Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku Terbaru
Dokter Vina kemudian meletakkan scanner USG itu ke tempatnya kembali dan menutup perut istriku. Istriku kemudian dipersilakan turun dari ranjang dan duduk kembali di sampingku.“Pak Hasan, maaf, tapi sepertinya ini tidak bisa diteruskan. Janin yang ada di istri Bapak ternyata tidak berkembang. Jadi harus dikuret,” Dokter Vina menjelaskan kepadaku
Usia kehamilan istriku saat itu baru sebulan. Itu adalah kehamilan pertama istriku. Sebenarnya kami berharap banyak untuk segera mendapat momongan. Tetapi dengan kondisi ini, ya sudahlah…
“Bu Rini, Ibu jangan sedih ya. Nanti setelah kuret, dicoba lagi ya Bu, jangan putus asa,” kini Dokter Vina menjelaskan kepada istriku.
“Iya Dok tidak apa-apa. Mungkin belum saatnya. Kami yakin ini memang yang terbaik,” jawabnya berusaha tegar.
“Nah Pak Hasan, kalau mau kita jadwalkan besok sore. Kebetulan saya besok sore kosong, jadi bisa untuk tindakan operasi. Untuk biaya, karena Bapak karyawan di sini saya kira semuanya gratis. Coba cek ke bagian keuangan Pak biar lebih yakin,” saran Dokter Vina kepadaku.
“Gimana Neng? besok sore saja?” tanyaku pada istriku. Aku memang sering memanggilnya Neng walaupun namanya Rini.
“Iya Mas besok sore saja,” jawab istriku mengiyakan.
Kemudian Dokter Rini memberikan resep obat yang harus diminum sebelum operasi. Kami pun berterima kasih dan pamit. Dokter Vina memang baik dan ramah orangnya. Itu sebabnya aku merasa aman kalau istriku ditangani olehnya.
![]() |
| Antara Aku, Dokter Vina, dan Istriku |
Dokter Tan, Richard Tan, adalah direktur sekaligus pemilik rumah sakit ini. Masih muda, energik, umur sekitar 40 tahunan dengan badan yang tinggi atletis. Dia adalah dokter yang ramah dan baik sebenarnya, hingga sebuah masalah pernah terjadi di sini. Ada kecerobahan salah satu teknisiku sehingga sistem komputer kami macet selama empat jam. Sialnya itu terjadi di jam padat ketika banyak sekali pasien datang. Setelah empat jam, kami bertiga tim IT akhirnya bisa menyelesaikan masalah itu dan sistem normal kembali. Tetapi ketika masalah ini dibahas di meeting mingguan, ternyata ketika terjadi trouble, banyak pasien yang memutuskan untuk pindah ke rumah sakit lain karena menunggu terlalu lama.
“Lu orang udah gua bayar mahal-mahal, kagak becus ngerjain begini aja. Lu bilang lu sekolah komputer hah? ngurusin komputer rumah sakit kecil aja sampe macet, customer gua pada pergi gara-gara kerjaan lu. Makanya lu jangan maen game aja kerjaannya, ntar jadi goblok otak lu,” maki Dokter Tan.
Dokter Tan marah besar ketika meeting itu kepadaku. Itu pertama aku dimarahi olehnya selama bekerja di sini setelah dua setengah tahun. Aku berkali-kali minta maaf kepadanya tapi sepertinya dia masih kesal kepadaku.
Dia sebenarnya ingin memecatku ketika itu. Tapi setelah mempertimbangkan biaya pesangon yang harus dia keluarkan kalau aku dipecat, ditambah sebenarnya sistem sudah normal kembali, dia mengurungkan niatnya. Setelah rapat itu, dia jadi tidak terlalu respek terhadapku. Seolah-olah dia mencari celah untuk membuatku tidak betah di sini dan mengundurkan diri. Aku pun merasa kikuk kalau berpapasan dengannya, aku hanya menyapa basa-basi saja sambil menundukkan kepala. Dia pun paling hanya menjawab pendek.
Jadi, sore ini istriku datang ke rumah sakit sekitar jam setengah enam. Aku beres kerja jam lima, langsung ke lobby untuk menemani istriku. Kami sengaja memilih waktu praktek Dokter Vina karena dia satu-satunya dokter kandungan yang wanita dan muslim. Kami dinasehati untuk sebisa mungkin menjaga aurat, termasuk dalam memilih dokter kandungan di mana dokter tersebut akan melihat bagian paling rahasia dari istriku. Istriku pendidikannya tidak tinggi, hanya lulusan madrasah aliyah saja di kampungnya. Sehari-hari dia bersama ibu-ibu yang lain di komplek tempat kami tinggal membuka usaha katering kecil-kecilan, kebetulan istriku memang pintar masak.
Karena sudah bikin janji, kami menghubungi bagian pendaftaran dan langsung diarahkan ke bagian kandungan. Di situ ada tiga ruangan, ada yang untuk pemeriksaan dan ada yang untuk tindakan operasi. Kami langsung diarahkan untuk masuk ke ruangan operasi dan menunggu. Istriku pun sudah mulai merasa mules karena obat yang diminumnya memang untuk merangsang supaya mules. Kami menunggu tak lama, sekitar 5 menitan ketika tim dokter itu tanpa mengetuk pintu masuk ke ruangan.
Kami berdua terperanjat karena ternyata yang masuk bukan Dokter Vina, tetapi Dokter Tan. Yah, dia memang dokter spesialis kandungan juga. Tapi kenapa dia yang masuk, kemana Dokter Vina? Dokter Tan langsung duduk di kursi dokter sambil membawa map catatan medik istriku.
“Sore Pak Hasan, sore Ibu, siapa namanya? Rini ya,” sapanya ramah sambil memeriksa catatan tersebut. AKu malah curiga, dia tidak pernah seramah ini kepadaku sebelumnya.
“So..sore Dok, kami kira Dokter Vina yang…,” istriku menjawab terbata-bata.
“Ooh Dokter Vina ada jadwal di ruangan lain, tapi tidak apa-apa, sama saja. Oke, sudah siap, ayo silakan naik ke ranjang…” kata Dokter Tan.
“Tidak mungkin, aku tahu betul bahwa seharusnya sore ini Dokter Vina jadwalnya kosong. Sebab jadwal praktek semua dokter ada di databaseku. Kenapa jadi begini…” batinku. Kemudian istriku berdiri menuju ranjang sambil dipapah oleh suster, sementara aku masih terbengong-bengong tidak percaya. Operasi ini tentu tidak bisa ditunda karena obat itu sudah merangsang supaya perut istriku mules dan harus segera dikuret. Aku tersadar dari lamunanku ketika Dokter Tan bangkit menuju ranjang, ketika dia melewatiku, dia menepak pundakku dengan keras, sambil melirik ke arahku, dengan senyum picik.
Ah, itu dia. Dia akan membuka mendapatkan perhiasanku yang selama ini kujaga rapat baik-baik. Dia akan menyingkap aurat istriku, tepat di bagian yang paling rahasia. Aku merasa tidak karuan. Keringatku menetes walaupun di ruangan berAC. Antara shock karena Dokter Vina tidak ada, malu, marah, dan terhina. Tentu saja dia bisa mengatur jadwal prakter dokter semaunya sebab dia yang punya rumah sakit ini.
Istriku menurunkan celana dalamnya kemudian meletakkannya di meja sebelah ranjang. Lalu ia naik ke ranjang dan berbaring. Dokter Hendrik mulai berbincang kecil dengannya. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan karena aku antara sadar dan tidak sadar dengan keadaan ini. Dokter Hendrik adalah ahli anastesi yang akan membius istriku selama operasi.
Suster kemudian membantu istriku supaya posisinya agak maju. Dia membantu meletakkan kedua kaki istriku di sandaran kaki yang ada hingga kaki istriku mengangkang selebar-lebarnya. Dia masih berusaha menutupi selangkangannya dengan bagian bawah daster batik merahnya. Kemudian Dokter Hendrik mulai bekerja sehingga perlahan-lahan kulihat di wajah istriku bahwa dia mulai kehilangan kesadaran, hingga tak sadar sepenuhnya. Kedua tangannya diletakkan di samping tubuhnya.
“Suster, suruh Johan dan timnya masuk. Dia ada di luar ruangan,” perintah Dokter Tan ke susternya. Susternya kemudian keluar pintu dan mempersilahkan empat orang lelaki berjas putih masuk ke ruangan. Apa lagi ini. Mereka adalah mahasiswa koas yang memang sedang magang di sini. Aku sudah pernah melihat mereka sekitar dua minggu terakhir.
Keempat orang itu, aku bahkan tidak tahu mana yang namanya Johan, langsung masuk mendekati ranjang tanpa menghiraukan keberadaanku. Mereka langsung menghampiri Dokten Tan, dan tampak dia memberi penjelasan tentang apa yang akan ia lakukan. Suster berdiri di dekat Dokter Tan tampak membantu menyiapkan peralatan kuret. Suster lalu mengambil kain putih dan mau dipasang di atas perut istriku, tapi Dokter Tan mencegahnya.
Dokter Tan langsung menyingkapkan daster istriku. Dibukanya sampai ke perut. Aku hanya bisa melihat dan membayangkan dari samping, bagaimana pria-pria itu memperhatikan selangkangan istriku. Kemulusan pahanya yang putih, rambut kemaluannya yang biasa dicukur rapi, belahan vaginanya yang berwarna merah gelap. Perhiasan istriku itu kini dikangkangkan selebar-lebarnya di mata pria-pria yang tidak berhak, yang bahkan istriku pun tidak mengenalinya. Dokter Tan tampak mulai bekerja, tangannya bergerak lincah, dan keempat mahasiswa koas itu memperhatikan dengan seksama. Aku hanya termenung menyaksikan peristiwa itu, tanpa mampu bergerak sedikitpun dari kursi selama sekitar setengah jam. Ketika akhirnya suster merapatkan kembali kedua kaki istriku dan mengulurkan dasternya sampai ke bawah lagi.
“Pak, sudah selesai. Silakan ditunggu sampai istrinya sadar ya Pak. Nanti saya ke sini lagi,” ujar suster kepadaku.
“Baik Sus terima kasih,” jawabku.
Dokter Hendrik keluar duluan dari ruangan itu bersama keempat mahasiswa koas. Terakhir tinggal Dokter Tan yang baru selesai mencuci tangannya, kemudian dia duduk kembali ke meja di depanku menuliskan beberapa hal di catatan medik istriku. Setelah selesai, dia bangkit menuju pintu keluar. Sebelum keluar, dia menoleh kepadaku dan berkata kepadaku,
“Nice pussy Hasan, your wife has a beautiful pussy. I think I wanna grab it one more time…” dengan senyum penuh kemenangan.

EmoticonEmoticon