Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 2 Terbaru
Sudah sebulan setelah istriku dikuret. Atas saran tetanggaku yang bidan, istriku sebaiknya pasang IUD dulu sebelum nanti mencoba untuk hamil lagi. Setelah tanya-tanya ke bagian finance, ternyata kalau istriku pasang IUD di rumah sakit bisa gratis karena posisiku sebagai karyawan tetap. Akhirnya aku dan Rini sepakat untuk pasang di rumah sakit.Tapi kami teringat pengalaman kemarin, ketika seharusnya Dokter Vina yang operasi tapi ternyata tiba-tiba diganti Dokter Tan. Aku sempat konfirmasi ke Dokter Vina beberapa hari setelahnya, ternyata memang benar bahwa jadwal praktek hari itu diganti mendadak oleh Dokter Tan. Aku semakin yakin kalau itu memang akal-akalan dokter bajingan itu. Tapi sudahlah, aku berusaha melupakan semua kejadian itu.
![]() |
| Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Bagian 2 |
Selepas maghrib kami menunggu di lobby sambil nonton tv yang ada di lobby tersebut. Satu per satu pasien keluar masuk ruang periksa. Aku sudah memastikan ke bagian pendaftaran bahwa hari ini Dokter Vina praktek. Berarti semua sesuai rencana. Tiba-tiba dari ruangan prakter keluar Dokter Tan dan keempat mahasiswa koasnya, tampaknya mereka sudah mau pulang, tapi sialnya Dokter Tan melihatku di lobby bersama istriku. Langkah Dokter Tan terhenti sebentar, menyuruh mahasiswanya jalan duluan, dia menghampiri bagian pendaftaran. Dia memeriksa daftar pasien, lalu masuk lagi ke ruang periksa.
Aku jadi punya firasat buruk. Tapi mengingat di dalam ada Dokter Vina, aku merasa sedikit lega. Yang penting di dalam ada Dokter Vina supaya Dokter Tan tidak perlu macam-macam.
“Nomor tiga enam, silakan masuk,” panggil bagian pendaftaran. Kami berdua pun melangkah masuk ke ruang periksa. Kami masuk dan duduk di kursi yang disediakan, sementara kursi dokter masih kosong.
“Ibu mau pasang IUD yan Bu?” tanya susternya
“Iya Mbak,” jawab istriku
“Baik tunggu bentar ya, dokternya masih di ruangan sebelah,” kata suste lagi.
Tak lama kudengan pintu dari ruangan sebelah dibuka, dan terdengar langkah kaki mendekati kami. Sosok berbaju putih itu kemudian duduk di depan kami dan menyapa kami dengan ramah,
“Pak Hasan, Bu Rini, apa kabar? gimana sudah sehat sekarang Bu?” tanya Dokter itu ramah, Dokter Tan.
Kami berdua terperanjat, kenapa yang datang dokter bajingan ini lagi.
“Ba…baik sudah lumayan sehat sekarang Dok. Tapi Dok, Dokter Vinanya mana?” tanya istriku heran
“Dokter Vina ada operasi mendadak di ruang sebelah, jadi saya yang menggantikannya di sini. Bu Rini mau pasang IUD kan ya? Oke sudah disiapkan, ayo Bu sekarang kita ke tempat tidur,” ujar Dokter Tan.
“Ta…tapi Dok, tadinya saya mau sama Dokter Vina…,” istriku sedikit menolak
“Oh betul Bu, tapi Dokter Vina ada operasi yang tidak bisa ditinggalkan, lagipula pasang IUD tidak lama kok, hanya sebentar. Mari Bu,” ajak Dokter Tan lagi.
Sebenarnya kami ingin sekali menolak. Tapi mendengar ajakan Dokter Tan yang sangat ramah dan simpatik, istriku luluh juga. Lagipula memang dia sudah harus pasang IUD karena ini akhir masa haidnya.
“Mari Bu silakan,” ajak suster kepada istriku.
“Ya sudah Mas, tanggung, tidak apa-apa,” kata istriku pelan kepadaku. AKu hanya mengangguk, walau dalam hati sebenarnya ingin langsung keluar dari ruangan itu.
Istriku sengaja memakai gamis supaya mudah disingkap. Dia menurunkan celana dalamnya dan mulai naik ke ranjang. Dia duduk sebentar, membetulkan posisi jilbabnya, kemudian berbaring. Suster kemudian membantu Dokter Tan menyiapkan peralatan untuk memasang IUD. Setelah peralatan siap, Dokter Tan menyuruh sesuatu kepada suster, aku tidak dengan ia menyuruh apa, lalu suster tersebut keluar ke ruangan sebelah. Dokter Tan duduk di dekat ranjang dan menyuruh istriku untuk agak maju ke ujung ranjang dekat Dokter Tan duduk.
Dokter Tan membantu mengangkat kedua kaki istriku ke sandaran kaki hingga istriku mengangkang. Kemudian dia mulai menyingkap gamis biru istriku hingga ke perut. Lagi-lagi tanpa kain penutup.
Tiba-tiba pintu ruangan sebelah dibuka, suster yang tadi masuk lagi. Tapi dia tidak sendiri, melainkan keempat mahasiswa koas yang kulihat tadi ikut masuk. Istriku kaget sekali. Tangannya refleks menutup mulutnya dan dia melirik ke arahku. Wajah cantiknya yang putih berubah jadi merah padam.
“Ibu Rini, tenang saja ya, ini mahasiswa koas memang sedang praktek di sini. Jadi mereka akan mempelajari cara pemasangan IUD. Oke Bu..” ujar Dokter Tan.
Aku hanya bisa terbengong-bengong melihat hal ini. Kedua kalinya dokter bajingan ini mengerjaiku dan istriku. Kali ini lebih parah, kalau sebulan yang lalu istriku dalam keadaan dibius total, sekarang istriku dalam keadaan sadar mendapati bagian paling rahasia dirinya ditelanjangi oleh lima pasang mata lelaki yang bukan muhrimnya.
Dokter Tan mulai bekerja. Dia mendekatkan lampu sorot ke selangkangan istriku, dan mulai bekerja dengan alat-alatnya entah apa namanya. Kadang-kadang kaki istriku bergerak-gerak refleks, entah menahan sakit atau geli.
“OK, now all of you touch this sweet pussy. Put your 2 fingers like this inside the hole then turn it like this (Ok, sekarang kalian semua sentuh memek yang manis ini. Masukkan dua jari kalian ke dalam lubang seperti ini, kemudian putar seperti ini),” perintah Dokter Tan kepada para mahasiswanya. Dokter Tan pasti sengaja menggunakan bahasa inggris supaya istriku tidak mengerti bahwa perhiasannya sedang dikerjai oleh bajingan itu.
Keempat mahasiswa itu mulai menjamah kemaluan istriku satu persatu. Istriku hanya memejamkan matanya menerima sodokan tangan-tangan asing di kemaluannya.
“How do you feel guys (apa yang kalian rasakan)?” tanya Dokter Tan
“This pussy is very soft, look at the lips, very exciting (memek ini sangat lembut, lihat bibir-bibirnya, sangat menggairahkan),” jawab salah satu mahasiswanya.
“Doc, I think I’m horney (Dok, saya pikir saya terangsang),” timpal mahasiswa yang lain. Mereka berlima lalu tertawa renyah. Menertawakan istriku yang sedang dipermainkan kemaluannya oleh kelima bajingan ini.
“Yeah me too. Look at this blossom pussy, perfect pussy, shaved pubic, with very smooth thigh, we can not see a pussy from a hair covered woman everyday right, this is our advantage to be a gynecologis (Yeah saya juga. Lihat ke memek yang mekar ini, memek yang sempurna, jembut yang dicukur, dengan paha yang sangat mulus, kita tidak bisa melihat memek wanita yang pakai tutup kepala (jilbab) tiap hari kan, ini keuntungan kita sebagai ahli kandungan),” jawab Dokter Tan sambil tersenyum. Keempat mahasiswa pun ikut tersenyum.
“Oke Bu, sudah selesai. Silakan duduk lagi,” ujar Dokter Tan setelah puas menelanjangi kemaluan istriku. Istriku turun dan memakai kembali celana dalamnya. Keempat mahasiswa itu keluar kembali ke ruangan sebelah. Kami berbincang-bincang sedikit sebelum akhirnya kami pamit.
—
Kami berdua dalam perjalanan pulang, di dalam mobil kami. Rini memulai pembicaraan.
“Mas, aku kapok ah ke rumah sakit ini. Sudah dua kali dokternya dokter Tan terus. Aku malu. Mana pake ngajak mahasiswa segala. Tau ga Mas, tadi tuh abis dipasang, aku juga dipegang-pegang. Jarinya pada masuk ke lubangku Mas. Sama itilku juga tadi disentuh-sentuh,” ucap istriku.
“Iya Dek, aku juga ga nyangka. Sudahlah nanti kita ke bidan aja. Gapapa lah bayar 500 ribu daripada itilmu diobok-obok orang lain,” jawabku.
—
Jam setengah dua belas malam, Rini sudah tertidur karena lelah sementara aku membuka laptopku ketika ada email baru masuk. Email dari Dokter Tan.
“Hasan, makasih atas kesempatannya sehingga gua bisa nyolok-nyolok memek istriku lagi. Yah walopun nyoloknya cuma pake jari doang, ga pake kontol hahaha…
BTW, buat oleh-oleh, nih ada video tadi sore. Enjoy yah…”
Ada sebuah attachment di email itu. Sebuah file video. Kudownload, cukup besar filenya, kemudian kubuka dengan GOMPlayer. Ternyata video ruangan periksa kandungan, tempat kami tadi dan masuk. Dan ternyata itu adalah rekaman tadi sore ketika istriku sedang pasang IUD. Ternyata di ruangan itu sudah dipasang kamera tersembunyi oleh dia. Gambarnya sangat jelas dan bening. Aku bisa melihat bagaimana proses ketika Dokter Tan memasang IUD, kemudian bagaimana dia menunjukkan cara memasukkan dua jari ke dalam lubang kemaluan istriku, diikuti oleh keempat mahasiswanya. Kemudian tangan Dokter Tan mengelus-elus bibir kemaluan istriku itu, termasuk itil dan lubang kencingnya. Makanya kaki istriku tadi sore bergerak-gerak karena pasti tangan dokter itu membuat dia kegelian. Kadang pantatnya terangkat-angkat ketika dokter keparat itu menyentuhkan tangannya ke kemaluan istriku.
Aku menutup video itu dan termenung. Perasaan campur aduk antara marah, malu, dan menyesal. Yah, menyesal. Kubuka sebuah folder rahasia di laptopku, berisi 46 file video. Bukan video sembarangan, ini semua video dari kamera tersembunyi juga, yang pernah kupasang di WC wanita di rumah sakit. Yah, hampir semua dokter dan suster yang pernah pipis di WC itu, pernah kulihat. Aku tahu warna celana dalam mereka, aku tahu bentuk jembut mereka, paha mereka, dan bagaimana air kencing keluar dari kemaluan mereka. Aku adalah sang pengintip juga, dua tahun yang lalu ketika aku belum menikah. Aku adalah ahli menggunakan kamera tersembunyi juga. Tapi ternyata sekarang berbalik, aku lah yang menjadi korban dari kamera tersebut.
Biasanya aku yang menelajangi wanita lain, kini istrikulah yang ditelanjangi. Apakah ini semacam ‘karma’? entahlah…
—
Tiga bulan setelah kejadian itu, aku mengundurkan diri dari rumah sakit tersebut. Aku diterima di sebuah perusahaan IT yang juga kontraktor untuk kamera security. Akhirnya aku terbebas dari bayang-bayang Dokter Tan. Justru di perusahaan baruku, aku punya segudang fasilitas untuk membalas keusilan Dokter Tan terhadap istriku. Haruskan kubalas???
Jadi, beginilah. Aku akhirnya pindah kerja ke sebuah perusahaan penyedia jasa kamera keamanan. Perusahaan ini jelas jauh lebih kecil daripada rumah sakit tempat aku bekerja sebelumnya. Gajiku pun sedikit turun, tapi itu terbayar dengan lepasnya bebanku menjadi kacung Dokter Tan, ditambah suasana kerja yang sangat akrab. Tim kami hanya berenam. Ali sang leader yang punya modal perusahaan ini, Johan bagian finance dan marketing, Agus dan Hadi bagian hardware, aku fokus di software dan Yono sebagai helper.
Uniknya lagi, Ali, Agus dan Hadi itu lulusan elektro, jadi kuat banget di bidang hardwarenya. Justru aku banyak belajar macem-macem spy cam dan alat-alat pendukung lainnya. Johan bekerja sangat keras hingga bulan ini kami berhasil dapat dua customer. Selesai instalasi, uji coba, customer puas, biasanya dilanjutkan dengan pembayaran. Setelah pembayaran itulah biasanya kami merayakan bareng-bareng, walau hanya minum-minum kopi atau nasi goreng di pinggir jalan.
Setelah tiga bulan aku gabung di situ, aku yang awalnya sungkan sekarang jadi makin akrab. Biasanya hari jumat sore kami minum-minum kopi di cafe sekitar seratus meteran dari kantor kami. Di situ kami sering ngobrol macem-macem, sampai ke masalah kehidupan pribadi, walaupun kami tetap memilah mana yang bisa diobrolin mana yang tidak perlu.
Di situ lah ketika giliran aku cerita kenapa aku meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan di rumah sakit, teman-temanku ini malah jadi bersimpati.
Johan : “Gila tuh dokter. Pervert banget. Trus lu diem aja istrilu digituin sama dia? Lu ga bales kek ato gimana. Gue sih walaopun sesama Cina, gue bakalan cari cara buat bales dia”
Aku : “Ya abis gimana. Gue ga ada daya. Di samping butuh gajian juga, dia juga bos gue. Mo gimana lagi…”
Johan :”Iya tapi itu kurang ajar banget bro…”
Hadi :”Iya bro, gue juga ga nyangka bos lu itu bajingan banget. Pas banget lagi dia dokter kandungan. Udah berapa memek yang dia kerjain coba…”
Agus :”Eh kira-kira lu ngomong, tempat umum nih…”
Hadi :”Oh sori-sori, terbawa perasaan nih gua hehe…”
Agus :”Iye bro. Tapi itu dokter punya istri ga? istrinya cantik ga?”
Aku :”Punya, cantik banget lah. Sekel gitu, mulus pula, sesuai lah chinese gitu. Kenapa emangnya Gus?”
Agus :”Lah dia emang ga pernah ke rumah sakit lakinya? kerjain gimana gitu kalo ke kloset wanita, pan lu pernah usil juga di kloset wanitanya kan, lu pernah cerita ke gue haha…”
Aku :”Haha… Tapi jarang banget Gus bininya dateng, kalopun dateng cuma bentar, trus keluar lagi”
Suasana sedikit hening, sayup-sayup terdengar alunan musik jazz yang diputar orang cafe. Entah bagaimana pikiran masing-masing temanku setelah mendengar curhatku ini. Kemudian Ali si big boss, yang emang orangnya kalem dan jarang ngomong ini buka suara.
Ali :”Johan, rumah sakit itu pernah kita prospek belum?”
Johan :”Belon bos, gua belon pernah ekspansi ke daerah sono”
Ali :”Nah target utama lo sekarang tuh rumah sakit mesti jadi customer kita, gimana pun caranya!”
Johan :”Siap bos, gue siapin proposal plus penawarannya minggu depan. Lagian kan ownernya sesama chinese, gua akalin dah. Tapi ini ada hubungannya sama cerita si Hasan ga bos?”
Ali :”Ada dong, ini kan bagian dari misi revengenya si Hasan”
Agus :”Tapi gimana caranya bos? siapa yang jadi target? si Dokter Tan itu? masa kita mo syuting bokongnya, kaga napsu ane bos”
Ali :”Yaelah sabar tong. Johan, target keduanya, lo mesti nawarin instalasi di rumah si dokter Tan itu sebagai bonus. Pokoknya lu usahain supaya dia mesti terima tawaran kita. Jadi dia bayar buat instalasi di rumah sakit, bonusnya instalasi di rumah dia”
Johan :”Oh gitu bos, aye ngerti. Terus kita mo sadap rumah dia Bos?”
Ali :”Cerdas loh”
Johan :”Tapi pan masa security camera seisi rumah? entar dia curiga dong kalo kita masang di kamar mandi?”
Ali :”Ah elo ga cerdas-cerdas amat ternyata. Kita pasang dua set. Yang satu yang buat dia lihat, cuma kamera depan rumah, garasi, samping rumah, sama belakang, atau ruang tamu. Set kudua di kamar dia sama kamar mandi, itu masuk ke monitor kita aja. Gimana Hasan? Setuju ga lu?”
Aku :”Aduh jadi ngerepotin begini…”
Ali :”Kaga, pan kita nyari customer juga. Sekalian dah kita kasih pelajaran buat tuh dokter bajingan”
Johan :”Cerdas juga lo bos, ga nyangka gua”
Ali :”Iya lah, kalo ga cerdas gue ga jadi bos, jadi kaya elo”
Johan :”Sialan lu bos hehehe…”
Proyek pun dimulai. Untuk urusan merayu customer memang Johan jagonya. Dalam dua minggu, Johan sudah dapet order dari rumah sakit. Khusus untuk instalasi di rumah sakit, aku tidak boleh ikut karena bisa mengundang kecurigaan dari pihak customer. Untuk pemasangan di rumah, kami cari waktu supaya ketika pemasangan si Dokter Tan tidak ada di rumah sehingga aku bisa ikut. Gila emang, rumahnya gede banget.
Kami bagi jadi dua tim, Agus dan Yono untuk set yang bisa dilihat Dokter Tan, sementara aku dan Hadi untuk set revenge. Aku pilih untuk pasang di kolam renang dengan view keseluruhan kolam renang, di kamar mandi dekat kamar utama yang kuduga akan dipakai Dokter Tan dan istrinya, serta di kamar tidur mereka. Untungnya cuma ada pembantu mereka seorang jadi pembantu itu bisa dialihkan perhatiannya oleh Yono ketika aku memasang set revenge.
Sekilas aku melihat foto keluarga mereka di ruang tamu. Istrinya memang cantik, tapi tidak tinggi, hanya setingga dada Dokter Tan. Mereka baru punya anak satu, laki-laki, seumuran SMP.
Jam dua sore kami tes kedua set dan sudah oke. Aku pergi duluan untuk menghindari ada orang rumah yang pulang dan mengenaliku, sementara tim yang lain menunggu kedatangan orang rumah untuk pengecekan.
—
Keesokan harinya kami berkumpul di kantor untuk melihat hasil kerja kami. Untuk set revenge, kamera yang digunakan pun adalah spy cam terbaik yang kami punya, bentuknya kecil tapi gambarnya jernih dan resolusinya besar. Untung rumah Dokter Tan pakai internet 20 mbps jadi gambar yang kami terima tidak buffering.
Karena hari itu memang lagi santai, kami berkumpul sekitar tengah hari. Tapi karena di rumah belum ada kegiatan yang menarik, kami tidak terlalu memperhatikan. Sekitar jam 4 sore baru nyonya rumah pulang, naik mobil dengan menyetir sendiri, mobilnya mini cooper.
Hadi :”Nah ini, bintang pelm kita udah dateng. Njirr semlohei banget istrinya”
Johan :”Buset cantik banget ni cici, kok mau ya ama engkoh Tan?”
Dokter Tan memang tidak ganteng, tapi badannya atletis.
Aku :”Mau lah, suaminya badannya terawat gitu. Emang elo Han, buntelan lemak dipiara”
Johan :”Eit, itu tandanya gua makmur bro”
Ali :”Udah ah pada berisik lo, ganggu aja gua lagi khusyu nih”
Johan :”Eh maap bos maap…”
Ali :”San, namanya siapa tu?”
Aku :”Lily bos, Lily Cheung”
Agus :”Lu kok tau sih?”
Aku :”Beuh, gua kan megang database warga serumah sakit. Nomor KTPnya aja gue bisa tau”
Johan :”Nomor KTP mah ga penting, yang penting nomor pin ATMnya”
Agus :”Dasar lo cina, yang dipikirin duitnya aja. Yang penting tuh nomor BHnya tau ukuran berapa…”
Johan :”Yee dasar lo pribumi, pikiran lo ngeres aja. Nomor BH tuh ga penting, yang penting yang di dalem BHnya tau”
Agus :”Yaa elu juga sama ngeresnya berarti…”
Ali :”Eh buset makin berisik aja nih cina ma pribumi sama aja. Udah sono pergi yang jauh ah kalo mo berantem”
Johan :”Eh maap lagi bos, ga sengaja, si Agus nih mancing-mancing…”
Supaya puas kami menggunakan tiga monitor ukuran 17 inch, masing-masing untuk satu kamera. Semua kamera dalam keadaan merekam. Begitu datang, Lily langsung masuk ke kamar dan meletakkan tasnya di meja rias. Kemudian dia ke kamar mandi, bercermin sebentar, kemudian cuci muka menggunakan sabun yang ad di wastafel.
Lalu dia membuka celana jeans dan celana dalamnya, lalu duduk di kloset, pipis. Posisi kamera dari samping sehingga kami tidak bisa melihat bentuk memeknya. Hanya saja kemulusan kakinya dan pahanya yang bulat membuat kami menelan ludah. Selesai pipis, dia menyeka dengan tisu dan menekan tombol flush di klosetnya. Dia berbalik menuju keluar kamar mandi. Kami bisa melihat jembutnya yang ternyata lumayan lebat tapi tertata rapi.
Dia masuk ke kamar tidur lagi dan membuka kaosnya, plus BHnya. Kami menarik napas hampir bersamaan menyaksikan Lily yang sudah telanjang bulat. Toketnya besar, sedikit lebih besar dari genggaman tangannya karena kulihat dia sempat memegang kedua toketnya, sedikit mengangkatnya di depan cermin, memeriksa apakah keduanya masih cukup mancung atau tidak.
Yono :”Ini cewek kayak siapa ya, kayak yang pembawa acara itu di tipi-tipi tapi dulu udah lama”
Hadi :”Siapa Yon namanya? lu inget kaga?”
Yono :”Siapa ya, cina juga, namanya tuh maradona apa ya, mirip-mirip gitu namanya”
Johan :”Magdalena kali, maradona emangnya pemaen bola, dasar pribumi bodoh”
Hadi :”Iya lu Yon, malu-maluin pribumi aja”
Yono :”Hehehe iya maap bos, lupa aku”
Lily mematut dirinya sebentar di depan cermin, kemudian mengambil kimono mandi berbahan handuk berwarna biru dan memakainya. Ia lalu keluar kamar lagi. Kukira ia akan ke kamar mandi, tapi tidak muncul juga. Ternyata ia menuju kolam renang di belakang rumah.
Dia membuka kimononya dan meletakkannya di sisi kolam yang berbentuk angka delapan itu. Kemudian dia langsung meloncat menceburkan dirinya ke kolam renang. Dia berenang menggunakan gaya punggung beberapa kali balikan. Yah, gaya punggung, sehingga sembulan kedua dadanya, putih ketiaknya, dan samar-samar jembut hitamnya bisa kami nikmati selagi ia berenang.
Lima atau enam balikan, ia merasa cukup. Kemudian keluar kolam lagi dan memakai kimononya. Ia melangkah masuk lagi ke dalam rumah, dan langsung ke kamar mandi. Di situ ia melepaskan kimononya, kemudian naik ke dalam bathtub dan mulai menyalakan shower. Ia berdiri sambil agak mendongan ke arah shower, menikmati kucuran air yang memberikan efek pijatan pada tubuhnya. Ia mengambil shampo dan mulai mengeramasi rambutnya. Kemudian mengambil beberapa tetes sabun cair dan mulai menyabuni tubuhnya. Ia mulai menggosok lehernya, tangannya, payudaranya, perutnya, pinggang, terus ke bawah ke bokong, selangkangan, paha, betis dan akhirnya telapak kakinya. Kami semua menonton dengan seksama menikmati pemandangan erotis itu tanpa ada satu pun yang berkata-kata.
Setelah busa sabun menyelubungi seluruh permukaan tubuhnya, ia kembali menyalakan shower. Bedanya kali ini ia hanya duduk di bathtub tepat di bawah guyuran shower. Ia duduk sambil membilas dan membersihkan sisa-sisa busa sabunnya di sekujur tubuhnya. Ketika membersihkan selangkangannya , ia mengangkang agak lebar membiarkan kucuran air menerpa daerah vaginanya.
Syukurnya arah dia mengangkang tepat ke arah kamera kami, sehingga kami bisa menyaksikan kontrasnya rambut yang hitam di tengah kedua pahanya yang putih. Dia sedikit menggosok-gosok selangkangannya sampai ia merasa cukup bersih. Kemudian dia berbalik dan dalam posisi membungkuk sehingga terpaan air shower mengarah ke belahan pantatnya. Dia menggosok belahan itu beberapa kali sampai ia merasa cukup bersih. Kami pun disuguhi pemandangan lubang pantatnya yang sedikit berkeriput di sekelilingnya.
Setelah merasa cukup, ia mematikan showernya, mengambil handuk untuk mengeringkan dirinya, dan memakai kimononya kembali. Ia keluar kamar mandi dan masuk ke kamar dengan handuk masih melilit di atas kepalanya. Ia membuka kimononya, kemudian membuka lemari baju, mengambil sebuah celana dalam berwarna krem dan memakainya. Lalu dia memilih sebuah daster pink dan langsung memakainya. Kemudian ia keluar kamar. Entah ke mana, mungkin ke ruang tengah karena di situ kami tidak menempatkan kamera khusus.
Begitu Lily hilang dari monitor, kami menghela napas panjang hampir bersamaan tanda pertunjukan sudah usai.
Hadi :”Sempurna coy. Ini bener-bener wanita sempurna. Bener-bener anugrah kita bisa lihat kaya beginian”
Johan :”Lebih anugrah lagi lakinya ga cuman ngeliatin doang, bisa ngentotin juga”
Agus :”Hahahaha lu kenapa Han? naksir? lu cemburu ma lakinya?”
Johan :”Bro, si dokter Tan itu ga ganteng bro, dia cuma menang di duit aja daripada gua”
Agus :”Iye, trus elu menang di perut, ngaca lo, masa bidadari kaya gitu mau ama cowo buncit kaya elo”
Johan :”Sialan lo maennya perut mulu…”
—
Hari ini kami lembur. Bukan karena kerjaan, tapi penasaran dengan apa yang akan terjadi antara Dokter Tan dan Lily. Sekitar jam sepuluh malam Dokter Tan datang. Ia masuk ke kamar tidur di mana Lily sedang nonton tv di kamar itu. Dokter Tan membuka kemeja dan celana panjangnya hingga ia tinggal pake singlet dan celana dalam. Kemudian ia ke kamar mandi untuk kencing, cuci muka dan sikat gigi.
Ia masuk lagi ke kamar tidur, berdiri di samping tempat tidur sambil mengatakan sesuatu kepada Lily. Kami tidak bisa mendengan pembicaraan mereka karena kami tidak memasang mikrofon di situ. Mereka berbincang sebentar sebelum akhirnya Lily bangkit dari tempat tidur dan mendekati Dokter Tan.
Lily bangun dan berdiri di depan Dokter Tan, kemudian keduanya berciuman mesra, sambil saling merangkul. Setelah itu, Lily berjongkok sambil memelorotkan celana dalam Dokter Tan. Ia meraih penisnya yang setengah tegang, menggenggamnya kemudian memasukkan ujungnya ke dalam mulutnya. Terkadang lidahnya menjilat menyapu kepala penis yang memerah itu. Dokter Tan tidak tinggal diam, dia meraih kepala Lily, menarik rambutnya dan memaju-mundurkan kepala Lily. Lily hanya pasrah kepalanya diperlakukan seperti itu.
Johan :”Buset itu kaga ada romantis-romantisnya, pala bininya dijambak gitu. Honey kenapa kamu mau sama bajingan itu…?”
Hadi :”Gayamu honey, dia itu istri solehah bro, nurut aja ama suami”
Johan :”Aduh kalo gua ga bakal ngejambak cewe secantik ini bro, bakal gua bela-belai rambutnya”
Hadi :” Iye rambut bawahnya elu mah pasti”
Johan :”Hehehe tau aja lu”
Prosesi blow job tidak lama. Dokter Tan kemudian membuka daster dan celana dalam Lily, lalu mendorong Lily hingga ia terhempas ke tempat tidur. Lalu ia menarik kedua kaki Lily mendekatinya dan membukanya lebar-lebar. Ia kemudian berjongkok dan mulai menenggelamkan kepalanya ke selangkangan Lily. Ia menjilati belahan vagina Lily, kadang ke atas memainkan ujung lidahnya di klitorisnya, kadang ke bawah menyusupkan lidahnya ke dalam lubang vaginanya. Lily hanya bisa pasrah dan badannya bergerak erotis mengikuti rangsangan yang ia terima dari selangkangannya. Kedua tangan Dokter Tan kadang meremasi kedua paha Lily yang putih bulat membuat kami yang melihatnya ikut keras di bawah sana.
Johan :”Waduh jadi ngaceng berat gua nih”
Hadi :”Ah jangan coli di sini lo, ntar napsu gua ngedrop”
Puas menjilat, Dokter Tan menarik Lily lebih ke tepi hingga selangkangannya tepat di pinggir tempat tidur. Ia kemudian mengarahkan penisnya ke lubang vagina Lily dan mendorongnya perlahan sampai masuk semuanya. Ia mulai maju mundur perlahan sampai dirasanya sudah licin dan lancar, ia mulai bergerak cepat. Kedua tangannya menahan kedua pergelangan kaki Lily supaya terbuka selebar-lebarnya. Kemudian kedua pergelangan kaki itu diangkat dan dipertemukan di atas sehingga Lily tidak lagi mengangkang melainkan kedua kakinya berdempetan lurus ke atas. Hal ini membuat jepitan lubang Lily makin erat di penis suaminya.
Ia kemudian berhenti bergerak dan melepaskan pegangannya. Ia menyuruh Lily untuk berbalik dan menungging masih di pinggir tempat tidur. Ia mengarahkan penisnya lagi dan mulai menusuk vagina Lily. Ia terus memompa sambil sesekali tangannya meremas-remas bokong semok Lily. Kadang juga ia menampar kedua bokong itu hingga sedikit kemerahan. Ia mendorong dengan keras hingga badan Lily terguncang-guncang ke depan ketika suaminya itu mencoblosnya.
Tiba-tiba ia berheti, lalu mulai meludahi lubang pantat Lily. Ia meludahi beberapa kali dan dengan tangannya melumuri ludah di lubang pantat itu hingga rata. Telunjuknya kemudian mulai berusaha menerobos membuka lubang yang tampak sempit itu. Ketika seluruh telunjuknya sudah masuk, ia lalu keluarkan lagi dan memasukkan jempolnya. Setelah jempolnya bisa masuk semua, ia keluarkan penisnya dari lubang vagina Lily, kemudian mulai mengarahkan kepalanya ke lubang anus itu.
Kepala penis itu mulai menyusup masuk ke lubang sempit itu perlahan, hingga seluruh kepalanya terbenam. Ia terus mendorong perlahan hingga sebagian batangnya masuk, lalu ia tarik lagi. Terus ia mulai maju mundur sambil sesekali ia meludahi lubang itu dan penisnya sendiri.
Johan :”Anjirr, bego, istri punya memek cantik begitu malah disodomi, keterlaluan ini dokter bajingan”
Agus :”Iya bro sayang itu memek dianggurin, padahal kalo demen bool jangan kawin ama dia ya, kawin aja ama elo Han, kan elo punya bool juga”
Johan :”Wah sialan lo, ogah gua mah disodomi ama dia”
Makin lama gerakan Dokter Tan makin cepat. Lily mengambil bantal dan membenamkan wajahnya dalam-dalam ke bantal itu. Entah mungkin ia menahan sakit yang amat sangat. Tapi suaminya tidak peduli, ia terus mendorong. Dorongan itu makin lama makin cepat hingga tiba-tiba ia melepaskan penisnya dari anus istrinya, kemudian ia loncat ke kasur dan menarik rambut Lily. Ia kocok penisnya dengan cepat di hadapan wajah Lily dan tersemburlah maninya beberapa kali membasahi wajah cantik itu. Sesudah beberapa semburan, ia masukkan penisnya ke dalam mulut Lily. Lily mengerti dan mulai mengemut penis yang baru keluar dari anusnya itu supaya sisa-sisa maninya terkuras semua.
Setelah merasa puas, Dokter Tan berbaring dan menarik selimut. Tampaknya ia kelelahan. Lily kemudian bangun menuju kamar mandi. Di situ ia langsung naik ke bathtub dan menyalakan shower. Ia membasuh mukanya sampai bersih dari mani suaminya. Kemudian sambil berdiri ia mengarahkan gagang shower ke selangkangan dan lubang pantatnya dari arah bawah. Badannya menegang. Aku kira ia merasakan sensasi rangsangan lagi ketika itu, tetapi ternyata bukan, ia menahan sakit.
Hadi :”Loh itu mau orgasme apa gimana tuh?”
Agus :”Engga bro, liat mukanya, itu sih kesakitan deh kayanya”
Johan :”Iya lah, titit segede gitu nusuk-nusuk bool mungilnya, lecet kayanya. Kasian bener sih kamu cantik”
Agus :”Iya bro, liat dia kayanya nangis deh. Itu air shower apa air mata sih kayak sama…”
Di satu sisi kami benar-benar disuguhi pertunjukan seks yang sangat erotis, di mana sang suami benar-benar mendominasi istrinya. Tapi lama kelamaan kami jadi terenyuh melihat penderitaan yang dialami sang istri. Setelah ia merasa cukup bersih, ia mengambil handuk dan mulai mengeringkan tubuhnya. Untuk dibagian lubang anusnya, ia mengelap sangat pelan, supaya tidak menyakitinya. Ia terlihat agak tertatih ketika berjalan. Di depan wastafel ia mengambil sebuah salep dari kotak obat, kemudian ia mengeluarkan salep itu seujung telunjuknya dan mengoleskannya dengan sangat hati-hati di anusnya.
Hadi :”Ah entar kalo gua punya bini kaga bakalan tusbol, kasian bini gua”
Agus :”Iya lo kalo mau tusbol jangan sama bini lo, sama Johan aja dia mah gapapa”
Johan :”Sialan lo pribumi maho”
Lily termenung sejenak memandang dirinya yang telanjang di depan cermin. Ia membetulkan rambutnya, mengusap wajahnya supaya tidak ada bekas air mata di pipinya, dan menguatkan dirinya kembali. Ia kemudian keluar kamar mandi menuju kamar tidurnya. Di situ tampak suamnya sudah tertidur. Ia memakai celana dalam dan dasternya kembali, kemudian naik ke ranjang dan berbaring tepat di sisi suaminya.
—
“Dear Doctor,
Terima kasih atas suguhannya. Aku akui dada istrimu lebih montok dari istriku. Memek istrimu juga sangat manis Dok, entah kenapa kamu masih saja minta tusbol. Kamu ada kelainan kah??
Hasan”
Begitulah email yang kukirim ke Dokter Tan, mereply emailnya dulu yang sengaja tak kuhapus. Tak lupa kulampirkan video rekaman mulai dari istrinya berenang, mandi hingga persetubuhan di kamar tidur. Aku sengaja tidak memasukkan video ketika istrinya kesakitan di kamar mandi setelah disodomi olehnya. Aki merasa simpati padanya. Aku khawatir kalau Dokter Tan tahu istrinya merasa tersiksa, ia malah menambah siksaan ke istrinya.
Ali :”Sudah kau kirim emainya Hasan?”
Aku :”Sudah bos, tapi ini bener ngga apa-apa? Dia ga akan lapor polisi?”
Ali :”Engga lah, dia juga sama udah bikin video ilegal waktu ngerekam istrimu kan. Lagipula dia tepi yang fair lah, dia ga akan lapor polisi, kemungkinan malah dia akan cari cara supaya bisa bales kamu lagi”
Hadi :”Tapi San, lu emang berhasil ngerekam bininya. Oke lah di rekaman kita, bininya telanjang. Di rekaman dia, binilu ga telanjang, cuma selangkangan aja yang terekam. Tapi dia itu udah berhasil menyentuh binilu San, ditambah lagi mahasiswanya. Jadi sebenernya pembalasan lu masih kurang San”
Aku :”Tapi dia kan dokter, ada kesempatan. Lah gua gimana nyari kesempatannya?”
Agus :”Bro, kita punya rekaman dia kan?”
Aku :”Iya punya. So what?”
Agus :”Gua ada ide bro…”
Johan :”Wah gua ikut…ikut…”

EmoticonEmoticon