Bunyi Gesekan Yang Nikmat

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Bunyi Gesekan Yang Nikmat Terbaru

Perkenalakan aq Ade (nama samaran) usia 30 thn, wni keturunan cina-manado, tinggal di kota Semarang. Aq bekerja di pengelolaan gedung mall yang cukup besar di kota ini...!!

Bunyi Gesekan Yang Nikmat
Bunyi Gesekan Yang Nikmat
Singkat cerita. Ditempat ini, aq tak hanya dikenal sebagai salah satu staf perusahaan, tapi juga orang mengenal aq sebagai ‘dokter’, walaupun aq tak pernah merasakan bangku kuliah di kedoktoeran, tapi karena kemampuanku untuk mengobati sebagai penyakit baik penyakit medis maupun nonmedis, mereka sering datang ke kantorku untuk berkonsultasi.

 Pada suatu hari telpon di kantorku berdering. Saat kucapkan, ‘Hallo’ terdengar suara merdu dari seberang sana.

" Selamat siang, bisa bicara dengan Pak Ade?"
" Ya, saya sendiri, dengan siapa saya bicara?"
" Oh, ini Pak Ade? Pak, ini Via dari toko xxx " Aq hanya mengiyakan, aq tau itu adalah sebuah toko handphone di mall ini.

- Aq mengira dia pasti akan membicarakan masalah operasional, atau komplain tentang pengelolaan gedung ini. Ternyata dugaanku meleset.

" Ada yang bisa saya bantu Bu Via?" Aq biasa memanggil semua orang dengan sebutan Bu, baik masih muda ataupun sudah berumur, sekedar untuk formalitas.
" Saya dengar-dengar cerita tentang Bapak, saya ingin bertemu dengan Bapak, kapan Bapak ada waktu?"
" Saya selalu ada waktu Bu, silakan datang kapan saja Anda suka."

 15 menit kemudian, gadis muda berusia 22 tahun ini telah ada didepanku dan menceritakan segala keluhannya. Dia merasa tidak PD dan minder dengan penampilannya, padahal menurutku dia sudah dalam segala hal, dari wajahnya yang cantik, ukuran tubuhnya sangat proporsional, kulitnya yang kuning langsat tanpa noda, hanya saja dadanya kecil, tapi paVig tidak nilai totalnya 8 (menurutku).

" Apa yang membuat Ibu berpikir demikian? Saya rasa Ibu sudah memiliki segalanya. Saya yang gemuk gini aja PD kok" Dia tersipu sambil berbisik,
" Maaf Pak, tolong jangan panggil saya Ibu, saya masih single, panggil saya Via." Aq mengangguk.
" Dan jangan panggil aq Pak, panggil aja Ade." Dia mengangguk.
" Dan.., kamu bisa menyimpan rahasia ngga Ade?" Aq memastikan hal itu kepadanya. Kemudian dia menceritakan, bahwa dia minder dengan dadanya yang berukuran hanya 34A.

- Aq cukup kaget, karena sebelumnya aq tidak pernah menjumpai “pasien” yang mempunyai keluhan seperti ini.

" Via, jujur saja aq baru pertama kali menghadapi keluhan seperti ini. Kamu pasti tau kan, kalau selama ini aq hanya menangani pasien pasien dengan keluhan yang 'lumrah', Aq ngga tau bisa berhasil atau tidak. Lagipula aq punya istri, gimana aq harus menjelaskan ke istriku?" Via mengangguk dan tersenyum,
" Aq tidak akan menceritakannya kepada siapapun, aq juga malu kalau sampai orang tau. Dan aq harap kamu mau mencobanya dulu, kita ngga tau hasilnya kalau belum mencoba dulu kan?” Aq berpikir keras sebelum aq menyanggupinya.

:: Via tersenyum dan memberikan kartunamanya kepadaku.

" Aq tunggu kamu di rumahku malam ini jam delapan."

 Jam delapan lewat lima menit aq sudah berada di rumah Via. Rumahnya tidak begitu besar tapi terasa nyaman dan sejuk.

" Kamu tinggal sendiri di sini?" tanyaku.
" Ngga, sama temen-temen, tapi pada punya acara sendiri-sendiri ama pacarnya. Makanya aq nyuruh kamu datangnya hari ini, biar dirumah ngga ada orang. Yuk cepetan, nanti keburu temen-temen pulang" Aq mengangguk dan mengikuti Via yang melangkah ke kamarnya.

- Kamarnya didominasi warna pink muda, dingin hembusan angin dari AC terasa di kulitku, membuatku merinding. Dengan malu-malu Via membuka kaos dan branya, dan aq menyuruhnya tidur terlentang. Sejenak aq agak grogi karena baru pertama kali melihat tubuh wanita selain istiku setengah telanjang, tapi bagaimanapun aq harus melaksanakan kewajibanku. Aq mulai terapi dengan memijit titik-titik darah yang berada di pundak dan dada atasnya. Setelah kurasa darahnya telah mengalir lancar, aq mulai memijit toketnya dengan pijitan yang lembut.

 Toketnya kecil tetapi terasa kencang. Via memejamkan matanya dan sesekali mengeluarkan lenguhan dan erangan saat tanganku menyentuh putingnya yang berwarna coklat muda itu. Tak kusadari, adikku mulai berdiri. Bagaimanapun juga, aq sebagai manusia normal tetap bisa terangsang, apalagi berada dalam satu ruangan dengan wanita muda yang cantik setengah telanjang dan aq sedang memijit toketnya.

" Ade.., jangan disitu terus dong mijitnya, geli.." Aq terkejut, tanpa kusadari pijitanku lebih sering berada di daerah sekitar putingnya.
" Ha? ehm.. iya.. maaf." Via mungkin melihat wajahku yang memerah, dia tertawa dan berkata,
" hi..hi..hi.., kenapa? Kamu terangsang ya..? Ngga pa pa deh, aq juga suka kok.. Cuma agak geli aja.." kata-katanya membuatku semakin gugup.
" eh.. kayaknya hari ini cukup dulu deh Vi, mungkin besok bisa diterusin.." jawabku.

:: Via semakin ngakak,

" Ade.. kamu kok lugu banget sih? Nggak pa pa.. terusin aja.. Kenapa? takut ketauan istri kamu ya?"

- Via merengkuhku dalam pelukannya dan mencium bibirku dengan lembut. Aq terhenyak, tapi dia kembali menarikku dan memagut bibirku dengan penuh nafsu. Dalam kebingunganku dia berbisik,

" Ade.., sudah lama aq menantikan hal ini.., begitu lama aq memendamnya.., aq sayang kamu Ade.. Bercintalah denganku Ade.." Aq cuma bisa duduk diam kayak orang bego.
" Aq pikir kamu salah orang Vi.. Kalau kamu pikir aq bisa membuat kamu bahagia, kamu bener-bener salah.. Aq gemuk, eemm.. barangku kecil.. terus.. ekonomiku pas-pasan, dan yang terutama, aq sudah punya istri dan anak.. Kamu becanda.. Kamu pasti becanda kan?" tanyaku tak percaya. Via tersenyum manis dan berkata,
" De, biar kujelaskan dulu.., dari dulu aq memang suka dengan pria yang bertubuh gemuk. Aq ngga peduli barangmu kecil atau apa.. kamu lihat juga dong, susuku kan kecil juga. Aq rela jadi istrimu yang kedua, dan lagian aq kan kerja juga, jadi kamu ngga usah bingung masalah perekonomian.." Jelasnya panjang lebar.

 Via menatap mataku dalam-dalam, seakan ingin menunjukkan ketulusan hatinya. Kupeluk dia erat-erat, Via menciumi seluruh wajahku, dan kubalas ciumannya dengan tak kalah bernafsu.

- Via membuka satu persatu kancing kemejaku lalu tangannya membelai dada dan perutku dengan lembut. Kurasakan bulu ?bulu halus di sekujur tubuhku berdiri. Sentuhan tangannya begitu lembut. Via tidak berhenti, dia memelorotkan celana panjang dan celana dalamku, lalu dengan sigap dia memegang adikku yang sudah berdiri tegak. Barangku memang tidak panjang, bahkan bisa dikatakan ukuran mini.

 Via mulai mengelus-elus adikku dan mengocoknya dengan lembut. Jari-jarinya yang lentik terasa dingin saat menyentuh batang kemaluanku. Aq tak mau kalah, kulepaskan celana pendek yang dia kenakan, dan terlihat dia memakai CD semi transparant sehingga terbayang rerimbunan bulu-bulu yang tidak begitu lebat. Kuelus bukit kemaluannya dari luar CD yang ia kenakan, Via melenguh,

" ooogghhhhh.. Ade.., aq milikmu.." Aq hisap puting susunya yang telah mengeras, lalu aq mainkan dengan lidahku, kupuntir-puntir dengan bibirku sementara tangan kiriku meremas-remas toketnya yang satu lagi, dan tangan kananku menyelusup masuk di balik CDnya dan membelai bukit kemaluannya. Perlahan kubuka belahan memeknya, terasa sekali memeknya telah basah oleh cairan yang keluar terus menerus dari memeknya.

- Kumainkan kelentitnya dengan jari tengahku, Via mengerang dengan sangat keras, merasakan kenikmatan yang dia terima saat ini.

" ooogghhh..ooohhh.. aaahhhh teruuss Dee, teruuss.. ooohhhhh.." Aq terus memainkan kelentitnya sambil terus menyusu padanya, sementara tangannya masih terus mengocok-ngocok kemaluanku dengan lembut, dan sesekali pegangannya agak mengencang, apabila dia merasakan kenikmatan.

 Aq tak sabar lagi, jari tengahku aq masukkan sedikit demi sedikit ke dalam lubang memeknya, spontan dia berteriak dan menarik tubuhnya,

" jangan.."

:: Aq memandangnya dengan perasaan heran, kemudian dia berbisik di telingaku,

" I’m still virgin.., aq ngga mau perawanku hilang oleh jari, aq ingin dengan ini," katanya sambil mengelus kemaluanku.” Lagi-lagi aq terkejut.

- Aq tidak menyangka masih ada gadis sekarang yang bisa menjaga keperawanannya sampai usia yang cukup matang. Dan lagi-lagi kebimbangan hadir dalam pikiranku, masa aq harus memerawaninya?

" Vi, kamu masih perawan?" tanyaku tak percaya. Dia mengangguk.
" Aq ingin memberikan mahkotaku ini kepada orang yang ku cintai. Aq sudah bilang, aq rela menjadi istri kedua. Toh nanti pada akhirnya aq akan memberikannya padamu juga, jadi untuk apa kita tunggu lama-lama?" Via mengatakan hal ini dengan mantap.

 Sejenak kemudian dia merebahkan dirinya diatas kasur sambil mengangkangkan kakinya lebar-lebar.

" Aq siap untuk menerimamu sayang.." Setelah ia mengatakan ini, aq langsung berlutut di depannya dan kupeluk dia erat-erat.

- Dia menciumi wajahku dan aq memulai mneggesek-gesekkan batang kemaluanku di lipatan memeknya. Terasa sekali banyaknya cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.

 Perlahan-lahan kutusukkan k0ntolku ke memeknya, Via memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya. Sedikit-sedikit kudorong k0ntolku, dan kurasakan ada yang sedikit mengganjal, lalu kudorong sekuat tenaga, bleess..

" Eeeggghhhh..ooouugghhh.." Via menjerit tertahan, dan terasa ada cairan hangat yang membasahi k0ntolku, mengalir keluar ke pangkal pahaku.

- Lalu aq perlahan mulai menggoyangkan pantatku maju mundur dan terasa jepitan memek Via di k0ntolku. Via mulai merasakan nikmat, terlihat dari nafasnya yang memburu dan desahan-desahannya yang membuat suasana bertambah merangsang.

" mmpphh..mmpphh..oooghhh..ooghhhh.. Adeo.. teruuss.. aauughhhh.."
" Aduh.. Pelan dikit Ade.. "
" Via.. oooghhhh.. nikmat banget sayang.. oouuh.. goyangin pantatnya Vi.."
" Ooouuhh.. aq ngga tahan Ade.. enak banget.. terus.. aahh.. uuhh.. aq.. aq.. ngga tahan lagi.. aahh..Ade.."
" Jangan ditahan Vi.., keluarin aja.. "
" Adeo.. Auuhh.. aq sayang kamu Adeo.."
" serrr..serrr..serrrrr.." terasa hangat di k0ntolku saat Via mengalami orgasme.

 Aq tetap menggoyangkan pantatku maju mundur semakin cepat sehingga mengeluarkan bunyi-bunyian akibat gesekan k0ntolku dengan memek Via.

" Crekk..crekk..crekk..clokk.. crekkk.."

:: Via terkulai lamas merasakan kenikmatan yang baru saja dia dapatkan, aq pun merasa akan mencapai klimaks,

" Vi, aq.. mau.. keluaarr.."
" iyaa.. Keluarin aja.. di daleem.." beberapa detik kemudian, aq memuncratkan seluruh energiku di dalam memeknya
croott..croott.. croott.. croott.. Beberapa kali pejuhku menyemprot di dalam memek Via.

- Aq merebahkan diri di samping Via, dan sepintas kulihat pejuhku bercampur darah perawan Via mengalir keluar dari memek Via. Kulihat wajah Via begitu damai dengan nafas yang masih agak memburu. Beberapa saat kemudian Via membuka matanya dan tersenyum kepadaku, sambil memelukku ia berkata,

" Ade, jangan tinggalkan aq yah.. Aq sayang banget sama kamu.." Aq hanya mengangguk pelan, walau di hatiku masih terdapat kebimbangan.

 Sampai aq menulis cerita ini hubunganku dengan Via masih tetap berjalan tanpa ada orang yang mengetauinya.

- Istriku sempat curiga denganku, tetapi setelah kujelaskan bahwa Via adalah rekan kerja, dia percaya dan tidak pernah lagi menanyakan hal ini lagi. Untuk para netters yang ingin berbagi pengalaman dengan saya, silakan kirim imel. Begitu juga bagi para netters yang ingin berkonsultasi mengenai pengobatan alternatif, juga dapat menghubungi saya via imel atau telepon langsung.

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Bunyi Gesekan Yang Nikmat Terbaru

Juli 06, 2018 Add Comment

Birahiku Naik Mendengar Rintihan Tante Angga

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Birahiku Naik Mendengar Rintihan Tante Angga Terbaru

Aku kini benar-benar terbangun setelah mendengar dengkuran Mas Har beberapa lamanya. Kuperhatikan dada dan perutnya yang padat lemak itu naik-turun seirama dengan suara dengkur yang makin menjengkelkanku. Aku turun dari ranjang dan berjalan menuju cermin besar di kamar tidur kami. Kupandangi dan kukagumi sendiri tubuh telanjangku yang masih langsing dan cukup kencang di usiaku yang tigapuluhan. Kulitku masih cukup mulus dan putih, payudaraku tetap bulat dan kenyal, pas benar dengan bra 37B warna pink favoritku saat kuliah. Dan wajahku masih halus, semua terawat oleh kosmetik yang aku dapatkan dari uang Mas Har.

Birahiku Naik Mendengar Rintihan Tante Angga
Birahiku Naik Mendengar Rintihan Tante Angga
Ah, aku masih sangat menarik. Tentu saja, tanda-tanda ketuaan tak bisa dihindari, namun tubuhku belum pernah melar karena hamil, apalagi melahirkan. Aku masih ingin meniti karierku, aku ini wanita yang menikmati kekuasaan. Dan menikah dengan Mas Har membuka lebar-lebar kesempatan untuk meraih ambisi itu. Kualihkan pandangan pada sosok lelaki tambun di ranjangku. Mas Har yang dulu tampil sangat jantan, bisa sangat berubah dalam waktu 12 tahun. Rambut halus di dada dan perutnya dulu yang selalu membuatku bergairah bila dipeluknya, kini tumbuh makin lebat dan liar, sedangkan Mas Har tidak pernah mau mencukurnya. Perutnya yang kokoh dulu kini ditutupi oleh selimut lemak yang sangat tebal. Memang otot dada dan tangannya yang kekar masih bertahan. Namun kalau aku bercinta dengan Mas har sekarang, rasanya aku sedang ditiduri oleh seekor gorilla. Memuakkan.

Meski begitu, hasratku akhir-akhir ini makin tak tertahankan. Seringkali, akulah yang meminta duluan ke Mas Har untuk memuaskan nafsuku. Namun gara-gara stamina Mas Har yang loyo di usianya yang setengah abad lebih, aku hampir pasti tidak terpuaskan dan kebanyakan aku sendiri yang menyelesaikan "tugas" Mas Har. Sama seperti yang terjadi sore ini, tinggal sebentar lagi aku merasakan orgasme, tiba-tiba Mas Har keluar, dan dengan napas tersengal-sengal ia membelai-belai tubuhku kemudian tertidur lelap di sampingku. Lagi-lagi harus jari-jariku sendiri yang memuaskanku. Aku sudah tak tahan. Aku tidak peduli lagi pada nilai dan norma yang berlaku bagiku sebagai perempuan. Kubulatkan tekadku, kemudian aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari bekas cumbuan suamiku yang memuakkan.

Selesai sarapan Mas Har pamit padaku dan mengatakan betapa menyesalnya dia harus meninggalkanku akhir pekan ini ke Singapura, demi kepentingan lobby perusahaannya. Mas Har memang pernah menawarkan padaku untuk pergi bersamanya, tapi aku menolak dengan alasan aku lelah dengan pekerjaan kantorku dan sedang tidak ingin pergi begitu jauh hanya untuk berbelanja. Dan kesempatan ini akan aku gunakan sebaik-baiknya. Sore ini aku akan punya kegiatan yang lebih menarik dari sekedar berbelanja, di Singapura sekalipun. Supir kami mengantar Mas Har pergi dan 30 menit kemudian aku pergi menuju kantor membawa sedanku sendiri.

Setelah makan siang aku kembali ke kantor dan menyelesaikan sebagian pekerjaanku hari itu dan dua jam sebelum waktu pulang, aku menyerahkan sisa pekerjaan itu ke bawahanku. Mereka tidak terlalu senang dengan tugas mendadak itu, tapi nampaknya mereka sudah terbiasa dengan perangaiku. Mereka paham bahwa aku tidak ingin menjadi lelah, karena sepulang kerja nanti aku akan pergi bersama teman-temanku, eksekutif wanita muda yang lain. Hanya saja mereka tidak tahu kalau hari itu, aku sudah membatalkan acara jalan-jalan kami.

Kukemudikan sedanku ke arah rumahku, namun kemudian berbelok menuju tempat lain. Sekitar 15 menit kemudian aku berhenti di samping sebuah lapangan basket di dalam suatu perumahan. Di sana sejumlah remaja SMU sedang bermain. Aku turun dari mobilku dan duduk di samping lapangan tempat tas-tas mereka diletakkan, lalu menyaksikan permainan mereka. Salah satu dari mereka, mengenakan kostum basket warna merah, yang kemudian melihatku, tersenyum dan melambaikan tangannya. Aku membalas dengan cara serupa. Dia adalah Angga, anak salah satu bawahanku yang sedang kutugaskan pergi ke luar kota selama beberapa hari. Hubunganku dengan keluarga mereka cukup akrab untuk mengetahui bahwa Angga mengikuti latihan basket dua kali seminggu di sana.

Sepuluh menit kemudian permainan berakhir dan sejumlah remaja itu menuju ke tas mereka, yaitu ke arahku. Aku berjalan menuju Angga membawa sebotol minuman yang sudah kusiapkan pagi tadi.

"Ang, minum dulu nih. Ternyata tadi di mobil Tante masih ada sebotol", tawarku.

"Oh iya, Tante, makasih!", jawabnya tersengal.

Nampaknya ia masih kelelahan. Angga mengambil botol dari tanganku dan segera menghabiskan isinya. Kami berjalan menuju tasnya. Dan ia mengeluarkan handuk untuk menyeka keringatnya. Aku mengintip sebentar ke dalam tasnya dan bersyukur aku memberikan botol minumanku kepada Angga sebelum ia sempat mengambil minuman bekalnya sendiri.

Sebagai pemain basket, Angga cukup tinggi. Dari tinggi badanku yang 168 cm kuperkirakan kalau tinggi Angga sekitar 180-an cm. Bisa kuperhatikan tangan Angga cukup kekar untuk anak seusianya, sepertinya olahraga basket benar-benar melatih fisiknya. Figur badannya menunjukkan potensinya sebagai atlet basket. Aku beralih ke wajahnya yang masih nampak imut walau basah oleh keringat. Dengan kulit yang kuning, wajahnya benar-benar manis. Aku tersenyum.

Setelah menyeka wajahnya, Angga memperhatikanku sebentar dan berkata, "Tante Nia dari kantor? Kok pake ke sini?"

"Nggak, males aja mau ke rumah, enggak ada temannya sih. Om Harry lagi ke Singapura. Jadi tante jalan-jalan.. terus ternyata lewat deket-deket sini, sekalian aja mampir.." ujarku setengah merajuk.

Ia beralih sebentar untuk ngobrol dan bercanda dengan temannya.

"Sama dong Tante, Angga lagi males nih di rumah, nggak ada orang sih!"

"Nggak ada orang? Ibu sama adik kamu ke mana?"

"Nginep di rumah nenek, besok sore pulang. Aku disuruh jaga rumah sendirian". Angga menaruh handuknya dan duduk di sampingku.

"Oh, kebetulan banget ya.." kata-kata itu tiba-tiba terlepas dari mulutku.

Yang dikatakan Angga benar-benar di luar dugaanku, tapi justru membuat keadaan jadi lebih baik. Aku tidak perlu bersusah payah untuk mencari tempat ber..

"Kenapa, Tante? Kebetulan gimana?"

"Iya, kebetulan aja kita sama-sama cari teman.." Angga tersenyum.

"Sebenarnya.. Ehh.. Tante ada perlu sih ke rumahmu. Ada file laporan penting yang harus diambil segera, padahal papa kamu masih di luar kota. Kira-kira bisa nggak ya, tante ke rumahmu ngambil file itu? Tante sudah bilang kok sama Papa kamu, katanya tante disuruh ngambil aja di rumah.."

"Oh, nggak apa-apa kok. Cuma mungkin agak lama ya, Tante. Soalnya aku musti cari-cari kunci cadangannya lemari papa. Biasanya selalu dikunci sih, kalau pergi-pergi. "

"Nggak masalah, Tante nggak buru-buru. Kita pergi sekarang?".

Angga mengangguk lalu kami berjalan menuju mobilku. Angga melambaikan tangan pada teman-temannya dan meneriakkan kata-kata perpisahan. Kuperhatikan teman-teman Angga saling berbisik dan tertawa-tawa kecil melihat kami pergi.

"Di rumah benar-benar nggak ada orang yah, Ang?"

"Cuma aku doang, Tante. Untungnya sih Mama ngasih uang lumayan buat cari makan."

"Aduh.. Kaciann.." kataku manja. "Tapi biasanya seumuran kamu pasti ada pacar yang nemenin kemana-mana kan.."

Angga menoleh dan tersenyum padaku. "Wah, Angga nggak punya Tante. Belum ada yang mau!"

"Ah, masa? Cowok keren kaya kamu gini loh!" Kutepuk pelan lengannya, mencoba merasakan sejenak kekokohannya. "Kalau Tante sih, sudah dari dulu Angga tante sabet!"

Angga hanya tertawa ramah, ia sudah biasa dengan gaya bercandaku yang agak genit itu. Padahal sebenarnya, sosok Angga benar-benar sudah mempesonaku saat ia diperkenalkan padaku dan Mas Har setahun yang lalu.

Perjalanan ke rumah Angga memakan waktu sekitar 30 menit karena jalanan sudah penuh oleh mobil-mobil orang lain yang menuju rumah masing-masing. Dalam perjalanan aku tetap memperhatikan Angga. Aku ingin tahu apakah minuman yang tadi Angga minum sudah menunjukkan reaksinya. Biasanya aku menggunakan obat itu untuk memancing nafsu Mas Har dan mempertahankan staminanya. Aku mungkin sudah gila.. Mencoba untuk tidur dengan bocah SMU anak pegawaiku sendiri.. Tapi biarlah.. Gelegak di diriku sudah tak mampu lagi aku bendung.

Tadi pagi aku memberikan dosis ekstra pada minuman yang kuberikan pada Angga, dan sekarang aku penasaran akan efeknya pada tubuh muda Angga. Bisa kulihat sekarang napas Angga mulai naik-turun lagi setelah sempat tenang duduk dalam mobil. Duduknya juga nampak sedikit gelisah. Aku menepi. Kami sudah sampai.

Ia membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk. Aku duduk nyaman di sofa ruang tamu dan ia menuju dapur untuk menyiapkan segelas minuman buatku. Rumah Angga tidak besar, sekedar cukup untuk tinggal empat orang. Sekali lagi aku menanyakan pada diriku sendiri, apakah aku ingin melakukan hal ini.. Dan sedetik kemudian aku menjawab: aku memang benar-benar menginginkannya..

Kutanggalkan jas dan blazerku, menyisakan sebuah tank-top putih untuk melekat di bagian atas tubuhku. Tadi pagi aku sudah mematut diri di kaca dengan tank-top ini. Sebenarnya ukurannya sedikit lebih kecil dari ukuranku, hingga cukup ketat untuk memperlihatkan dengan jelas bentuk payudaraku, bahkan puting susuku. Aku tersenyum geli ketika meihat diriku di cermin pagi itu. Rok miniku kutarik sedikit lebih tinggi, dan kusilangkan kakiku sedemikian rupa hingga Angga yang nanti kembali dari dapur akan memperhatikan pahaku yang mulus.

Angga keluar beberapa menit kemudian membawakan segelas sirup dengan batu es. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan langkahnya menuju meja di depanku.

"Panas banget, Ang. Makanya Tante copot blazernya", kataku setengah mengeluh.

"Iya, memang di sini nggak ada AC seperti di rumah Tante".

Suara Angga sedikit terbata, nafasnya naik-turun, dan mencoba tersenyum. Kulihat Angga juga berkeringat, tapi aku tahu hal itu bukan hanya karena panas yang ada di ruang tamu ini. Aku mengambil gelas yang dingin itu dan menggosokkannya pada bagian bawah leherku yang berkeringat. Segar sekali..

"Ahh.. Seger baget Ang. "

Angga menelan ludahnya. Kuminum sedikit sirup itu.

"Uhh.. Top banget. Enak, Ang", ujarku setengah mendesah.

"Hmm.. Tante.. Angga.. Angga cari kunci lemarinya papa dulu ya.." kata Angga. Anak ini pemalu juga, kataku dalam hati. "Oh, iya deh, Tante tunggu. " Angga kemudian bergegas menuju satu lemari besar di samping sofa dan mulai membuka laci-lacinya.

Aku bersabar sedikit lebih lama. Aku tahu dari tingkah laku Angga yang makin gelisah, kalau obat itu sebentar lagi akan benar-benar memberi efek. Setelah 10 menit mencari dan belum menemukan kuci itu. Aku berjalan ke arah Angga yang masih membungkuk, mencari kunci itu di salah satu laci.

"Ang.. Apa nggak lebih baik.."

Angga lalu berdiri dan membalikkan badannya menghadapku. Aku tahu dia sempat mencuri pandang ke arah dadaku sebelum melihat wajahku. Ia menelan ludahnya. Aku mendekat padanya hingga jika aku melangkah sekali lagi tubuhku akan langsung bersentuhan dengannya. Angga mencoba mundur, tapi lemari besar itu menghalanginya.

"Kenapa..? Tante..?", nafasnya terasa menyentuh dahiku.

Aku mendongak sedikit, menatap wajahnya.

"Lebih baik kamu.."

Tanganku meraba otot bisepnya, padat..

"Mandi dulu.."

Tanganku yang satu menyentuh tepi bawah kostum basketnya..

"Terus ganti baju.."

Kedua tanganku mulai mengangkat kausnya..

"Kan, kamu keringetan gini.."

Tanganku setengah meraba otot-otot perutnya yang keras sambil terus membawa kausnya ke atas..

"Nanti.. Kuncinya.. Dicari lagi.."

Dadanya cukup kokoh, dan terasa sekali paru-parunya mengembang dan mengempis semakin cepat, jantungnya berdegup kencang.. Wajahku terasa panas, jantungku ikut berdetak cepat. Angga mengangkat lengannya dan berkata, "Ya Tante.."

Tapi suara Angga lebih mirip desahan berat. Kuangkat lagi kausnya ke atas dan Angga dengan cepat meneruskan pekerjaanku dan kemudian melemparkan kausnya ke samping. Angga sekarang bertelanjang dada, dengan celana selutut masih dikenakannya. Aku merapatkan badanku padanya namun tiba-tiba aku berhenti setelah merasakan sesuatu mengenai perutku. Aku mundur sedikit dan melihat ke arah dari mana sentuhan di perutku berasal.

"Oh..!", bisikku sedikit terkejut.

Dari dalam celananya terlihat tonjolan yang cukup panjang dan besar. Penis Angga.. Siluetnya terlihat jelas dari celana basketnya yang longgar. Aku melihat wajah Angga. Ia juga melihat tonjolan di celananya itu, sedikit terkejut, kemudian melihatku. Napasnya menderu.

"Eh, maaf tante.. aku.. Nggak pernah.. Pake.."
"Celana dalam? Nggak.. Pernah..?" potongku.

Ia hanya menggeleng dan kembali menatapku.

Aku tersenyum. "Nggak apa-apa.. Lebih baik gitu.."

Wajah imutnya memperlihatkan keterkejutan. Tapi aku segera kembali merapatkan tubuhku dan maju lebih berani. Kucengkram batang kemaluannya dari luar celananya. Angga napak semakin terkejut dan badannya berguncang sedikit. Kemudian semua berjalan menuruti nafsu kami yang bergelora.

Angga memelukku, membawa bibirku rapat ke bibirnya dan melakukan ciuman paling bernafsu yang pernah aku terima dalam satu dekade ini. Lidahnya bergelut liar dengan lidahku, bibirku digigitnya pelan.. Kupegang kepalanya dan kurapatkan terus dengan wajahku. Kuacak-acak rambutnya seakan aku ingin seluruh tubuhnya masuk ke dalam ragaku.

Angga mencoba menyudahi ciuman itu. Aku khawatir ia akan menolak untuk bertindak lebih jauh, hingga aku tidak membiarkannya. Tapi aku sudah sulit mengatur napasku, dan akhirnya kulepaskan wajahnya. Aku tersengal, mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ternyata Angga sama sekali tidak berhenti. Saat aku ditaklukkan nafsu saat berciuman tadi, Angga sudah berhasil melepaskan tank-topku tanpa sedikitpun aku menyadarinya. Tank-top itu kini berada di bawah kakiku. Dan kini Angga mulai menghisap dan menjilati leherku dengan buas.

"Ohh.. Anngghh.." ini dia yang selama ini kudambakan, gairah dan energi yang begitu meluap..

Lidah Angga bergerak lagi ke bawah.. Membasahi belahan dadaku.. Berputar sebentar di sekitar puting kiriku, memberikan sensasi geli yang nikmat.. Kemudian Angga melahap payudaraku.

"Ouuhh.. Kamu.. Ahh.. Kurang ajar yahh.. Hmmpphh.. Terusin Anngg.. Ahh.. Mmmhh.."

Bocah ini.. Benar-benar bernafsu.. Ia lalu melakukan hal sama pada payudaraku yang sebelah kanan dan segera membawaku ke ambang orgasme.. Aku merasakannya.. Sedikit lagi.. Tapi ia tiba-tiba berhenti, membuatku melihat ke bawah, ingin tahu apa yang terjadi. Ia berlutut, dan mencoba melepaskan rok miniku. Tanganku bergerak cepat membantu Angga dan dua detik kemudian rok itu sudah jatuh ke lantai. Aku mencoba melepaskan pula celana dalamku, namun Angga lebih cepat.. Ia merobeknya.. Sejurus kemudian lidahnya beraksi lagi.. Dalam liang kewanitaanku..

"Anggahh.. Kamuhh.. Nggak sopann.."

Kumajukan pinggulku, rasanya aku ingin membenamkan seluruh wajah Angga ke dalam vaginaku.. Lidah Angga yang tak terlatih, membuatku harus membantunya menyentuh daerah yang tepat dengan menggerakkan kepala bocah itu.

"Uuuhh.. Di sini Anngghh.. Ohh.. Yeeaahh..!!"

Angga terus bergerilya dalam gua-ku hingga aku merasakan gelombang kenikmatan yang hebat.

"Angghh.. Tante.. Mau.. Aaahh!!"

Tubuhku menggeliat seiring dengan orgasme yang melandaku. Angga dengan liar menjilati cairan-ku sampai tetes yang terakhir. Kakiku terasa lemas.. Pelan-pelan aku terduduk.. Dan kemudian berbaring di lantai.. Merasakan sisa-sisa kenikmatan yang telah Angga berikan sambil terengah-engah..

Aku melihat ke arah Angga. Ia juga sedang terengah-engah. Badannya berdiri kokoh di hadapanku. Badan kekarnya yang berkeringat, berkilat oleh pantulan matahari sore yang menerobos jendela kamar. Dan.. Tak ada lagi celana basket yang melekat di badan itu. Pistolnya.. Mengacung tegak ke arahku. Batangnya begitu besar.. Pasti lebih dari 20 cm, dan tebal. Rambut tipis dari kemaluannya berlanjut ke atas menuju pusarnya. Oh.. Begitu muda dan gagah..

"Tante.. Aku.."
"Giliran Tante, Ang!"

Aku berdiri, menghimpit tubuhnya dan menjilati badan remaja itu. Tangannya yang kuat mengelus mendekapku sambil mengusap punggungku. Saat kugigit-gigit putingnya, Angga mendesah perlahan dan rambutku diacaknya. Tanganku dengan mudah mendapati penisnya, kemudian kukocok pelan. Sementara itu lidahku mengembara di otot-otot perut Angga.

Kini aku sampai pada pusarnya. Lidahku terus bergerak turun dan kulahap pucuk batang kejantanan Angga. Angga menggeram. Kukulum batangnya dan aku puas mendengar Angga terus mendesah.

"Ooohh.. Tante.. Ahh.."

Kucoba untuk menelan lebih dalam, tapi ukuran penis Angga terlalu besar. Sudah saatnya..

"Ayo Ang, biar tante ajarin caranya jadi lelaki.."

Kuajak dia berbaring di lantai, lalu pelan-pelan aku duduk di perutnya sambil memasukkan pistol Angga ke 'sarung'-nya, memastikan agar aku mendapatkan kenikmatan yang aku mau.

"Aaahh.. Angga.. Punya kamuhh.. Besaarr.. Uuhh.."

Aku membelai dadanya, dan mulai bergerak naik-turun. Angga melenguh dan memejamkan mata, meresapi setiap gerakan yang kubuat.

"Uuuhh.. Eegghh.. Aduhh.. Nggak pernah.. Angga.. Ngerasain.. Enak kaya ginihh.."

Setelah mulai terbiasa dengan ritmeku, Angga membuka matanya. Tangannya memegang kedua payudaraku yang naik turun.

"Tante Nia.. Oohh.. Seksi banget.. Ahh.."

Ia memerasnya.. Dan terasa sangat nikmat.. Kini aku yang menghayati permainan Angga. Tapi aku segera tersadar, kali ini AKU yang akan memuaskan Angga.

Aku mempercepat gerakanku, sambil sesekali memutar-mutar pinggulku.

"Ohh.. Tante.. Terusiinn.. Enaakk.. Aahh.. Mmmhh.."

Tangannya beralih ke pantatku, mencoba ikut mengatur ritmeku. Kuberikan apa yang Angga minta, kujepit batangnya dan aku semakin bergoyang menggila.

"Gini kan.. Mau kamu, Angghh.. Ehh.."
"Uhh.. Yaa.. Ohh.. Aaagghh.. Kenceng bangett.. Ayo tante.."

Aku bagai lupa daratan, kenikmatan yang kurasa benar-benar membius, dan sebentar lagi.. Tinggal sebentar..

"Tantee.. Oooaagghh!! Oh, yeaahh!!"
"Annggaa.. Aaagghh.. Ohh.. Ohh.."

Aku merasakan kenikmatan paling dahsyat dalam hidupku, bersamaan dengan ejakulasi Angga. Kami berpelukan, berguling sementara Angga masih meneruskan tikaman penisnya dalam vaginaku, membawaku semakin jauh dari dunia ini..

"Ohh.. Anggaa.. Ohh.. Kamu.. Udahh.. Bukan perjaka.. Lagi.. Ahh.."

Ia menciumiku, memanjakan payudaraku, membelai-belai rambutku..

Dengan napas yang tersengal-sengal Angga berbisik di telingaku,

"Duhh.. Nggak nyangkah.. Tante.. Nakal banget.. Ahh.. Tapi Angga.. Suka.. Dinakalin.. Tante.. Ehh.. Kontol Angga masih ngaceng nihh.. ehh.. Mau Tante apain lagi..?"
"tamat"

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Birahiku Naik Mendengar Rintihan Tante Angga Terbaru

Juli 06, 2018 Add Comment

Bonus Mengintip Tante Wine

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Bonus Mengintip Tante Wine Terbaru

Sejak tinggal dirumah nenek, aku bener-bener dimanja soal sex, juga soal duit. Sampai suatu ketika rumah nenek kedatangan tamu dari Manado, namanya Tante Wine. Menurut nenek Tante Wine ini tinggalnya di desa jadi agak kolot gitu. Tapi pas pertama dikenalkan, aku tidak melihat wajah desa dari Tante Wine. Raut muka yang cantik (nggak berbeda jauh dengan nenek Elsa) dengan postur yang semampai lagipula putih bersih membuat orang tidak mengira kalau Tante Wine adalah wanita desa. Satu-satunya yang bisa meyakinkan kalau Tante Wine orang desa adalah logat bahasanya yang bener-bener medok.

Bonus Mengintip Tante Wine
Bonus Mengintip Tante Wine
Akupun langsung akrab dengan Tante Wine karena orangnya lucu dan suka humor. Bahkan aku sering ngeledek karena dialeknya yang ngampung itu. Wajahnya keliatan agak Indo dengan tinggi kutaksir 162 cm. Pinggangnya langsing, lebih langsing dari nenek Elsa, dan yang bikin pikiran kacau adalah buah dadanya yang lumayan gede. Aku nggak tau persis ukurannya tapi cukup besar untuk menyembul dari balik daster.

Pikiran kotorku mulai bermain dan mengira-ngira. Apakah Tante Wine haus sex seperti kakaknya? Kalau kakaknya mau kenapa adiknya nggak dicoba? Akan merupakan sebuah pengalaman sex yang seru kalo aku bisa menidurinya. Pikiran-pikiran seperti itu berkecamuk dibenak kotorku. Apalagi dengan bisanya aku tidur dengan nenekku, (dan banyak wanita STW) rasanya semua wanita yang umurnya diatas 35 kuanggap akan lebih mudah ditiduri, hanya dengan sedikit pujian dan rayuan.

Dirumah, nenek Elsa sudah beberapa kali wanti-wanti padaku jangan sampe aku perlakukan Tante Wine sama sepertinya, rupanya Elsa cemburu karena ngeliat kemingkinan itu ada. Sampai suatu ketika nenek sedang pergi dengan kakek ke Surabaya selama dua hari. Sehari sebelum berangkat aku sempat melampiaskan nafsuku bersama Elsa di sebuah motel deket rumah, biar aman. Disana sekali lagi nenek Elsa wanti-wanti. Aku mengiyakan, aku bersusaha meyakinkan.

Setelah nenek dan kakek berangkat aku mulai menyusun rencana. Dirumah tinggal aku, Tante Wine dan seorang pembantu. Hari pertama niatku belom berhasil. Bebeapa kali aku menggoda Tante Wine dengan cerita-cerita menjurus porno tapi Tante nggak bergeming. Saking nggak tahan nafsu ingin menyetubuhi Tante Wine, malamnya aku coba mengintip saat diamandi.Dibelakang kamar mandi aku meletakkan kursi dan berencana mengintip dari lubang ventilasi.

Hari mulai malam ketika Tante Wine masuk kamar mandi, aku memutar kebelakang dan mulai melihat aktifitas seorang wanita cantik didalam kamar mandi. Perlahan kulihat Tante Wine menanggalkan daster merah jambunya dan menggantungkan di gantungan. Ups! Ternyata Tante Wine tidak memakai apa-apa lagi dibalik daster tadi. Putih mulus yang kuidam0idamkan kini terhampar jelas dibalik lubang fentilasi. Pertama Tante Wine membasuk wajahnya. Sejenak dia bengong dan tiba-tiba tangannya mengelus-elus lehernya, lama. Perlahan tangan itu mulai merambah buah dadanya yang besar. Aku berdebar, lututku gemetaran melihat adegan sensualdidalam kamar mandi. Jemari Tante Wine menjeljah setiap jengkal tubuhnya yang indah dan berhenti diselangkangannya. Badan Tante Wine bergetar dan dengan mata mengatup dia sedikit mengerang ohh! Dan tubuhnya kelihatan melemas. Dia orgasme. Begitu cepatkah? Karena Mr. Happy-ku juga sudah menggeliat-geliat, aku menuntaskan nafsuku dibelakang kamar mandi dengan mata masih memandang ke dalam. Nggak sadar aku juga mengerang dan spermaku terbang jauh melayang.

Dalam beberapa detik aku memejamkan mata menahan sensasi kenikmatan. Ketika kubuka mata, wajah cantik Tante Wine sedang mendongak menatapku. Wah ketahuan nih. Belum sempat aku bereaksi ingin kabur, dari dalam kamar mandi Tante Wine memanggilku lirih.

“Andy, nggak baik mengintip,” kata tante Wine.
“Ma ma maafin,” jawabku gagap.
“Nggak apa-apa, dari pada disitu mendingan..,” kata Tante Wine lagi sambil tangannya melambai dan menunjuk arah ke dalam kamar mandi.

Aku paham maksudnya, dia memintaku masuk kedalam. Tanpa hitungan ketiga aku langsung loncat dan berlari memutar kedalam rumah dan sekejab aku sudah stand by di depan pintu kamar mandi. Smataku sedikit melongok sekeliling takut ketahuan pembantu. Hampir bersamaan pintu kamar mandi terbuka dan aku bergegas masuk. Kulihat Tante Wine melilitkan handuk ditubuhnya. Tapi karena handuknya agak kecil maka paha mulusnya jelas terlihat, putih dan sangat menggairahkan.

“Kamu pake ngitip aku segala,” ujar Tante Wine.
“Aku kan nggak enak kalo mau ngomong langsung, bisa-bisa aku di tampar, hahaha,” balasku.

Tante Wine memandangku tajam dan dia kemudian menerkam mulutku. Dengan busanya dia mencumbuku. Bibir, leher, tengkuk dan dadaku nggak lepas dari sapuan lidah dan bibirnya. Melihat aksi ini nggak ada rasa kalo Tante Wine tuh orang desa. Ternyata keahlian nge-sex itu tak memandang desa atau kota ya.

Sekali sentak kutarik handuknya dan wow! Pemandangan indah yang tadi masih jauh dari jangkauan kini bener-bener dekat, bahkat menempel ditubuhku. Dalam posisi masih berdiri kemudian Tante Wine membungkuk dan melahap Mr. happy yang sudah tegak kembali. Lama aku dihisapnya, nikat sekali rasanya. Tante Wine lebih rakus dari nenek Elsa. Atau mungkin disinilah letak ‘kampungan’nya, liar dan buas. Bebrapa detik kemudian setelah puas mengisapku, tante Wine mengambil duduk dibibir bak mandi dan menarik wajahku. Kutau maksudnya. Segera kusibakkan rambut indah diselangkangannya dan bibir merah labia mayora menantangku untuk dijilat. Jilatanku kemudian membuat Tante Wine menggelepar. Erangan demi erangan keluar dari mulut Tante Wine.

“Andi kamu hebat, pantesan si Elsa puas selalu,” cerocos Tante Wine.
“Emangnya Tante Wine tau?” jawabku disela aktifitas menjilat.
“Ya nenekmu itu cerita. Dan sebelum ke Surabaya dia wanti-wanti jangan menggodaku, dia cemburu tuh,” balas Tante Wine.

Ups, rupanya rahasiaku sudah terbongkar. Kuangkat wajahku, lidahku menjalar menyapu setiap jengkal kulit putih mulus Tante Wine.

“Sedari awal aku sudah tau kamu mengintip, tapi kubiarkan saja, bahkan kusengaja aja tadi pura-pura orgasme untuk memancingmu, padahal sih aku belum keluar tadi, heheh kamu tertipu ya, tapi Ndy, sekarang masukin yuk, aku bener-bener nggak tahan mau keluar,” kata Tante Wine lagi.

Aku sedikit malu juga ketahuan mengintip tadi.

Masih dalam posisi jongkok di bibir bak mandi, kuarahkan Mr. happy ke vaginanya. Tante Wine mengerang dan merem melek setiap kuenjot dengan batang kemaluanku yang sudah besar dan memerah. Lama kami bertarung dalam posisi ini, sesekali dia menarik tubuhku biar lebih dalam. Setelah puas dengan sensasi ini kami coba ganti posisi. Kali ini dalam posisi dua-duanya berdiri, kaki kanannya diangkat dan diletakkan diatas toilet. Agak sedikit menyamping kuarahkan Mr. Happy ke vaginanya. Dengan posisi ini kerasa banget gigitan vaginanya ketiga kuenjot keluar masuk. Kami berpelukan dan berciuman sementara Mr. Happy masih tetep aktif keluar masuk.

Puas dengan gaya itu kami coba mengganti posisi. Kali ini doggie style. Sambil membungkuk, tante Wine menopangkan tangan di bak mandi dan dari belakangnya kumasukkan kemaluanku. Uhh terasa nikmatnya karena batang Mr. Happy seakan dijepit dengan daging yang kenyal. Kutepuk tepuk pantatnya yang mulus dan berisi. Tante Wine mendesis-desis seperti kepedesan. Lama kami mengeksplorasi gaya ini.

Dalam beberapa menit kemudian Tante Wine memintaku untuk tiduran di lantai kamar mandi. Walaupun agak enggan, kulakuin juga maunya, tapi aku tidak bener-bener tiduran karena punggungku kusenderkan didinding sementara kakiku selonjoran. Dan dalam posisi begitu aku disergapnya dengan kaki mengangkangi tubuhku. Dan perlahan tangan kanannya memegang Mr. Happy, sedikit dikocoknya dan diarahkan ke vagina yang sudah membengkak. Sedetik kemudian dia sudah naik turun diatas tubuhku. Rupanya Tante Wine sangat menikmati posisi ini. Buktinya matanya terpejam dan desisannya menguat.

Lama kubiarkan dia menikmati gaya ini. Sesekali kucium bibirnya dan kumainkan pentil buah dadanya. Dia mengerang nikmat. Dan sejenak tiba-tiba raut mukanya berubah rona.
Dia meringis, mengerang dan berteriak.

“Ndy, aku mau nyampe nih, oh, oh, oh, ah, ah nikmatnya,” erangnya.
Tangannya meraih tubuhku dan aku dipeluknya erat. Tubuhnya menggeliat-geliat panas sekali.
“Ohh,” ditingkah erangan itu, kemudian tubuhnya melemah dipangkuanku.

Dalam hatiku curang juga nih Tante, masak aku dibiarkan tidak tuntas. Masih dalam posisi lemas, tubuhnya kutelentangkan di lantai kamar mandi tanpa mencabut mr happy dari vaginanya. Dan perlahan mulai kuenjot lagi. Dia mengerang lagi mendapatkan sensasi susulan. Uh tante Wine memang dahsyat, baru sebentar lunglai sekarang sudah galak lagi. Pinggulnya sudah bisa mengikuti alur irama goyanganku. Lama kami menikmati alunan irama seperti itu, kini giliranku mau sampai.

“Tante aku mau keluarin ya”, kataku menahan gejolak, bergetar suaraku.
“Sama-sama ya Ndy, aku mau lagi nih, ayo, yok keluarin, yok, ahh”.

Dibalik erangannya, akupun melolong seperti megap-megap. Sejurus kemudian kami sudah berpelukan lemas dilantai kamar mandi. Persetan dengan lantai ini, bersih atau nggak, emangnya gue pikirin. Kayaknya aku tertidur sejenak dan ketika sadar aku segera mengangkat tubuh Tante Wine dan kamipun mandi bersama.

Selesai mandi, kami bingung gimana harus keluar dari kamar mandi. Takut Bi Ijah tau. Kubiarkan Tante Wine yang keluar duluan, setelah aman aku menyusul kemudian. Namun bukannya kami kekamar masing-masing, Tante Wine langsung menysul ke kamarku setelah mengenakan daster. Aku yang masih telanjang di kamarku langsung disergapnya lagi. Dan kami melanjutkan babak babak berikutnya. Malam itu kami habiskan dengan penuh nafsu membara. Kuhitung ada sekitar 7 kali kami keluar bersama. Aku sendiri heran kenapa aku bisa orgasme sebanyak itu. Walaupun di ronde-ronde terakhir spermaku sudah tidak keluar lagi, tapi rasa puas karena multi orgasme tetap jadi sensasi.

Selama 2 hari nenek Elsa di Surabaya, aku habiskan segala kemampuan sexualku dengan Tante Wine. Sejak kejadian itu masih ada sebulan tante Wine tinggal dirumah nenek Elsa. Selama itu pula aku kucing-kucingan bermain cinta. Aku harus melayani nenek Elsa dan juga bermain cinta dengan Tante Wine. Semua pengalaman itu nyata kualami. Aku nggak merasa capek harus melayani dua wanita STW yang dua-duanya punya nafsu tinggi karena aku juga menikmatinya.

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Bonus Mengintip Tante Wine Terbaru

Juli 05, 2018 Add Comment

Esek-Esek Mantab

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Esek-Esek Mantab Terbaru

Aku bangun kesiangan. Kulirik jam dinding…ah… pukul 8 pagi…Suasana rumahku sepi. Tumben, pikirku. Segera aku meloncat bangun, mencari-cari istri dan anak-anakku..tidak ada…Ahh…baru kuingat, hari Minggu ini ada acara di sekolah anakku mulai jam 9 pagi. Pantas saja mereka sudah berangkat. Istriku sengaja tidak membangunkan aku untuk ikut ke sekolah anakku, karena malamnya aku pulang kantor hampir pukul 4 pagi.

Esek-Esek Mantab
Esek-Esek Mantab
Yah, beginilah nasib auditor kalo lagi dikejar tenggat laporan audit. Untung saja, ada anggota timku yang bisa mengurangi keteganganku. Ya, Agnes tentunya, yang semalam telah memberikan servis untukku. Bagi nya, bersetubuh dengan lelaki lain selain suaminya bukan hal yang tabu, karena dia sendiri juga tidak mempermasalahkan jika suaminya berkencan dengan wanita lain. Prinsip mereka, yang penting pasangan tidak melihat kejadian itu dengan mata kepala sendiri.

Aku tersenyum mengingat kejadian semalam. Sebenarnya jam 11 malam kami sepakat untuk pulang kantor, tapi ternyata aku dan Agnes sama-sama lagi horny. Akhirnya, terjadilah seperti yang sudah kuceritakan diatas. Tak terasa, aku mulai horny lagi. tongkolku pelan-pelan mengangguk-angguk dan mulai mengacung.

"Walah…repot bener nih, pikirku. "Lagi sendiri, eh ngaceng." Kebetulan, di rumah tidak ada pembantu, karena istriku, Indah, lebih suka bersih-bersih rumah sendiri dibantu kedua anakku. "Biar anak-anak gak manja dan bisa belajar mandiri. Lagian, bisa menghemat pengeluaran," kilah istriku. Aku setuju saja.

Kurebahkan tubuhku di sofa ruang tengah, setelah memutar DVD BF. Sengaja kusetel, biar hasratku cepet tuntas. Setelah kubuka celanaku, aku sekarang hanya pakai kaos, dan tidak pakai celana. Pelan-pelan kuurut dan kukocok tongkolku. Tampak dari ujung lubang tongkolku melelehkan cairan bening, tanda bahwa birahiku sudah memuncak. Aku pun teringat Linda, sahabat istriku. Kebetulan Linda berasal dari suku Chinese. Dia adalah sahabat istriku sejak dari SMP hingga lulus kuliah, dan sering juga main kerumahku. Kadang sendiri, kadang bersama keluarganya. Ya, aku memang sering berfantasi sedang menyetubuhi Linda. Tubuhnya mungil, setinggi Agnes, tapi lebih gendut. Yang kukagumi adalah kulitnya yang sangat-sangat-sangat putih mulus, seperti warna patung lilin. Dan pantatnya yang membulat indah, sering membuatku ngaceng kalo dia berkunjung.

Aku hanya bisa membayangkan seandainya tubuh mulus Linda bisa kujamah, pasti nikmat sekali. Fantasiku ini ternyata membuat tongkolku makin keras, merah padam dan cairan bening itu mengalir lagi dengan deras. Ah Linda…seandainya aku bis a menyentuhmu..dan kamu mau ngocokin tongkolku..begitu pikiranku saat itu.
Lagi enak-enak ngocok sambil nonton bokep dan membayangkan Linda, terdengar suara langkah sepatu dan seseorang memanggil-manggil istriku.

"Ndah…Indah…aku dateng," seru suara itu…
Oh my gosh…itu suara Linda…mau ngapain dia kesini, pikirku. Kapan masuknya, kok gak kedengaran? Linda memang tidak pernah mengetuk pintu kalau ke rumahku, karena keluarga kami sudah sangat akrab dengan dia dan keluarganya.
Belum sempat aku berpikir dan bertindak untuk menyelamatkan diri, tau-tau Linda udah nongol di ruang tengah, dan…
"AAAHHH…ANDREEEEW…!!!!,"jeritnya. "Kamu lagi ngapain?"
"Aku…eh…anu…aku….ee…lagi…ini…,"aku tak bisa menjawa pertanyaannya. Gugup. Panik. Sal-ting. Semua bercampur jadi satu. Orang yang selama ini hanya ada dalam fantasiku, tiba-tiba muncul dihadapanku dan straight, langsung melihatku dalam keadaan telanjang, gak pake cela na, Cuma kaos aja. Ngaceng pula.
"Kamu dateng ok gak ngabarin dulu sih?" aku protes.
"Udah, sana, pake celana dulu!" Pagi-pagi telanjang, nonton bf sendirian,lagi ngapain sih?"ucapnya sambil duduk di kursi didepanku.
"Yee…namanya juga lagi horny…ya udah mending colai sambil nonton bf. Lagian anak-anak sama mamanya lagi pergi ke sekolah. Ya udah, self service,"sahutku.
"Udah, Ndrew. Sana pake celana dulu. Kamu gak risih apa?"
"Ah, kepalang tanggung kamu dah liat? Ngapain juga dtitutupin? Telat donk,"kilahku.
"Dasar kamu ya. Ya, udah deh, aku pamit dulu. Salam aja buat istrimu. Sana, terusin lagi." Linda beranjak dari duduknya, dan pamit pulang.
Buru-buru aku mencegahnya. "Lin, ntar dulu lah…,"pintaku.
"Apaan sih, orang aku mau ngajak Indah jalan, dia nggak ada ya udah, aku mau jalan sendiri,"sahutnya.
"Bentar deh Lin. Tolongin aku, gak lama kok, paling sepuluh menit,"aku berusaha merayuny a.
"Gila kamu ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"Linda protes sambil melotot. "Kamu jangan macem-macem deh, Ndrew. Gak mungkin donk aku lakukan itu,"sergahnya.
"Lin,"sahutku tenang. "Aku gak minta kamu untuk melakukan hal itu. Enggak. Aku Cuma minta tolong, kamu duduk didepanku, sambil liatin aku colai."
"Gimana?"
Linda tidak menjawab. Matanya menatapku tajam.
Sejurus kemudian..
"Ok, Lin. Aku janji gak ndeketin apalagi menyentuh kamu. Tapi, sebelum itu, kamu juga buka bajumu dong…pake BH sama CD aja deh, gak usah telanjang. Kan kamu dah liat punyaku, please?" aku merayunya dengan sedikit memelas sekaligus khawatir.
"Hm…fine deh. Aku bantuin deh…tapi bener ya, aku masih pake BH dan CDku dan kamu gak nyentuh aku ya. Janji lho,"katanya. "Tapi, tunggu. Aku mau tanya, kok kamu berani banget minta tolong begitu ke aku?"
"Yaaa…aku berani-beraniin…toh aku gak nyentuh kamu, Cuma liat doang. Lagian, kamu dah liat punyaku? Trus, aku lagi colai sambil liat BF…lha ada kamu, kenapa gak minta tolong aja, liat yang asli?"kilahku.
"Dasar kamu. Ya udah deh, aku buka baju di kamar dulu."
"Gak usah, disini aja,"sahutku.
Perlahan, dibukanya kemejanya…dan…ah payudara itu menyembul keluar. Payudara yang terbungkus BH sexy berwarna merah…menambah kontras warna kulitnya yang sangat putih dan mulus. Aku menelan ludah karena hanya bisa membayangkan seperti apa isi BH merah itu. Seteah itu, diturunkannya zip celana jeansnya, dan dibukanya kancing celananya. Perlahan, diturunkannya jeansnya…sedikit ada keraguan di wajahnya. Tapi akhirnya, celana itu terlepas dari kaki yang dibungkusnya. Wow…aku terbelalak melihatnya. Paha itu sangat putih sekali. Lebih putih dari yang pernah aku bayangkan. Tak ada cacat, tak ada noda. Selangkangannya masih terbungkus celana dalam mini berbahan satin, sewarna dengan Bhnya. Sepertinya, itu adalah satu set BH dan CD.

"Nih, aku u dah buka baju. Dah, kamu terusin lagi colinya. Aku duduk ya."
Linda segera duduk, dan hendak menyilangkan kakinya. Buru-buru aku cegah.
"Duduknya jangan gitu dong…"
"Ih, kamu tuh ya…macem-macem banget. Emang aku musti gimana?"protes Linda. "Nungging, gitu?"
"Ya kalo kamu mau nungging, bagus banget,"sahutku.
"Sori ye…emang gue apaan,"cibirnya.
"Kamu duduk biasa aja, tapi kakimu di buka dikit, jadi aku bisa liat celana dalam sama selangkanganmu. Toh veggy kamu gak keliatan?"usulku.
"Iya…iya…ni anak rewel banget ya. Mau colai aja pake minta macem-macem,"Linda masih saja protes dengan permintaanku.
"Begini posisi yang kamu mau?"tanyanya sambil duduk dan membuka pahanya lebar-lebar.
"Yak sip." Sahutku. "Aku lanjut ya colinya."
Sambil memandangi tbuh Linda, aku terus mengocok tongkolku, tapi kulakukan dengan perlahan, karena aku nggak mau cepet-cepet ejakulasi. Sayang, kalau peman dangan langka ini berlalau terlalu cepat. Aku pun menceracau, tapi Linda tidak menanggapi omonganku.
"Oh…Liiiinnn….kamu kok mulus banget siiiihhh…."aku terus menceracau. Linda menatapku dan tersenyum.
"Susumu montok bangeeeettttt… pahamu sekel dan putiiiihhhh….hhhhh….bikin aku ngaceng, Liiiiiinnn……"
Linda terus saja menatapku dan kini bergantian, menatap wajahku dan sesekali melirik ke arah tongkolku yang terus saja ngacai alias mengeluarkan lendir dari ujung lobangnya.
"Pantatmu, Liiiinnn….seandainya kau boleh megang….uuuuhhhhh….apalagi kena tongkolku….oouuufff…..pasti muncrat aku….,"aku merintih dan menceracau memuji keindahan tubuhnya. Sekaligus aku berharap, kata-kataku dapat membuatnya terangsang.
Linda masih tetap diam, dan tersenyum Matanya mulai sayu, dan dapat kulihat kalo nafasnya seperti orang yang sesak nafas. Kulirik ke arah celana dalamnya…oppsss….aku menangkap sinyal kalo ternyata Linda juga mulai ternagsang dengan aktivitasku. Karena celana dalamnya berbahan satin dan tipis, jelas sekali terlihat ada noda cairan di sekitar selangkannya. Duduknya pun mulai gelisah. Tangannya mulai meraba dadanya, dan tangan yang satunya turun meraba paha dan selangkangannya. Tapi Linda nampak ragu untuk melakukannya. Mungkin karena ia belum pernah melakukan ini dihadapan orang lain.
Kupejamkan mataku, agar Linda tau bahwa aku tidak memperhatikan aktivitasku. Dan benar saja…setelah beberapa saat, aku membuka sedikit mataku, kulihat tangan kiri Linda meremas payudaranya dan owww…BH sebelah kiri ternyata sudah diturunkan…
Astagaaa..!!! Puting itu merah sekali…tegak mengacung. Meski sudah melahirkan, dan memiliki satu anak, kuakui, payudara Linda lebih bagus dan kencang dibandingkan Agnes. Kulihat tangan kiri Linda memilin-milin putingnya, dan tangan kanannya ternyata telah menyusup ke dalam celana dalamnya.
"Sssshh….oofff….hhhhhh…..:" Kudengar suara nya mendesis seolah menahan kenikmatan. Aku kembali memejamkan mataku dan meneruskan kocokan pada tongkolku sambil menikmati rintihan-rintihan Linda.
Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang hangat…basah…lembut…menerpa tongkol dan tanganku. Aku membuka mata dan terpekik. "Lin…kamu…,"leherku tercekat.
"Aku nggak tega liat kamu menderita, Ndrew,"sahut Linda sambil membelai tongkolku dengan tangannya yang lembut.

My gosh…perlahan impin dan obsesiku menjadi kenyataan. tongkolku dibelai dan dikocok dengan tangan Linda yang putih mulus. Aku mendesis dan membelai rambut Linda. Kemudian secara spontan Linda menjilat tongkolku yang sudah bene-bener sewarna kepiting rebus dan sekeras kayu. Dan…hap…! Sebuah kejadian tak terduga tetapi sangat kunantikan…akhirnya tongkolku masuk ke mulutnya. Ya, tongkolku dihisap Linda. Sedikit lagi pasti aku memperoleh lebih dari sekedar cunilingis.

Tak tahan dengan perlakuan sepiha Linda, kutarik pinggulnya da n buru-buru kulepaskan Cdnya.
"Kamu mau ngapain, Ndrew?" Linda protes sambil menghentikan hisapannya. Aku tidak menjawab, jariku sibuk mengusap dan meremas pantat putih nan montok, yang selama ini hanya menjadi khayalanku.
"Ohh..Lin…boleh ya aku megang pantat sama memiaw kamu?"pintaku.
"Terserah…yang penting kamu puas."

Segera kuremas-remas pantat Linda yang montok. Ah, obsesiku tercapai…dulu aku hanya bisa berkhayal, sekarang, tubuh Linda terpampang dihadapanku.
Puas dengan pantatnya, kuarahkan jariku turun ke anus dan vaginanya. Linda merintih menahan rasa nikmat akibat usapan jariku.

"Achh…Liiiinn…enak bangeeeeett….sssshhh……."aku menceracau menikmati jilatan lidah dan hangatnya mulut Linda saat mengenyot tongkolku. Betul-betul menggairahkan melihat bibir dan lidahnya yang merah menyapu lembut kepala dan batang kelelakianku. Hingga akhirnya….
"Liiinn….bibir kamu lembut banget sayaaaannggg….aku…kac h…aku…"
"Keluarin sayang…tongkol kamu udah berdenyut tuh….udah mau muncrat yaaa…."
"I…iiy…iiyyaaa….Liiiiinnnnnnnnn….Ouuuuufuffffff….. argggghhhhhhhhhh….."
Tak dapat kutahan lagi. Bobol sudah pertahananku. Crottt…..crooottt….crooootttt…
Spermaku muncrat sejadi-jadinya di muka, bibir dan dada Linda. Tanganhalus Linda tak berhenti mengocok batang kejantananku, seolah ingin melahap habis cairan yang kumuntahkan
Ohhhh…….my dream come true….. Obsesiku tercapai…pagi ini aku muncratin pejuhku di bibir dan muka Linda.

"Lin…kamu gak geli sayang…? Bibir, muka sama dada kamu kenas permaku?"
Linda menggeleng dengan pandangan sayu. Tangannya masih tetap memainkan tongkolku yang sedikit melemas.
"Kamu baru pertam kali kan, mainin koto orang selain suami kamu?"
"Iya, Ndrew. Tapi kok aku suka ya…terus terang, bau sperma kamu seger banget…kamu rajin maka buah sama sayur ya?" tanya Li nda.
"Iya…kalo gak gitu, Indahmana mau nelen sperma aku."
"Aihhh…." Linda terpekik. "Indah mau nelen sperma?"
Aku mengangguk. "Keapa Lin? Penasaran sama rasanya? Lha itu spremaku masih meleleh di muka sama dada kamu. Coba aja rasanya,"sahutku.
"Mmmm…ccppp…ssllrppp…." terdengar lidah dan bibir Linda mengecap spermaku. Dengan jarinya yang lentik, disapunya spermaku yang tumpah didada dan mukanya, kemudian dijilatnyajarinya smape bersih.Hmmm….akhirnya spermaku masuk kedalam tubuhnya…
"Iya, Ndrew, sperma kamu kok enak ya. Aku gak ngerasa enek pas nelen sperma kamu…"
"Mau lagi….?"
"Ih…kamu tuch ya…masih kurang, Ndrew?"
"Lha kan baru oral belum masuk ke meqi kamu, Lin." Sahutku…"Tuh, liat…bangun lagi kan?"
"Dasar kamu ya…."
"Benerkamu gak mau spermaku ? Ya udah kalo gitu, aku mau bersih-bersih dulu."ancamku sambil bangkit dari kursi.
"Mau sih…Cuma takut kalo Indah dateng…gimana donk…."Linda merajuk.
Perlahan kuhampiri Lida, kuminta dia duduk di sofa, sambil kedua kakiya diangkat mengangkang.
Kulihat meqinya yang licin karena cairan cintanya meleleh akibat perbuatan jariku.
"Hmmm…Lin…meqi kamu masih basah…kamu masih horny dong…"tanyaku.
"Udah, Ndrew….cepetan deh…nanti istrimu keburu dateng…Lagian aku udah…Auuuwwww….!!!! Ohhh..Shhhhh……."Linda memiawik saat lidahku menari diujung klitorisnya.
"Ndrewwww…kamu gilaaa yaaa…"bisiknya samil menjambak rambutku.
Kumainkan lidahku dikelentitnya yang udah membengkak. Jari ku menguak bibir vagina Linda yang semakin membengkak. Perlahan kumasukkan telunjukku, mencari G-spotnya.

Akibatnya luar biasa. Linda makin meronta dan merintih. Jambakannya makin kuat. Cairan birahinya makin membasahi lidah dan mulutku. Tentu saja hal ini tak kusia-siakan. Kusedot kuat agar aku dapat menelan cairan yang meleleh dari v aginanya. Ya…aroma vagina Linda lain dengan aroma vagina istriku. Meskipun keduanya tidak berbau amis, tapi ada sensasi tersendiri saat kuhirup aroma kewanitaan Linda.
"C'mon..Ndrew…I can't stand…ochhh…ahhhhhh…shhhh……c'mon honey….quick…quick…."
Aku paham, gerakan pantt Linda makin liar. Makin kencang. Kurasakan pula meqinya mulai berdenyut…..seentar lagi dia meledak, pikirku.
"Ting…tong…"bel rumahku berbunyi.
"Mas…..mas Andrew…."suara wanita didepan memanggil namaku.
Sontak kulepaskan jilatanku. Linda memandang wajahku dengan wajah pucat. Aku pun memandang wajahnya dengan jantung berdebar.
"Ndrew..kok kyaka suara Rika ya…"Linda bertanya
"Wah..mau ngapain dia kesini…..gawat dong…"ucapku ketakutan. "Udah Lin, kamu masuk kamarku dulu deh…cepetan…"

Segera Linda berjingkat masuk ke kamarku, mungkin sekalian membersihkan tubuhnya karena dikamarku ada kamar mandi. Aku tau ada sebersit ekspresi kecewa di wajahnya, karena Linda hampir meledakkan orgasmenya, yang terputus oleh kedatangan Rika, sahabatnya sekaligus sahabat istriku.
Setelah kupakai kaos dan celana yang kuambil dari lemari dan cuci muka sedikit, aku menuju ke ruang tamu, membuka pintu.
"Halo, mas….'Pa kabar..?" sahut Rika begitu melihatku membuka pintu.
"Baik, dik. Ayo masuk dulu. Tumben nih pagi-pagi, kayaknya ada yang penting?" tanyaku seraya mengajak Rika menuju ruang tengah.Mataku sedikit terbelalak melihat pakaiannya. Bagaimana tidak?
Kaos ketat menempel dibadannya, dipadukan dengan celana spandex ketat berwarna putih. Aku melihat lipatan cameltoe di selangkangannya menandakan bahwa didaerah itu tidak ada bulu jembutnya, dan saat aku berjalan dibelakangnya, tak kulihat garis celana dalam mebayang di spandexnya.
Hmm…mana mungkin dia gak pake CD..mungkin pake G-string, pikirku.
Kami berdua segera menuju ruang tengah. Untung saja, film bokep yang aku setel udah selesai, jadi Rika nggak sempat melihat film apa yang tengah aku setel.
"Ini lho mas, aku mau anter oleh-oleh. Kan kemarin aku baru dateng dari Jepang. Nah, ini aku bawain ….sedikit bawaan lah, buat kamu sama Indah. Itung-itung membagi kesenangan."
"Wah…tengkyu banget lho…kamu baik banget"
"Ah, biasa aja lageee..hehehe"
Kami berdua sejenak ngobrol-ngobrol, karena memang sudah beberapa bulan Rika nggak berkunjung ke rumahku. Rika ini adalah salah satu sahabat istriku, selain Linda
.
Diam-diam, akupun juga terobsesi dapat menikmati tubuhnya. Ya, Rika seorang wanita yang mungil. Tinggi badannya nggak lebih dari 155cm. Bandingkan dengan tinggiku yang 170. Warna kulitnya putih, tapi cenderung kemerahan. Hmm..aku sering berkhayal lagi ngent*tin Rika, sambil aku gendong dan aku rajam memiawnya dengan tongkolku. Pasti dia merintih-rintih menikmati hujaman tongkolku…
"Hey…bengong aja…ngeliatin apa sih.." tegur Rika.
"Eh…ah…anu…enggak. Cuma lagi mikir, kapan ya gw bisa jalan-jalan sama kamu…"
Eits..kok ngomongku ngelantur begini sih. Aduh…gawat deh…
"Alaaa..mikirin jalan-jalan apa lagi ngeliatin sesuatu?" Rika melirikku dengan pandangan menyelidik.
Mati aku…berarti waktu aku ngeliatin bodynya, ketahuan dong kalo aku melototin selangkangannya. Wah….
"Ya udah, mas. Aku pamit dulu, abis Indah pergi. Lagian,dari tadi kamu ngeliatin melulu. Ngeri aku…ntar diperkosa sama kamu deh..hiyyy…" Rika bergidik ambil tertawa.
Aku Cuma tersenyum.
"Ya udah, kalo kamu mau pamit. Aku gak bisa ngelarang."
"Aku numpang pipis dulu ya."Rika menuju kamar mandi di sebelah kamarku.
"Iya."
Tepat saatRika masuk kamar mandi, sambil berjingkat Linda keluar dari kamarku.
Aku terkejut, dan segera menyuruhnya masuk lagi, karena takut ketahuan. Ternyata CD Linda ketinggalan di kursi yang tadi didud ukinya waktu sedang aku jilat memiawnya. Astagaaa…untung Rika nggak ngeliat…atu jangan-jangan dia udah liat, makanya sempat melontarkan pandangan menyelidik? Entahlah…
"Cepeeeett..ambil trus ke kamar lagi."perintahku sambil berbisik.
Linda mengangguk, segera menyambar Cdnya dan…
"Ceklek….!"
Pintu kamar mandi terbuka, dan saat Rika keluar, kulihat wajahnya terkejut melihat Linda berdiri terpaku dihadapannya sambil memegang celana dalamnya yang belum sempat dipakainya. Ditambah keadaan Linda yang hanya memaki kaos, tetapi dibawah tidak memakai celana jeansnya. Akupun terkejut, dan berdiri terpaku. Hatiku berdebar, tak tahu apa yang harus kuperbuat atau kuucapkan. Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan tak terelakkan. Kepalaku terasa pening.
"Linda…? Kamu lagi ngapain?" Rika bertanya dengan wajah bingung campur kaget.
"Eh…anu…ini lho…"kudengar Linda gelagapan menjawab pertanyaan Rika.
"Kok kamu megang celana dalem? Setengah telanjang lagi?" selidik Rika. "Oo…aku tau…pasti kamu berdua lagi berbuat yaaa…?"
"Enggak Rik. Ngaco kamu, orang Linda lagi numpang dandan di kamarku kok." Sergahku membela diri.
"Trus, kalo emang numpang dandan, ngapain dia diruangan ni, pake bawa celana dalem lagi." Udah gitu telanjang juga..Hayo!!!" Rika bertanya dengan galak.
"Sini liat." Rika menghampiri Linda dan cepat merebut celana dalam yang dipegang Linda, tanpa perlawanan dari Linda.
"Kok basah…?"Rika mengerutkan keningnya. "Nhaaaaa..bener kan…hayooooo….kamu ngapain…?"
"udah deh, Rik…emang bener, aku lagi mau ML sama Linda. Belum sempet aku ent*t, sih. Baru aku jilat-jilat memiawnya, keburu kamu dateng." Aku menyerah dan memilih menjelaskan apa yang barusan aku lakukan.
"Kamu tuh ya…udah punya istri masih doyan yang lain. Ini cewek juga sama aja, gatel ngeliat suami sahabatnya sendiri." Rika memaki ka mi berdua dengan wajah merah padam.
"Terserah kamu lah…kamu mau laporin aku sama Linda ke polisi…silakan. Mau laporin ke Indah…terserah…."ucapku pasrah.
"Hmm…kalo aku laporin ke Indah…kasian dia. Nanti dia kaget.Kalo ke polisi….ah…ngrepotin." Rika meninmbang-nimbang apa yang hendak dilakukannya.
"Gini aja mas. Aku gak laporin ke mana-mana. Tapi ada syaratnya." Rika memberikan tawarannya kepadaku.
"Apa syaratnya, Rik?"
"Nggak berat kok. Gampang banget dan mudah."
"Iya, apaan syaratnya?" Linda ikut bertanya
"Terusin apa yang kamu berdua tadi lakuin. Aku duduk disini, nonton. Bagaimana?"
"WHAT?" aku dan Linda berteriak bebarengan. "Gila lu ya, masa mau nonton orang lagi ML?"
"Ya terserah kamu.Mau pilih mana…?"Rika mencibir dengan senyum kemenangan.
Aku dan Linda saling berpandangan. Kuhampiri Linda, kubelai tangan dan rambutnya. Linda seolah memahami dan menyetujui syarat yang diajukan Rika.
Segera saja kulumat bibirnya yang ranum dan tanganku meremas pantatnya yang sekel. Linda segera membuka kaosnya.
Sambil terus berciuman dan meremas pantatnya, kubimbing Linda menuju sofa. Kurebahkan ia disana, dan dengan cekatan dilepaskannya kaos dan celana ku sehingga aku sekarang telanjang bulat di hadapan Linda dan Rika.
Aku melirik Rika, yang duduk menyilangkan kakinya. Kulihat wajahnya menegang seperti tegangnya tongkolku. Aku tersenyum-senyum kearahnya, sambil memainkan dan mengocok-ngocok tongkolku, seolah hendak memamerkan kejantananku.
"Ayo, ndrew…cepetan deh…udah gak tahan, honey…"Linda merintih. "Biarin aja si Rika…paling dia juga udah basah."
"Enak aja kamu bilang."sergah Rika. "Udah buruan, aku pengen liat kayak apa sih kalian kalo ML."
Aku menatap mata Linda yang mulai sayu dan tersenyum. Setelah melepas seluruh pakaiannya, sempurnalah ketelanjangbulatan kami berdua. Tak sabar, segera k usosor memiaw Linda yang sangat becek oleh lendir birahinya.
"Achhhh….sshhhh….ooouufffffggg…Andreeeeewwwwww…."L inda menjerit dan mengerang menerima serangan lidahku. Pantatnya tersentak keatas, mengikuti irama permainan lidahku.
Hmmm…nikmat sekali. memiawnya berbau segar, tanda bahwa memiaw ini sangat terawat. Dan yang membutku girang adalah lendir memiawnya yang meleleh deras, seiring dengan makin kuatnya goyangan pinggulnya.
"Hmmmppppppff…Andrew…Andrew…sayaaaanngg.. akh…akh…akkkkkuu…"Linda terus merintih. Nafasnya tersengal-sengal, seolah ada sesuatu yang mendesaknya.
'Akku……mmmhhhhh…ssshhh…."
"Keluarin sayang….keluarin yang banyak….."aku berbisik sambil jari tengahku terus mengocok memiawnya, dan jempolku menggesek itilnya yang sudah sangat keras. Baik itil maupun memiaw Linda sudah benar-benar berwarna merah, sangat basah akibat lendirnya yang meleleh, hingga membasahi belahan pantat dan sofa.
Segera aktivitas tanganku kuganti dengan jilatan lidahku lagi. Hal ini membuatpaha Linda menegang, tangannya menjambak rambutku, sekaligus membenamkan kepalaku ditengah jepitan pahanya yang menegang. Aku merasakan memiawnya berdenyut, dan ada lelehan cairan hangat menerpa bibirku.
"ANDREEEEEEWWWWWWW…..AAAAACCCCHHHHHHHHH……"Lin da menjerit keras sekali, menjepit kepalaku dengan pahanya, menekan kepalaku di selangkangannya dan berguncang hebat sekali.
Tak kusia-siakan lendir yang meleleh itu. Kusedot semuanya, kutelan semuanya. Ya, aku tidak mau membuang lendir kenikmatan Linda. Sedotanku pada memiawnya membuat guncanganLinda makin keras…dan akhirnya Linda terdiam seperti orang kejang. Tubuhnya kaku dan gemetaran.
"Oooohhhh…Ndreww…aaachhh….."Linda menceracau sambil gemetaran.
"Enn..en….Nik…mat…bangeth….sssse….dothan…sama jhiilatan kkk…kamu…"
Kulihat Linda tersenyum dengan wajah puas. Segera kuarahkan bibrku m elumat putingnya yang keras dan kemerahan. Meskipun sudah melahirkan dan menyusui dua anak, payudara Linda sangat terawat, kencang. Dan putingnya masih berwwarna kemerahan. Siapa lelaki yang tahan melihat warna putting seperti itu, apalgi sekarang puting merah itu benar-benar masih keras dan mengacung meski pemiliknya barusan menggapai orgasme.
"Shhh…Dreeewwww…iihhhh…geli…." Lnda menggelinjang saat kuserbu putingnya. Aku tidak mempedulikan rintihannya. Kulumat putingnya dengan ganas sehingga badan Linda mulai mengejang lagi.
"Acchhh….Andreww….sayaaaannggg…"Linda merintih. "Terus sayang…iss…ssseeeppp…pen….til…kuhh…ooofffffhhhhhhh hh……"
Tanpa aba-aba, segera kusorongkan tongkolku yang memang sudah mengeras seperti kayu ke memiaw Linda. Blessss…….
"Ahhhhkkk…..mmmmppppfff…..ooooooggggghhhh…."p antat Linda tersentak kedepan, seiring dengan menancapnya tongkolku di mekinya. Kutekan tongkolku makin dalam da n kuhentikan sejenak disana. Terasa sekali memiaw Linda berkedut-kedut, walaupun tergolong super becek.
"Ayo, nDrew…..gocek tongkol kamuh….akk….kkuuuu….udah mau…keluarrrrr…laggiiiihhh…"Linda merintih memohon.
Segera kugocek tongkolku dengan ganas. "crep.crep…cplakkk….cplaakkkk…cplaakkkk …." suar gesekan tongkolku dengan memiaw Linda yang sudah basah kuyup nyaring terdengar. Tak lupa kulumat bibirnya yang ranum, dan tanganku menggerayang memilin menikmati payudara dan putingnya.
Sesaat kemudian kulihat mata Lnda terbalik, Cuma terlihat putihnya. Kakinya dilipat mengapit pinggul dan pantatku. Tangannya memeluk ubuhku erat.
"AN…DREEEWWWW…….OOOOGGGHHHH…>AAAKKKKKKKKKK KK…." Linda menjerit keras dan sekejap terdiam. Tubuhnya bergetar hebat. Terasa di tongkolku denyutan memiaw Linda…sangat kuat. Berdenyut-denyut, seolah hendak memijit dan memaksa spermaku untuk segera mengguyur menyiram memenya yang luar biasa bec ek.
Makin kuat kocokan tongkolku didalam memiaw Linda, makin kencang pula pelukannya. Nafas Linda tertahan, seolah tidka ingin kehilangan moment-moment indah menggapai puncak kenikmatan.
Karena denyutan memiaw Linda yang membuatku nikmat, ditambah rasa hangat karena uyuran lendir memiawnya, aku pun tak tahan. Ditambah ekspresi wajahnya yangmemandang wajahku dengan mata sayu namun tersirat kepuasan yang maat sangat.
"Ayo nDrew…keluarin pejuh kamu…keluarin dimemiawku…."Linda memohon.
"Kamu gak papa aku tumpahin pejuh di rahim kamu?"tanyaku sambil terengah-engah.
"No problem honey…aku safe kok…."sahut Linda. "C'mon honey..shot your sperm inside…c'mon honey…."
LIN……LINDAAAA…..LINDAAAAAAAA….ARGGGGGGHHHHH…"aku merasakan pejuhku mendesak. Kupercepat kocokanku, dan Linda juga mengencangkan otot memiawnya, berharap agar aku cepet muncrat.
AAACCHHHHHHH……….." Jrrrrrooooooooootttt…..jrrrrooooooooo ttttt..jrrrro ooooottttt…..tak kurang dari tujuh kali semprotan pejuhku. Banyak sekali pejuh yang kusemprotkan ke rahim Linda, sampai-sampai ia tersentak. Kubenamkan dalam-dalam tongkolku, hingga terasa kepalaku speerti memasuki liang kedua.Ah….ternyata tongkolku bisa menembus mulut rahimnya. Berarti pejuhku langsung menggempur rahimnya.
Ohhh…nDrreeeww…enak sayang….nikmat, sayaaannggg…offffffghhhh……" Linda merintih lagi. "Uggghhh…hangat sekali pejuh kamu, Ndrew…" ucap Linda.
Setelah beristirahat sejenak dengan menancapkan tongkolku dalam-dalam, secara mendadak kucabu tongkolku.
"Plllookkkkk…."
Kupandangi memiaw Linda yang masih membengkak dan merah denganlubang menganga. Linda segera mengubah posisi duduknya dan…ceeerrrrrr……pejuhku meleleh. Segera saja jemari Linda meraih dan mengorek bibir memiawnya, menjaga agar pejuhku tidak tumpah kesofa. Akibatnya, telapak tangan Linda belepotan penuh dengan pejuhku yang telah be rcampur lendir memiawnya. Dengan pejuh di telapak tangan kanannya, Linda menggunakan jari tangan kirinya,mengorek memiawny untuk membersihkan memiawnya dari sisa pejuhku.
"Brani kam telen lagi?" tantangku.
"Idih…syapa takut…."Linda balas menantangku. "Nih liat ya…."
Clep…dijilatnya telapak tangan yang penuh pejuhku…
"MMmmmm….slrrpppp….glek….aachhhh…." Linda nampak puas menikmati pejuh ditangannya.
"Hari ini kenyang sekali aku…sarapan pejuh kamu duakali..hihihihi…"Linda tertawa geli.
"Tuh…masih ada sisanya ditangan. Mbelum bersih." Sahutku.
"Tenang, nDrew..sisanya buat…ini." Sambil berkata begitu, Linda mengambil sebagian pejuhku dan mengusapkannya diwajahnya.
"Bagus lho buat wajah…biar tetep mulus…"sahut Linda sambil mengerling genit.
"Astagaaaa….kamu tuh, Lin…diem-diem ternyata…"kataku terkejut.
"Kenapa…? Kaget ya?"
"Diem-diem, muka alim..ta pi kalo urusan birahi liar juga ya.."
"Ya iyalaaahhh..hare gene, Ndrew…orang enak kok ditolak."
"Tau gitu tadi aku semprot di uka kamu aja ya.." sesalku
"Iya juga sih..sebenernya aku pengen kamu semprot. Cuman aku dah gak bisa ngomong lagi…nahan enak sih..lagian aku pengen ngerasain semprotan pejuh kamu di memiawku." Linda tersenyum
"Eh, Ndrew…ssstttt…coba liat tuh…jailin yuk….."ajak Linda
Ya ampuuunnnn…aku lupa bahwa aktivitasku tengah diamat Rika. Segera kulirik Rika, yang ternyata tanpa kami sadari tengah beraktivitas sendiri. Tangannya menggosok-nggosok sapndexnya, yang mulai membasah. Kulihat lekukan cameltoenya makinbesar, lebih besar dari yang kulihat diruang tamu. Pertanda bahwa Rika juga telah dilanda birahi.

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Esek-Esek Mantab Terbaru

Juli 05, 2018 Add Comment

Luar Biasa Nikmatnya Bercinta Dengan Bumil

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Luar Biasa Nikmatnya Bercinta Dengan Bumil Terbaru

Saya adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di selatan Jakarta. Awal cerita saya dimulai saat saya menghadiri sebuah acara pemberian penghargaan, di sana saya datang bersama teman saya, sebut saja Hamdan...!!

Luar Biasa Nikmatnya Bercinta Dengan Bumil
Luar Biasa Nikmatnya Bercinta Dengan Bumil
Saya diperkenalkan oleh teman saya kepada salah satu tamu yang hadir di acara tersebut, dan ternyata setelah dipertegas, nama tamu tersebut adalah DB. Yang belakangan saya ketahui dia adalah salah satu artis Indonesia. Singkat cerita, malam itu berlalu begitu saja.

Seminggu setelah perkenalan tersebut, saya ditawari untuk menggarap proyek perayaan Hari Ulang Tahun oleh teman yang mengenalkan saya dengan DB, memang bidang saya adalah entertaiment. Teman saya yang mengenalkan saya namanya Shebi.

- Singkat kata, saya terima proyek yang diberikan oleh Shebi. Dan ternyata yang punya kerjaan itu adalah DB, untuk perayaan ulang tahunnya yang ke 34.

Saya pun dipertemukan oleh Shebi dengan DB di rumah DB yang terlihat cukup megah. Saya dan Shebi menunggu DB yang sedang mandi di ruang keluarga. Di sana saya ngobrol cukup banyak dengan Shebi (yang perlu pembaca ketahui, Shebi sedang hamil 7 bulan).

- Obrolan berlangsung santai dan sampai menyerempet ke masalah kehidupan seks Shebi, ternyata Shebi yang memiliki tinggi 170 cm, ukuran BH 38, dan m size ini memiliki libido seks yang cukup tinggi. Shebi pun mulai merapatkan posisi duduknya mendekati saya (karena kami duduk di atas sofa yang sama/sofa panjang).

" Dra.. coba kamu pegang perutku, sepertinya jabang bayiku ini ingin berkenalan denganmu deh..!" kata Shebi.
" Ah kamu bisa saja Sheb..!" kata saya yang belum tahu arti sinyal dari Shebi itu.
" Kalau nggak percaya, coba saja kamu pegang perutku ini..!" ujar Shebi yang kali ini memaksa tangan saya untuk memegang perutnya yang sudah terlihat buncit.

:: Dan benar, sepertinya ada yang bergerak-gerak dari dalam perutnya.

" Dra.. kamu pernah ngerasain begituan dengan orang hamil..?" ujar Shebi yang membuat saya kaget.
" Mmm.. mm, belum tuh Sheb.."
" Memangnya enak apa rasanya..?" tanya saya keheranan.
" Wah endang loh rasanya.."
" Itu kuketahui dari suami dan brondong-brondongku.." ujar Shebi yang membuat saya tersentak tambah kaget.
" Mmm.. begitu.." kata saya agak sedikit sok tenang, meskipun tegangan tubuh sudah agak naik.
" Kok jawabannya cuma segitu, apa kamu nggak mau nyobain..?" ucap Shebi yang sedikit kesal karena tanggapan saya hanya sebatas itu, sedang posisi kami sudah semakin dekat.

- Shebi menarik sedikit ke atas long dress yang dikenakannya, dan terlihat paha mulus yang sedikit memperlihatkan timbunan lemak di sisi-sisinya dan sedikit CD hitam. Saya pun terdiam sejenak, lalu saya pegang kepala dan menatapnya serta meyakinkannya.

" Sheb.., bukannya aku tidak ingin mencoba tawaran yang spektakuler ini, tetapi kamu harus lihat kita ini dimana..? Tetapi bila kamu tawari aku di posisi yang tepat, tentulah aku tak akan menolak..!" kata saya mencoba menenangkan suasana yang semakin panas itu.

 Saya sadar bahwa kami datang ke tempatnya DB dalam rangka suatu kerjaan, dan aku termasuk orang yang menjunjung tinggi profesionalisme.

" Aku tau apa yang kamu khawatirkan Dra.." balas Shebi sambil menutup bibir saya dengan jari telunjuknya.
" Kau harus tau bahwa DB itu penganut seks bebas, dan tentu doi tak akan marah kalau kita bercinta di sini, dan lagi pula di sini tidak ada orang lain selain DB.." kata Shebi mencoba meyakinkan saya sambil perlahan mengangkat kaos yang saya pakai ke atas, dan jarinya bermain di atas puting saya sambil memainkan lidahnya sendiri membasahi bibirnya yang sudah basah.

- Mendengar perkataannya yang meyakinkan dan juga ditambah dengan perlakuannya yang mencoba merangsang birahi saya, saya semakin yakin akan situasi yang ada. Saya pun mulai berani untuk meraba dada Shebi yang besar tanpa membuka pakaian yang melekat di tubuhnya.

 Shebi pun bertambah liar dengan menyusupkan tangannya mencari batang kemaluan saya yang sudah menegang sejak tadi. Sambil memilin putingnya tanpa membuka pakaiannya, tangan kiri saya pun bergerak ke bawah sambil membiarkan tangan kanan saya untuk tetap berada di atas dan Shebi pun mendesah.

- Sampai di tempat yang saya tuju, tangan kiri saya pun meraba dari luar CD Shebi, dan terasa ada yang basah dan lengket di sana. Lalu bibir kami pun saling mendekat dan terjadi perciuman yang cukup lama. Kami pun terlihat sudah semakin berkeringat.

 Kemudian tangan yang berada di daerah sensitif Shebi pun sepertinya mulai aktif melorotkan CD hitam Shebi, dan saya merasakan sentuhan bulu-bulu lebat yang sepertinya tertata rapih. Shebi pun telah sukses mengeluarkan senjata kemaluan saya dan mengocok-ngocoknya perlahan.

- Saya yang merasa penasaran ingin melihat kemaluan orang hamil, lalu menghentikan ciuman kami dan turun ke arah kemaluan Shebi yang duduk di sofa. Ternyata tebakan saya benar, liang kemaluan Shebi yang lebat ternyata benar-benar tertata rapih. Saya pun mulai tergiur untuk merasakan bibir kewanitaan itu dengan mulai mejilatinya secara lembut.

" Achh.., achh.. kamu pintar Dra..! Truuss.. Draa..!" Shebi pun terlihat sudah tidak dapat mengontrol ucapan dan intensitas suaranya.

 Shebi meluruskan tubuhnya di atas sofa sambil mengocok senjata kemaluan saya. Mendapat perlawanan yang demikian nafsunya, saya pun merubah posisi menjadi 69. Saya di bawah dan Shebi di atas. Ternyata benar kata orang, kemaluan orang yang sedang hamil itu gurih rasanya.

:: 15 menit berlalu dalam posisi 69.

" Dra.. please..! Masukin sekarang Say..!" pinta Shebi yang sudah tidak kuasa lagi menahan gejolak nafsunya.

- Mendengar itu saya tidak langsung menuruti, tetapi saya tetap saja mengigit, menjilat, meludahi liang kewanitaannya, terutama klitoris-nya yang sudah mengkilap karena basah.

" Dra.., kamu jahat..!" teriak Shebi diikuti dengan melelehnya air kemaluan Shebi yang cukup banyak dari liang senggama Shebi, yang menandakan Shebi sudah mencapai orgasmenya. Saya jilat habis cairan kental yang keluar itu sampai tidak tersisa.

 Senjata kejantanan saya yang terhenti bergerak itu dikulum oleh Shebi. Karena orgasmenya, Shebi mengulum kemaluan saya hingga menjadi merah. Lalu dengan bantuan tangan, saya masukkan kembali senjata saya itu ke dalam mulut Shebi sambil menaik-turunkan di dalam mulutnya.

" Aawww..!" saya berteriak karena batang kemaluan saya tergigit Shebi, " Kamu nakal ya..?" kata saya sambil menarik batang kejantanan saya dari mulutnya, lalu mengarahkannya ke vagina Shebi.

- Saya tidak langsung memasukkannya, tetapi memainkannya terlebih dulu di bibir vaginanya sampai Shebi sendiri yang memajukan pantatnya agar batang kemaluan saya dapat langsung masuk, tetapi tetap saja saya tahan agar tidak masuk.

" Dra.., kamu jahat..!" ujar Shebi kesal.
" Habis kamu duluan yang mulai..!" jawab saya.

 Tanpa kami sadari, ternyata pertempuran kami dari tadi sudah ada yang mengawasi, yaitu DB yang entah dari kapan dia sudah ada di dekat kami dengan mengunakan daster tanpa BH. Pemandangan itu kami ketahui karena daster DB sudah ada di bawah kakinya.

- Karena saya merasa sudah tidak tahan, akhirnya saya mulai memasukkan penis saya perlahan tapi pasti ke liang senggama Shebi. Memang awalnya sulit, tetapi karena Shebi minta untuk terus dipaksa, ya akhirnya masuk juga.

" Achh.. achh..!" teriak Shebi dengan wajah memerah entah karena nafsu atau karena sakit.

 Ternyata liang kemaluan orang yang sedang hamil itu lebih hangat dibandingkan kemaluan wanita normal. Karena sempit dan hangatnya liang senggama Shebi, membuat saya tidak dapat bertahan lama, meskipun goyangan Shebi tidak terlalu "hot", tetapi tetap saja rasanya lebih asyik dari liang kemaluan wanita yang tidak hamil.

" Sheb.. aku mau keluar..!" kata saya ditengah-tengah nikmatnya persetubuhan kami.
" Aku.. keluarkan di mana Say..?" tanya saya menambahkan.
" Terserah kau saja Dra..!" jawab Shebi yang ternyata juga sudah orgasme kembali.

:: Akhirnya karena lebih enak, saya keluarkan cairan panas itu di dalam vaginanya,

" Cret.. cret.. cret..!" mungkin sampai tujuh kali air mani saya tersembur di dalam liang senggama Shebi.
" Ohh.., ternyata kalian di sini sudah nyolong start ya..?" ujar DB yang membuka pembicaraan.
" Abis kita udah nggak tahan Mba..!" jawab Shebi.
" Trus gimana proyek ultah-ku..?" tanya DB sambil memakai dasternya kembali yang tadi dilepaskan ke bawah, karena DB dari tadi menyaksikan pergulatan kami sambil bermasturbasi.
" Kalau masalah itu tenang, di sini sudah ada ahlinya, tinggal kucuran dananya saja, konsepnya sudah Indra susun kok..!" jawab Shebi sambil menahan saya untuk mengeluarkan penis saya dari liang senggamanya.
" Ooo.., ok aku percaya.." kata DB,
" Tapi biar Indra istirahat dong..! Masa kamu monopoli sendiri itu batang..!" jawab DB sambil mengambil wine yang ada di mini bar, lalu duduk di sana, memperhatikan kami yang akhirnya mengambil pakaian kami masing-masing.
" Dra.., kamu besok bisa ambil dananya di sini.." kata DB.
" Lo nggak mau nyobain punyanya Indra..?" celetuk Shebi,
" Ntar nyesel..?" tambahnya.
" Jangan sekarang deh, abis tanggung, sebentar lagi Bapak mau jemput gue.." jawab DB.
" Ooo.." jawab Shebi yang sepertinya mengetahui bahwa DB kalau main itu tidak cukup kalau hanya 3 atau 4 ronde saja.
" Ya sudah, kami pamit dulu deh kalau gitu, biar besok si Indra saja yang datang ke sini sendiri.." kata Shebi.

- Saya yang dari tadi diam saja hanya manggut tanda setuju untuk datang lagi esok.

" Tapi besok kamu datangnya malam saja ya..!" pinta DB.
" Ooo.., sekalian kamu cobain ya..?" pancing Shebi sambil tersenyum.
" Apa kamu mau ikutan Sheb..?" tanya DB.
" Nggak ah, abis main sama lo harus lama, gue takut kandungan gue bermasalah lagi."
" Kalau dokter gue bilang nggak apa-apa sich gue ok aja, tapi kalau kebanyakan digenjot nanti bocor lagi..!" kata Shebi sambil tertawa.
" Ya udah ngga pa-pa, tapi kamu pasti datang kan Dra..?" tanya DB.
" Ya.." jawab saya singkat.
" Ya sudah kita cabut ya..?" ujar Shebi ke DB.
" Ya, ok lah.."
" Bye, Dra jangan lupa ya atau kontrak kita batal nich..!" sambil mencubit dagu saya.

 Begitulah kisah saya dengan Shebi, pembaca tunggu saja kisah saya dengan DB, artis ibu kota yang terkenal sampai sekarang masih singgle di edisi selanjutnya...

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Luar Biasa Nikmatnya Bercinta Dengan Bumil Terbaru

Juli 05, 2018 Add Comment

Obsesi Ibuku yang Mencelakaiku 3

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Obsesi Ibuku yang Mencelakaiku 3 Terbaru

Diantara suara berisik dari kamar sebelah,aku memejamkan mataku dan terlelap. Besoknya,aku bingung saat ibu berkata dia dan aku menginap lagi hari ini. “nanti malam kamu akan diisi lagi”kata ibu. Siang itu,aku akhirnya dibawa mbah 1 ke sawah,mengambil singkong,ikan dan lainya. Sementar mbah2 yang lain pulang dulu sambil membawa keperluan untuku.

Obsesi Ibuku yang Mencelakaiku 3
Obsesi Ibuku yang Mencelakaiku 3
Sore hari,mbah2 kemabli datang walau tidak bersamaan.mbah 2 membawakan barang2 untuku. “mbah emang daun bamboo sama daun jadi bisa dipake buat besarin”tnyaku. Mbah menagguk,nanti yang tajam-tajam ini yang akan kita jadikan seperti sosok. “gak gatal mbah’kataku.”awalnya aja,sedikit”katanya. “harusnya dia merasakn perbedaanya sebelum dan sesudah dikasih pengasihan”kata mbah 1. “kamu sendiri gman ndok,harusnya juga di sembur yang masih suci,supaya lebih kelihatan hasilnya”kata mbah 1. “habis gman mbah”kata ibuku. “anakmu sebenarnya bisa membantu,tapi kamu siap gak”kata mbah. “gman mbah aja”kata ibuku. ‘harusnya dia tahu perbedaanya ya’kata mbah 1 menatap mbah 2. “ya sudah mas ,aku kan ada pasien yang belum diisi,nanti biar kita ruwat diisini aja,tapi dia datangnya minngu”kata mbah ke 4. Kemudian mbah ke 1 membaw ibu ke dapur,dia berkata sambil berbisik,kulihat ibu hany mengangguk2.

sekitar jam delapan,mbah 1 kembali membawa ibu. “kamu kalau mau liat,boleh,hayo”kata mbah. Aku kemudian duduk dibale,menghadap ranjang,ibuku duduk di tepi ranjang,dikiri kanan si mbah3 dan 4 duduk besila kumat-kamit. Dibawah kaki ibu ada satu dupa menyala,baunya menyengat,mengasapi badan ibu,saat itu mbah 1 membaluri ibu dengan minyak,sambil jampe. Sesekali mbah menyodorkan dupa yang lebih kecil,sambil menaburkan tembakau,hingga keluar asap,dan sesekali dia mendekatkan asap itu ke hidung ibu. Aku ingat mbah 2 pernah memberiku asap itu. Setelah kira2 setengah jam,mereka membawa ibu ke kamar mandi. Mbah 2 mengajaku keluar. Kulihat jalan ibu sedikit sempoyongan dan sesekali tersenyum saat kembali ke kamar. “liat lagi yu mbah”kataku.”nanti,ada giliranya. Beberapa saat kemudian semua mbah didalam masuk kamar mandi bergantian dan kembali ke kamar besar itu.”giliran dia”kata mbah 1. Aku kemudian disuruh membuka seluruh pakaianku,mbah 2 lalu memadikanku. Setelah itu saat keluar wc,aku disambut mbah 1 dengan tubuh tampa sehelai kainpun, aku kemudian dibawa kekamar. Di ranjang,kulihat ibu berbaring dengan menekuk kaki percis seperti mau melahirkan,disamping kanan kirinya mbah3 dan 4 duduk tampa penutup pakaian. Satu tangan mereka meremas-remas payudara ibu. “naik le,gpp tenng aja”kata mbah 1.mata ibu sedikit* terpejam.senyum sesekali tersungging di mulutnya.perlahan aku disuruh mendekatkan kontolku ke momok ibu,badanku bergetar,mbah 1 memdorong pungguku pelan dari belakang,perlahan aku berjalan dengan lututku makin mendekatkan kontolku.sesaat mbah membaluri kontolku dengan miyak,dan memijat-mijat,kemudian dia mengesek-gesekan kontolku ke bulu hitam ibu. Perlahan kontolku bergerak.berdiri,kemudian oleh mbah ditusuk-tusukan ke lubang momok, kontolku makin mengeras.”bagus le”bisik mbah.dan kemudian tangan mbah mendorong pelan pantaku,hingga pelan kontolku masuk ke lubang momok ibu.”nah ndok,sekarang giliran kamu,hisap kuat kuat”kata mbah saat itu kurasakan momok ibu berdenyut,dan seperti menghisap kontolku. kulihat tangan ibu menekan kuat pahanya,aku membungkukan badanku sedikit.”apa seperti di hisap le”bisik mbah.”iya mbah,ahh”bisiku. Mbah mendorong pantaku,hingga kontolku habis semua masuk kedalam momok ibu.”hayo ndok,hisap kuat-kuat”kata mbah,ibu menarik nafas panjang,kemudian kurasakan kontolku seperti disedot,sementara batangku seperti diremas daging yang sangat hangat.”mbah,mbah”bisiku. “gpp le,rasakan aja,pejamkan mata kamu”akupun menejamkan mataku,kepala kontolku kurasa makin membesar,akhirnya akupun tak kuasa dan,ahh,ahh…aku mendesah sambil terjerembab diatas badan ibuku sendiri. “aduh mbah ngilu,udah”kataku karena kurasakan kontolku seperti terus dihisap,hingga kurasakan spermaku kering.perlahan mbah mencabut kontolku. sudah,kamu pakai baju dan tidur. Aku melangkah lemas. Tenagaku seperti terkuras habis,entah aku langsung terlelap hingga subuh tiba.

saat bangun,aku terus memikirkan kejadian semalam.benarkah yang telah ku perbuat,betapa bejatnya aku,fikirku. Tak lama,kudengar suara berisik dikamar beasr.akhirnya satu persatu mereka bangun. Saat masuk kekamar,kulihat ibuku seperti bercahaya. Dia tersenyum dan menyuruhku mandi. “udah yang terjadi jangan diingat-ingat ya,biarkan aja”kata ibuku saat melihatku melamun.

Pagi itu mbah ke 4 pergi,dan sekitar jam 11 dia kembali dengan membawa wanita muda,usianya sekitar 20 tahun,katanya pasien baru yang ingin awet muda. Siang itu,aku banyak minum ramuan aneh pemberian mbah.setelah makan. Sekitar jam 1,mbah 1 menyuruhku masuk ke kamar. Ibu menunguku di ruang tamu,ditemani mbah 2 dan 3. “gpp,buat bikin kamu nanti gamapang jodoh dan rezeki”kata mbah,sambil melirik ibu kemudian membawaku masuk ke kamarnya. Saat masuk,aku melihat wanita yang dibawa mbah 4 telah berbaring tanpa pakain sehelaipun. Ajntungku berdegup kencang,mbah menyuruhku membuka pakaianku,setelah aku telanjang,mbah berbisik.”semalam kamu ingat kana pa yang kamu rasakan”kata mbah,aku mengangguk.”nah sekarang naik lagi kayak semalam”katnya menuntunku,wanita itu tersenyum malu-malu menatapku. Sesaat kemudian,kurasakan kontolku mulai bergerak saat melihat momok wanita itu,kontolku makin bertambah keras,saat kudekatkan ke momoknya,dan akhirnya,perlahan,aku masukan kontolku ke lubang yang menganga didepanku. Mbah kemudian memaju mundurkan pantatku.aku terus mengenjot wanita itu,sampai kira-kira 15 menit kemudian,tubuhku mengejang,dan spermaku muncrat didalam lubang momok wanita itu.

Mbah memngelap kontolku,lalu menyuruhku berpakaian.dengan penuh keringat,aku keluar dan duduk di kursi dapur.ibu menghampiriku dan member minum.mbah 2 menghampiriku.”nah le,sama semalam enak mana?bisiknya.”yang malam mbah”kataku.”bedanya apa?tanyanya kemudian.”kalau malam kayak dihisap mbah”bisiku. “nah,itu bedanya yang di beri jampe sam enggak”aku hany mengangguk,kulihta ibu hany senyum2 saja.”kamu kan baru seminggu 13 tahun,nah itu hadiah dari mbah”kata mbah 1.”kalau dari mbah,nanti malam mbah bikin besar burungmu le”kata mbah 2.aku hany mangut-mangut.

Sekitar jam 7.mbah 2 memadikanku.dia kemudian mematrai aku. Kamar depan jadi sesak penuh asap. Setelah itu kontolku di bungkus daun bamboo,kira-kira satu jam,aku di rendam di bak berisi bunga. Setelah itu,kontolku diganti di bungkus dengan daun jati.sambil terus asap mengepul dari bawah pantatku. Tubuhkupun dibungkus denagn daun pisang. Semau dikerjakan mbah ke 2 di bantu mbah ke 4. Sementar ibu berada dikamar bersama mbah ke 1,ke 3 dan wanita muda itu. *Mungkin sekitar pukul 2 semua ruatan selesai. Dan aku langsung terlelap.

Baru hari siang kami pulang, saat tiba di rumah,nenek langsung menyambut kami bahagia. “waduh,mbok kira ad apa2”kata neneku. Dia terus melihat wajahku. “kamu kok lain le”kata nenek sambil terus memandang wajahku.saat di kamar mandi,aku terus memperhatikan kontolku,tapi sepertinya tak ada perubahan,walau kepalanya keliatan besar,tapi besoknya,kulihat sedikit berubah,seperti mengembung,dan seminngu kemudian,aku makin melihat perubahanya,apalagi ketika tegang,kepalanya seperti jauh lebih besar dan bulat. Dan makin teras lebih keras. Rasa penasaranku makin bertambah,akhirnya aku kocok kontolku,dan sat keluar air maniku,kurasakan deyutanya hingga ubun2ku,bahakn kulihat kepala kontolku kembang kempis seperti insang ikan.

Perubahan lain,aku lihat ibuku makin banyak teman,bahkan ibu tak pulang tampa member tahu aku atau nenek kemana dia pergi. Kira-kira sebulan setelah kunjungan terahir,kami datang lagi ke tempat mbah.”wah,kirain sudah lupa sama mbah”kata mbah.”ya,kami kan janjinya sabtu awal bulan datang”kata ibu. “yang lain man mbah”kat ibu.”mungkin malam,kalau mereka ingat”kata mbah. Aku lihat ibuku bertingkah aneh di depan mbah,”kamu tunggu disini ya,ibu ada penting sama mbah”kata ibu,kemudian menarik mbah ke kamrnya.hari masih sekitar jam 5,tapi kemudian kudengar desahan ibu di kamr mbah.

Saat* mbah ke 3 dan 4 datangpun,mereka masih di kamar.”mbah itu mana”kataku.”kayaknya baru besok le”kata mbah ke 4. Tak lam ibu keluar diikuti mbah.”gaman ada perubahan le”kata mbah ke 4,aku menganguk.”belum di tes ya”katnya bergurai. Aku mengeleng.”ya dah,gpp,gak ganggu ini gak diapke juga”kata mbah ke 4.

Malam hari,saat mereka bergumul,aku hany diam dikamar,tapi kemudian mbah ke 4,dia lalu membawaku kedalam.disana sambil cekikikan ibu menjilati kontol mbah ke 1 dan ke 3. Mbah ke 4 kemudian mengumuliku di ranjang bale. Ibu hany senyum melihat kami.perlaha kurasakan kontol mbah 4 masuk ke pantatku.sesaat kemudian,aku dibawa mendekati ranjang,aku terus melihat kontol mbah 1 yang besar sekali”kenapa le,mau”kata mbah 1,aku hany senyum.kemudian aku lihat mbah 4 menyodok panta ibu. Dan dibawanya mbah 3 meyodok momoknya.”siini le”kata mbah 1 dan perlahan aku terlentang disamping mereka yang bergumul,perlahan mbah memasukan kontolnya,agak susah,tapi kemudian kenikmatan luar biasa kurasan,walau hany setengah kontol mbah masuk.mbah terus menyodoku lama. Sesaat kemudian kulihat mbah ke 3 dan 4 mengejang,dfan akhirnya perlahan bangkit dan mencabut kontol mereka.kulihat ibu terkulai berbaring di kasur,saat mbah2 itu bernjak turun dari kasur. mbah 1 mencabut kontolnya,dan kemudian berpindah,measukan kontolnya ke momok ibu.aku terus menatap mereka,samapi kemudian mbah menarik tanganku. Hayo le masukan,katanya,perlahan,aku dekatkan kontolku yang sudah tegang ke momok ibu, untuk ke dua kalinya,kembali aku mengenjot ibuku.sesaat kemudian,mbah 1 memasukan kontolnya ke pantatku. Kuraskan nikmat yang luar biasa.”tarik nafas dalam2,supaya air maninya tak cepat keluar”kata mbah 1 mengingatkanku kepada yang diajarkanya dulu. Tapi akhirnya,akupun tak kuasa menahan spermaku dan kemudian,aku terjerembab diatas tubuh ibu,kurasakan spermaku keluar banyak sekali,sampai tumpah dari mulut momok ibu.rasa nikmat luar biasa kurasakan. Akhirnya aku meninggalkan mbah dan ibuku melanjutkan pergumulanya.

Sejak itu,sesekali setiap bulan kami mengunjungi mereka. Bahkan setelah ayahku meninggal dan meninggalkan warisan yang banyak untuku.. Biasanya,aku melayani mbah ke 2 atau ke 4. Dengan ibu,aku tak pernah melakukanya lagi. Sesekali aku merasakan kenikmatan wanita yang datang berobat ke mereka. Sedang ibu sepertinya telah* terpikat oleh mbah 1.bahakn akhirnya ibu bisa samapi 3 kali dalam sebulan bertemu mbah1. Tapi disamping itu,kadang ibu suka mendapat lelaki muda yang masih sekolah. Aku sendiri,makin mudah mendapatkan wanita setelah aku masuk sma bahkan sesekali seorang pria…..(tresno/brebes)

Cerita Dewasa Hot Mesum Panas Seks Sex Obsesi Ibuku yang Mencelakaiku 3 Terbaru

Juli 05, 2018 Add Comment