beneran rejeki nomplok hari ini! Udah dapet dua yang legit, sekarang dapet yang sempitnya kayak anak kecil, tapi gak salah soalnya udah gak di bawah umur hahahahahaha!”
Mau umur berapa kek tetep aja lu salah kalo merkosa orang, batin Eci sebelum dia memekik terkejut karena si nelayan mengangkat tubuhnya tiba-tiba seperti boneka.
“Kyaaa!”
“Pegangan neng! Ya di situ, kakinya di pinggang…Huuup!”
Eci refleks menggantungkan tangannya di leher si nelayan, lalu sesuai perintah kakinya memeluk pinggang si nelayan seperti sedang memanjat pohon. Sementara tangan jahil si nelayan menopang tubuh Eci di pantat montok gadis berkacamata itu. Posisi berpangkuan seperti ini memang favorit para cowok yang pernah menyetubuhi Eci. Tubuh mungilnya membuat para cowok tergoda memperlakukannya seperti boneka seks. Eci tak keberatan, malah senang karena sensasinya memang luar biasa. Asal tidak dalam kondisi dipaksa dengan kontol raksasa siap meneror memeknya seperti sekarang.

“Saya melarin memeknya yaa neng…” goda si nelayan membuat Eci merinding
“Hiii Pak, jangan dong pliis, gak akan muat di akuuu…” rengek Eci lirih
“Diem ah! Naah, di situ…Yaaa…Nemu bibirnya…Hngggghhh!” si nelayan meracau ketika dia mencoba mengarahkan kontolnya ke bibir memek Eci. Merasa ujung pentungan itu mulai merangsek lubangnya, Eci meringis. Si nelayan terus menekan tubuh Eci ke bawah dengan kuat, hingga ujung kontolnya perlahan menembus masuk.
“Awwwhhh susah banget gilaaa!” si nelayan ikut meringis bersama Eci
“Aaahhh pelan-pelan Paaaakkk…Sakiitt!” jerit Eci
Tanpa kenal lelah dan tanpa mempedulikan jeritan Eci, si nelayan terus berusaha melesakkan senjatanya sedalam mungkin. Untungnya dinding memek Eci sudah cukup terlumasi meskipun tidak sempat orgasme dulu seperti Dita dan Irma. Sekarang sudah masuk setengah, tapi buat Eci rasanya sudah penuh sekali. Dengan geraman keras si nelayan menyentakkan pinggulnya hingga akhirnya ujung senjata miliknya mentok di rahim Eci. Padahal masih ada sisa sedikit yang belum masuk.
“Aahh Paaak mentok niih…Stoopp!” rengek Eci
“Anjirr, segini aja udah mentok…Tapi hebat juga ya memeknya neng bisa muat segini juga hehehe..”
Pujian si nelayan tidak berarti bagi Eci. Memeknya serasa penuh sekali, biarpun elastisitas dari kelaminnya mengurangi rasa sakit tapi sungguh Eci tidak terbiasa. Si nelayan sendiri belum bergerak. Dia masih meresapi nikmatnya dicengkeram memek sesempit punya Eci ini.

“P-paaakk udah yah jangan gerak…G-gini aja pliss…” pinta Eci
“Aaahhh lebih enak digerakin neng, tenang aja, pasti memek situ bakalan biasa kok”
Tanpa peduli dengan permintaan Eci, si nelayan mulai menggerakkan pinggulnya. Eci merintih setiap kali pentungan si nelayan menggesek syaraf-syaraf sensitif di dinding kelaminnya. Perlahan si nelayan mulai menaikkan temponya, membuat kenikmatan akibat gesekannya semakin bertambah.
“Cup cup jangan nangis neng, tuh udah mulai becek lagi…Apa mau dicepetin?” tanya si nelayan melihat mata Eci yang berair dibalik kacamatanya.
Eci menggeleng, tapi sesuai dugaan si nelayan melakukan yang kebalikan. Dia mempercepat pompaan pinggulnya dan menaik-turunkan tubuh mungil Eci dalam gendongannya. Memek Eci yang semakin terlumasi mempermudah usahanya. Jadilah tubuh polos Eci terpontang-panting di gendongan si nelayan. Rasa sakit dan sesaknya berganti dengan kenikmatan hebat dari kontol raksasa yang membelah kelaminnya.
“Aaahhh…Ak-aku…Ahhh Paaaakkkk!” jerit Eci sebelum kelojotan dan mengejang di gendongan si nelayan.
Sungguh hebat si nelayan, setelah menaklukkan Dita dan Irma, masih saja punya tenaga untuk menggendong dan menyetubuhi Eci hingga gadis itu klimaks. Eci yang masih gemetar memeluk erat tubuh pejantannya, membenamkan kepalanya di dada bidang berbulu si nelayan. Ditempel seperti itu, si nelayan semakin bernafsu. Dia kembali menggenjot Eci dalam gendongannya, membuat si gadis mendongak dan mengerang nikmat. Tanpa canggung Eci menyambut bibir si nelayan yang memagutnya. Seperti sepasang kekasih mereka berciuman dengan mesra, Eci sudah terlalu larut dalam birahi hingga tak mempedulikan bau mulut pasangannya.

“Hmmmpppfffh!” mata Eci terbelalak saat orgasmenya kembali datang, tapi mulutnya masih asyik dilahap si nelayan. Tak mempedulikan hentakan badan Eci dan juga kontraksi memeknya di bawah sana, si nelayan terus menggenjot Eci. Semakin lama memek Eci semakin terbiasa, juga semakin terlumasi hingga bisa digenjot kontol si nelayan semakin cepat. Akibatnya kenikmatan yang dirasakan Eci pun terus naik dan naik, klimaksnya datang susul menyusul dengan interval yang semakin pendek.
“Ngghh Paakkk! Bentarr a-aku lagi…Aaahhh! Lagiii…Ahhh! D-dapet lagiii!” orgasme Eci datang beruntun lebih cepat dari yang bisa dia katakan
Dita yang sudah agak pulih mendekati Irma dan memeluknya. Berdua mereka menyaksikan Eci yang terpantul-pantul seperti boneka di gendongan si nelayan. Mereka bergidik ngeri melihat ekspresi Eci yang sudah tidak karuan.
“Uuurghhh enak banget yang ini sempiiitnyaaaa!” geram si nelayan
“Nggggghhhhhhhaaakkkkkhhhhh!” erangan Eci semakin tak jelas, liur mengalir dari sudut mulutnya yang selalu terbuka, matanya mendelik ke atas seperti kesurupan. Setiap beberapa detik tubuhnya mengejang, pertanda ledakan orgasme terjadi di sistem syarafnya.
“Uuggh, ngempot terus nih memek sempit, ahhh buntingin juga yang ini dehh…Siap ya neng!”
Eci tak bisa merespon, dia hanya bisa mengerang semakin kencang dan histeris ketika si nelayan menggenjotnya dengan tusukan-tusukan dalam dan panjang.

CROT! CROT! CROT!
“Hiiiiiiiiii!” Eci menjerit melengking sambil menengadah. Tubuhnya mengejang hebat dalam gendongan si nelayan yang juga terpejam menikmati klimaksnya. Hingga akhirnya rasa itu reda, Eci memeluk erat tubuh si nelayan. Untungnya si nelayan tidak melepas pegangannya. Dia malah berjalan ke arah perahunya. Lalu dengan santai dia mengangkat tubuh Eci dan menaruhnya bagai boneka rusak di atas perahu. Setelahnya dia menghampiri Dita dan Irma yang saling berpelukan dan memandang takut ke arahnya.
“Ayo semua kita balik ke pantai” perintahnya sambil menarik tangan keduanya. Irma dan Dita tak melawan karena memang ini yang mereka inginkan dari tadi.
Irma, Dita, dan Eci berbaring menumpuk seperti ikan tangkapan di perahu itu. Terutama Eci yang terus mengangkangkan kakinya mencoba mendinginkan memeknya yang digesek pentungan si nelayan dari tadi. Si nelayan menyalakan mesin sambil tersenyum melihat ‘tangkapan’nya.

“Waah, mantep banget euy hari ini. Ngerasain tiga memek yang legit, badannya beda-beda lagi. Ada yang putih, ada yang langsing, ada yang kecil, aah puas deh!” cerocosnya
“Kayaknya sayang ya kalo kalian langsung pulang. Kalian ini kan pecun-pecun jilbaban yang demen kontol, saya kasihin ke temen-temen saya aja ya? Pasti puas deh! Gede-gede lho kayak saya, muahahaha!” tambah si nelayan
“Jangan Pak…Kami pengen pulang…” mohon Dita
“Haalaah, sayang ah dapet barang bagus kayak kalian gak dibagi! Udah diem aja, nanti juga kalian bisa pulang kalo kita udah puas semua, huahahahaha!” bentak si nelayan.
Raut ketiganya langsung dipenuhi putus asa. Habis sudah. Si nelayan mengkhianati janjinya. Tiga gadis itu harus memikirkan sesuatu untuk bisa lepas dari kondisi gawat itu. Untung sewaktu mereka hampir sampai, belum tampak ada orang lain di sana.
“Naah, kalian tunggu di sini ya, bentar lagi bakal ada kontol-kontol baru buat muasin memek laper kalian hihihi…”
Begitu mendekati pantai, si nelayan turun untuk menarik dan mengikat perahunya. Saking sibuknya dia tidak mendengar suara-suara di belakangnya. Dan saat dia berbalik…
BUUK!
Si nelayan oleng ketika kepalanya dipukul oleh benda tumpul. Sesaat sebelum pingsan, dia berbalik dan melihat Dita memegang potongan kayu besar yang biasa dia pakai sebagai dayung.

***

Puluhan kilometer dari pantai terkutuk itu, Irma memacu mobilnya di jalan dalam diam. Begitu juga Eci di sebelahnya dan Dita di belakang.
“Eh Ta…Lo gak ngegebuk tuh orang sampe mati kan?” Irma membuka suara setelah beberapa lama
“Nggak lah, cuman dipukul di kepala pake kayu aja. Paling cuman pingsan” jawab Dita
“Tuh orang kuat ngegarap kita bertiga, masa gitu doang mati” timpal Eci.
Ketiganya lalu membicarakan yang sudah terjadi. Setelah Dita memberanikan diri untuk mengambil kayu dayung dan memukulkannya ke si nelayan hingga pingsan, mereka bergegas melarikan diri walau tubuh mereka masih lemas. Ketiganya langsung mengambil barang dan pakaian basah mereka, lalu berlari dalam keadaan bugil hingga ke tempat mobil Irma diparkirkan. Sebenarnya mereka membawa baju ganti, tapi mereka khawatir si nelayan cepat siuman atau teman-temannya datang. Jadilah Irma memilih untuk mengemudikan mobilnya telanjang bulat bersama yang lain berkilo-kilo jauhnya hingga dirasa aman untuk berhenti dan memakai baju ganti mereka.

“Aah parah banget deh sampe aku harus nyupirin telenji gitu saking takutnya” kenang Irma
“Iiya ya nekad banget kita berbugil ria gitu…Eh kok lu concern banget sih sama tuh orang? Kan lu yang paling benci sama dia?”
“Yaa aku mah gak mau kita jadi pembunuh aja, ribet urusannya Mpok…Iih tapi emang brengsek tuh anjing” rutuk Irma
“Mana kontol segede pentungan lagi” timpal Eci sambil merinding
“Itu beneran bisa masuk Mpok? Gak sakit? Di aku aja penuh banget” tanya Dita, juga merinding
“Sakitnya sih dikit Ta, tapi seseknya itu lho. Mentok banget lagi” jawab Eci, masih merinding

Ketiganya terdiam, tak ada satu pun yang mau mengakui bahwa mereka sebetulnya mendapat kenikmatan diperkosa si nelayan dan kontol monsternya. Sensasi yang mereka rasa benar-benar baru, bersetubuh di laut terbuka di bawah ancaman dan paksaan. Rasa takut dan putus asa mereka seolah-olah menjadi bumbu yang menambah kenikmatan birahi. Dita mengingat hinaan dan pelecehan si nelayan yang malah membuatnya terangsang. Irma mengingat betapa puas dia bisa mengeluarkan makian dan sumpah serapah yang mungkin tidak akan bisa dia katakan ke pacarnya atau partner seksnya yang lain. Dan Eci mengingat saat si nelayan memperlakukannya seperti anak kecil, yang membuatnya tidak berdaya tapi juga nikmat terasa. Mereka menyadari pengalaman seks mereka kali ini telah membuka wawasan baru, dan sensasi yang mereka rasakan membuat mereka semakin binal. Tapi mereka tak mau mengakuinya jadi mereka hanya diam saja.

“Tapi aneh ya, kita gak ada niat ngentot, gak niat macem-macem, eh akhirnya…” ujar Irma mengalihkan pembicaraan
“Lagi sial aja kita ketemu tuh orang. Takdir kali” tukas Dita cuek
“Hmm, kalo emang takdir…Gimana ya kalo kita diperkosa gitu tiap kali ke tempat wisata?” kata Eci
“Ogah!” seru Irma dan Dita berbarengan.
Walaupun dalam hati ketiganya berpikir, kalau dapat enak boleh juga…

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Di Pantai Sepi Terbaru

April 14, 2018 Add Comment